Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Archive for the ‘Society’ Category

Sociology 101

leave a comment »

A lot of things that we see in life is just a fact or phenomena that meaningless. For example, we see the price of fuel is increase every year. We see that people getting poor, we see people fighting, we see people laughing all the time. Fact is meaningless, just like data is meaningless. However this data will be useful when we create a relationship. According to wiki, “Sociological theories are statements of how and why particular facts about the social world are related”.

This is the thing that makes me confuse, when I learn about energy, I only learn about the facts part, for example the oil prodution is decline, the oil price is increase, the people only use less than 35 Kg LPG, there are 100 million motorcycle.

Therefore if I want to understand something I need to use a theory, for example, the relation between energy consumption type and household income (energy ladder theory). However if I don’t want to examine that relationship, we can say that energy ladder is not empirically proven. So instead using energy ladder, I can use energy stack. That in another case energy consumption is not linear but multiple according to income.

Wiki: Sociological theory, robert putnam, wikibooksref

Iklan

Written by Anjar Priandoyo

Juni 12, 2018 at 9:01 am

Ditulis dalam Society

Tagged with

Merancang Kurikulum

leave a comment »

Akreditasi atau Standar Kurikulum Acuan
– ABET – Computing Accreditation Commission
– ACM (Association of Computing Machinery) dan IEEE – Computer Society

Referensi
– Computer Science Curricula 2013 version 0.8, ACM and IEEE-Computer Society
– Software Engineering BoK (SWEBOK)

Written by Anjar Priandoyo

Mei 28, 2018 at 6:00 am

Ditulis dalam Society

Tagged with

Wayang

leave a comment »

Saya tidak pernah menonton wayang, meski demikian wayang akrab di telinga saya. Mulai dari tayangan Ramayana/Mahabharata, hingga tokoh pandawa yang keren dan punawakan yang lucu.

Kakawin Bhāratayuddha (1157) karya Panuluh (termasuk Kakawin Hariwangsa)

Pararaton/Kitab Raja-raja (1481-1600) (no author) tentang Ken Arok (1222–1292) Singhasari, Mpu Gandring
Babad Tanah Jawi (1722)
Arjunawiwaha (1030) karya Mpu Kanwa, King Airlangga

Kakawin Sutasoma (14th c) Mpu Tantular – Bhinneka Tunggal Ika
Nagarakretagama (1365) Mpu Prapanca – Hayam Wuruk

Written by Anjar Priandoyo

Mei 27, 2018 at 10:17 am

Ditulis dalam Society

Matematika Menulis

leave a comment »

Pekerjaan terberat seorang penulis adalah melakukan revisi

Tere Liye adalah salah satu penulis professional di Indonesia. Kita bisa menganggap Tere Liye sebagai benchmark bagaimana sebuah karya sastra dihasilkan. Tere mengatakan bahwa bukunya bisa diselesaikan dalam waktu satu bulan. Jika seorang Tere Liye bisa menulis sebanyak 1,000 kata per jamnya, maka paling tidak dia butuh sekitar 4x revisi, bila ia menulis dalam waktu satu bulan. Luar biasa.

Hanya ada satu cara untuk menulis buku, revisi bisa mencapai 3-5 kali. Artinya bila dikerjakan secara ngebut pun butuh waktu berbulan-bulan.

Sebuah buku 60,000 sebenarnya bisa diselesaikan dalam waktu 15 hari (15 hari x 8 jam = 120 jam)

Sebuah buku, berjumlah 60,000 kata, terdiri dari 30 chapter, masing-masing chapter terdiri dari 2,000 kata bisa diselesaikan dalam waktu 1 bulan. Angka ini masuk akal, karena jika dihitung rata-rata perhari jumlah kata yang ditulis adalah 2,000 kata. Artinya, seorang pekerja kantor, sepulang kerja bisa menyelesaikan novelnya dalam waktu 1 bulan saja.

Mungkinkah? tentu tidak ini mustahil.

Jika ada tantangan seperti National Writing Month, untuk bisa menulis buku dalam waktu 1 bulan, maka kira-kira distribusi waktunya adalah sekitar 10% atau sekitar 3 hari untuk ide cerita, 10% untuk karakter tokoh, 10% untuk setting cerita, 20% untuk riset dan 50% untuk menulis dan revisi.

Artinya kalau ada waktu sekitar 4 minggu, maka 1 minggu pertama untuk ide cerita, karakter dan setting. 1 minggu kedua untuk riset dan 2 minggu terakhir untuk menulis. Kalau kecepatan menulis sekitar 1,000 kata perjam. Maka buku bisa diselesaikan dalam 60 jam terakhir, atau sekitar 8 jam x 7 hari.

Maka sebuah buku sebenarnya hanya bisa diselesaikan dalam waktu sekitar 240 jam. Artinya kalau prinsip menulis buku dikerjakan dalam waktu luang. Seorang penulis yang beruntung hanya bisa menyelesaikan bukunya dalam waktu 240 hari, itu bila ia konsisten bekerja selama 1 jam setiap hari untuk bukunya atau sekitar 8 bulan

Written by Anjar Priandoyo

Mei 27, 2018 at 10:16 am

Ditulis dalam Society

Tagged with

Enam besar di Romantic Literature

leave a comment »

Menonton film Alien yang ceritanya tentang penciptaan AI, banyak merujuk pada Ozymandiasnya Shelly. Ini era romantic poetry dan romantic literature di Inggris. Romantisme ini mudahnya gagal move on menuju industrialiasi, jadi serba ingat masa lalu dan penekanan pada individu.

William Blake, The Marriage of Heaven and Hell
William Wordsworth, The Prelude
Samuel Taylor Coleridge, Rime of the Ancient Mariner
George Gordon, Lord Byron, Don Juan
Percy Bysshe Shelley, Ozymandias
John Keats, Ode on a Grecian Urn
ref

Written by Anjar Priandoyo

Mei 25, 2018 at 11:13 am

Ditulis dalam Society

Penyebab terorisme, dan kenapa tirto tidak selamanya bagus

leave a comment »

Apa yang menyebabkan seseorang menjadi teroris? kenapa si A yang anak baik-baik jadi radikal? jawaban atas pertanyaan ini tidak bisa semata dilihat dari dimensi psikologi -ada ratusan buku tentang psikologi terorisme, termasuk bukan semata karena mental illness. Pertanyaan ini juga tidak bisa dijawab dari dimensi sosiologi (ekonomi politik) ada ribuan buku yang membahas akar permasalahan yang mendorong orang menjadi teroris, termasuk bukan semata karena kemiskinan. Terorisme sebagaimana radikalisme, sebagaimana kemiskinan adalah sebuah problematika kompleks yang hanya terlihat sedikit saja dipermukaan, didalamnya ada banyak permasalahan yang saling tumpang tindih. Penelitian bisa dilakukan terhadap terorisme, tapi hanya sepenggal saja yang bisa diamati, dan sangat sedikit yang bisa dianalisa. Jadi tulisan bahwa tulisan Penyebab Italia aman dari teroris ref ini sangat terburu-buru.

Ref:
Psychology of Terrorism – Randy Borum 2004
The Mind of the Terrorist: The Psychology of Terrorism from the IRA to al-Qaeda by Jerrold M. Post 2007
Who become terorist and why – Rex Hudson 2002
Inside Terrorism (Columbia Studies in Terrorism and Irregular Warfare) by Bruce Hoffman 2006
The Psychology of Terrorism – John Horgan 2002

Written by Anjar Priandoyo

Mei 23, 2018 at 12:25 pm

Ditulis dalam Society

Media yang diserang adalah media yang berhasil, Mojok vs Vice

leave a comment »

Vice Indonesia meliput Swissindo ref Feb 2018, kesan yang muncul ini media yang punya resources serius untuk melakukan investigasi. Beberapa kali searching menemukan artikel dari Vice ini bersaing dengan media majalah alternatif seperti Hipwee, Grid dan Mojok. Posisi ini juga diperjelas ketika Apr 2018, Mojok mereview Vice mengenai ongkos pertemanan ref. Vice memang media serius, rankingnya diatas Vox dan Digg. Vox sendiri sempat punya peringkat tinggi dengan artikel peta peta negara didunia. Tulisan Mojok ini juga mempertegas blunder yang lain selain Kagama (Jan 2018), termasuk artikel yang hanya ditulis penulis tertentu ref. Lalu kapan media alternatif ini terkonsolidasi, kita lihat.

Sebagai perbandingan, penurunan media alternatif sebelumnya juga tidak bisa diprediksi. Orang bisa memprediksi bahwa terjadi penurunan, tapi cut off kapan sebuah media mati sulit dideteksi. Sebagai contoh seperti yang terjadi di 2017 dengan titik balik Jonru tersangka September 2017 ref, October 2017 Seword dilaporkan ke polisi ref. Meskipun Seword masih bisa diakses, namun kredibilitasnya susah naik kembali. Momen ini tentunya dimanfaatkan media besar untuk mengisi kekosongan ini dengan fitur kolom yang mudah diakses seperti Kompas dan Detik.

Menarik melihat naik turun media seperti ini. Menarik karena tidak bisa diprediksi tapi bisa dirasakan. Sudah saatnya bagi para owner media alternatif itu untuk menaruh telurnya pada wadah keranjang yang berbeda.

Written by Anjar Priandoyo

April 25, 2018 at 3:32 am

Ditulis dalam Society

Tagged with