Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Posts Tagged ‘300

Properti dan Pensiun

leave a comment »

Nasihat dari bapak saya yang selalu ingat adalah pentingnya untuk memiliki rumah (property). Ini sangat beralasan karena dalam ring terdekat keluarga besar saja ada yang tidak memiliki rumah. Kalau rumah saja tidak punya apalagi uang pensiun. Saya bisa memecahkan persoalan tentang kepemilikan rumah ini dalam waktu yang relatif cepat -alhamdulilah. Pemicunya adalah pernikahan, kalau rata-rata gaji fresh grad tahun 2006 adalah 4 juta rupiah, dengan join income misalnya, maka rumah seharga 250 juta bisa didapatkan -jika join income suami istri.

Sekarang saya coba cek lagi harga rumah U-Ville 2 Bintaro Jaya dengan luas tanah 66 m2 sekitar 1 milyar. Aturan DP sekarang seharusnya lebih ringan dari aturan DP pada 20 tahun yang lalu, dengan pinjaman 800 juta, maka cicilan selama 25 tahun adalah 5.6 jt. Kurang lebih kalau suami istri bekerja fresh graduate di perusahaan yang berskala sedang saja maka rumah di Bintaro Jaya sebenarnya relatif terjangkau.

Nasihat kedua yang disampaikan bapak saya adalah seputar pensiun. Pesannya adalah agar berhati-hati dengan uang pensiun yang didapatkan. Menurut dia pensiun yang terbaik adalah bekerja di pemerintahan baik sebagai PNS atau sebagai BUMN. Sebagai perbandingan di tahun 2021 pensiunan golongan III Pama sekitar 4.8 juta, kurang lebih sama dengan PNS Golongan 4 sebesar 4.4 juta. Dulu sempat saya hitung karena saya memilih jalur swasta, sama seperti bapak, maka uang pensiun yang saya siapkan seharusnya satu miliar dengan bunga deposito 6% maka perbulan saya akan mendapatkan bunga sekitar 4 juta rupiah. Cukup untuk hidup sederhana.

Namun untuk nasihat kedua ini saya belum bisa buktikan. Pertama, untuk bisa mengumpulkan uang sebesar 1 milyar, atau kurang lebih sama dengan nilai pensiun -asumsi nilai pensiun ini sama dengan upah minimum. Bisa jadi tidak mudah. Bayangan saya dana ini akan terserap banyak ke biaya pendidikan (anak) atau justru biaya diri sendiri (liburan, hobi/consumable/consumptive). Kita lihat. Semoga saya bisa diberikan konsistensi dan kemudahan. Amin.

Written by Anjar Priandoyo

Maret 3, 2022 at 9:14 pm

Ditulis dalam Business

Tagged with ,

Like Humans Do

leave a comment »

Menarik, beberapa hari ini saya melakukan sebuah percobaan yang baru, yang berbeda dengan hal yang biasa saya lakukan sebelumnya. Pertama, berbeda dengan sebelumnya dimana saya berusaha menemukan “orang” yang sesuai latar belakangnya dengan pekerjaan yang akan dilakukan, saya mencoba untuk menemukan “momen” yang sesuai. Ternyata sejauh ini lumayan berhasil, momen yang sesuai akan menghasilkan orang yang sesuai. Daripada menemukan orang A, saya berusaha menemukan momen B yang akan menghasilkan orang A. Dari pada menemukan petarung yang handal, saya menemukan bahwa lebih baik menemukan pertempuran yang menghasilkan petarung yang handal. Siapapun yang dilibatkan dalam pertempuran akan menghasilkan petarung yang handal. Singkatnya, saya tidak terlalu concern dengan siapa orangnya, tapi pertempuran apa yang diperlukan untuk menghasilkan orang yang dibutuhkan. Jadi saya tidak lagi mencari orang di situs lowongan kerja, tapi saya mencari orang di perusahaan. Orang terbaik selalu ada di perusahaan, bukan di situs lowongan kerja. Membajak selalu lebih baik daripada menerima.

Kedua, dalam mendidik, saya menemukan bahwa menciptakan lingkungan selalu lebih baik daripada doktrinisasi -ayo bangun pagi. Saya juga menemukan bahwa doing new things lebih baik daripada melakukan hal secara berulang-ulang. Doktrinisasi dalam bentuk mental enforcement sangat lemah, repetition sedikit lebih baik, tapi doing creatively new things akan lebih baik. Creating new opportunity akan lebih baik dibandingkan diam.

Memang konsekuensi dari doing new things ini tidak mudah. Hal pertama yang saya temukan adalah saya sama khawatirnya dibandingkan tetap melakukan hal yang sama dengan cara yang sama. Tapi, I feel I am doing the right things. Lari misalnya, saya putuskan 6 miles is 6 miles, eating less calories is eating less calories. But, I believe in progress. The same thing that I condemn slavery -although everyone practice slavery. To some degree I sometimes doing the bad things, but I should remember to go to the path that I should go with.

Kredit terhadap hal ini harus saya berikan baik pada Tony maupun Lisa. Menurut saya itu pengalaman yang sangat bagus dalam mendidik saya seperti sekarang. Butuh waktu lebih dari 5 tahun untuk memahaminya, butuh waktu lebih dari 7 tahun untuk bisa menerapkannya. Sekarang saya sedang belajar menerapkannya, dan mungkin butuh waktu yang lebih lama lagi untuk lebih baik menerapkannya. Dan semakin lama waktunya, maka akan semakin baik hasilnya. Science.

367 kata

Written by Anjar Priandoyo

Februari 24, 2022 at 12:39 am

Ditulis dalam Life

Tagged with

Men and Masculinities in Southeast Asia (Ford 2010)

leave a comment »

Melihat sesuatu dengan jernih. Sebenarnya, dari kacamata science, observasi itu lebih penting dibandingkan metodologi. Mendapatkan data jumlah pengendara motor dengan data penjualan kopi itu lebih penting dibandingkan mencari hubungan antara dua data tersebut. Makanya mendapatkan data lebih penting daripada modelling apa yang digunakan, dan cara mendapatkan data ini tidak mudah. Diperlukan observasi dengan terukur, terkadang memerlukan lokasi pengambilan data yang tidak mudah -kutub utara untuk mengukur kandungan CO2 di es di kedalaman laut.

Maka tugas saya saat ini yang terbesar adalah mencatat observasi yang ada, kejadian yang ada dilapangan, sambil menemukan kerangka berpikir yang lebih baik. Sebagai contoh, keluhan orang Indonesia pada umumnya, mengenai budaya premanisme (violence), seringkali dijawab dengan kata “peliharaannya aparat”, dan disusul dengan atribut ditakuti (punya mitos kebal) dan dekat dengan aparat. Jawaban berikutnya yang paling sering terdengar adalah dibiarkan saja, mencegah keributan. Premanisme sebagai budaya kekerasan ini realitanya sepanjang saling menghormati justru tidak ada kekerasan.

Observasi yang lain mengenai hubungan yang tidak harmonis antara orang tua dengan anak yang akarnya dari patriarchy (bapakism). Jadi mengacu pada Mencius -model Chinese patriarchy, maka seorang perempuan pada usia muda akan patuh pada bapaknya, pada usia menikah akan patuh pada suaminya, dan setelah tua patuh pada anaknya. Ini juga topik yang saling terkait mulai dari Gerontocracy -dimana konsensus tercipta bahwa keputusan ada pada orang tua, ataupun bentuk diskriminasi -ageism. Modernisasi memang kompleks, memaksa society untuk berubah yang bentuk paksaannya bisa dalam kekerasan (oppression).

Masyarakat kita sebenarnya sangat rapuh, konflik dengan mudah terjadi. Namun disisi lain, masyarakat ini sangat pintar (tangguh). Masyarakat menciptakan sistem, menciptakan mitos pijat stroke misalnya.

Konsep menarik lainnya -The last bastion of masculinity: Military: Sasson-Levy 2008, Gun, Football. Termasuk Balinese cockfight, Geertz (1973: 448) juga sangat menarik. Menurut saya orang pada dasarnya berjuang untuk identitas dirinya. Identitas lelaki adalah masculinity yang akan dipertahankannya agar tidak terjadi social breakdown.

Men and Masculinities in Southeast Asia (Ford 2010)

309 kata

Written by Anjar Priandoyo

Februari 6, 2022 at 8:29 am

Ditulis dalam Society

Tagged with ,

Catatan Jumat Sore

leave a comment »

Alhamdulillah, parameter kebahagiaan sebenarnya sederhana saja: bisa menulis panjang lebar. Bisa menulis panjang lebih dari 300 kata itu artinya kondisi sedang baik-baik saja. Karena untuk menulis panjang itu butuh keluangan waktu -mendapatkan keluangan waktu itu tidak mudah. Ketika keluangan waktu didapatkan maka untuk bisa menuliskannya juga tidak mudah. Saya hari ini senang sekali karena setelah satu tahun saya bisa mengelola proyek P08 dengan lebih baik. Memang betul ada hal-hal yang mengganggu pikiran mulai dari timecharge hingga dinamika tim -tapi tidak kesempurnaan itu milik Tuhan kan, didunia ini tidak ada yang sempurna kan.

Saya memulai minggu depan rutinitas yang mulai seragam. Senin diawali dengan brief tim di pagi hari mengenai delivery, Jumat diakhiri dengan brief tim mengenai sales planning. Saya mulai memilah-milah mana yang bisa saya kerjakan, mana yang tidak bisa saya kerjakan. Saya mematikan laptop lebih awal. Saya mulai memprioritaskan mana yang bisa dilakukan, mana yang tidak bisa dilakukan. Saya mulai menghindari orang-orang toxic, saya mencoba mendekati orang-orang yang positif. Sejauh ini, sepanjang 2022 ini sepertinya situasi jauh lebih baik dibandingkan 2021. Tahun 2021 sendiri jauh lebih baik dari 2020. Senangnya.

Saya kembali mengingat dimana saya berasal. Sebagai seorang anak yang datang dari kota kecil bukan dari kota besar. Lahir dari kelas pekerja, bukan kelas professional atau bahkan bukan dari kelas elit pengusaha. Apa yang bisa saya capai sampai saat ini sebenarnya sangat bagus. Memang ada yang lebih bagus, pastinya, tapi bandingkan dengan average, rata-rata orang, sepertinya apa yang saya dapatkan hingga saat ini, dan bahkan saya bisa hidup hingga saat ini merupakan nikmat yang tidak ada duanya.

Berpikiran positif memang tidak mudah. Kemarin saya menonton youtube mengenai orang yang camping di gunung dengan Jeep Wrangler seharus 1.67 milyar. Menarik, karena orang yang sudah punya mobil dengan harga semahal itu adalah orang yang sudah selesai hidupnya. Tentunya orang yang sudah selesai ini bias, tidak perlu ditiru dan dipelajari. Lebih baik fokus dengan kehidupan kita sendiri. Semoga minggu depan menjadi lebih baik daripada minggu ini.

324 kata

Written by Anjar Priandoyo

Februari 4, 2022 at 5:01 pm

Ditulis dalam Life

Tagged with

Bersyukur

leave a comment »

Sudah lama saya tidak menulis di blog. Menulis yang layak untuk ditulis, menulis yang cukup menyeluruh -bukan tulisan yang sepotong-sepotong. Seringkali saya menulis tidak utuh, bisa terburu-buru karena tiba-tiba ada topik baru yang menarik. Tiba-tiba terpotong oleh kegiatan yang lebih mendesak, ataupun karena hal-hal lain yang tidak memungkinkan untuk dilakukan.

Sudah hampir dua tahun COVID berlangsung dan saat ini Omicron menjadi topik utama yang menjadi pembicaraan setiap orang. Pekerjaan di kantor, khususnya project P09 sudah berlangsung selama satu tahun, ISACA sudah berjalan satu tahun. Saya juga menemukan banyak kegiatan baru yang lebih terukur -dari makanan, hingga tekanan darah, hingga berupaya untuk menulis yang lebih panjang.

Seiring dengan kesibukan yang seakan tidak ada habisnya ini. Saya mencoba sedikit demi sedikit memprioritaskan mana yang paling penting. Kesehatan misalnya, adalah salah satu hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya, perawatan wajah juga tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Pemilihan kopi -dari es kopi susu hingga kopi instan.

Usia sepertinya merupakan tolak ukur yang paling obyektif untuk menggambarkan apa yang sedang terjadi dan untuk menjadi basis pembuatan keputusan. Seperti minggu kemarin, empat dari lima hari saya berada di luar kota. Makanya hari sabtu dihabiskan sepenuhnya untuk beristirahat. Hari minggu ini misalnya, pagi diisi dengan membersihkan rumah Permata, sore dihabiskan dengan berbelanja, dimana malam saya berkeinginan untuk ke luar rumah mengambil ATM yang kemudian saya batalkan.

Waktu di Inggris terdahulu, banyak hal berjalan tidak sesuai dengan rencana saya. Mulai dari durasi tinggal yang lebih cepat tiga bulan dari rencana, durasi penyelesaian yang lebih lambat hingga dua tahun dari rencana, rencana mengikuti conference dan menerbitkan paper yang tidak terlaksana, dan materi penelitian yang meluas. Di Indonesia, sejauh ini juga banyak hal berjalan tidak sesuai rencana. Mulai dari berapa lama ada di pekerjaan sekarang, sertifikasi yang diambil, tulisan yang dibuat hingga yang paling besar adalah COVID yang membuat banyak rencana menjadi berubah.

Di Inggris buat saya adalah terapi kesehatan jangka panjang yang paling efektif yang pernah saya lakukan. Hay fever misalnya, sebelumnya ini adalah penyakit yang sangat mengganggu, namun setelah terbiasa di Inggris, saya tidak lagi terganggu oleh penyakit ini. Sekarang di Indonesia yang baru saya temukan adalah menjaga berat badan.

351 kata

Written by Anjar Priandoyo

Januari 30, 2022 at 7:53 pm

Ditulis dalam Life

Tagged with

Tipe Orang

leave a comment »

Di kampus ada beberapa tipe orang. Tipe pertama adalah A1, ini adalah tipe pekerja keras yang hidupnya didedikasikan 100% untuk belajar, untuk pekerjaan. Tipe seperti ini adalah kesukaan organisasi. Saya, for sure bukan orang yang termasuk tipe A1. A1 ini biasanya singles, punya kemampuan fisik sangat baik, biasanya tidak terlalu punya kondisi kesehatan yang prima. Tipe A1 ini unik, suka lembur begadang mengerjakan tugas, tapi juga suka gampang sakit. Saya tidak bisa lembur begadang -bahkan pada era kuliah dimana anak-anak suka lembur, tapi saya relatif gampang sakit dibandingkan anak A1 tadi. Tipe A1 ini tipe brute force, muscle, alpha. Selain itu A1 biasanya punya kelemahan yang obvius, apakah dari ekonomi, fisik maupun sosial (umur) yang membuat orang tersebut menjadi A1.

Tipe kedua adalah A2, ini tidak suka bekerja, tapi cenderung menggunakan kemampuan teknisnya untuk survive. Secara kualitas, A2 ini dibawah dari A1, namun A2 cenderung mencari value lain, competitive advantage lain yang membedakannya dengan A1. A2 ini biasanya sudah berpasangan, meski ada juga A2 yang single. A2 adalah A1 yang menemukan comfort zone. A2 biasanya cinta damai dan merupakan tipe yang ideal untuk berteman.

Tipe ketiga adalah A3, ini juga tidak suka bekerja, tapi berbeda dengan A2 yang kecenderungannya adalah menggunakan kemampuan teknis, A3 ini cenderung menggunakan kemampuan non teknis -sosial skills. A3 ini kategorinya adalah Mad Man. A3 dikenal sebagai tokoh antagonis. Ada beberapa orang yang sebenarnya cocok di A2 namun kemudian menjadi A3.

Orang tipe A ini secara umum harus dihindari, sebagaimana stress yang tidak ada cara lain yang efektif selain di hindari, dibuat boundaries. Namun tidak semua orang menjadi tipe A, lebih banyak orang yang ada di tipe B. Tipe B ini menikmati hidup. Saya saat ini sedang berusaha untuk menjadi lebih B. Sayangnya, memang ada beberapa orang yang terpaksa harus menjadi A karena berbagai situasi dan kondisi.

Untuk orang-orang yang terpaksa memilih tipe yang tidak sesuai dengan karakter dia, karena berbagai kondisi. Misalnya, anak ekonomi yang harus banyak hafalan, padahal ia tidak suka hafalan, maka ia harus mencari, menyesuaikan tipe pekerjaan yang cocok dengan dirinya. Saya menemukan ada juga orang yang bukan A1 tapi memilih untuk jalur A1. Gpp sebenarnya, tapi ada baiknya ia mengambil jalur yang lebih sesuai, di A2 misalnya.

366 kata

Written by Anjar Priandoyo

Januari 20, 2022 at 2:07 am

Ditulis dalam Career

Tagged with

Sekalian totalitas

leave a comment »

Menarik dan aneh, melihat orang membuat keputusan berdasarkan realita dari idealita yang mereka harapkan. Sebagai contoh, ada orang yang memutuskan untuk membangun usaha sendiri dalam bidang IT -menjadi pengusaha. Pertimbangannya adalah ia ingin fokus (opportunis) mendapatkan karir yang lebih baik. Maka ia harus sekalian, harus totalitas. Namun ketika ditanya bagaimana stream revenuenya ia mengatakan bahwa 70% revenuenya adalah dari mengajar. Kalau memang revenuenya sebagian besar dari mengajar, kenapa tidak sekalian, secara penuh, berkomitmen menjadi pengajar -dalam hal ini yang terbaik adalah menjadi dosen. 30% bisa didapatkan dari kedosenan dan 70% tetap ia dapatkan dari training. Aneh karena di satu sisi ia berkomitmen, namun disisi lain tidak. Menarik karena ini adalah mekanismenya membangun realita yang ideal berdasarkan imajinasinya.

Contoh lain ada orang yang kuliah di Jogja, ia menjadi orang yang sangat jago teknis, ia berani mengambil risiko, ia berjiwa entrepreneur. Ia kemudian bekerja di Jakarta, mengulang apa yang ia lakukan di Jogja -jago teknis, risk taker, enterpreneurship. Namun ia kemudian kembali ke Jogja. Dalam analisa saya, kenapa ia kembali ke Jogja bukan karena kehidupannya akan lebih baik di Jogja, tapi realita idealitanya itu hanya bisa dibangun di Jogja. Menjadi pengusaha itu sangat susah jika dilakukan di Jakarta, namun sangat mudah jika di lakukan di Jogja.

Jadi, menurut saya, orang itu sangat cerdas. Orang membuat keputusan tidak berdasarkan logika (first level of intelligence), tapi berdasarkan potensi imajinasi yang ia bisa ciptakan. Di Jakarta orang cencerung individual (low appreciation), maka pekerjaan yang membutuhkan apresiasi tinggi, pekerjaan yang membutuhkan acknowledgement seperti pengajar, pengusaha -orang terpandang, lebih mudah untuk diciptakan di Jogja. Echo chamber lebih mudah di ciptakan di environment yang lebih terbatas -group WA misalnya.

Contoh lain, ada sebuah pekerjaan berat -membangun rumah. Orang hanya mampu membangun rumah sesuai dengan interpretasinya atas objective yang achievable -tidak bisa lebih dari itu. Jika dipaksakan lebih dari itu maka rumah tidak bisa dibangun -contradictive. Dari kacamata kapitalisme, untuk meraih tujuan maka konsentrasi kapital tidak bisa ditawar, maka artinya latihan -simulasi dari bagaimana tujuan bisa tercapai harus dilakukan secara terus menerus (konsisten) dan kreatif (experimental). Kesimpulannya: orang harus bisa balancing antara ambisi dan kenyataan. Balancing itu artinya pada titik tertentu perlu banyak bersandar pada sisi ambisinya, namun disaat yang sama perlu banyak bersandar pada sisi kenyataannya.

373 kata

Ref: Jang Ok-Jung – Korean Drama

Written by Anjar Priandoyo

Januari 10, 2022 at 6:10 am

Ditulis dalam Life

Tagged with

Defining moment

leave a comment »

Saya hampir tidak bisa mengingat kenangan yang saya lakukan ketika duduk di bangku TK, selain ada suatu kegiatan keterampilan yang melibatkan jarum pentul untuk memotong kertas, kegiatan imunisasi dan bagaimana kesulitan untuk menyeberang jalan siliwangi yang ramai. Sebelumnya, kenangan yang saya ingat -walaupun sebenarnya adalah kenangan sekunder dari foto dan cerita orang yang lebih tua adalah hujan-hujanan di rumah perumnas cirebon. Tapi kenangan ini tidak menjadikan basis apapun untuk pengembangan diri. Tidak ada keputusan yang dibuat selama periode 0-6 tahun.

Milestone pertama adalah pada saat duduk di bangku SD. Sesuatu yang saya sangat khawatirkan namun akhirnya saya menyadari bahwa saya “gifted”. Dengan pola yang sama relatif mudah bagi saya untuk menemukan bahwa field akademik merupakan field yang relatif comforting (mudah) untuk saya eksis ditengah-tengah hidup yang keras. Saya bukan orang yang secara fisik kuat, bukan secara ekonomi tinggi. Pilihan akademik merupakan pilihan field yang menarik, meski saya bukan datang dari keluarga akademik (scholar). Saya datang dari keluarga kelas pekerja -berkerah biru, kelas menengah berpendidikan sekolah menengah -bukan universitas.

Menemukan tempat tidaklah mudah, saya bukan orang akademik, bukan orang yang punya tradisi tulis menulis, bukan juga orang yang senang bercanda, tapi saya melakukan hal yang saya comfortable lakukan. Mungkin, defining moment yang sangat signifikan adalah ketika saya bisa memenangkan lomba elektronik. Lomba yang sangat aneh sebenarnya, karena yang dilombakan adalah kecepatan untuk mensolder rangkaian elektronik. Bahwa kita randomly akan menemukan suatu tempat, suatu hal yang cocok dan kita terus lakukan bahkan selamanya.

Seperti ketika hari hujan, kita memutuskan untuk berteduh, pilihan sisi mana berteduh, sangat bergantung kita ada dijalan mana. Orang yang segera menemukan tempat berteduh, bisa jadi merupakan tempat yang pas buat dia, bisa jadi bukan tempat yang pas. Bisa jadi dunia memang membutuhkannya di tempat itu.

Ini bukan takdir sebenarnya, kalau takdir seharusnya saya bukan berada di lingkungan scholar -bukan keluarga dokter misalnya, bukan keluarga insinyur minyak misalnya. Takdir saya dalam bidang akademik sebenarnya merupakan kombinasi atas tidak adanya kompetisi pada area akademik (masih terbukanya lahan -sama seperti lomba elektronik dahulu). Menarik, saya sebenarnya hanya orang kelas bawah yang opportunis.

341 kata

Written by Anjar Priandoyo

Januari 9, 2022 at 7:01 am

Ditulis dalam Society

Tagged with

Renungan dini hari

leave a comment »

Sekitar 4 hari menjelang ujian TOGAF, laptop saya tiba-tiba berhenti berfungsi -layarnya mati. Laptop yang usianya sudah lebih dari 5 tahun -dibeli di sekitar Okt 2015, ini mendadak berhenti berfungsi. Kejadian ini mempertegas tanda-tanda berakhirnya sebuah era baru, untuk masuk ke era berikutnya. Artinya tahapan antara periode 2014-2019 atau sekitar 5 tahun lamanya ini memang sudah benar-benar berakhir. Saya mulanya berpikir bahwa berakhir ini artinya dengan dikembalikannya posisi pada awal sebelum berangkat. Tapi saya kemudian menyadari bahwa mengembalikan pada posisi awal ini bukan merupakan terminologi yang tepat.

Selama dua tahun terakhir ini 2019-2021, saya berusaha sekuat tenaga untuk mengejar ketertinggalan, mengembalikan pada posisi awal 2014. Berbagai cara saya lakukan, ikut sertifikasi sebanyak-banyaknya, membuat paper sebanyak-banyaknya, mengerjakan proyek sebanyak-banyaknya. Bisa, tapi tidak worthed sebenarnya. Bisa, tapi pengalaman hidup yang saya dapatkan selama di negeri seberang tidak ternilai dengan rupiah. Tidak bisa ternilai baik secara positif, maupun secara negatif -bahwa yang saya dapatkan bukanlah sebuah kerugian yang tidak ternilai. Atau lebih tepatnya adalah sebuah pengalaman yang intangible.

Bulan Oktober ini saya akan memasuki sebuah era baru. Seharusnya ini adalah era baru sebelum bilangan kepala empat hadir. Beberapa hal memang terlihat buruk sekali. Kesulitan tidur misalnya, semakin parah. Tapi disisi lain, di awal 39 tahun sudah mulai bisa mengendalikan berat badan dari angka 70 menjadi angka 65 kg. Beban pekerjaan misalnya, semakin menggila dimana weekend semakin tidak terkendali, onsite juga semakin tidak terkendali. Tapi disisi lain, kesempatan untuk menjadi pembicara semakin besar, kesempatan untuk melakukan aktivitas aktualisasi juga semakin besar.

Disini saya melihat, bahwa penting sekali untuk melihat pentahapan diri. Ada difase mana dalam kehidupan kita berada sekarang. Menurut saya, usia 40 adalah umur puncak. Setelahnya, every good things has an end. Setelahnya, nothing last forever. Maka, pada saat ini kita tidak punya pilihan lain, sudah di puncak, maka saatnya menurun. Seperti mendaki gunung Ciremai, dipuncak banyak sekali hal yang bisa kita lihat, bisa dinikmati. Tapi setelah itu waktunya untuk turun. Waktunya untuk lebih berhati-hati menuruni jalan yang mudah tapi sebenarnya berbahaya -karena curam.

331 kata

Written by Anjar Priandoyo

September 20, 2021 at 1:03 am

Ditulis dalam Life

Tagged with

Lari tidak berguna, buku tidak berguna, kerja tidak berguna

leave a comment »

Saya mencatat, bahwa ada banyak kegiatan-kegiatan yang saya lakukan yang pada dasarnya tidak berguna.

Lari misalnya, kegiatan ini pada dasarnya tidak berguna 1) lari bisa diganti kegiatan yang lebih bermanfaat misalnya membersihkan rumah 2) untuk bisa lari ada minimal jarak tertentu dan frekuensi tertentu, yang untuk bisa menjalankannya berakibat kesehatan fisik terganggu misalnya lecet-lecet (chafing), alergi (hayfever) 3) apa yang diharapkan tidak tercapai misalnya menurunkan berat badan yang terjadi adalah berat badan naik.

Buku misalnya, untuk bisa membaca buku secara konsisten, diperlukan topik yang menarik, tapi seringkali akhirnya juga tidak berguna, misalnya 1) menonton youtube/video/film bisa jadi lebih menarik dibandingkan buku 2) buku, apalagi konten sosial seringkali bosan, maupun karena opini yang tidak berdasar.

Kerja misalnya, ini juga saya menyadari bahwa kalau dikaitkan dengan apa tujuan saya untuk lari, membaca buku ataupun bekerja, kesimpulannya saya. Tidak berguna. Tujuan utama saya adalah untuk keren, bisa posting di sosial media pencapaian distance dan pace, ataupun pencapaian pengetahuan. Yang terjadi adalah sebaliknya, semakin banyak membaca, semakin banyak pengetahuan orang justru semakin rendah hati.

Meskipun demikian, saya tetap melakukan lari, baca, film dengan keyakinan meski tidak berguna secara fisik tapi berguna secara psikologis.

Terkait pekerjaan sendiri, menurut saya reward pekerjaan yang terbesar adalah mengenai pengelolaan waktu. Contohnya dalam minggu ini, saya melihat minggu ini adalah minggu yang sangat sibuk, dengan kemungkinan terjadi berbagai meeting secara paralel. Dari sini saya menemukan metode yang paling efektif bukan melalui teknologi (dengan 2-3 komputer yang dinyalakan secara paralel, dengan 2-3 koneksi secara paralel), tapi dengan pendekatan strategis. Pendekatan strategis itu bukan taktikal (teknologi 2-3 laptop, management membagi tim secara paralel), tapi pendekatan strategis itu sesuatu yang out of the box, memecahkan akar masalah, bukan masalah.

Caranya? yang saya lakukan adalah bangun pagi, bangun subuh, mendahului matahari terbit, menghadapi perang sebelum perang itu dimulai. Preemptive strike. Menarik, semoga nanti dikesempatan lain bisa lebih baik lagi.

306 kata

Written by Anjar Priandoyo

November 18, 2020 at 5:37 am

Ditulis dalam Life

Tagged with