Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Archive for the ‘Society’ Category

Sociology

leave a comment »

Semua ilmu yang berhubungan dengan manusia (interaksi dan strukturnya) adalah ilmu sosial, sementara semua ilmu yang berhubungan dengan benda (interaksi dan strukturnya) adalah ilmu alam (physics). Ilmu sosial yang fokusnya pada masyarakat disebut sosiology, ilmu sosial yang fokusnya pada uang disebut ekonomi, ilmu sosial yang fokusnya pada kekuasaan disebut politik.

Ilmu sosial mempunyai sebuah premis (pendapat) yang tidak logis (illogical, fallacies) bahwa manusia bisa dikelola, direkayasa, diatur layaknya benda (mati dan hidup) yang ada didunia ini. Premis ini mengatakan bahwa perilaku manusia (human behavior) bisa dijelaskan dalam prinsip sebab akibat (causation).

Contoh dalam hubungan bermasyarakat manusia pada dasarnya saling membantu (functionalist) atau saling membunuh (marxist). Dalam hubungan bernegara pada dasarnya bisa liberal atau conservative, sosialis atau kapitalis.

Banyaknya cara pandang dalam ilmu sosial ini menyulitkan dan pada tingkat implementasi bisa berbahaya. Contoh untuk satu aspek saja, ada banyak cara pandang. Bisa dibayangkan betapa rumitnya dalam konsep yang lebih rumit seperti kemiskinan dan kejahatan.

  • Governance (Agency, Stakeholder, Stewardship)
  • Policy (Rational, Incremental, Institutional, Mixed, Game Theory)

Masalah lain dari ilmu sosial adalah bagaimana mengamalkannya. Ilmu sosial harus diamalkan, ilmu politik dalam pemerintahan (termasuk didalamnya energy, environment, election policy), ilmu ekonomi dalam pemerintahan (termasuk didalamnya moneter dan fiskal). Jadi bisa dibayangkan betapa besarnya potensi kerusakan dari pembenaran ilmu sosial ini.

Untungnya dari segi pemanfaatan, masih banyak yang berpandangan bahwa ilmu sosial ini tidaklah bermanfaat. Dari ilmu sosial yang paling bermanfaat bermanfaat adalah Economics, Politik dan Sosiologi (sebenarnya nomor satu adalah psikologi) ref.

Iklan

Written by Anjar Priandoyo

Agustus 27, 2017 at 5:02 pm

Ditulis dalam Society

Sociological Theory

leave a comment »

A theory is more impressive the greater is the simplicity of its premises, the more different are the kinds of things it relates and the more extended its range of applicability
Albert Einstein (quoted in Rifkin, 1980: 43)

Causal Interpretation = Premise = Logic

Marxist

  • Perspective: Historical Materialism, Dialectic
  • Causal Interpretation: Society gap cause conflict
  • Implementation: For better society, a revolution should be made

Functionalist:

  • Causal Interpretation: Deviant cause conflict
  • Implementation: For better society, a welfare improvement should be made

Secular

  • Causal Interpretation: Human cause advance
  • Implementation: For better society, priority should be to human

Religious

  • Causal Interpretation: Deity cause advance
  • Implementation: For better society, priority should be to spiritual balance

MLP

  • Causal Interpretation: Governance (Multi-layer actor) cause transition
  • Implementation: For better society, energy policy should include multi-layer. E.g policy to subsidized renewable energy
  • Purpose: To explain roles of governance
  • Success: Explain household transition (why LPG is success and why Coal Briquette is not)
  • Failure: Electricity transition case

TIS

  • Causal Interpretation: Innovation cause transition
  • Implementation: For better society, energy policy should promote innovation. E.g policy to subsidized solarpv
  • Purpose: To explain roles of technology
  • Success: Explain electricity innovation (Why Geothermal is success and why Solar PV is not)
  • Failure: Coal briquette case, in contrast with successful LPG transition.

Written by Anjar Priandoyo

Agustus 24, 2017 at 6:34 am

Ditulis dalam Society

Tagged with

How to attack a theory

leave a comment »

Counter Attack
Theory says: kemiskinan menciptakan kejahatan
Evidence: most of crime (in term of frequency) happen on poor area
Usage: to prevent crime, poverty alleviation is required

Critics: kemiskinan tidak menciptakan kejahatan, ignorance menciptakan kejahatan
Evidence: some of biggest crime (in term of amount) happen on rich area
Usage: to prevent crime, education is required

Sub Counter Attack
Theory says: kemiskinan menciptakan kejahatan
Sub Theory says: pengangguran menciptakan kemiskinan
Sub Theory says: pengangguran menciptakan kejahatan

Evidence: most of crime (in term of frequency) happen on poor area, conducted by jobless people
Usage: to prevent crime, mass employment is required

Written by Anjar Priandoyo

Agustus 23, 2017 at 4:24 pm

Ditulis dalam Society

Tagged with

Why sociological theory is easy to be argued

leave a comment »

Causation is a belief concept. People might believe that saving make people rich, saving cause rich. However this belief is not always true. When people save money, at certain amount they will consume into something that is not useful, for example they buy car. The car need gas, need insurance and at some point is broken and it makes that people poor.

However in research (argumentative, opinion based writing), people might argue that saving will make people to live frugal, therefore saving will not make people buy expensive car. The proponent of this theory will explain that if people always save money they will be rich, if people save 20% of its income for duration 10 years they will reach 1,000 USD (for example, that is quantitative analysis). The scholar that use this research might argue that if a society does not save, they will become poor.

Let see MLP theory, criticized by Levidow and Upham (2017)

  • Niche-innovations build up internal momentum, through learning processes, price/performance improvements, and support from powerful groups,
  • Landscape-level changes create pressure on the regime and
  • Regime destabilisation creates opportunities for niche innovations

When the theory wrong
This theory might be wrong if there is one example that can prove each causation belief is wrong. For example, in MLP case, landscape-level changes not always create pressure e.g palm oil pressure in Indonesia, although international NGO give pressures, nothing happen. Regime destabilisation is prove to be wrong, for example with NEP 2006, but no results. So there must be another explanation which not based on MLP

When the theory right
Well in some cases such as geothermal might be right (maybe)

Is it useful?
Always, to explain the layer of transition . Belief that transition occur in multilayer.

Written by Anjar Priandoyo

Agustus 23, 2017 at 4:16 pm

Ditulis dalam Society

Tagged with

Naik turun media alternative

leave a comment »

Vice Indonesia
Tirto
Voxpop
Hipwee (April 2014)

Geotimes: PT Geotimes Aksara Media (Majalah Opini)
Rommy Adams, lahir di Jakarta 9 Februari 1981, S1 Ilmu Komunikasi Paramadina, S2 University of Western Australia Perth. Farid Gaban.
Kolomnis: Denny Siregar, Nadirsyah Hosen

Update 26 Aug 2017

Naik turun media alternative menarik untuk dikaji. Yang saya amati generasi 1 seperti selasar dan qureta. Generasi 1 ini rasanya sudah mengalami penurunan trafik. Selasar yang formatnya menjadi quora, hampir tidak pernah saya kunjungi lagi. Sementara qureta, memiliki penurunan trafik, yang terlihat dari kualitas tulisannya. Selain itu, isu yang diangkat oleh qureta yang sering kali terkait dengan ahok sudah tidak menarik lagi. Penurunan trafik generasi 1 ini disebabkan beberapa hal:

  • Teknis, format quora selasa menurunkan trafik. format qureta yang meski tetap, tapi mendorong banyak penulis baru juga menurunkan trafik
  • Issues Positioning, selasar yang sejak dulu netral juga kesulitan, termasuk qureta yang sudah tidak ada isu mengenai ahok lagi.

Baru-baru ini saya perhatikan media alternatif lain generasi 2 seperti seword (berdiri Nov 2015) dan Mojok (berdiri Agustus 2014), saya rasa akan memiliki patern yang sama.

Mojok misalnya, menulis mengenai “Imam Mahdi bersemayam dalam diri Rhenald Kasali” merupakan respon dari banyak opini yang ditulis orang mengenai Rhenald Kasali. Artinya media alternative ini akan tetap hidup sepanjang ada sasaran tembak. Sasaran tembak yang tidak bisa di bidik oleh media konvensional seperti Kompas/Detik.

Kalau prediksi saya, Seword akan mengalami penurunan trafik dalam waktu dekat. Mungkin dalam hitungan <6 bulan. Sementara Mojok bisa bertahan lebih lama. Kapan Mojok akan turun trafiknya? kita lihat.

Written by Anjar Priandoyo

Agustus 8, 2017 at 10:47 am

Ditulis dalam Society

Anatomi Penipuan (Deception)

leave a comment »

Praktek penipuan (deception) merupakan sebuah praktek yang sudah berlangsung sejak manusia ada. Code of Hammburabbi (Eye for an eye) (1700BC) melarang menipu diantara 282 pasalnya. Nabi Musa (1300BC) melarang manusia menipu melalui Ten Commandments.

Penipuan ini bisa berupa kebohongan (lie) yaitu memberikan informasi yang tidak sesuai dengan kebenaran, contoh kemarin hujan, padahal tidak. Bisa berupa penyesatan (equivocation), menyembunyikan sesuatu (concealment) atau lebay (++exaggeration –understatement).

Kenapa orang menipu? tentunya selain punya alasan (motive) seperti instrumental/economy (untuk menghindari hukum atau mendapatkan keuntungan), bisa juga karena alasan interrelationship (untuk hubungan yang baik), bisa juga untuk identitas/pencitraan (self image).

Namun, dari penjelasn tersebut, sebenarnya kenapa orang menipu adalah karena orang pada dasarnya mudah tertipu (deceived). Dan kenapa orang mudah tertipu pada dasarnya adalah dikarenakan faktor emosi orang itu sendiri.

Emosi, pada dasarnya dibagi 2: self-oriented emotion dan other-oriented emotion. Self oriented emotion digambarkan dengan jelas lewat Plutchik Emotion Wheel (sedih, senang, marah, empathy dkk). Sedangkan other-oriented emotion (aka Emphatic concern, notes Emphatic concern ini berbeda dengan empathy) ini misalnya simpathy, kasihan (compassion).

Nah, masalah terbesar ini pada emphatic concern, atau orang bilang “Kasihan”. Artinya kalau bertemu pengemis dipinggir jalan maka kita akan berkata “Duh, kasihan ya, ada orang kondisinya seperti itu, ayo kasih receh”. Disini adalah letak permasalahannya (tentunya aturan dilarang memberikan receh pengemis sudah ada).

Selanjutnya? lebih banyak pada self-oriented emotion aka ego/pride. Versi descriptivenya dijelaskan lewat seven deadly sins.

Written by Anjar Priandoyo

Juli 22, 2017 at 10:54 am

Ditulis dalam Society

Seni mbulet

leave a comment »

Taxonomy, ontology, vocabulary (kosakata) merupakan masalah terbesar dalam setiap karya tulis (written documents). Mau proposal, research, business plan. Masalah wording seperti ini selalu mbulet, dan seringkali tidak banyak gunanya.

Contoh yang paling umum untuk menjelaskan antara umum dan detail saja, digunakan banyak istilah misalnya “maksud, tujuan, sasaran” atau “visi, misi” atau “strategi,roadmap” Ini selalu mbulet.

Selain umum dan detail, ada juga yang membuatnya mbulet, misalnya antara proses dan hasil. Misalnya, research question dengan research objectives. Ini apa yang ditanya dan apa yang dibuat. Contoh yang ditanya adalah “apakah api bisa membakar kayu” yang dibuat adalah “kayu yang bisa dibakar”.

ref

Written by Anjar Priandoyo

Juli 21, 2017 at 3:38 pm

Ditulis dalam Society