Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

How to combine 3 different area

leave a comment »

Scenario development
Scenario construction (e.g interview, mca)

Scenario analysis
Emission Scenario > IPCC Special Report on Emission Scenario
Energy Scenario > IEA Worls Energy Outlook / New Energy Scenario
IEA energy quantities projection: bottom up simulation model
IEA fossil fuel price projection: expert opinion
IEA carbon constrained scenario: oecd top down model

Impact Analysis

Integrated Assessment Model

Written by Anjar Priandoyo

Juli 25, 2017 at 8:19 pm

Ditulis dalam Science

Tradisi Kompleksitas Ilmu Pengetahuan

leave a comment »

“Ilmuwan itu seharusnya fokus”, ini mantra yang saya dengar sejak dulu. Kalau tukang mesin, meski dia bisa memperbaiki segala jenis mesin, tapi mesti belajar juga untuk menghaluskan kayu, mengasah pisau dan mengelas besi. Cuman belakangan ini saya merasa kehilangan fokus saya, misalnya mengenai LEAP. LEAP ini seharusnya adalah “energy model”, sebuah cara untuk menggambarkan sebuah sistem energi.

Sebagai sebuah model, LEAP ini kedudukannya setara dengan Data Flow Diagram (DFD) model di CS untuk menggambarkan sebuah sistem data (data flow). Sebagai sebuah model, kedudukannya juga setara dengan Business Process Model (entah pakai BPMN atau EPC-nya ARIS). Sama seperti model dalam organisasi IT (entah pakai TOGAF, ITIL atau COBIT).

LEAP sebagai sebuah model, secara filosofi memiliki jenis bottom-up, ini berbeda dengan model lain yang jenisnya adalah top down. Atau berbeda dengan MARKAL yang sama-sama bottom-up optimization, LEAP ini bottom-up accounting.

Tapi, masalahnya LEAP buat orang environment bukanlah sebuah energy model. LEAP bagi orang environment adalah “Impact Analysis”. Walaupun software yang dipakai sama, fungsinya sama, tapi interpretasinya berbeda.

Ini sama juga dengan COBIT/TOGAF. COBIT buat orang audit adalah target yang harus dicapai, sementara bagi user adalah contoh/referensi saja. Mungkin analoginya pisau, buat tukang kayu adalah memotong batang kayu, sementara untuk tukang daging adalah memotong tulang daging.

Sebaiknya, ilmuwan memang tidak terjebak dengan tools. mitochondrial dna dipakai orang health science untuk mengobati Thalassemia, tapi juga dipakai orang geography untuk mempelajari migrasi manusia, dan orang antropologi untuk belajar budaya. ARCgis adalah mainan orang geography, orang geology, tapi juga dipakai orang ekonomi -ini saya baru dengar dan baru bingung.

Written by Anjar Priandoyo

Juli 25, 2017 at 7:39 pm

Ditulis dalam Science

Pemerintah

leave a comment »

Sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya itu selalu ada kemungkinan gagal. Contoh paling nyata dalam dunia bisnis, market leader yang meluncurkan produk baru bisa saja gagal (Aqua rasa buah, Google+). Apalagi itu pemain baru. Tidak ada cara untuk mengetahui sebuah produk bisa berhasil atau tidak selain mencoba. Sama seperti mengatakan bahwa PhD itu gampang atau susah hanya bisa diketahui dengan dijalani. Untuk bisa memastikan bahwa sebuah produk baru bisa berhasil, maka satu-satunya cara adalah memiliki modal yang kuat.

Kira-kira kalau melihat apa yang terjadi di Universitas Surya dan Universitas SGU ya ujungnya cuman satu: modal. Universitas SGU (2000), Universitas President (2002), Universitas Multimedia Nusantara (2005), Universitas Bakrie (2009), Universitas Pembangunan Jaya (2011), Universitas Surya (2013), Universitas Kalbe (2012), Universitas Tanri Abeng (2011), Universitas Trilogi (2011) dan seterusnya, berdiri seiring education reform di Indonesia.

Kalau Pakto 1988 mendorong perkembangan Bank dari 100-an menjadi 2000-an, yang berujung krisis 1998. Maka Krisis 2008 dan reform yang mendorong berdirinya Bank Campuran di sektor retail (Bank UOB, Rabobank, HSBC) maka ini sebenarnya pattern yang sama. Korban reform bank adalah Bank Barclays. Yang kalau dilihat dari skala yang lain maka korban booming retail convenience store adalah Seven Eleven.

UU PT 12/2012

Governance
One of the most striking characteristics of Indonesian tertiary education is its very centralised governance system under the auspices of the Directorate General of Higher Education. In fact, public universities are essentially part of the government bureaucracy, whereas for private institutions, in most respects their foundations fulfil the role that the ministry has for the public ones.

Written by Anjar Priandoyo

Juli 25, 2017 at 1:03 pm

Ditulis dalam Career

Tagged with

Universitas Surya

leave a comment »

22 Jul, Tempo menurunkan berita mengenai kredit macet universitas Surya
25 Jul, berita mengenai universitas surya sudah masuk group WA
25 Jul, diliput secara intensif oleh tempo, kontan

Sama seperti cerita universitas sgu, yang pemberitaannya begitu masif di akhir 2016.

Dan ini juga update pada 4 Juli 2017 tentang bisnis universitas

Written by Anjar Priandoyo

Juli 25, 2017 at 12:01 pm

Ditulis dalam Career

Tagged with

Teori origin of Indonesia

leave a comment »

Disekolah, asal usul orang Indonesia yang diajarkan adalah dari Yunnan, China Selatan. Asal usul ini ternyata hanya satu pendapat saja (Out of Yunnan Theory), diluar itu ada banyak pandangan lain. Teori mengenai asal usul ini dulunya mengandalkan pendekatan antropologi yang seringkali tidak akurat e.g kesamaan bahasa, budaya. Teori yang lebih akurat adalah dengan menggunakan pendekatan molecular biology seperti menggunakan analisa Mitochondrial DNA, sehingga bisa muncul pandangan lain seperti Out of Taiwan Theory.

Lalu seberapa tertinggal kita dengan teori-teori ini? paling tidak ada dua sector yang kita tertinggal:

  • Health, e.g penanganan penyakit seperti Thalassemia
  • Environment, e.g penanganan perubahan iklim

Climate Change and Postglacial Human Dispersals in Southeast Asia (Soares et al 2008)

Written by Anjar Priandoyo

Juli 24, 2017 at 7:03 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with

Kesehatan Jiwa (mental health)

leave a comment »

Kalau ada seorang orang yang mengeluh stress (too much pressure) atau anxiety (cemas, nervous) atau depresi (mental disorder) karena kehilangan pekerjaan, maka orang tersebut bisa dikatakan memiliki gangguan mental (jiwa). Kalau dalam pandangan orang beragama diatas jiwa adalagi konsep mengenai soul (ruh), atau batas yang agak tipis misalnya batin atau hati yang mirip-mirip penggunaannya. Contoh hati saya sakit, batin saya sakit, jiwa saya sakit.

Penyakit jiwa ini, kalau dari kecil bisa dikatakan disebabkan neurodevelopmentnya bermasalah misalnya autism dan spektrumnya. Namun, ada juga penyakit jiwa yang baru muncul ketika dewasa. Misalnya, baru umur 25 tahun bipolar biasanya muncul -sejalan dengan quarter life crisis. Penyakit jiwa ini juga berkembang dengan sangat kompleks. Misal mengakibatkan personality disorder (gangguan kepribadian)

Gangguan jiwa (mental disorder) aka Penyakit jiwa (mental illness) adalah perilaku (behavioral) or mental pattern that may cause suffering or a poor ability to function in life

Seorang anak biasanya akan percaya (trust) dengan orang tuanya. Seorang yang berpikir rasional belum tentu percaya dengan orang tuanya. Kenapa? karena percaya adalah kondisi emosi seseorang.

*Emotion is any conscious experience characterized by intense mental activity and a high degree of pleasure or displeasure. There is no consensus on emotion definition.

Menurut data WHO (2016), terdapat sekitar 35 juta orang terkena depresi, 60 juta orang terkena bipolar, 21 juta terkena skizofrenia, serta 47,5 juta terkena demensia.

Read:
WHO Global Burden Database (GBD)
WHO Global Mental Health

ref, ref

Written by Anjar Priandoyo

Juli 23, 2017 at 7:53 pm

Ditulis dalam Science

Antropolog vs Sosiolog

leave a comment »

Buat saya semua orang sosial itu sama, saya sebut mereka sociologist. Cuman, saya bebeberapa kali bertemu dengan orang yang tidak mau menyebut dirinya sociologist, lebih senang disebut sebagai geographer atau antropologist atau etnographer. Padahal menurut saya ini sama saja. Yang membingungkan adalah semuanya menganggap bisa memecahkan persoalan.

Sosiolog bisa menyalahkan interaksi (e.g actor network, conflicting interest), anthropolog bisa menyalahkan masalah budaya (patronage, kinship, lineage). Meski semua orang sosial tersebut menyatakan bisa memecahkan persoalan, pada kenyataannya lapangan pekerjaan orang sosial ini sangat terbatas. E.g Sosiolog lebih banyak bekerja di depsos dan antropolog di depdikbud, dengan fokus yang berbeda. Antropolog lebih banyak preservation budaya yang ada, jangan sampai hilang, karena budaya adalah hal yang sangat luhur. Sementara sosiolog lebih berpikir praktis kedepan.

Kalau Sosiolog masa depan maka history masa lalu. Kalau antropology masa depan maka arkeologi masa lalu.

Written by Anjar Priandoyo

Juli 23, 2017 at 6:34 pm

Ditulis dalam Life