Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Posts Tagged ‘400

Indecisiveness

leave a comment »

Indecisiveness is defined as a dysfunctional personality trait characterized by a generalized difficulty to make decisions (Lauderdale et al). Well, it is close to personality dysfunctional than a personality disorder, so I think it is not that bad. This is similar to procrastination – the action of unnecessarily and voluntarily delaying or postponing something despite knowing that there will be negative consequences for doing so. “Once again my indecisiveness kicks in—there are just too many choices!” I agree, as indecisive people tend to see that there are many choices, that are just virtually, artificially, and theoretically created.

Yesterday, I make a small experiment, as I feel that this is time to do expansion as the current stream is doing well. However, I start to make things differently, I start to make observe first before making an action. This looks good, and in the future, it should have a greater amount of data to succeed. I think indecisiveness is very grey area. As a scientist, it is my nature to have many perspectives of solving a problem however it is my responsibility to make a measured observation. As a manager, it is my nature to make a quick decision, however, it is my responsibility to do as efficiently as possible either by minimizing the impact or achieving far greater results. Interestingly both have agreed on the thing that modern people do: measurement.

One more thing that is interesting is that indecisiveness is close to insecure and confused. This is where the measurement also has its connection. Those dysfunctional might happen because people tend to not specify the problem correctly. In my case, for example, the biggest issue is one business “development”, while the operational should never be a problem -or at least should be the least problem.

The lesson of today, the only thing to manage your mind is either ignoring (by doing something else, e.g running) or articulating it (materialize it) by writing. Analyzing it in the form of free-thinking is bad, analyze it by talking to someone might be good. But first, it should be in the writing form. Looking for advice might be good, but this should be after trying to write it down. When its need to talk, it should be in the purpose to clarify the thought in the mind -the not yet articulated thinking.

So with the P08 is easy, set the border, only move within the border, the border is a time limitation, the border is a resources limitation. The problem with Permata is easy, it should be a passionate, optimistic point of view, where one party might think the sided only point of view and its act as self-balancing while at the same time self-supporting.

Notes: benang merah: de rode draad

450 words

Written by Anjar Priandoyo

Februari 11, 2022 at 5:55 am

Ditulis dalam Life

Tagged with

Menghitung kacang

leave a comment »

Perjalanan saya menghitung kacang dimulai ketika duduk di bangku kuliah, semua orang yang saya kenal mengatakan paling tidak butuh waktu 5 tahun untuk lulus kuliah. Mungkin bisa mencapai 4 tahun dengan syarat sangat pintar dan fokus untuk melakukan kuliah -tidak aktif di organisasi. Saya membuktikan cukup waktu 4 tahun, dengan tetap aktif di organisasi, dengan tetap mengambil kerja praktek dan dengan nilai akademik secukupnya. Namun tidak dapat dipungkiri juga ada faktor eksternal seperti perubahan fokus mata kuliah menjadi lebih komputasi dan perubahan biaya kuliah.

Untuk bekerja, rata-rata dibutuhkan waktu satu tahun untuk pekerjaan pertama. Saya mendapatkan dalam waktu tiga bulan. Untuk mendapatkan pekerjaan stabil dibutuhkan waktu dua tahun, saya membutuhkan waktu satu tahun. Cerita yang sama tentang menghitung kacang. Saya selalu menghitung langkah yang saya butuhkan, berapa lama akan mencapainya, dan sampai kapan saya bisa bertahan.

Selama ini saya bisa mempertahankan performance untuk bisa berada diatas rata-rata orang pada umumnya. Berada diatas rata-rata dengan mengambil beberapa langkah ekstrim yang berbeda: melakukan lebih banyak, melakukan lebih cepat, melakukan lebih baik. Namun melakukan lebih ini sebenarnya terbatas dengan hukum fisika alam juga. Kecerdasan paling berada dalam 10%-20% lebih tinggi dari rata-rata, kekuatan fisik juga sama. Jadi tidak mungkin ada orang super jenius yang punya gap sangat besar dengan orang lain.

Hidup saya mulai direset ulang ketika saya duduk dibangku kuliah lagi. Di reset artinya mulai menghitung tahapan baru. Sama seperti dahulu, semua yang saya kenal mengatakan bahwa paling tidak butuh waktu 4 tahun untuk lulus. Namun saya ternyata membutuhkan waktu hingga 6 tahun untuk lulus. Penyebabnya beragam: mata kuliah yang lebih sulit, pembimbing yang lebih kompeten, dan pasangan bekerja. Meski terlihat lebih mundur dibandingkan periode 15 tahun yang lalu. Biar bagaimanapun ini lebih baik, jika dilihat dari faktor yang lebih luas seperti keluarga, kondisi fisik dan kondisi mental.

Setelah selesai kuliah kemudian bekerja, rata-rata orang membutuhkan waktu satu tahun, saya membutuhkan waktu tiga bulan. Untuk kemudian membutuhkan waktu 2 tahun untuk kembali ke posisi normal. Sebagaimana tulisan ini dibuat di September 2021, setelah 2 tahun saya membuktikannya. Mungkin tidak tepat disebut membuktikan. Akan lebih tepat disebut menjalaninya. Hidup ini bukan ajang pembuktian.

Sekarang dengan umur 39 tahun, sudah 17 tahun bekerja, saya punya target baru yang semua orang mengatakan butuh waktu untuk mencapainya. Pertama yang jelas terlambat, semua orang mengatakan butuh waktu pada umur 40 tahun untuk mencapai posisi puncak. Dalam hitungan saya paling tidak butuh waktu 3 tahun lagi, atau pada umur 42. Begitu juga dengan kekayaan yang paling tidak pada umur 50 tahun mencapai bersih 10 milyar -e.g Anies Baswedan Sep 2021. Ya tapi biarlah, ini sekedar catatan harian saja. Sepertinya memang akan sangat lucu untuk bisa melihat sesuatu hal yang ternyata sangat berbeda jika kembali dikunjungi lagi setelah 3-4 tahun kedepan. Banyak hal bisa terjadi.

Minggu pagi, 450 kata

Written by Anjar Priandoyo

September 12, 2021 at 6:12 am

Ditulis dalam Life

Tagged with

How to be a good manager

leave a comment »

I started to realize that there are huge differences between a good manager and a bad one. To me, at least there are two aspects of a good manager: effectiveness and efficiency. At the fundamental level, a good manager should be efficient, this is a must, a fundamental level, a hygiene factor.

An efficient manager should do the following: avoid micromanagement -excessive monitoring or reporting. A manager should avoid putting CCTV for 24 hours to monitor its employee activities. A manager should also avoid asking excessively its employee of summaries of their task. Practically, a manager should stop excessive communication either with a verbal or literal medium which tends to waste the resources. An efficient manager is careful to use the resources.

An efficient manager is one thing, an effective manager is another thing. Being effective is not only getting things done. The company gives you a task to build the house. You are a manager, given the task to build the house with only 4 people. Normally it takes 8 peoples to build the house. The company wants the task to be completed as efficiently as possible. The first thing that comes into the company’s mind is to assign a manager. By assigning a manager, half of the task will be completed. Building the house is individual works, not group work. In building the house, the manager does not have the roles, except as the proxy of its worker.

Therefore the first premise of becoming an efficient manager is people skill. Which surprisingly in Indonesia’s case it bits paradoxical -where there is no specialization in the employee’s skill. Theoretically, an experience manager never does technical work. The first title that a manager gets after graduate from university is should be manager until he retired. The same goes for employees, they should keep the same title. This can be happening in the advanced economy, where there is a small gap between manager and employee. However, in the traditional economy, specialization could not be made. A flat organization is impossible to be made in Indonesia. As people tend to climb the stair. Nobody wants to do the work.

The next thing that will happen is more interesting. As Indonesia’s way of getting things done is different – I always think that the driving license extension process should not be using private service. There is a tendency to goes a spiral of bad managers. First, the manager becomes less and less efficient, because he enjoys of being worshipped by its employee. Second, the manager becomes less and less effective because he is busy protecting himself from the threat of his incompetence.

So, I will do just two things to solve this. First, I will avoid meeting at any cost. Second, I will ignore every threat made by anyone that trying to use the traditional economic system in their work.

476 words

Written by Anjar Priandoyo

Februari 25, 2021 at 5:20 am

Ditulis dalam Life

Tagged with

Cerita

leave a comment »

Pandemi sudah berjalan satu tahun lamanya. Hampir tidak percaya rasanya kalau harus kembali ke awal Maret 2020 dimana saya mengambil inisiatif untuk merumahkan tim Jakarta jauh lebih cepat dari keputusan pemerintah untuk menerapkan PSBB. Dalam keyakinan saya, PSBB ini tidak akan berlangsung lama, saya sangat yakin bahwa ini akan berakhir di akhir Mei 2020. Pandemi tidak akan bertahan lebih lama dari 3 bulan.

Tiga bulan pertama berjalannya pandemi, saya merasa sangat senang. Senang karena saya tidak perlu lagi pergi ke luar kota. Salah satu pekerjaan yang mengharuskan saya pergi ke luar kota terpaksa dilakukan melalui video call -suatu hal yang saya lakukan jauh lebih cepat dari tren video call pada umumnya.

Saya juga merasa senang karena sekolah dilakukan secara online, tidak perlu lagi membangunkan anak pagi hari, menyiapkan sarapan dan bekal makan siangnya. Namun tidak ada kesenangan yang abadi, sama tidak ada kesedihan yang abadi.

Sekolah anak misalnya, paling tidak ada tantangan baru di setiap tahapannya. Juli 2019, tantangannya adalah adaptasi dengan kehidupan sekolah. Juli 2020 tantangannya adalah pada tahun ajaran baru -reaksi atas 1 tahun bersekolah di tempat yang baru. Januari 2021 tantangannya adalah kejenuhan sekolah, koneksi internet yang bermasalah.

Dalam kehidupan, selalu ada tahapan yang berbeda. Kalau dibandingkan, sekolah yang relatif konstan sekalipun ternyata ada banyak perubahan yang terjadi. Apalagi terjadi dalam lingkungan pekerjaan.

Saya misalnya, sangat bersyukur bisa melewati tiga bulan pertama pandemi dengan baik, April, Mei, Juni. Apalagi dengan adanya libur lebaran, tiga bulan pertama pandemi ini suasana sangat mendukung untuk dilakukannya PSBB. Beberapa orang menghabiskan waktunya di rumah, namun saya sangat bersyukur masih ada pekerjaan yang saya lakukan -mengerjakan klien luar kota yang tidak saya suka tadi.

New normal, buat saya baru dimulai di bulan Juli 2019, salah satu klien mengharuskan pekerjaan dimulai. Saya sangat senang, karena di kantor ini adalah pekerjaan pertama yang didapatkan di masa pandemi. Saya bahkan ikut dua proyek pertama yang didapatkan klien di masa pandemi. Mengerjakan klien dimasa pandemi ini sebenarnya gampang-gampang susah. Gampang karena tipikal klien berbeda, ada klien yang menghadapi pandemi dengan sewajarnya saja -contoh seperti sektor makanan, sementara ada yang sangat ketat -menghindari interaksi dengan pihak ketiga.

Perusahaan memang punya caranya tersendiri untuk bertahan. Bioskop misalnya, sama sekali tutup, gulung tikar. Sama seperti sekolah, antar jemput anak, semuanya berhenti beroperasi sama sekali. Beberapa sektor memang sangat fatal terkena pandemi, penerbangan, pariwisata. Namun, beberapa sektor tetap bisa berjalan -transportasi misalnya, pembelian kendaraan bermotor berlangsung normal, konstruksi berjalan normal. Perusahaan selayaknya orang pada umumnya, mungkin mengurangi konsumsi dengan vendor tapi tidak bisa 100% menutup interaksi. Sama seperti orang yang mengurangi frekuensi ke salon.

424 kata

Written by Anjar Priandoyo

Februari 18, 2021 at 4:19 am

Ditulis dalam Life

Tagged with

Clarity

leave a comment »

With the complexity that we face in our daily life. I start to realized that there is no single rules that can be universally be used for every thing. Its not a Yin Yang’s balance, my sister always said that balance is utopia. Its not Darwin’s adaptation as its contradict with consistency and persistence. Its also not survival or suffering as its also contradict with the wellbeing. It is also not submissive, acceptance and compassion, as it can be interpreted as weakness. Its not also bravery, modesty and consistency -which those are depending on specific situation. Keep it simple does not mean that its always a good things to do.

I always think that compassion is the universal rules -love each other. But lately, I start to realize that understanding bigger cause is needed to practice compassion. I you have lazy worker, compassion does not help, as it will drag the company into failure. I come up into simple conclusion that I did not know the answer and the only way to get the answer is through clarity. People need sleep, rest, food, exercise in order to make good decision. All those aspect is needed to make sound judgement, to have clarity is much more needed instead of planning or doing this. Too many plan is bad, lack of plan is bad -a balance perspective- is contradict with the simplicity rules.

I start to realize for example, if I need my boss attention. Should I act by sending him the status update regularly or should I confront him with certain issues that might took his attention. Should I treat him as a friend or should I treat him as a customer. There is no single rules that can be applied in this situation. My answer is depending on the situation. Sometimes the best is to keep distance to him, but in other situation its best for me to, well to keep distance further to him. Its not always polarization -end to end extreme, but it can also be an option exercise.

For the last maybe 6 years, or even more, I always prefer solo. Historically, I always proud to have a solo trip. I always having a problem to be attached to certain group. I have gone through a period of isolation and that is makes me have a certain method that make me survive -writing is one of the example. With this operating model, I start to realize again the logic that I should be using. Integrity is corporate logic, but hard work is never a corporate logic. Teamwork (hierarchy, bureaucracy) is corporate logic, but equality is never a corporate logic. Profit is corporate logic, but wellbeing is never a corporate logic.

Interesting, and the only answer for this madness is clarity.

463 words

Written by Anjar Priandoyo

Desember 20, 2020 at 6:58 am

Ditulis dalam Life

Tagged with

Consultant

leave a comment »

Waktu kecil saya selalu ingin menjadi keren. Dahulu ada anak yang senang main bentengan, larinya sangat cepat, buat saya itu adalah gambaran keren yang sesungguhnya. Bukan anak yang pintar dan bukan juga anak yang punya paling banyak mainan. Waktu kecil saya juga punya pengalaman tidak menyenangkan karena diejek secara fisik. Buat saya itu mengajarkan bahwa banyak orang tidak bisa lepas dari takdir yang didapatnya. Entah terlahir secara fisik yang berbeda atau terlahir dengan tingkat kecerdasan yang berbeda. Orang yang menjalani hidup dengan baik sesuai dengan takdir yang didapatnya pasti akan sukses, survive, bahagia atau apapun namanya.

Keren, seringkali menjadi dasar pembuatan keputusan saya. Masuk pramuka karena keren, saya ingin membuktikan saya punya potensi untuk dikembangkan -atau secara sinis merasa lebih baik dari yang lain (superiority). Karate, saya merasa saya bisa mengalahkan anak-anak kampung sebelah, dan seterusnya.

Waktu awal bekerja, saya juga menggunakan prinsip yang sama. Saya ingin bekerja di tempat yang keren. Keren buat saya pada waktu itu adalah multinational company (MNC). Ini sudah saya tuliskan beberapa kali di catatan target yang saya buat. MNC company membawa saya kesempatan untuk ke luar negeri. Saya juga ingin bekerja di bidang yang strategis, Management Trainee misalnya.

Akhirnya setelah beberapa kali pindah perusahaan saya menemukan perusahaan yang benar-benar cocok. Perusahaan itu MNC, saya di core bisnis. Saya menemukan apa yang menjadi passion saya, saya bisa berkeliling Indonesia, saya bisa bergabung di tim elit dan di project elit. Saya merasa track saya untuk bisa menjadi direktur pada umur 40 tahun -disaat saya berumur 23 tahun- terasa sangat nyata.

Namun di titik ini, menjelang umur 40 tahun. Saya melihat bahwa apa yang saya rencanakan dahulu tidak sepenuhnya tepat -bukan karena tidak berhasil. Pertama, karena saya tidak sepenuhnya tahu faktor-faktor internal yang mempengaruhi. Kedua, karena ada faktor eksternal lain yang mempengaruhi.

Sebagai contoh, MNC bukanlah pilihan yang keren, Unilever, Philip Morris misalnya, tidak lebih baik dibandingkan Pertamina. Perusahaan swasta nasional seperti Astra juga bukan berarti lebih baik. Justru saya melihat beberapa yang bisa berkembang adalah yang berada di perusahaan BUMN menengah. Bukan BUMN besar seperti Telkom.

Bidang strategis, ini juga merupakan salah kaprah lainnya. Programmer silverlake bukan bidang strategis. Security bukan bidang strategis, business development juga bukan. Kebanyakan bidang strategis yang dulu saya lihat, sebenarnya tidak lebih dari pekerjaan administrasi. Justru saya melihat bidang strategis itu short term, yang lebih long term adalah spesialisasi. Orang yang tekun dan terus menerus mengembangkan dirinya itu yang akan berhasil.

Terakhir, satu hal yang mungkin tidak saya lihat pada saat saya berumur 23 tahun adalah masalah endurance. Karena ini permasalahan perjalanan panjang tiga dekade. Dimana dalam satu dekade saja orang bisa berganti roles sebanyak 2 kali. Paling tidak ada dua tahapan karir yang orang bisa lalui sepanjang perjalanan 30 tahunnya – officer dan senior officer. Itu saja apapun title yang dimiliknya. Dan apa yang membedakan senioritas hanya kedewasaannya saja, karena performa terbaik orang adalah pada saat ia mulai bekerja dan terus menurun sepanjang perjalannya.

483 kata

Written by Anjar Priandoyo

Desember 15, 2020 at 6:23 am

Ditulis dalam Society

Tagged with

Sholat lima waktu dalam Islam

leave a comment »

Menurut saya, banyak sekali pernyataan itu yang paradoxial (saling bertentangan), contohnya adalah Sustainable Development. Kata ini saling bertolak belakang, yang disebabkan logika, baik logika yang salah (telur atau ayam) atau solusi yang tidak tepat (kerja atau pengalaman). Kata-kata yang mirip lainnya adalah Work-Life Balance dan turunannya e.g Mental Health, Well Being yang sama dengan Sustainable Development, sangat sulit atau hampir paradoxial. Untuk turunannya seperti Mental Health lebih tepat didefinisikan sebagai Fallacy (kesalahan logika).

“Ujung-ujungnya Duit (UUD)” adalah salah satu contoh paradox yang lain. Kata ini umum digunakan untuk menggambarkan perilaku corrupt masyarakat Indonesia. Ini paradox karena uang sebenarnya sama dengan hal yang paling penting. Artinya ketika ada orang mengatakan “Di dunia ini hal yang paling penting adalah uang”, pernyataan ini sebenarnya pernyataan yang meaningless, tidak bermakna, falsidical (cacat logika).

Ketika pernyataan “uang itu segalanya”, maka orang itu sebenarnya tidak memberikan pernyataan apapun. Sama seperti pernyataan “saya adalah aku”, atau dad jokes-nya Cak Lontong yang mengatakan bahwa “Rahasia sehat adalah tidak sakit”. Biasanya ketika orang mengatakan “uang itu segalanya” orang menyimpulkan bahwa uang tersebut mengacu pada kemewahan material, padahal makna uang itu bisa berarti “nanti digunakan untuk membeli fasilitas kesehatan” atau “nanti akan digunakan untuk membeli rumah, sekolah dan seterusnya”.

Ini mengingatkan saya pada seorang teman yang memberikan pernyataan “Saya sebenarnya hanya ikut apa kata Pak Bos”. Ini secara statement adalah Fallacy, karena si teman ini menyatakan hanya menjawab apa yang Pak Bos minta. Sekilas ini benar, karena seharusnya setiap karyawan menghormati hirarki. Permasalahannya adalah, tidak semua yang diinginkan Pak Bos sama dengan yang diinginkan karyawan.

Sebenarnya, dalam hal ini tata bahasa merupakan hal yang paling lemah. Apa yang disampaikan tidak perlu didengar. Dalam kasus “Apa kata Pak Bos” tadi yang perlu dilihat adalah tindakannya, tindakannya menjelaskan posisinya. Posisinya sebenarnya hanya dua: Mampu/tidak mampu (Competence), Mau/tidak mau (Attitude: Rajin/malas). Lebih dari 90% pekerjaan itu urusan Competence, orang yang tidak Competence, cenderung menutupinya dengan Attitude.

Sebagai contoh, ditempat kerja, orang yang tidak kompeten untuk melakukan penelitian, akan menutupinya dengan sikap rajin yang berlebihan pada saat mengajar. Orang yang tidak kompeten untuk jualan, akan menutupinya dengan sikap rajin yang berlebihan pada internal proses.

Solusinya sederhana 1) terkait orang, orang tidak bisa dirubah, belajar menerima. Sebagai contoh, orang yang “Apa kata pak bos” akan selalu melakukan tindakan intimidasi, maka solusi pertama adalah hindari atau terima, jangan mencoba melakukan agitasi. 2) terkait tindakan, bekerjalah secara efektif mengikuti prinsip modernisasi seperti menciptakan symbol (e.g saya menghindari meeting, saya bekerja lone wolf, saya fokus pada kelebihan yang saya lakukan bukan pada yang bisa saya lakukan).

Lalu apa hubungannya dengan sholat tadi? sholat bisa jadi sebuah fallacy kalau semata dilakukan untuk mengharapkan sesuatu (materi, kemudahan), namun sholat (ibadah) merupakan simbol untuk mengerem materialisme duniawi, disisi lain merupakan simbol disiplin dan komitmen. Buat saya ujungnya adalah tidak melakukan konsumsi secara berlebihan dan tidak emosional secara berlebihan. Hal yang tidak mudah, dan bagi beberapa orang merupakan paradoxial seperti sustainable development tadi.

Wiki: List of paradoxes.
Cause: fallacious reasoning (falsidical), or an unintuitive solution (veridical).

494 kata

Written by Anjar Priandoyo

November 9, 2020 at 5:42 am

Ditulis dalam Life

Tagged with

Renungan sabtu pagi

leave a comment »

Dalam menjalani hidup kuncinya adalah jujur melihat situasi, tenang melihat situasi dan pada akhirnya berusaha menjadi orang baik. Saat ini misalnya, salah satu hal yang saya inginkan adalah punya keluarga yang kompak. Salah satu ini penting untuk digaris bawahi karena keinginan ini sifatnya tidak pernah tunggal, tapi lebih dari satu dan beragam. Seperti tidak mungkin orang mengatakan hanya ingin minum, tapi pasti ingin makan, ingin tidur.

Kembali pada keinginan punya keluarga yang kompak, kalau melihat apa yang terjadi dahulu pada saat masih kecil, maka memiliki keluarga yang kompak merupakan sebuah cita-cita yang tidak mudah diwujudkan. Bapak bekerja lembur dengan sistem shift, sementara ibu relatif kesulitan beradaptasi seiring tempat kerja yang berpindah-pindah. Mengumpulkan lima orang yang bukan sekedar punya visi berbeda, tapi by default punya jalan hidup yang berbeda. Bapak yang terbayang kakaknya dan ibu yang berusaha mengejar keluarganya.

Jalan hidup yang berbeda ini bukan sekedar visi yang berbeda -seperti kakak yang punya kelebihan akademik, dan memilih visi jalur akademik, seperti adik yang punya kelebihan berinteraksi dan memilih visi jalur pegawai. Faktor yang paling dominan bisa jadi adalah faktor-faktor yang tidak bisa dirubah, sangat kuat. Seperti orang yang mengatakan bahwa

Lalu apa relevansinya dengan kondisi saat ini. Kalau mau jujur, sebenarnya ada perasaan tidak puas, sama seperti ketidakpuasan yang terjadi dimasa kecil karena tidak dilahirkan di keluarga yang kaya. Tapi, kalau dilihat lagi secara lebih mendalam, hal ini lucu sekali. Orang pada dasarnya tidak akan pernah puas dengan apa yang terjadi, apa yang dimilikinya. Dan kemungkinan besar hanya ada satu hal yang akan dilakukannya yaitu menyakiti orang lain.

Pengalaman saya selama ini sebenarnya sudah bisa membantu saya melihat dengan baik. Ada orang yang mungkin tersakiti di masa lalunya, ada orang yang terbebani dengan banyak hal, ada orang yang harus mengejar sesuatu, seakan ketertinggalan adalah sesuatu yang harus dikejarnya.

Hari ini, minggu pertama anak-anak sekolah, saya mengubah beberapa kebiasaan kecil yang biasa saya lakukan. Saya sekarang hanya menggunakan satu buah laptop saja, sebelumnya saya menggunakan dua buah laptop, saya baru menyadari bahwa dua laptop membuat rumah terasa lebih sempit. Saya sekarang melakukan videocall di luar rumah, saya baru menyadari betapa bising suara yang saya hasilkan saat bicara dengan orang.

Saya setuju bahwa hidup ini beberapa hal sudah predefined, seperti kondisi fisik dan kondisi mental, artinya beberapa orang punya kondisi bawaan yang berbeda-beda, namun adalah kesalahan besar jika kita memaksakan kehendak secara buta, tanpa melihatnya dari sudut pandang diri sendiri. Tidak mudah, namun perbaikan-perbaikan itu setiap harinya bisa dilakukan, sekecil apapun itu.

409 kata

Written by Anjar Priandoyo

Juli 25, 2020 at 4:56 am

Ditulis dalam Life

Tagged with

Lari untuk beristirahat

leave a comment »

Bertahun-tahun lamanya saya dilatih untuk nge-gas. Bangun pagi yang saya cari adalah terburu-buru untuk segera mengambil ember gayung menyiram tanaman. Segera, mengejar waktu saya berlari mengelilingi lapangan didekat rumah. Suatu pagi, disekolah dasar, saya berusaha mengerjakan segala sesuatu dengan cepat. Saya berusaha memenuhi permintaan orang tua saya untuk rajin dipagi hari. Selesai, saya bisa kerjakan. Sore hari demikian, saya tergesa-gesa, terburu-buru menonton acara TV di sore hari, tergesa-gesa pergi ke tempat permainan atau tergesa-gesa pergi ke lapangan basket. Pergi ke lapangan basket bukan karena saya senang basket, bukan juga karena saya berbakat basket, tapi berharap agar kelak suatu saat nanti kalau saya terbiasa untuk berlatih basket setiap hari, saya akan menjadi anak yang jago basket.

Hal ini bertahun-tahun saya lakukan. Saya seringkali melakukan sesuatu, mengejar sesuatu yang saya rasa baik meski sebenarnya manfaatnya tidak ada. Contoh padanannya sekarang adalah lari. Saya berlari setiap hari, walaupun tahu, kecepatan berlari saya tidak jauh berbeda dengan mereka yang tidak pernah berlari. Saya membaca, menonton, menulis dan berlari dengan kesadaran bahwa hal ini seringkali merupakan kesia-siaan belaka.

Hari ini saya putuskan untuk menge-rem semua ini. Pulang ke rumah, dengan kondisi rumah yang berantakan, yang terbayang dikelapa saya adalah segera merapihkan rumah. Segera menyiram atap kaca, mencuci mobil dan merapihkan barang-barang dirumah. Beruntung semuanya bisa saya selesaikan pada pukul sembilan pagi. Kalau saya tidak menahan diri, mungkin entah sampai siang saya masih mengerjakan pekerjaan rumah tersebut. Akhirnya saya putuskan untuk berhenti sejenak, untuk merenungkan apa yang sebaiknya saya lakukan. Pilihannya sebenarnya jelas, beristirahat. Duduk sejenak, menulis pun sebenarnya untuk beristirahat. Mungkin saya akan melakukan hal yang sama seperti yang saya lakukan selama tiga puluhan tahun lamanya. Namun sepuluh tahun pertama dahulu yang saya lakukan tujuannya untuk mencapai cita-cita tertentu, sepuluh tahun kedua untuk mengisi waktu dan sepuluh tahun ketiga untuk beristirahat.

Kalau lari dan segala aktivitas harian lainnnya tujuannya adalah beristirahat. Lalu apa tujuan dari saya bekerja setiap hari? tujuannya adalah sama, beristirahat. Saya ingin punya waktu beristirahat lebih banyak lagi. Waktu beristirahat, memungkinkan saya untuk membersihkan rumah, memungkinkan saya untuk berbicara dengan orang-orang dekat, memungkinkan saya untuk bisa membantu orang lain. Setiap keputusan keuangan saya juga sama, tujuannya adalah membahagiakan orang-orang terdekat saya, tujuannya akhirnya adalah agar saya bisa beristirahat. Istirahat itu apa sih sebenarnya? ketenangan. Ketenangan hanya bisa didapatkan oleh orang yang beristirahat dari kerja yang berat.

Jumat pagi, 400 kata

Written by Anjar Priandoyo

Agustus 23, 2019 at 2:42 am

Ditulis dalam Life

Tagged with

Menata kembali kehidupan

leave a comment »

Hari ini secara tidak sengaja saya memutuskan untuk mengunjungi rumah lama saya. Perasaan saya begitu tenang ketika mengunjungi rumah tersebut. Rumah tersebut merupakan rumah tinggal pertama yang saya dan istri beli pertama kalinya, dimana saya mengawali semuanya tanpa apa-apa. Selama tujuh tahun pertama tinggal dirumah tersebut, rasanya tidak ada masalah besar yang terjadi, semua begitu damai dan tentram. Permasalahan baru muncul setelah saya pindah keluar negeri. Selama masa diluar negeri, saya merasa segalanya begitu sulit. Bagaimana mengatur rumah dengan anak berusia 6 dan 2 tahun, bagaimana dengan ibu mertua yang selama ini menemani, bagaimana dengan asisten, bagaimana dengan mobil, bagaimana dengan makanan, masjid, uang dan seterusnya. Sampai akhirnya, setelah lima tahun dalam kondisi yang paling berantakan sekalipun semuanya bisa tertata dengan baik.

Sekarang, kembalinya ke Indonesia, saya merasa bahwa kehidupan saya kembali berantakan lagi. Pola hidup yang sudah sangat mudah. Membangunkan anak jam 06:30, menyiapkan makanan jam 07:30, mengantarkannya ke sekolah jam 08:30 rasanya tidak bisa dipraktikkan disini. Ritual dua jam pertama dipagi hari ini sekarang hanya mungkin bisa dilakukan selama 30 menit saja. Jam 05:30 bangun, jam 05:45 mandi, jam 06:00 bersiap berangkat.

Meski demikian, menata kembali ini bukanlah masalah yang hanya saya satu-satunya orang yang menghadapinya. Ada orang yang menghadapinya dalam tema yang berbeda. Semisal cerita seorang pengusaha yang harus ditipu dan hidup susah selama tujuh tahun, atau dalam versi lainnya pengusaha yang mungkin tidak bisa menceritakan pengalaman hidupnya, atau tidak menganggap waktu tujuh tahun sebagai sebuah cut off yang jelas perhitungannya.

Cerita pengusaha ini dalam menata kehidupannya dimulai dari bagaimana dia mengoptimalkan pasangannya dalam mengelola rumah -selama dia dalam kondisi depresi. Memulai usaha kecil-kecilan, memulai berhemat kembali, memulai melunasi hutang. Rasanya tidak ada yang berbeda dengan apa yang dilakukannya saat mengawali bisnisnya tersebut.

Cerita saya mungkin kurang lebih juga sama. Mengawali apa yang terjadi pada saat di luar negeri. Pertama, mencari teman dekat -waktu itu ada satu orang anak yang cukup dekat, sayangnya pertemanan dengan anak itu tidak berlangsung lama, karena ternyata anak tersebut punya masalah dengan keluarganya. Setelah itu ada anak yang lain yang meski baik sayangnya tidak tinggal dalam waktu lama.

Kedua, mulai mencari ritme bekerja yang paling sesuai. Pertama dengan menggunakan bantuan orang tua, kemudian menggunakan day care, dilanjutkan dengan sekolah. Namun ritme itu juga belum sepenuhnya sesuai. Masih harus disesuaikan dengan bagaimana pengaturan makan yang paling pas, bagaimana pengaturan jam istirahat, bermain dan belajar yang sesuai. Kita lihat bersama-sama. Ada suatu waktu dimana segala hal menjadi begitu mudah, ada suatu waktu dimana hal menjadi begitu rumit.

413 kata

Written by Anjar Priandoyo

Juli 26, 2019 at 8:30 am

Ditulis dalam Life

Tagged with