Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Archive for the ‘Society’ Category

Inspirasi: Penulis Produktif

leave a comment »

Saya membaca buku “Ritual dan tradisi Islam Jawa” ditulis oleh Muhammad Sholikhin. Beliau ternyata penulis yang sangat produktif. Dan saya baru tahu juga bahwa Erlangga punya divisi EMIR khusus untuk penerbitan buku-buku islam, termasuk dengan novel.

http://www.erlangga.co.id/produk/7741-emir-cakrawala-islam.html
http://emir.co.id/m-solikhin/
http://www.solopos.com/2012/08/06/kh-muhammad-sholikhin-belajar-dari-orang-desa-316504

Iklan

Written by Anjar Priandoyo

Januari 14, 2018 at 6:38 am

Ditulis dalam Society

Wayang

leave a comment »

Saya tidak pernah menonton wayang, meski demikian wayang akrab di telinga saya. Mulai dari tayangan Ramayana/Mahabharata, hingga tokoh pandawa yang keren dan punawakan yang lucu.

Kakawin Bhāratayuddha (1157) karya Panuluh (termasuk Kakawin Hariwangsa)

Pararaton/Kitab Raja-raja (1481-1600) (no author) tentang Ken Arok (1222–1292) Singhasari, Mpu Gandring
Babad Tanah Jawi (1722)
Arjunawiwaha (1030) karya Mpu Kanwa, King Airlangga

Kakawin Sutasoma (14th c) Mpu Tantular – Bhinneka Tunggal Ika
Nagarakretagama (1365) Mpu Prapanca – Hayam Wuruk

http://krjogja.com/web/news/read/48846/Wayang_Pembentuk_Karakter_Anak

Written by Anjar Priandoyo

November 19, 2017 at 3:06 pm

Ditulis dalam Society

Pintar

leave a comment »

Pintar itu artinya mampu memahami dan mampu menerapkan konsep dengan baik.

Konsep gotong royong (communal work) misalnya, artinya adalah saling membantu (tolong menolong). Namun konsep gotong royong (Geertz, 1983) bukanlah konsep yang tepat bila dilihat dalam konteks korupsi. Gotong royong secara konsep adalah egalitarian (equality bukan patriarchal/matriarchal) ini berbeda dengan konsep Bapakisme (Paternalism) dan juga berbeda dengan konsep Patriarchal (gender).

Memahami bisa saja salah. Istilah gotong royong dengan nepotisme misalnya.

Selain memahami salah, menerapkan juga bisa salah. Fenomena korupsi berjamaah itu fenomena apa? dan bagaimana mengatasinya?

Namun sebelum pintar, orang harus banyak membaca -punya deskripsi naratif yang lebih banyak, walau jangan terjebak dengan menghafal. Pada banyak situasi, masalah bukan diselesaikan orang pintar, tapi orang yang berimajinasi lebih baik.

Written by Anjar Priandoyo

November 1, 2017 at 12:31 pm

Ditulis dalam Society

Sociology

leave a comment »

Semua ilmu yang berhubungan dengan manusia (interaksi dan strukturnya) adalah ilmu sosial, sementara semua ilmu yang berhubungan dengan benda (interaksi dan strukturnya) adalah ilmu alam (physics). Ilmu sosial yang fokusnya pada masyarakat disebut sosiology, ilmu sosial yang fokusnya pada uang disebut ekonomi, ilmu sosial yang fokusnya pada kekuasaan disebut politik.

Ilmu sosial mempunyai sebuah premis (pendapat) yang tidak logis (illogical, fallacies) bahwa manusia bisa dikelola, direkayasa, diatur layaknya benda (mati dan hidup) yang ada didunia ini. Premis ini mengatakan bahwa perilaku manusia (human behavior) bisa dijelaskan dalam prinsip sebab akibat (causation).

Contoh dalam hubungan bermasyarakat manusia pada dasarnya saling membantu (functionalist) atau saling membunuh (marxist). Dalam hubungan bernegara pada dasarnya bisa liberal atau conservative, sosialis atau kapitalis.

Banyaknya cara pandang dalam ilmu sosial ini menyulitkan dan pada tingkat implementasi bisa berbahaya. Contoh untuk satu aspek saja, ada banyak cara pandang. Bisa dibayangkan betapa rumitnya dalam konsep yang lebih rumit seperti kemiskinan dan kejahatan.

  • Governance (Agency, Stakeholder, Stewardship)
  • Policy (Rational, Incremental, Institutional, Mixed, Game Theory)

Masalah lain dari ilmu sosial adalah bagaimana mengamalkannya. Ilmu sosial harus diamalkan, ilmu politik dalam pemerintahan (termasuk didalamnya energy, environment, election policy), ilmu ekonomi dalam pemerintahan (termasuk didalamnya moneter dan fiskal). Jadi bisa dibayangkan betapa besarnya potensi kerusakan dari pembenaran ilmu sosial ini.

Untungnya dari segi pemanfaatan, masih banyak yang berpandangan bahwa ilmu sosial ini tidaklah bermanfaat. Dari ilmu sosial yang paling bermanfaat bermanfaat adalah Economics, Politik dan Sosiologi (sebenarnya nomor satu adalah psikologi) ref.

Written by Anjar Priandoyo

Agustus 27, 2017 at 5:02 pm

Ditulis dalam Society

Sociological Theory

leave a comment »

A theory is more impressive the greater is the simplicity of its premises, the more different are the kinds of things it relates and the more extended its range of applicability
Albert Einstein (quoted in Rifkin, 1980: 43)

Causal Interpretation = Premise = Logic

Marxist

  • Perspective: Historical Materialism, Dialectic
  • Causal Interpretation: Society gap cause conflict
  • Implementation: For better society, a revolution should be made

Functionalist:

  • Causal Interpretation: Deviant cause conflict
  • Implementation: For better society, a welfare improvement should be made

Secular

  • Causal Interpretation: Human cause advance
  • Implementation: For better society, priority should be to human

Religious

  • Causal Interpretation: Deity cause advance
  • Implementation: For better society, priority should be to spiritual balance

MLP

  • Causal Interpretation: Governance (Multi-layer actor) cause transition
  • Implementation: For better society, energy policy should include multi-layer. E.g policy to subsidized renewable energy
  • Purpose: To explain roles of governance
  • Success: Explain household transition (why LPG is success and why Coal Briquette is not)
  • Failure: Electricity transition case

TIS

  • Causal Interpretation: Innovation cause transition
  • Implementation: For better society, energy policy should promote innovation. E.g policy to subsidized solarpv
  • Purpose: To explain roles of technology
  • Success: Explain electricity innovation (Why Geothermal is success and why Solar PV is not)
  • Failure: Coal briquette case, in contrast with successful LPG transition.

Written by Anjar Priandoyo

Agustus 24, 2017 at 6:34 am

Ditulis dalam Society

Tagged with

How to attack a theory

leave a comment »

Counter Attack
Theory says: kemiskinan menciptakan kejahatan
Evidence: most of crime (in term of frequency) happen on poor area
Usage: to prevent crime, poverty alleviation is required

Critics: kemiskinan tidak menciptakan kejahatan, ignorance menciptakan kejahatan
Evidence: some of biggest crime (in term of amount) happen on rich area
Usage: to prevent crime, education is required

Sub Counter Attack
Theory says: kemiskinan menciptakan kejahatan
Sub Theory says: pengangguran menciptakan kemiskinan
Sub Theory says: pengangguran menciptakan kejahatan

Evidence: most of crime (in term of frequency) happen on poor area, conducted by jobless people
Usage: to prevent crime, mass employment is required

Written by Anjar Priandoyo

Agustus 23, 2017 at 4:24 pm

Ditulis dalam Society

Tagged with

Why sociological theory is easy to be argued

leave a comment »

Causation is a belief concept. People might believe that saving make people rich, saving cause rich. However this belief is not always true. When people save money, at certain amount they will consume into something that is not useful, for example they buy car. The car need gas, need insurance and at some point is broken and it makes that people poor.

However in research (argumentative, opinion based writing), people might argue that saving will make people to live frugal, therefore saving will not make people buy expensive car. The proponent of this theory will explain that if people always save money they will be rich, if people save 20% of its income for duration 10 years they will reach 1,000 USD (for example, that is quantitative analysis). The scholar that use this research might argue that if a society does not save, they will become poor.

Let see MLP theory, criticized by Levidow and Upham (2017)

  • Niche-innovations build up internal momentum, through learning processes, price/performance improvements, and support from powerful groups,
  • Landscape-level changes create pressure on the regime and
  • Regime destabilisation creates opportunities for niche innovations

When the theory wrong
This theory might be wrong if there is one example that can prove each causation belief is wrong. For example, in MLP case, landscape-level changes not always create pressure e.g palm oil pressure in Indonesia, although international NGO give pressures, nothing happen. Regime destabilisation is prove to be wrong, for example with NEP 2006, but no results. So there must be another explanation which not based on MLP

When the theory right
Well in some cases such as geothermal might be right (maybe)

Is it useful?
Always, to explain the layer of transition . Belief that transition occur in multilayer.

Written by Anjar Priandoyo

Agustus 23, 2017 at 4:16 pm

Ditulis dalam Society

Tagged with