Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Posts Tagged ‘Book

Review Buku: The Death of Expertise

leave a comment »

Buku Tom Nichols ini adalah buku politik. Ia melihat sebuah kondisi di masyarakat dari kacamatanya sendiri. Dari kacamatanya, ia mengatakan bahwa masyarakat ini malas. Buat pembaca, thesis Nichols ini justru salah: 1) Nichols tidak melihat peranan korporasi media dan industri yang pengaruhnya jauh lebih besar dari masyarakat yang rajin membuka wikipeda 2) Nichols menulis diluar bidangnya dengan tidak adanya data pendukung.

Ironisnya, di Indonesia, buku ini dianggap bagus.

Sebagai perbandingan buku: Idiot America, memotret lebih detail. Atau buku The Righteous Mind, melihat dari kacamata sosiologi yang lebih baik.

Iklan

Written by Anjar Priandoyo

Juni 16, 2018 at 8:35 am

Ditulis dalam Life

Tagged with

Buku yang tidak populer

leave a comment »

Ada beberapa buku yang direferensikan teman, tapi setelah lihat ratingnya di goodreads relatif rendah. Ini sedikit membingungkan, namun saya menyimpulkan bahwa buku fungsinya hanya alat bantu untuk diskusi, karena tidak mungkin menggunakan paper sebagai alat bantu diskusi (paper tidak mudah diakses, buku masih bisa dibeli di toko buku. Paper hanya bisa dibeli di scopus yang harganya sangat mahal, dibanding buku). Buku juga memberikan ruang untuk didebat, berbeda dengan paper yang tidak bisa didebat (hanya bisa didebat dengan paper yang lain).

Beberapa tipe buku yang saya lihat bisa dibagi pada beberapa kategori:

Kategori pertama: Apologetic
1.Misquoting Muhammad (AC Brown 2014) 323 rating
2.If oceans were ink (Carla Power 2015) 1005 rating
3.Even angels ask (Jeffrey Lang 1997) 1496 rating, Bahkan malaikat pun bertanya (Serambi)
4.Lost islamic history (Firas Alkhateeb 2014) 496 rating, Sejarah islam yang hilang (Bentang Pustaka)

Sebagai perbandingan
1.Destiny Disrupted (Tamim Ansary 2009) 5004 rating, Sejarah dari sudut islam (JS Adiwarna)

Namun ini juga tidak sepenuhnya tepat, sebagai contoh Long Divergence (Timur Kuran) yang non apologetic juga rendah ratingnya 106 rating.

Kategori kedua (US Decline Books)
1. After the empire (Emmanuel Todd 2002) 267 rating

Sebagai perbandingan
1. The post american book (Fareed Zakaria 2008) 11,000 rating
2. The limit of power (Bacevich 2008) 2,000 rating

Buku-buku tersebut juga membahas US Decline yang ratingnya sebenarnya lebih tinggi, namun judulnya mungkin tidak menarik sehingga kurang populer.

Written by Anjar Priandoyo

Juni 11, 2018 at 4:54 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with

Kenapa membaca buku itu susah

with one comment

Saya baru paham kenapa membaca buku itu susah dilakukan. Pertama masalah waktu atau mekanik waktu, membaca buku paling tidak butuh waktu diatas 3 jam. Membaca komik butuh waktu sekitar 15-20 menit ref. Dulu saya membaca sekitar 3 komik per minggu, setiap kali sesi baca komik bisa memakan waktu 1-2 jam. Artinya sebenarnya tidak jauh berbeda antara minat membaca buku dan membaca komik.

Dari sini sebenarnya masalah terbesar adalah supply bacaan. Kalau bacaannya itu menarik, misalnya topik sejarah atau non fiksi yang memang saya suka maka saya bisa membaca. Tapi kalau topiknya tidak saya sukai, maka jangankan satu buku. Satu halaman saja sangat susah membacanya. Jadi kuncinya adalah berusaha mencari bacaan yang kita sukai. Sebagai tambahan untuk membaca dengan perhitungan matematis ref, seperti target jumlah kata atau halaman (e.g warren buffet 500 pages/days) rasanya ga akan efektif.

Dari ini perhitungan saya, menyelesaikan buku sebaiknya paling lama dalam waktu 2 hari saja. Diluar itu sebuah buku tidak mungkin bisa diselesaikan untuk dibaca, simply karena bosan. Sebagai catatan perhitungan lama membaca buku juga efektif untuk membantu mengira-ira berapa lama sebuah buku bisa diselesaikan ref. Catatan tambahan, kebanyakan menghitung kecepatan membaca buku sangat tergantung dari mood ref

Written by Anjar Priandoyo

Juni 5, 2018 at 7:33 pm

Ditulis dalam Life

Tagged with

Microhistory

leave a comment »

Well, I found that microhistory is the genre that I loved the most. Interesting.

Microhistory: Social Histories of Just One Thing. To borrow from Wikipedia, “Microhistory is the intensive historical investigation of a well defined smaller unit of research (most often a single event, the community of a village, a family or a person).” ref

Written by Anjar Priandoyo

Juni 5, 2018 at 10:11 am

Ditulis dalam Life

Tagged with

200 buku dalam setahun

leave a comment »

Eka Kurniawan menargetkan 200 buku dalam setahun ref. Not bad, bulan Mei 2018 ini saya bisa membaca 15 buku. Kalau rate ini diteruskan bisa sekitar 15 x 12 bulan = 180 buku. So far so good.

Written by Anjar Priandoyo

Juni 5, 2018 at 10:09 am

Ditulis dalam Life

Tagged with

Matematika Menulis

leave a comment »

Pekerjaan terberat seorang penulis adalah melakukan revisi

Tere Liye adalah salah satu penulis professional di Indonesia. Kita bisa menganggap Tere Liye sebagai benchmark bagaimana sebuah karya sastra dihasilkan. Tere mengatakan bahwa bukunya bisa diselesaikan dalam waktu satu bulan. Jika seorang Tere Liye bisa menulis sebanyak 1,000 kata per jamnya, maka paling tidak dia butuh sekitar 4x revisi, bila ia menulis dalam waktu satu bulan. Luar biasa.

Hanya ada satu cara untuk menulis buku, revisi bisa mencapai 3-5 kali. Artinya bila dikerjakan secara ngebut pun butuh waktu berbulan-bulan.

Sebuah buku 60,000 sebenarnya bisa diselesaikan dalam waktu 15 hari (15 hari x 8 jam = 120 jam)

Sebuah buku, berjumlah 60,000 kata, terdiri dari 30 chapter, masing-masing chapter terdiri dari 2,000 kata bisa diselesaikan dalam waktu 1 bulan. Angka ini masuk akal, karena jika dihitung rata-rata perhari jumlah kata yang ditulis adalah 2,000 kata. Artinya, seorang pekerja kantor, sepulang kerja bisa menyelesaikan novelnya dalam waktu 1 bulan saja.

Mungkinkah? tentu tidak ini mustahil.

Jika ada tantangan seperti National Writing Month, untuk bisa menulis buku dalam waktu 1 bulan, maka kira-kira distribusi waktunya adalah sekitar 10% atau sekitar 3 hari untuk ide cerita, 10% untuk karakter tokoh, 10% untuk setting cerita, 20% untuk riset dan 50% untuk menulis dan revisi.

Artinya kalau ada waktu sekitar 4 minggu, maka 1 minggu pertama untuk ide cerita, karakter dan setting. 1 minggu kedua untuk riset dan 2 minggu terakhir untuk menulis. Kalau kecepatan menulis sekitar 1,000 kata perjam. Maka buku bisa diselesaikan dalam 60 jam terakhir, atau sekitar 8 jam x 7 hari.

Maka sebuah buku sebenarnya hanya bisa diselesaikan dalam waktu sekitar 240 jam. Artinya kalau prinsip menulis buku dikerjakan dalam waktu luang. Seorang penulis yang beruntung hanya bisa menyelesaikan bukunya dalam waktu 240 hari, itu bila ia konsisten bekerja selama 1 jam setiap hari untuk bukunya atau sekitar 8 bulan

Written by Anjar Priandoyo

Mei 27, 2018 at 10:16 am

Ditulis dalam Society

Tagged with

Belajar itu tidak bisa dipaksa

leave a comment »

Mungkin prestasi terbesar saya diumur 20-an adalah lulus ujian sertifikasi, baik CISA atau PMP yang keduanya diselesaikan waktu saya punya anak kecil. Artinya untuk meluangkan waktu selama satu jam setiap hari untuk bisa belajar sangat sulit dilakukan. Kalau masalah waktu saja sudah susah maka masalah yang justru lebih besar lagi adalah bagaimana menjaga konsentrasi pada saat belajar.

Sekarang di umur 30-an, prestasi terbesar saya mungkin adalah menulis buku. Menulis buku ini sama seperti ujian sertifikasi, perlu waktu untuk belajar -maksudnya membaca, dan perlu waktu untuk latihan soal -maksudnya menulis. Kedua-duanya juga hanya bisa dilakukan dalam waktu yang sangat sempit. Waktu yang sangat terbatas. Saya menemukan ada beberapa inovasi yang bisa saya lakukan, salah satunya menggunakan tablet untuk membaca. Menggunakan tablet relatif memudahkan karena bisa mengatur ritme tangan dengan jumlah halaman yang dibaca.

Kira-kira apa ya nanti prestasi umur 40-an terbesar saya. Bayangan saya mungkin buku, tapi buku yang jauh lebih bagus kualitasnya.

Written by Anjar Priandoyo

Mei 26, 2018 at 6:06 pm

Ditulis dalam Life

Tagged with