Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Archive for the ‘Society’ Category

Siklus Startup

leave a comment »

Ada banyak siklus TI, beberapanya misalnya:

1.Siklus Global
2000-2007 Internet, 2007-2014 Facebook, 2014-2021 Smartphone.

2.Siklus Local Consolidation
Siklus ini bisa mengikuti siklus global bisa tidak. Contoh yang mengikuti Gojek (2015) seiring Uber (2014) masuk, tapi yang tidak mengikuti juga banyak, misalnya Local Concentration (2011): Detik oleh Transmedia (2011), Kaskus oleh Djarum (2011). Salah satu perbedaan yang mencolok pada Local Consolidation adalah ikut bermainnya perusahaan Telco dan Media seperti Telco Acquisition (2014-2016): Cipika Indosat (2014-2017), Elevania XL (2014-2017), Mataharimall Lippo (2016), Blanja (2016) dan Media Acquisition Bukalapak oleh Emtek (2015).

3.Siklus Global Consolidation
Koprol oleh Yahoo (2011), dilanjutkan Tokopedia oleh Alibaba (2017) dan Gojek lewat Tencent (2018).

Iklan

Written by Anjar Priandoyo

September 17, 2018 at 4:07 pm

Ditulis dalam Society

Tagged with

Christianity and Europe History

leave a comment »

It is impossible to read a book by Max Weber (Spirit of Capitalism) without having an understanding of Europe history or to be exact religion history. For example why Weber choose four religion as basis of asceticism: Calvin, Pietism, Methodism, Baptist Sect. Interesting, I get a number of book that only can be read with enough understanding about this subject.

Written by Anjar Priandoyo

September 16, 2018 at 1:45 pm

Ditulis dalam Society

Kebodohan kolektif

leave a comment »

Max Weber mengatakan bahwa “Indian geometry had no rational proof, Indian natural science lacked the method of experiment. Rational chemistry has been absent from all areas of culture except the west”. Bertrand Russel mengatakan hal yang kurang lebih sama “Arithmetic and some geometry existed among the Egyptians and Babylonians, but mainly in the form of rules of thumb. Deductive reasoning from general premisses was a Greek innovation”

Weber orang Jerman, musuh ideologis Karl Marx orang Jerman yang tinggal di Inggris. Weber menuliskannya dalam Spirit of Capitalism membantah argumen Das Kapital Marx. Russel orang Inggris, guru ideologisnya Ludwig Wittgenstein, orang Jerman Austria yang tidak lulus S1 di Inggris tapi bisa mendapat PhD dari Cambridge. Russel dan Whitehead membuat pembuktian bahwa 1+1=2 dalam buku sepanjang 300 halaman, Principia Mathematica. Kesimpulan keduanya sama, bisa bukan berarti mengerti.

Orang Indonesia mudah dibodohi, bukan karena tidak bisa matematika. Orang Indonesia mudah tersinggung, bukan karena tidak bisa menahan emosi. Orang Indonesia mudah terprovokasi, bukan karena malas mencari tahu. Orang Indonesia mudah ditipu, bukan karena terlalu percaya sama orang. Penyebabnya hal yang lain. Bisa tapi tidak mau memahami, bisa tapi tidak mau mengerti.

Wiki: Perspectives on capitalism by school of thought
Reading: Philosophical Investigations by Ludwig Wittgenstein, G.E.M. Anscombe (Translator) 1953. Tractatus Logico-Philosophicus by Ludwig Wittgenstein 1921

Max Weber said that Indian geometry had no rational proof; Indian natural science lacked the method of experiment. Rational chemistry has been absent from all areas of culture except the west. For start this has the same argument with Bertrand Russel “Mathematics (deductive reasoning) is invented by Greek”.

According to Weber, capitalism is a rational system in the sense of being calculating, efficient, reducing uncertainty, increasing predictability, and using increasing amounts of non-human technologies. Weber viewed traditional and charismatic forms as irrational ref

Weber has better definition of capitalism than Marx. Capitalistic economic is expectation of profit by the utilization of opportunities for exchange. (first step capital formation, second step opportunity utilization, step three exchange)

Either eat well or sleep well, Protestant prefers to eat well, the Catholic to sleep undisturbed

Written by Anjar Priandoyo

September 16, 2018 at 8:28 am

Ditulis dalam Society

Pendidikan di Inggris

leave a comment »

Ini tulisan yang berkali-kali saya tulis tapi tidak pernah bisa mengerti.

1.Orang Inggris dan Orang Indonesia akan masuk kuliah pada umur yang sama: 18 tahun. Meskipun orang Inggris masuk SD kelas 1 lebih cepat (umur 5 tahun), dibandingkan orang Indonesia umur 6 tahun.

2.Defaultnya, Orang Indonesia yang mau kuliah di Inggris, kalau sudah lulus SMA kelas 3, harus mengulang 1 tahun untuk mengambil A level. Untuk mengakalinya ada dua cara yaitu:
1.Menggunakan jalur International Baccalaurette
2.Menggunakan jalur A-Level
Pilihan ini tergantung jurusan yang akan diambil, tiap jurusan punya policy yang berbeda ref, ref

3.Urusan memilih sekolah ini sangat pelik, karena menentukan apa yang akan diambil selanjutnya. Contoh rating di York ref, ref.

Age: UK vs Indonesia (Age at the beginning of school Sept UK vs Jul Indonesia)
5 thn: year 1 vs –
6 thn: year 2 vs kelas 1
7 thn: year 3 vs kelas 2
8 thn: year 4 vs kelas 3
9 thn: year 5 vs kelas 4
10thn: year 6 vs kelas 5
11thn: year 7 (Secondary) vs kelas 6
12thn: year 8 vs kelas 7 (SMP)
13thn: year 9 vs kelas 8
14thn: year 10 vs kelas 9
15thn: year 11 (Secondary GCSE Exam aka O Level) vs kelas 10 (SMA)
16thn: year 12 (College) vs kelas 11
17thn: year 13 (College A Level Exam) vs kelas 12

Written by Anjar Priandoyo

September 13, 2018 at 3:52 pm

Ditulis dalam Society

Budaya Yunani

leave a comment »

Sophis = skeptis cenderung bullshit (origin: sophia = wise)
Stoic = tahan menderita (suffering in silence)

Menarik Rocky Gerung membantu mempopulerkan istilah-istilah ini

Written by Anjar Priandoyo

September 11, 2018 at 7:26 pm

Ditulis dalam Society

Indonesian Alternate History: Pembiaran

leave a comment »

This is interesting, what if Dutch East Indies (DEI) saved? its impossible, Japan to strong ref. What if DEI treat as colony/dominion? its impossible, cost is too high for Netherland ref. Because its in the bad shape, even if Japan only attack DEI, the future of Indonesia is will not changed ref.

Btw Alternatehistory is better than quora.

1901 DEI Ethische Politiek (cause by 1860 Max Havelaar)
1870 DEI Reform

Written by Anjar Priandoyo

September 9, 2018 at 4:57 pm

Ditulis dalam Society

Budaya

leave a comment »

Dari orang barat, kita bisa belajar bagaimana menghargai diri sendiri (individualism) dalam bentuk Protestant Work Ethics (PWE). Dari orang timur kita belajar bagaimana menghargai orang lain (collectivism) dalam bentuk Confucian Work Ethics (CWE).

Namun ini tidak berarti bahwa orang barat (Poland) punya score PWE lebih tinggi dari orang timur (Korea). Justru orang Korea punya score PWE lebih tinggi dari orang Poland.

Dalam science, attribut budaya tidak menempel pada orang. Penamaan hanya membantu. ref. Sebagai catatan CWE dekat dengan scholarship, hard-work, and perseverance. The Global Dispersion of Chinese Values: A Three-Country Study of Confucian Dynamism ref

Written by Anjar Priandoyo

September 9, 2018 at 10:30 am

Ditulis dalam Society