Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Posts Tagged ‘Banking

Memahami Bisnis Keuangan

leave a comment »

“The strong always prevail over the weak”

Bisnis adalah sebuah institusi yang sangat kuat dibandingkan institusi lain seperti ikatan alumni, pengajian, atau keluarga. Kekuatan institusi bisnis adalah pada spesialisasi dan efisiensinya. Ambil contoh BMT Al Falah di Cirebon. BMT ini berdiri pada akhir 1995, didirikan oleh 4 orang dengan modal 5 juta rupiah (mungkin sekitar 25 juta tahun 2017). Tahun 2010, BMT ini punya sekitar 14,000 nasabah (64% perempuan) dengan total aset sekitar 10 milyar IDR. BMT ini punya Own Capital sekitar 158 juta dan Loan Capital sekitar 2.5 milyar terdiri dari (50% Bank Credit, 25% NBFI Credit dan 25% Capital Investment). BMT ini punya 3 cabang dengan revenue profit sekitar 2.3%.

BMT ini jelas punya kekuatan dibandingkan orang biasa dengan produk berupa uang. Uang ini tidak diciptakan tapi dibeli dari masyarakat dengan harga X rupiah + interest dan dijual dengan harga X rupiah + interest + margin. Sampai sini, BMT ini harus diregulasi karena dengan kekuatannya BMT bisa menekan yang lemah. Misalnya menekan debiturnya untuk menabung dengan bunga yang rendah dan menekan krediturnya dengan bunga yang tinggi. Dalam hal ini, hubungan yang terjadi adalah antara si kuat BMT dengan si lemah nasabahnya. BMT kian lama semakin kuat, yang bisa dilihat dari spesialisasi dan efisiensinya.

Dalam konteks hubungan dengan nasabah, BMT dalam hal ini sangat kuat. Tapi dalam konteks dalam pasar keuangan di regional e.g Jawa Tengah . BMT ini posisinya sangat lemah. Contohnya dengan interaksi dengan pemain keuangan yang lain, semisal BPD Jateng. BPD jauh lebih efisien dalam hal NIM (Net Interest Margin), contohnya BMT tadi memberikan bunga tabungan 5% dan menjual dengan bunga 9% atau margin sekitar 4%. Sementara BRI bisa memberikan bunga tabungan hanya 3% (dengan iming-iming undian dan ATM) dan menjual dengan bunga yang sama e.g 9%. Efisiensi tadi salah satunya dari skala ekonomi yang lebih besar yang dimiliki BPD. BPD ini punya aset sebesar 10 trilyun, sebagai perbandingan BMT tadi hanya punya 10 M.

Kalau konteksnya ditarik lagi dalam konteks nasional. Maka ini adalah pertarungan yang tidak seimbang antara Bank pemerintah misalnya, yang memiliki pasar lebih dari 50% nasional, dengan BMT kecil di daerah. Bank BUMN tentunya sangat mudah bersaing dengan BMT yang tidak efisien, tidak spesialis dan memiliki dana kecil.

Rakuskah bank BUMN? tentu tidak, karena kalau ditarik lagi dalam konteks dunia. Maka posisi bank BUMN tadi sebenarnya sangat lemah. Kalau dilihat dari ilustrasi tadi, BPD Jateng nilai asetnya hanya 10 T, sedangkan BPD DKI nilai asetnya mencapai 40 T. Artinya BPD DKI bisa 4 kali lebih kuat dari BPD Jateng, bisa memberikan layanan yang lebih efisien dengan “kebetulan” berada di wilayah yang nasabahnya lebih produktif.

Bank asing, bisa jauh lebih efisien karena menggunakan mata uang yang lebih stabil. E.g USD, EUR, GBP, JPY atau CNY. Kalau dibandingkan dengan BPD tadi, BPD Jabar nasabahnya adalah orang yang punya pekerjaan tetap, PNS atau karyawan misalnya. Sementara BPD Jateng nasabahnya adalah pengrajin garmen – yang bisa kolaps karena serbuan produk impor yang lebih efisien.

Lalu dimana seharusnya pemerintah berada
Regulator, tentunya berada dalam posisi sulit. Ambil lah contoh BMT tadi, maka untuk menjaga keseimbangan, peran regulator adalah melindungi yang lemah, dalam hal ini melindungi nasabah BMT, yang disaat yang sama juga harus menjaga keadilan. Kalau regulator terlalu melindungi nasabah, maka bisnis tidak akan berjalan. E.g beli mangga harga 2,000 harus dijual harga 1,900. Kalau pengusaha merugi maka usaha tidak akan berjalan. Kalau pengusaha didorong untuk tidak efisien, maka pertumbuhan juga akan rendah.

Kalau konteksnya dalam regional provinsi misalnya, maka regulator ditingkat kota tidak banyak berdaya. Suatu ketika akan muncul pemain asing (e.g BPD provinsi) yang punya surplus yang bisa membahayakan. Ini tentunya bukan posisi yang menguntungkan bagi regulator. Regulator yang efisien adalah regulator yang tidak banyak intervensi. Contoh, orang tua yang efisien adalah orang tua yang tidak punya orang ketiga dirumahnya (e.g mertua, paman, keponakan) sehingga orang tua cukup memberikan dorongan saja. Bagi regulator yang tidak efisien, maka akan disibukkan untuk mendorong dan sekaligus melindungi

Kedepannya, semua akan bergerak semakin efisien. Efisiensi perbankan tidak sekedar dilihat dari penggunaan teknologi, tapi dilihat dari sizenya. Semakin besar perbankan, maka semakin efisien bisnisnya.

Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin
Ungkapan ini benar adanya. Institusi yang efisien akan semakin efisien. Sementara institusi yang lambat akan seterusnya lambat. Bunga kredit korporasi dari konteks Suku Bunga Dasar Kredit (prime lending rate), jelas yang paling murah, disusul oleh KPR yang jelas ada jaminannya, dan mikro yang jaminannya bisa hilang entah kemana.

Faktor penentu efisiensi bank ref

Iklan

Written by Anjar Priandoyo

Oktober 11, 2017 at 12:02 pm

Ditulis dalam Management

Tagged with

Penipuan Investasi 2010s

leave a comment »

The biggest lie is telling truth unconvincingly (Robert A Heinlen)

Fraud menurut Bank Indonesia adalah tindakan penyimpangan atau pembiaran yang sengaja dilakukan untuk mengelabui, menipu, atau memanipulasi Bank, nasabah, atau pihak lain, yang terjadi di lingkungan Bank dan/atau menggunakan sarana Bank

Investasi Bodong (2013-2014)
Cipaganti 3,2T
GBI 1,2T (Gold Bullion Indonesia)
Peresseia Mazekadwisapta Abadi 3T 21 May 2013 Budi Lasmono (Primaz)
Dream for Freedom 3.5T, 700,000 peserta
United Nations Swissindo World Trust International Orbit (UN Swissindo) Start 2012

Dream for Freedom
6 Jan 2015: Berdiri (30% return per bulan)
Juli 2015: Flag, (howmoneyindonesia.com)
Jan 2016: Macet
Feb 2016: 700,000 member
16 Feb 2016: Offline system
23 Jun 2016: Izin dicabut
19 Oct 2016: Fili Muttaqien tersangka

Cipaganti
Maret 2012
15 Juli 2015, Bos divonis 18 tahun

Peresseia Mazekadwisapta Abadi 3T 21 May 2013 Budi Lasmono (Primaz)
April 2013: Macet
May 2013: Polisi

PT Dua Belas Suku (DBS) Blitar 637 M
8 Nov 2014 Larangan OJK
12 April 2014 Polisi, Jefry Christian Daniel

Arisan MMM
Agustus 2014: Larangan OJK

Koperasi Pandawa
2012 mulai investasi (Enny, 10% per bulan dari 350 juta)
April 2015, Izin koperasi
Feb 2017, Macet
15 Nov 2017, dihentikan Satgas Waspada Investasi OJK
20 Feb 2017, Salman Nuryanto tersangka

Cakrabuana Sukes Indonesia (CSI)
30 September 2016 Fatwa MUI 41/MUI/Kab.Cirebon/IX/2016
1 November 2016 Larangan OJK SP 110/DKNS/OJK/XI/2016

First Travel
Maret 2017, Macet (jamaah umrah terlantar)
9 Agustus 2017, Anniesa Hasibuan dan Andika Surachman tersangka

Koperasi Karangasem Membangun (KKM)
2006 Berdiri (return 30%)
Feb 2009 72,000 nasabah (simpanan 700 milyar avg, 10 juta)
Mar 2009 Macet

PT Qurnia Subur Alam Raya (QSAR) tahun 2002, yang konon menggelapkan dana mencapai sekitar Rp550 miliar rupiah

Profiling customer
Educated, Retirement ref

https://en.wikipedia.org/wiki/Confidence_trick

Written by Anjar Priandoyo

Agustus 23, 2017 at 1:07 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with

Kamus Perbankan Indonesia Inggris

leave a comment »

Jargon yang lebih populer bahasa Indonesianya:

  • Tabungan = Saving Account
  • Giro = Current Account
  • CASA = Customer Account Saving Account
  • Deposito = Fixed Deposit (Term Deposit / Time Deposit in CA, NZ, AU, US; Bond in UK)

Jargon yang lebih populer bahasa Inggrisnya:

  • Overdraft = Saldo Negatif = Cerukan (Ceruk = Niche)
  • Loopholes = Celah Hukum

Written by Anjar Priandoyo

Agustus 23, 2017 at 10:10 am

Ditulis dalam Science

Tagged with ,

Apa penyebab krisis 1998? Pakto 88

leave a comment »

Tahun 1988, pemerintah sudah aware bahwa sektor migas tidak bisa dijadikan tempat bergantung lagi, maka harus mendorong pertumbuhan di sektor lain. Maka, bank menjadi sasaran untuk didorong pertumbuhannya lewat Pakto 88. Sayangnya, hanya butuh kurang dari 10 tahun untuk menghasilkan krisis ekonomi 1997.

ref

Written by Anjar Priandoyo

Juli 11, 2017 at 10:03 am

Ditulis dalam Science

Tagged with

Banking and Structural Transformation

leave a comment »

Economic (Structural) Transformation is (where its spirit to understand why some countries is poor) one of most importance in economics (so remind me not to answer this kind of question. This kind of question is the same with philosophy question in sociology on: what make society change). I found that classic Three-sector theory (Fisher et al) will not be answer developing countries problem.

The sectors that not captured (or not sufficiently covered) in three-sector are:

  • Banking sectors, on how the bank plays its role in economic transformation. ref
  • New Economy, (semiconductor revolution, oil boom, gold rush, automobile revolution, internet age)

There are three theory on the banking systems,

  • Financial intermediation theory of banking (traditional) > advice to encourage developing countries to borrow from abroad is misguided
  • Credit creation theory of banking (money creation)
  • Fractional reserve theory of banking (central/reserve bank)

A lost century in economics: Three theories of banking and the conclusive evidence, Richard A. Werner 2015 ref

Written by Anjar Priandoyo

Juni 5, 2017 at 10:23 am

Ditulis dalam Society

Tagged with

BUMN mana yang paling profit? bank

leave a comment »

BUMN itu bisa dibagi dalam 4 group besar

  • BUMN Perbankan Tbk, 43T Mandiri, BRI, BTN
  • BUMN Lain Tbk, 41T Telkom, PGN, Semen
  • BUMN PSO Non TBk, 35T Pertamina, PLN
  • BUMN Non PSO, Non Tbk, 19T

Namun, Laba BUMN itu sebenarnya lebih banyak dari corporate account, bukan dari nasabah ritel yang lebih banyak unsur pelayanannya. Sebagai contoh di Bank pada umumnya Fee Based Income (FBI) kontribusinya hanya sekitar 10-20% dari laba perusahaan. Itu pun sebagian besar datang dari non retail transaction (cash recovery, administration fee, pendapatan forex, dan transaksi transfer dan ritel) ref. Ini juga sama seperti Pertamina yang revenue terbesarnya datang dari explorasi minyak (hulu) bukan dari hilir.

Written by Anjar Priandoyo

Juni 3, 2017 at 10:28 am

Ditulis dalam Career

Tagged with

Timeline penting Bank di Indonesia

leave a comment »

Jatuhnya harga minyak di mid-1980-an ini mewarnai segala perubahan kebijakan di Indonesia. Termasuk AFTA ditandatangani tahun 1992.

Trade Liberalization 1987-1995

1983 Deregulasi
1988 Pakto 88 > Banking Regulatory Reform

  1. PT. Bank Muamalat Indonesia 1991
  2. Bank Syariah Mandiri 1999
  3. Bank Syariah Mega Indonesia 2004
  4. Bank BRISyariah 2008
  5. PT. Bank Syariah Bukopin 2008
  6. Bank Panin Syariah 2009
  7. B.P.D. Jawa Barat Banten Syariah 2010
  8. PT. Bank Victoria Syariah 2010
  9. PT. BCA Syariah 2010
  10. Bank BNI Syariah 2010
  11. PT. Maybank Syariah Indonesia 2010
  12. PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah 2014

http://www.bi.go.id/id/tentang-bi/museum/sejarah-bi/bi/Documents/25d8c7b0fbbe4d27bf24497e5a0f3dfaSejarahPerbankanPeriode19831997.pdf

Control and Competition, Banking deregulation and re-regulation in Indonesia Ross H. McLeod 1999 (ini orang hebat sekali, speak Indonesia fluently)

Written by Anjar Priandoyo

Februari 3, 2017 at 5:51 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with ,