Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Posts Tagged ‘Agriculture

Salah Kaprah Ikan

leave a comment »

1.Potensi yang besar tidak berarti menguntungkan
Ikan merupakan bagian kecil dari industri pertanian. Kalau menurut FAO, di Indonesia, fishing industry kontribusinya sekitar 21% dari agricultural ekonomi. Indonesia produksinya sekitar 8MT yang terdiri dari 5MT marine/inland catch dan 3MT aquaculture. Porsi export sekitar 0.3MT (shrimp, frozen fish), import sekitar 0.4MT. Produksi ikan dunia sekitar 180MT.

Ini sama seperti Solar PV, potensinya sangat besar, tapi tidak menguntungkan karena material pendukung (Solar Panel Mahal). Ini juga kasus sama seperti Panas bumi, potensi besar, material pendukung/teknologi murah, tapi pelanggan listrik tidak ada, juga tidak menguntungkan. Disini Panas Bumi kalah dengan Batubara yang lebih murah dan dekat dengan pelanggan.

2.Produktivitas hanya bisa ditingkatkan dengan sistem (Orang miskin tidak bisa dirubah menjadi orang kaya)
Petani merupakan pilihan profesi yang tidak menarik. Karena tingkat kesejahteraan petani lebih rendah dibandingkan tingkat kesejahteraan guru atau pegawai. Produktivitas pegawai lebih besar daripada produktivitas petani. Karena petani untuk meningkatkan kesejahteraan membutuhkan lahan yang lebih luas, sementara pegawai untuk meningkatkan kesejahteraan cukup dengan meningkatkan keterampilan lewat pendidikan yang sangat murah dan beresiko kecil.

Makanya petani yang miskin berpenghasilan rata-rata $3,000 tidak bisa dijadikan petani yang kaya berpenghasilan rata-rata $30,000 dengan hanya memberikan traktor seharga $1,000 atau memberikan kapal ikan seharga $30,000. Logikanya jika dia tidak punya kapal saja incomenya $3,000 maka kapal seharga $30,000 hanya menambah pendapatan sekitar $10,000 dan itupun umur kapal ada batasannya. Artinya subsidi yang terlihat sangat besar pun hanya sedikit efek perubahannnya. Padahal subsidi ini pun merupakan pungutan pajak yang hanya persentase dari ekonomi keseluruhan.

Petani miskin ini hanya bisa meningkat kesejahteraannya bila dia bermain dilevel yang petani tersebut memiliki keunggulan. Contoh petani produk kopi tertentu, yang punya target pasar tertentu, yang unik dan dia bisa mengendalikan harga. Bila tidak? pasti akan kalah dengan produk yang lebih efisien.

Artinya produktivitas ini hanya bisa dengan sistem. Sistem keuangan yang lebih baik, sehingga petani bisa meminjam uang dan punya mesin. Kemudian petani ini dilindungi bila terjadi kerugiaan. Dsb dkk yang rasanya mustahil untuk dilakukan, kecuali atas muatan politis.

3.Bagaimana pemerintah mengatasi ini?
Pemerintah adalah institusi yang memiliki dana dari pajak untuk mengatasi “struktural problem” di society. Maka pemerintah bisa saja membuat program pengadaan kapal 30 GT sebanyak 1000 unit senilai 1.5 milyar yang disumbangkan untuk nelayan. Atau pengadaaan 3325 kapal dengan kapasitas 5 GT yang sistem tangkapannya lebih pada pulang pergi harian. 30 GT bisa berlayar lebih lama misal dalam hitungan 5-7 hari. Namun ini juga tidak mudah karena beberapa area memang sudah overfishing, pantura misalnya. Value chain dari ikan juga masih panjang misalnya pendingin.

Artinya, pemerintah merupakan institusi yang pasti benar. Seperti memberikan beasiswa pada masyarakat. Namun, perlu diingat bahwa jumlah ini sangat kecil untuk bisa mentransformasi sebuah negara. Apalagi sebuah negara yang ekonominya masih tradisional, pada tingkatana masih subsistence, mencukupi untuk kebutuhan hidupnya sendiri. Petani misalnya, hanya punya lahan kurang dari 0.3 Ha.

Written by Anjar Priandoyo

Mei 26, 2017 at 11:01 am

Ditulis dalam Science

Tagged with

Sapi

leave a comment »

Sapi merupakan komoditas pertanian paling berharga didunia. Daging sapi nilainya sekitar $180B, sama dengan nilai susu sapi dan beras yang sekitar $180B. Masalahnya, tonnage susu sapi dan beras sama, sekitar 700MT, tapi sapi tonnagenya hanya sekitar 10%-nya 60MT. Artinya sapi 10x lebih berharga dari beras, dan kalau dibandingkan dengan ayam, sapi 2x lebih berharga dari ayam.

Sapi di Indonesia, hampir setengahnya adalah impor. Padahal di tahun 1970, Indonesia adalah net exporter sapi Ref FAO 1999. Mengembangbiakkan sapi lebih sulit dari ayam. Sapi butuh waterfootprint lebih banyak dari ayam. Padahal konsumsi daging Indonesia sangat rendah, hanya sekitar 10kg/tahun, bandingkan dengan negara maju yang bisa sekitar 100kg/tahun.

Written by Anjar Priandoyo

Mei 26, 2017 at 9:56 am

Ditulis dalam Science

Tagged with

Salah kaprah mengenai pertanian

leave a comment »

1.Untuk maju, Indonesia harus berubah dari negara agraris menjadi negara industri
Ini adalah salah kaprah yang hingga bertahun-tahun saya yakini. Untuk menjadi negara maju, Indonesia harus membangun lebih banyak industri, misalnya industri elektronik, industri semen, baja, industri perakitan yang dikerjakan dengan mesin-mesin. Padahal yang dimaksud menjadi negara industri adalah pertaniannya dengan pertanian modern, yaitu tidak hanya menggunakan mesin-mesin modern tapi juga memastikan kepemilikan tanah (aspek hukum), supply chain/rantai distribusi (aspek manajemen), hingga penggunaan bibit (aspek produktivitas). Sayangnya kebanyakan isu pertanian yang diangkat adalah isu politis, semisal, kampanye bahwa penggunaan pupuk pabrik berbahaya lebih baik pupuk organik. Isu seperti mekanisasi pertanian, meski penting, tapi merupakan rangkaian yang sangat kompleks dengan isu-isu lain yang lebih besar semisal kredit keuangan petani.

2.Pertanian itu hanya beras (padi)
Produk pertanian sangatlah kompleks. Pertanian dipengaruhi dengan iklim (gandum/anggur hanya tumbuh di subtropis), juga dipengaruhi oleh ekonomi dari sebuah negara (misal negaranya merasa lebih baik menanam mangga, maka akan impor beras). Kapas misalnya, produksi kapas dunia sekitar 25 MT (2.5% world arable land). China largest producer (domestic consumption mainly), US largest exporter. Indonesia butuh sekitar 0.7 MT kapas per tahun yang 99%-nya di impor. Kapas tidak cocok tumbuh di Indonesia. Untuk tekstil 42% menggunakan kapas, sisanya menggunakan Viscose (Rayon) Sintetik Fiber. Menurut statistik kapas deptan. Artinya Indonesia hanya mampu produksi sekitar 0.02 MT kapas.

3.Pertanian itu hasilnya kecil, identik dengan murah dan miskin. (Subsistence vs Cash Crop)
Di tahun 1980an saja, sudah banyak alumni IPB yang menjadi pegawai bank dari pada menjadi petani kaya apalagi sekarang. Artinya, pertanian di Indonesia memang masih dalam tingkat subsistence (untuk kebutuhan minimal sehari-hari) bukan digunakan untuk intensive agriculture (business, trade).

4.Pertanian tidak maju karena ulah tengkulak
Tidak sesederhana itu. Kemajuan pertanian bergantung pada ekonomi sebuah negara. Negara yang masih tradisional, akan memiliki sistem pertanian yang tradisional (tengkulak, tidak terencana). Negara yang sedang transisi akan memiliki sistem pertanian yang lebih baik (liberalisasi, stabilitasi makro, restrukturing/privatization, legal/institutional reform).

5.Transformasi pertanian itu mudah, jangan ada mafia (impor, tengkulak)
Transformasi pertanian melewati banyak tahap, mekanisasi misalnya mengurangi jumlah tenaga kerja, penggunaan pupuk, pestisida, bibit unggul. Kalau produk lokal tidak ekonomis, produktivitas rendah, harga mahal, tentunya konsumer akan memilih harga yang lebih murah dan lebih bagus (rational decision).

6.Pertanian adalah ilmu terapan
Pertanian adalah bidang yang sangat kritikal, dari dampak lingkungannya (waterfootprint, carbonfootprint) hingga dampak ekonominya (US adalah negara pertanian terbesar di dunia)

7.Industri pertanian sangat kompleks
Durian contohnya, thailand menguasai lebih dari 90% market durian dunia ref, ref.

Written by Anjar Priandoyo

Mei 26, 2017 at 9:07 am

Ditulis dalam Science

Tagged with

Muatan Politis Impor Produk Pertanian: Padi, Jagung dan Kedelai (PaJaLe)

leave a comment »

Impor merupakan sebuah kata yang sensitif karena memiliki muatan politis. Padahal dalam era globalisasi seperti sekarang, impor dan ekspor harus dilakukan (tentunya secara terkendali), karena tidak dapat dipungkiri ada negara yang memang efisien menghasilkan suatu produk.

Indonesia misalnya, tahun 2014 memproduksi 60 MT beras tapi masih membutuhkan impor sebesar 1 MT, sebenarnya bukanlah hal yang buruk, toh fluktuasi impor banyak dipengaruhi oleh faktor cuaca.

Jagung misalnya, tahun 2015 data BPS memproduksi sekitar 11 MT jagung, tapi masih membutuhkan impor sekitar 3 MT. Ini juga bukan hal yang buruk, toh yang diimpor adalah jagung untuk pakan ternak bukan untuk pangan. Untuk komposisi konsumsi nasional sekitar 14 MT itu terdiri dari 9 MT untuk pakan ternak dan 5 MT untuk pangan. Jagung impor sendiri hanya sekitar 30% dari konsumsi jagung pakan ternak.

Kedelai juga sama, tahun 2012 konsumsi nasional sekitar 2.4 MT, sekitar 1.2 MT diperoleh dengan cara impor. Dengan muatan politis orang bisa saja mengatakan “Masa tempe aja impor”, tapi kenyataannya dari konsumsi nasional kedelai yang digunakan untuk tempe/tahu hanya sekitar 40-50% saja. Sisanya adalah impor untuk pakan ternak.

Kedelai sebenarnya lebih rumit, karena kedelai menurut FAO adalah tanaman subtropis yang tumbuh pada suhu 25-30C. Artinya impor kedelai sama wajarnya dengan impor gandum. Kedelai unik, kedelai merupakan tanaman penghasil protein utama dunia. Makanya, kalau didunia, 2/3 dari pakan ternak dari kedelai. (Makanya, ternak yang diberi makan jagung bisa besar dalam 12 bulan, sementara yang diberi makan rumput bisa 24 bulan). Kalau produksi dunia, 70% untuk livestock, 24% untuk soybean oil dan 6% untuk dimakan.

Mau lanjut? isu muatan politis ini bisa berkembang dengan sangat kompleks, seperti Food vs Fuel dan Food vs Feed.
Ref, Ref, Ref, Ref, Ref, Ref, Ref, Ref, Ref, Ref, Ref,Ref, Ref

Written by Anjar Priandoyo

Mei 24, 2017 at 12:56 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with

Bagaimana kinerja tepung gandum Indonesia

leave a comment »

  1. Top Production: China 107MT, India 75MT, US 50MT, Rusia 44 MT, France 36MT
  2. Top Exporter: US 7.8 MT, Australia 7.0 MT, Canada 6.3 MT, Russia 6.2 MT
  3. Top Importer: Egypt 11.8 MT, Indonesia 8.5 MT, Algeria 8.2 MT, Brazil 6.2 MT, Japan 5.8 MT

Written by Anjar Priandoyo

Mei 14, 2017 at 9:11 am

Ditulis dalam Society

Tagged with

Bagaimana kinerja beras Indonesia

leave a comment »

1.Indonesia bukan produsen beras besar
Data: Menurut FAO tahun 2014, Indonesia adalah negara produsen beras terbesar ketiga di dunia sebesar 70 MT, setelah China 206 MT, India 157 MT, Bangladesh 52 MT, Vietnam 44 MT, Thailand 32 MT.
Kesimpulan: Indonesia bukan produsen besar, karena dilihat produksi rasio per jumlah penduduknya

2.Indonesia adalah importir beras ke empat terbesar dunia
Data: Menurut USDA 2016, China adalah importir beras terbesar 5MT, Nigeria 2MT, Saudi 1.5MT, Indonesia 1.2MT, Philippines 1.2MT
Kesimpulan:

3.Di Eropa, negara eksportir beras adalah India dan Thailand
Data: Menurut CIA Worldfact book tahun 2016, India adalah exporter beras terbesar di dunia 28%, disusul Thailand 23%, US 10%. UK mengimpor beras terbesarnya dari India, Pakistan dan Thailand
Kesimpulan: Karena lebih dari 50% perdagangan beras dunia dikuasai oleh India dan Thailand. Maka tidak heran kalau belanja beras di Eropa, stock beras hanya dari India dan Thailand

http://www.fao.org/faostat/en/#data/QC/visualize
http://atlas.media.mit.edu/en/visualize/tree_map/hs92/import/gbr/show/1006/2015/
https://www.indexmundi.com/agriculture/?commodity=milled-rice&graph=imports

Written by Anjar Priandoyo

Mei 14, 2017 at 9:01 am

Ditulis dalam Science

Tagged with

Ketahanan Buah

leave a comment »

Impor adalah sesuatu yang buruk bagi ekonomi. Apalagi, yang diimpor produk jadi yang harganya lebih mahal daripada ekspor barang mentah. Indonesia bukan negara eksportir, pisang contohnya produksinya sekitar 6MT, tapi yang diekspor sangat kecil sekitar 30KT (0.03MT).

Orang berargumen impor tidak apa-apa karena adanya competitive advantage, ada negara yang memang fokus mengembangkan produk tertentu, sehingga menjadi lebih efisien. Namun dari kacamata perdagangan harusnya seimbang dong.

Contoh, saya baru tersadar bahwa membanjirnya Jeruk Shantang yang diobral murah di Giant atau buah Lengkeng yang dijual murah di Carefour dengan promosi yang heboh merupakan buah yang paling banyak diimpor. Kalau lihat supermarket modern, isinya kebanyakan buah impor.

Buah memang punya banyak kendala tranportasi. E.g Jeruk pontianak biaya kirim ke Jakarta jauh lebih mahal daripada Jeruk impor dari China.

World most produce fuit: Banana 114MT, Watermelons 111 MT, Apples 84MT, Grape 83MT
Indonesia most produce fruit: Banana 6MT, Mango 2MT, Jeruk 1.5MT

Fruit Import 2012: 759 KT ($814mill)
1. Apel 173 KT: China 122 KT, US 47 KT (98% market share of apple is import)
2. Jeruk Shantang 169 KT: China 152 KT, Australia 4 KT
3. Pir 124 KT: China 117 KT
4. Lengkeng 116 KT: Thailand 115 KT
5. Anggur 57 KT: US 15 KT, China 12 KT
6. Jeruk 32 KT: Australia 5KT, Argentina 6KT
7. Kurma 20 KT: Egypt 8KT, UEA 5 KT
8. Durian 19 KT: Thailand, Malaysia

Pineapple country: Costarica 26MT, Brazil 2.4MT, Philipines 2.4MT, Thailand 2.2MT, Indonesia 1.8MT
Mango Country: India 18MT, China 4.4MT, Thailand 3.1MT, Indonesia 2.0MT, Mexico 1.9MT
Banana Country: India 27MT, China 12MT, Philipines 8MT, Brazil 6MT, Ecuador 6MT (23% world export)

Susah juga ya, karena ini masalah pusat ekonomi juga. Pusat ekonomi Indonesia hanya satu, di pulau jawa, dan lebih tepatnya di Jakarta. Kedepan yang akan maju adalah jalur-jalur ekonomi.

China misalnya, dari 10 pelabuhan terbesar di dunia, 6-nya ada di China (Shanghai, Shenzen, Ningbo-Zhoushan, Qindao etc). Titik-titik inilah yang akan terhubung dengan Jakarta. Sama seperti Chartage dan Rome yang berasa tetangga karena Mediteranian Superhighway. Sukabumi misalnya, yang posisinya lebih dekat dengan Jakarta, akan lebih tertinggal pastinya.

Dan ini bukan salah pemerintah, bukan salah invisible hand, bukan salah mafia juga. Ini semata salah geography

http://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/2154804/1#bigpic
http://www.worldatlas.com/articles/top-pineapple-producing-countries.html
http://www.worldatlas.com/articles/the-top-mango-producing-countries-in-the-world.html
http://epublikasi.setjen.pertanian.go.id/epublikasi/outlook/2016/Hortikultura/OUTLOOK%20PISANG%202016/files/assets/common/downloads/OUTLOOK%20PISANG%202016.pdf

Written by Anjar Priandoyo

Mei 13, 2017 at 6:08 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with