Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Filsafat

leave a comment »

Filsafat adalah sebuah metode sama seperti COBIT, PMBOK atau SDLC sebagai sebuah metode. Sebuah kerangka berpikir yang tidak ada wujud fisiknya. COBIT PMBOK bisa saja beranggapan bahwa metode mereka punya wujud fisik, ada software ACL, ada software project management hingga software release management atau bahkan mesin-mesin.

Buat saya sebagai orang IT, filsafat ini lebih mudah dianggap sebagai sebuah sistem. Dalam pandangan ilmu komputer, sebuah sistem komputer sederhananya bisa terdiri dari OS, Database, dan usernya. Dalam pandangan ilmu komputer juga, sebuah sistem informasi sederhananya bisa terdiri dari Application layer dan Database. Selalu terdiri dari dua bagian ini, apa algoritmanya dan apa datanya.

Artinya memecahkan masalah dari kacamata filsafat sebenarnya terdiri dari dua hal saja: punya data yang cukup dan punya logic yang bagus. Data yang bagus bisa didapatkan dari experience, pengalaman sebanyak-banyaknya. Namun keputusan yang bagus juga harus dilihat dari logic yang bagus. Semisal seorang tentara yang mencoba peperangan ternyata 3 kali menang terus, tidak berarti dalam pertempuran yang keempat ia pasti menang. Ada banyak faktor yang perlu dipertimbangkan.

Sedikit catatan mengenai filsafat ada dua pendapat dari orang filsafat yang menurut saya menarik. Dalam buku saku filsafat, penulis yang ahli filsafat mengatakan bahwa filsafat tidak ada gunanya. Pendapat kedua dari seorang lulusan fakultas filsafat. Mengatakan yang kurang lebih sama bahwa filsafat hanya berguna dimasa lalu ketika ilmu belum memiliki spesialisasi, ketika sekarang ilmu sudah ada spesialisasi maka filsafat tidak lagi diperlukan, tapi diserahkan pada masing-masing bidang ilmu sebagaimana fungsinya sebagai ilmu formal.

Iklan

Written by Anjar Priandoyo

November 11, 2018 at 2:46 pm

Ditulis dalam Life

Keseimbangan

leave a comment »

Mungkin masa-masa paling menegangkan selama proses sekolah adalah menyadari bahwa ini tidak berbeda dengan proses sekolah-sekolah sebelumnya. Sekolah sarjana atau paska sarjana sebenarnya sama, dalam hal pengaturan waktu. Sekolah dimanapun punya waktu luang yang relatif banyak. Kuliah misalnya, sehari mungkin hanya ada 2 jam pelajaran, jam 10:00 pagi dan dilanjutkan jam 2:00 siang. Terpisah hampir 3 jam diantaranya.

Di waktu senggang ini orang menggunakannya untuk ke perpustakaan, mengerjakan tugas di laboratorium, main game, mengikuti kegiatan ekstra kampus atau kegiatan lainnya. Masalah pengaturan waktu ini juga semakin kompleks kalau dihubungkan dengan agenda lain semisal ada kunjungan teman dari kota lain, mencoba bekerja paruh waktu, atau membagi waktu dengan kegiatan pribadi seperti mencuci atau memperbaiki motor.

Bagaimana melewatinya? kalau berdasarkan pengalaman saya saat ini melewatinya harus dengan keseimbangan. Semisal tidak bisa orang sepenuhnya tidak berorganisasi, mesti seimbang membagi waktu antara berorganisasi dengan bekerja. Termasuk membagi waktu antara menghadiri acara musik hingga belajar ataupun membaca buku.

Written by Anjar Priandoyo

November 11, 2018 at 1:04 pm

Ditulis dalam Life

Facebook

leave a comment »

Menghentikan kebiasaan memposting di Facebook sudah bisa saya lakukan, minggu depan rasanya bisa menembus waktu 2 bulan, sesuatu yang selama satu tahun terakhir ini tidak bisa saya lakukan. Menghentikan kebiasaan melihat update status dari teman sudah bisa saya lakukan seminggu ini. Yang tersisa dan belum bisa dikelola dengan baik adalah melihat status group, namun sudah bisa lebih jarang dilakukan. Group sekolah sudah bisa dilihat dalam frekuensi 2 harian dan grup alumni bisa dilihat dalam frekuensi mingguan.

Sebenarnya FB ini tidak bisa dilihat sebagai sebuah teknologi informasi atau teknologi sosial semata. Fungsi FB sebagai sarana informasi atau media punya keterbatasan karena lama-lama penonton televisi berita pun akan bosan, penonton acara discovery hanya akan membatasi tayangannya pada informasi tertentu.

FB ini paling tidak bisa dilihat sebagai sebuah teknologi yang menaungi beberapa kebutuhan manusia sekaligus, misalnya (1) informasi (2) sosial komunikasi (3) pendidikan. Bagi yang menolak FB ada yang beranggapan bahwa aspek sosial komunikasinya lah yang berdampak buruk. Bagi masyarakat yang masih tinggi sifat komunalnya dan belum sepenuhnya menjadi masyarakat individual tentunya orang yang jadi bagian masyarakat ini menginginkan untuk mengurangi akses facebook atas alasan ini.

Written by Anjar Priandoyo

November 11, 2018 at 11:27 am

Ditulis dalam Life

Melihat lebih baik

leave a comment »

Karena beberapa tulisan di wordpress sangat-sangat bagus dan tentunya tidak ada yang membaca. Maka rasanya tidak salah untuk menulis sesuatu yang lebih personal di wordpress. Gunanya hanya satu sebagai hobi yang menenangkan pikiran. Sama seperti pelukis yang menghabiskan waktunya untuk mengulang-ulang membuat sebuah gambar.

Cerita yang ingin saya sampaikan hari ini adalah mengenai perjalanan hidup seseorang. Di kantor misalnya, ada beberapa bos yang punya pola interaksi yang buruk. Sama seperti di kampus ada beberapa teman yang punya pola interaksi atau sifat yang tidak baik. Semisal ada orang yang sombong, datang dari keluarga berada. Tapi ada pula orang yang sombong datang dari keluarga tidak berada. Ada juga yang tidak sombong, datang dari keluarga berada. Dan tidak sombong dan datang dari keluarga tidak berada.

Secara singkat, di satu jurusan misalnya dengan jumlah mahasiswa 80 orang, kita bisa membagi perilaku sombong dan latar belakang ekonomi dalam empat group. Kalau variablenya diperluas lagi, maka kita bisa membaginya dengan anak kota atau daerah, anak sulung atau bungsu, etnis, agama dan seterusnya. Di kantor juga sama, ada banyak pengelompokan yang bisa dilakukan mengenai seseorang bos.

Kalau dilihat dari sisi saya sendiri, sebenarnya dimensi ini lebih mudah kalau dilihat dari dua bagian saja. Atasan vs Bawahan, Dominan vs Pasif, Egois vs Altruis dan seterusnya. Orang mungkin tidak pernah punya masalah dengan bawahan, namun punya banyak masalah dengan atasan.

Artinya ini juga sama, ada orang yang melihat dirinya selalu diatas, selalu yang dominan, sialnya orang ini tidak berprestasi. Sebaliknya juga ada orang yang melihat dirinya selalu dibawah, selalu yang pasif, sabar dan asketis lainnya, tapi sialnya orang ini juga berprestasi.

Written by Anjar Priandoyo

November 10, 2018 at 6:42 pm

Ditulis dalam Life

Strategi A Strategi B

with 2 comments

Tadi saya sempat menulis bahwa rencana itu tidak ada gunanya. Rencana adalah sesuatu yang tidak nyata (unreal), imajinasi (imaginary), sesuatu yang tidak ada gunanya. Cadangan (backup) jauh lebih berguna. Seorang tentara yang akan menyerang sebuah benteng musuh tidak ada gunanya punya banyak rencana, lebih baik punya banyak sumberdaya (resource) yang sebenarnya merupakan sebuah cadangan. Ilustrasi yang saya tulis sebelumnya mengambil contoh mengenai rencana seseorang yang akan bekerja setelah lulus kuliah.

Kalau rencana itu tidak ada gunanya, lalu bagaimana dengan kondisi dimana ada orang yang punya sumber daya hampir sama, namun ternyata punya hasil yang berbeda. Mungkin contoh yang paling mudah dilihat dari bagaimana persentase keberhasilan studi mahasiswa dalam hal waktu kelulusan.

Kalau saya lihat lagi sekarang. Sebenarnya, bagi seorang mahasiswa apapun kinerjanya, rajin atau malas, mahasiswa itu pasti akan lulus. Persentase kegagalan sangat kecil. Sama seperti persentase orang yang tidak puas makan disebuah restoran laris sangat kecil, mayoritas orang puas. Artinya strategi orang untuk lulus cepat atau lambat tidak bergantung pada situasi dan kondisi orang tersebut.

Semisal orang yang mendapatkan dosen killer, topik penelitian yang berat, bisa jadi akan lulus cepat, jika orang tersebut niat lulus cepat. Namun ada orang yang mendapatkan dosen enak, penelitian enak, justru tidak bisa lulus dengan cepat.

Kesimpulannya:

  1. Tidak ada orang jenius. Tidak ada orang yang super pintar, punya banyak rencana, sehingga orang tersebut bisa mendapatkan tempat kerja yang bagus. Yang ada adalah orang yang punya backup, misalnya cukup uang untuk wawancara ke Jakarta atau cukup jaringan untuk bisa bekerja di Jakarta.

  2. Tidak ada orang jenius yang punya strategi yang efektif. Efektivitas sebuah strategi lebih banyak pada masalah waktu, orang yang strateginya efektif, relatif lebih cepat dibandingkan yang tidak punya strategi efektif. Orang yang strateginya efektif memungkinkan untuk memotong beberapa titik (mencari shortcut) sehingga jalan yang ditempuhnya lebih cepat.

Kita lihat. Kira-kira dalam enam bulan terakhir ini apakah strategi saya bisa berjalan dengan baik atau tidak.

Written by Anjar Priandoyo

November 9, 2018 at 5:06 pm

Ditulis dalam Life

Rencana A Rencana B

leave a comment »

Begitu lulus kuliah saya punya beberapa rencana. Rencana A, saya mau kerja sebagai programmer. Rencana B, saya mau kerja sebagai MT bidang umum. Rencana C, saya bekerja di perusahaan MNC. Rencana ini ternyata terus bertambah banyak, tiba-tiba bertemu seorang senior yang menggambarkan peluang bekerja sebagai sales engineer saya segera menambahkan rencana D untuk menjadi sales enginer, ketika menghadiri job fair saya segera menambahkan rencana E untuk menjadi bagian konglomerasi besar.

Sekarang saya baru sadar, begitu banyak rencana sebenarnya tidak ada gunanya. Waktu lulus kuliah sebenarnya rencana saya cuman satu: mencari pekerjaan. Cadangan saya sebenarnya juga cuman satu, bekerja sebagai operator warnet. Saya punya satu cadangan yang lain tapi sudah saya hentikan yaitu menjadi trainer komputer.

Jadi sebenarnya rencana A hingga E yang saya sebut diatas itu tidak ada artinya. Pada saat itu rencana saya cuman satu mencari kerja dan cadangan saya hanya satu. Saya punya teman yang punya dua cadangan: menjadi operator warnet sekaligus menjadi trainer. Tapi saya juga punya teman yang tidak punya cadangan sama sekali. Waktunya hanya dihabiskan untuk menunggu hasil lamaran kerja.

Sekarang saya mengulang kembali apa yang sudah terjadi empat belas tahun yang lalu. Di kepala saya saat ini ada banyak sekali rencana yang ingin saya lakukan. Rencana ini sebenarnya tidak ada gunanya, sama seperti waktu lulus kuliah sebelumnya. Namun belajar dari pengalaman sebelumnya, maka yang paling penting adalah cadangan. Cadangan saya saat ini adalah nilai tambah lain yang bisa saya dapatkan kalau kedepan ternyata ada kemungkinan yang sangat buruk yang terjadi. Beberapa sudah saya siapkan, misalnya menulis buku, mengajar dan membangun sertifikasi.

Untuk menulis buku rasa-rasanya tidak terlalu efektif. Setahunan ini sudah saya lakukan hasilnya tidak terlalu kelihatan. Sebelumnya ada rencana cadangan lain yang ingin saya lakukan yaitu menjadi peneliti, namun juga tidak efektif. Kalau melihat empat tahun terakhir ini yang paling efektif bisa saya lakukan adalah menjadi pelari.

Written by Anjar Priandoyo

November 9, 2018 at 4:52 pm

Ditulis dalam Life

Menjauhi sikap sombong

leave a comment »

Untuk urusan bersikap, bagaimana sikap yang paling baik hanya bisa dilihat dari kacamata agama. Melihatnya dari kacamata sains atau rasional sangat sulit. Sebagai contoh sikap sombong itu diatur dalam Quran dan Hadist ref. Selanjutnya untuk mentrack bagaimana pengaturannya dalam hadist pun saat ini sangat mudah. Misalkan di trace ke Book of Faith Sahih Muslim ref

Written by Anjar Priandoyo

November 9, 2018 at 1:45 pm

Ditulis dalam Life