Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Carbon-based Framing

leave a comment »

Di dunia ini, matter (benda, sesuatu) itu wujud fisiknya (yang bisa bisa terlihat) cuman tiga macam saja yaitu gas, padat, cair (dan plasma). Namun kalau dilihat dari kandungan kimia-nya bisa dibagi dua yaitu substance (zat) atau mixture (campuran). Substance itu segala hal yang terdiri dari satu jenis molekul saja contohnya arang, diamond, sementara mixture lebih gabungan beberapa substance.

Sebuah benda padat itu sifat kimianya bisa berbeda. Bisa berupa elemen carbon saja e.g Diamond C(s,diamond), Graphite C(s,graphite), bisa berupa molekul H2O e.g es batu. Secara umum bisa dibagi dua, subtance contohnya Air dan mixture contohnya Kopi.

Dari semua benda itu, yang paling penting adalah organic compound (secara definisi apapun yang mengandung (atau banyak mengandung) carbon (C), walaupun sejarahnya organic berasal dari mahluk hidup, e.g Urea/Amonia NH3 bisa disintesis).

Organic Carbon (TOC: Total Organic Carbon) bisa dibagi dua: berdasarkan molekulnya

  • TIC: Inorganic Carbon: CO2, Carbonate
  • TOC: Organic Compound: Living organism

Organic Carbon (TOC: Total Organic Carbon) bisa dibagi dua: berdasarkan atomnya

  • Elemental Carbon (EC) aka Black Carbon
  • Organic Matter (OM)

Organic compound ini kalau dipisahkan lagi, bisa dibagi menjadi

  • Carbon saja: Black Carbon (Inorganic Carbon), Elemental Carbon (EC), charcoal, coal, soot (diamond, graphite). EC can be extraction of TIC or TOC
  • Hidrocarbon: CH: Organic Carbon
  • NMVOC: Non Methane: Organic Carbon

One major distinction is between natural and synthetic compounds. Organic compounds can also be classified or subdivided by the presence of heteroatoms, e.g., organometallic compounds, which feature bonds between carbon and a metal, and organophosphorus compounds, which feature bonds between carbon and a phosphorus

yang paling penting adalah hidrokarbon (secara definisi hanya terdiri dari C dan H saja).

Jargon ref stackexchange

  • Elements/Atom: Atom: H
  • Molecules: Molekul: H2, H2O
  • Compound: Senyawa: H2O, CH4 (H2, N2, O2 is not compound because it is composed of single element)
  • Substance: aka Pure Substance, Pure Mixtures: H2O
  • Mixture: Campuran: Gasoline (C6H14 and C12H2): Octane (C8H18) + Butane (C4H10) + 2,2,4-Trimethylpentane + 3-ethyltoluene: Benzene (C6H6) ref major component of gasoline. Gasoline US, Petrol UK, Bensin German, Indo, Thai (Benzene).

LPG: Substance: propane (C3H8), mostly butane (C4H10)
Natural Gas: Substance: methane (CH4)

A compounds are molecules, but not all molecules are compounds ref, ref
A molecule is formed when two or more atoms join together chemically

There are four main types of hydrocarbons found in crude oil.

  • paraffins (15-60%)
  • naphthenes (30-60%)
  • aromatics (3-30%)
  • asphaltics (remainder)

Framing dimana-mana susah, sepeda yang tidak bisa ngebut, bisa karena ban-nya kempes, kurang oli atau memang tenaga mengayuhnya yang kurang. Sama halnya dengan Air pollution, yang bisa diframing berdasarkan komposisi (chemical, size), formation, lifetime dan sources.

Salah satu framing yang bisa digunakan adalah Carbon-based Framing. Artinya melihat segala sesuatu dari sisi kehidupan (CHONPS)

Combustion misalnya, secara teori combustion will turn all the carbon in the fuel into CO2, in practice Combustion is never complete (combustion will produce CO, VOC, NVOC that condense and form OC dan BC aerosols:

Combustion result:
– CO2
– CO
– VOC
– NVOC > condense and form OC > also called Organic Matter (OM)
– BC Aerosols > also called Elemental Carbon (EC)

PM adalah term yang sangat general, yaitu framing berdasarkan size.

Although the definition and measurement techniques for atmospheric “black carbon” (“BC”) or “elemental carbon” (“EC”) have long been subjects of scientific controversy, the recent discovery of light-absorbing carbon that is not black (“brown carbon, Cbrown”) makes it imperative to reassess and redefine the components that make up light-absorbing carbonaceous matter (LAC) in the atmosphere (Andreae & Gelenser)

Note:
Black carbon or brown carbon? The nature of light-absorbing carbonaceous aerosols M. O. Andreae and A. Gelencsér

Emissions of volatile organic compounds from plants and their role in air quality
NASA Volatile Trees

Iklan

Written by Anjar Priandoyo

September 5, 2017 at 3:42 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with

Why my english bad #4: A word that you never heard (Vocabulary)

leave a comment »

Hari ini saya mendengar kata “Opaque” untuk pertama kalinya. Kata ini sebenarnya sudah sering saya lihat di Photoshop dan image editor lainnya. Seingat saya kata ini berhubungan dengan fitur transparan di Photoshop. Baru hari ini saya menyadari bahwa Opaque adalah sebuah kata yang sama sekali berbeda. Opaque adalah opposite dari Transparent.

  • Tembus pandang: Transparent
  • Tidak tembus pandang: Opaque
  • Mudah menguap: Volatile
  • Tidak mudah menguap: Refractory (dalam planetary sciences, relatively high to Thermodynamic equilibrium

Kosakata Bahasa Indonesia memang tidak terlalu banyak, apabila dibandingkan dengan bahasa Inggris, penyebabnya adalah jumlah penuturnya yang tidak banyak (termasuk tidak tersebar ke seluruh dunia), penyebab lain adalah banyaknya kata dalam bahasa Indonesia yang tidak standar, yang bisa mengambil bahasa jawa (e.g mules, dingklik) atau menggunakan penyebutan nama berdasarkan fungsinya (e.g cekrekan (stapler), plembungan (permen karet)).

  • Stool: kursi tanpa lengan (chair without armrests or backrests)
  • Step Stool: Dingklik
  • Dingklik: Step stool that used to sit; small stool

Lalu bagaimana menyikapinya, bila kosa kata kita tidak banyak
Hidup itu sebenarnya mempelajari kosa kata

English Native
Umur 4 tahun: 5,000 kata
Umur 8 tahun: 10,000 kata
Umur 18 tahun: 15,000 kata

Foreign
Umur 18 tahun: 15,000 (-4,500 english?)
Foreign people yang move to english for the rest of his life: 15,000 (-10,000 english)

Makanya anak umur 4 tahun bisa punya kemampuan bahasa yang lebih baik dari orang dewasa. Dan makanya foreign people di Inggris kosakatanya tidak bisa sebanyak native.

Lalu berapa yang target yang harus dikejar? sebenarnya kalau dari AWL (Academic Word List) hanya 570 kata. Ini saja saya tidak semuanya tahu.

Statistics
Jumlah kata bahasa Inggris: >1 million words
Dutch: 90,000 words
KBBI 2008: 90,000 words
English: 220,000 words
Oxford 3000: 3,000 words
AWL: 570 words

ref, ref

Written by Anjar Priandoyo

September 5, 2017 at 11:36 am

Ditulis dalam Science

Tagged with

Why my english bad #3: Sickness and Feeling

leave a comment »

This two (Feeling and Sickness), I think the most difficult part of English that Indonesian (at least me) found difficult to learn. The key is not try word-by-word translation, but through understanding English word first, and try to find its equivalent in Indonesian word.

Sakit Perut (General Term): Stomach Ache, Stomach Pain, Abdominal Pain, Tummy Ache
Medical Term: Gastritis (Stomach Inflammation),

Sakit Perut is very general Indonesian EYD term, which is polite term, but it can be anything. It can be:
– Mules, want to go to toilet
– Mulas, nervous
– Melilit, hurt (maag)
– Sakit, menstruation
– Maag

In english, the similar term that can be used:
– Heartburn, Mulas
– Indigestion,

Cure of Sakit Perut:
– Antacid: Neutralizes stomach acidity: in the form of Effervescent (Sodium Carbonate release CO2), Algeldrate. Ranitidine (b1976)

Masuk Angin: Feeling unwell, Catching cold old rarely used term

Written by Anjar Priandoyo

September 5, 2017 at 10:59 am

Ditulis dalam Science

Tagged with

Teori lulus kuliah tepat waktu

leave a comment »

Seingat saya, tidak ada seorang pun dikampus yang senang kuliah. Kuliah itu susah, pagi belajar jaringan, siang belajar database, malam belajar coding. Rasanya hampir mustahil bisa menikmati masa kuliah, tugas yang banyak, ngoprek yang luar biasa sulitnya, hingga nilai yang tidak berbelas kasihan. Begadang sepanjang malam hingga banyak masalah dengan teman.

Maka logikanya, semua mahasiswa ingin lulus secepatnya, meninggalkan diri dari problematika selama kuliah. Namun, ternyata tidak semua mahasiswa lulus kuliah dengan cepat. Aneh kan?

Dugaan saya adalah, semua mahasiswa itu takut tidak mendapatkan pekerjaan. Ini cerita yang umum, bagaimana tidak tertekan-nya mahasiswa tahun keempat, melihat senior-nya yang berbeda empat tahun diatasnya, masih belum mendapatkan pekerjaan. Atau mendapatkan pekerjaan tapi seadanya -didaerah, menjaga warnet misalnya. Salah satu dugaan saya, khususnya bagi anak teknik, adalah tidak memiliki skill yang cukup. Contoh, lowongan yang dicari pengalaman 2 tahun dengan Java. Nah, mahasiswa ini berusaha mencari pengalaman coding Java, baik bekerja di proyek atau mempelajari sendiri otodidak. Faktor ketakutan ini yang mendorong mahasiswa tidak cepat lulus.

Namun, sekarang teori ini perlu ditinjau kembali. Bagaimana dengan kasus mahasiswa S3. Mahasiswa ini juga tidak senang kuliah (baca: meneliti) tapi mahasiswa ini tidak punya dilema seperti mahasiswa S1 dalam mencari pekerjaan. Mahasiswa ini setelahnya sudah pasti mendapatkan pekerjaan. Lalu mengapa tetap saja terdapat fenomena Mahasiswa yang lulus-nya tidak tepat waktu.

Dugaan saya sama, mahasiswa ini juga sama, takut tidak mendapatkan kehidupan selayak sekarang. Bila kehidupan setelah lulus kuliah dianggap lebih sulit daripada kehidupan pada saat lulus kuliah, maka sudah dipastikan mahasiswa tipe ini akan lama lulus kuliahnya.

Refleksi
Untuk bisa menggunakan teori, suatu teori harus konsisten digunakan. Dan teori akan selalu benar, jika digunakan asumsi yang sama. Contoh, teori bahwa “Manusia itu kalau laper berantem”, tapi bagaimana dalam sebuah kondisi kenyang tapi tetap berantem. Konsistensi teori itu menjelaskan artinya, manusia tadi belum dalam kondisi kenyang (sebenarnya masih lapar, sehingga terus berantem). Artinya untuk menerapkan teori tersebut, manusia itu harus dipenuhi dulu apa yang membuatnya masih lapar e.g harta (tidak lagi secara materi makanan).

Jadi kenapa saya ingin lulus cepat? karena saya percaya ada kehidupan yang lebih baik setelah saya lulus kuliah nanti. Orang yang lulus kuliahnya lama adalah orang percaya bahwa kehidupannya saat ini sebagai mahasiswa adalah kehidupan terbaiknya.

Written by Anjar Priandoyo

September 4, 2017 at 9:17 pm

Ditulis dalam Life

Wisuda – rencana sempurna untuk lulus tepat waktu

leave a comment »

Saya tidak pernah menduga bisa lulus kuliah persis selama 4 tahun. Seingat saya, kakak angkatan saya paling cepat menyelesaikannya dalam 4.5 tahun, diangkatan saya yang lulus persis 4 tahun hanya 1 orang ditambah saya menjadi 2 orang, itu pun karena orang pertama tadi memang sangat rajin belajar. Sebagai pembanding, saya bisa menyelesaikan kuliah termasuk dengan KP selama 2 bulan di Kantor Pusat BRI Jakarta, masih ditambah KKN di Sukoharjo selama sekitar 2 bulan juga ditambah kerja Partime selama 1 tahun terakhir. Banyak teman kuliah saya yang bisa lulus kuliah tanpa mengambil KP Jadi kalau dihitung net masa kuliah, saya bisa mengklaim lulus dalam waktu 3.5 tahun, jika dikurangi waktu KKN, waktu KP dan waktu partime. Meski demikian harus diakui bahwa saya lulus dengan IPK sedang saja, persis 3.00.

Kalau diingat-ingat, saya memang tidak merencanakan lulus persis 4 tahun, yang saya rencanakan adalah lulus dengan IPK >3.00 mungkin pantas-pantasnya adalah IPK 3.20. Hanya waktu itu, di detik-detik terakhir (20 Juli 2004 setelah pendadaran, baru rencana saya berubah), setelah saya hitung-hitung lagi, lebih tepatnya setelah saya mengulang mata kuliah IMK (Interaksi Manusia Komputer) kedua kalinya dan tetap mendapat nilai C, saya menyadari bahwa bila pun saya bisa mencapai 3.10 tapi dengan catatan waktu masa kuliah 4.5 tahun, rasanya lebih baik saya mendapatkan IPK 3.00 dengan masa kuliah 4 tahun. Singkatnya perhitungan saya ini benar.

Saya mencoba mengingat lagi, apakah memang tidak saya rencanakan?

di UGM semester itu hanya ada dua kali dalam setahun. Semester ganjil dimulai di Agustus dan semester Genap dimulai di Februari. Semester Pendek itu policy masing-masing kampus. Kira-kira timeline saya untuk pengerjaan skripsi sebagai berikut:

Jul – Aug 2003: KKN Semester Pendek akhir tahun ketiga

Aug 2003 – Jan 2004: Semester Tujuh
15 Sept – 15 Nov 2003: KP Kantor Pusat BRI (Jakarta already change my mind)

01 Februari 2004, day 1 skripsi
13 Mei 2014, Parttime SIC
19 Juni 2004, Presentasi di SNATI
20 Juli 2004, Pendadaran

Apa kesimpulannya?
Kalau dilihat timeline kuliah dahulu, momen paling penting adalah pada saat akhir tahun ketiga, yang merupakan rangkaian KKN dilanjutkan KP. Ini bukan artinya semua-semua harus dikerjakan, tapi justru karena KKN dan KP bisa terselesaikan maka Skripsi juga bisa diselesaikan dengan cepat dalam waktu sekitar 4 bulan. Artinya untuk bisa lulus skripsi dalam waktu 4 bulan, harus mengambil KKN 2 bulan dan KP 2 bulan. KKN dan KP adalah latihan menjelang Skripsi.

Entah ini resep yang bisa dipakai lagi atau tidak saya tidak pernah tahu.

Yang saya ingat, orientasi saya dahulu selalu IPK, bukan masa studi. Orientasi IPK ini lebih populer dibandingkan target masa studi. Baru di detik-detik terakhir saya mengambil orientasi masa studi. Implikasi dari masa studi ini adalah masa pencarian kerja saya menjadi lebih cepat karena saya menghitung dimensi waktu. Sehingga Oktober 2004 saya langsung bekerja. Persis selang 1 bulan setelah wisuda. Istilahnya, IPK itu Prepared plan, sementara masa studi itu Emerging Plan.

Bagaimana penerapan teori ini?
Kalau memang saya sudah menyadari rencana ini sejak dulu, maka pada semester 7 saya tidak akan mengambil KP, karena terlalu beresiko – misalnya saya jadi lebih senang kerja daripada menyelesaikan kuliah. Sebagai gantinya saya akan mengambil bimbingan skripsi pada semester 7 (yang rasanya pada waktu itu tidak mungkin dilakukan, yang artinya kecil kemungkinan ada anak di angkatan saya yang bisa menyelesaikan kuliah dalam 3.5 tahun).

Maka untuk bisa membuktikan teori ini, maka submission harus dilakukan pada akhir tahun ketiga.

Written by Anjar Priandoyo

September 4, 2017 at 8:43 pm

Ditulis dalam Life

Tagged with

Batas Batas

leave a comment »

Waktu kuliah dulu, saya sempat belajar Interbase sebentar saja, beberapa kali install, mencoba query setelah itu sudah. Berhenti. Ini perasaan yang sama, yang muncul kembali ketika membuka kembali Panoply untuk membaca file netCDF, termasuk membuka kembali MARKAL dan ARIS. Tag ARIS sudah saya hapus dalam catatan saya, tidak butuh waktu yang lama, sama seperti mengh apus Tag PHP terdahulu. Semoga saya akan selalu teringat misi saya, sama seperti Jayabaya yang menuliskan ramalan tentang Jagung.

Written by Anjar Priandoyo

September 3, 2017 at 6:34 pm

Ditulis dalam Life

Pseudoscience

leave a comment »

Obat flu, dalam hal ini Decongestant yang bekerja untuk menyembuhkan hidung tersumbat (nasal congestion) misalnya Pseudoephedrine, bekerja dengan menyebabkan pembuluh darah menyempit (vasoconstriction) sehingga peradangan pada hidung (nasal membranes) dan produksi ingus (mucus) berkurang. Obat flu ini secara teknis tidak membunuh virus penyebab flu dan tidak menyembuhkan penyakit flu.

Efek yang sama bisa didapatkan dari berolahraga yang juga menyebabkan terjadi vasoconstriction dengan tujuan agar tekanan darah meningkatkan sehingga darah bisa didistribusikan dengan lebih cepat. Dalam berolahraga, meningkatkan adrenaline, sehingga membuat detak jantung lebih cepat dan voila efek yang sama persis dengan apa yang Decongestant hasilkan.

Baik Decongestant maupun olahraga tidak menyembuhkan flu. Dan dua-duanya bisa dipandang beberapa orang sebagai pseudoscience alias tidak ilmiah alias lebih banyak sugesti saja. Jadi, bisa saja ada orang yang berpendapat yang menyembuhkan flu hanyalah beristirahat. Yang mungkin salah satu langkah beristirahat adalah dengan makan sop ayam hangat dan menonton film.

Kalau obat flu saja pseudosciences, apalagi meditasi dan diet. Ada banyak hal yang harus berhati-hati dalam menyikapinya, apalagi dalam kondisi sulit dimana orang selalu mencari jalan alternatif.

Written by Anjar Priandoyo

September 3, 2017 at 1:43 pm

Ditulis dalam Science