Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Posts Tagged ‘Business

Memahami Dunia Musik dan Bisnis Hiburan

leave a comment »

Peta dunia musik berubah banyak, tahun 2008 penguasanya masih “permanent downloads” sebesar 64%, tahun 2014, subscription streaming (Spotify, Amazon, Apple) meningkat, termasuk ad-supported streaming (Youtube) ref. Pertanyaannya, bagaimana masa depan industri musik? seperti pertanyaan teman saya, bagaimana monetasinya, karena dengan model digital seperti sekarang hanya bisa sustain bila bisa mendapatkan keuntungan sebesar 70% dibandingkan musisi yang mungkin hanya <10%.

Untungnya big player selalu berkonsolidasi dan memonopoli. VEVO misalnya memonopoli trafik musik youtube. Vevo (Universal, Sony, Warner) memegang 70% marketshare musik. Industri musik baru bisa bangkit setelah 15 tahun decline, tahun 2000, semua penjualan musik masih dilakukan lewat media fisik. Ed Sheeran labelnya adalah Asylum Records (Warner), Adele (XL Recordings/independent), Sam Smith (Capitol/EMI). Jadi kalau ada pemain baru, gamblingnya berbeda, label baru gamblingnya mencari artis, marketplace baru problemnya kompetisi dengan big player.

Musik ini sedikit berbeda dibandingkan film yang biaya produksinya sangat besar, harus disajikan di bioskop, harganya mahal. Musik, biaya produksi sangat murah, konser fisik bisa dilakukan berkali-kali, termasuk diputar berulang-ulang. Tapi melihat keuntungan per industri secara umum lebih sulit, music industri sekitar 16b, movie 38b, games (pc 34b, console 30b, mobile 40b). Musik jelas impactnya lebih besar daripada movie, dan movie lebih besar dari game.

Dalam versi lain untuk industri yang sudah terkonsolidasi ref. Movie 90b, Music 28b, TV300b?, Casino 140b, Video Game 90b, Book 103b. Ini sesuai dengan statistik bahwa rata-rata orang membeli buku dan menonton di bioskop sekitar 5 kali dalam setahun.

Kesimpulan? capital never lie, the only way it survive is through exploitation.

IPFI Global Music Report 2017
MPAA Theatrical Market Statistics
Deloitte SEA Global Mobile

Iklan

Written by Anjar Priandoyo

November 4, 2017 at 3:30 pm

Ditulis dalam Management

Tagged with

BUMN

leave a comment »

Kontribusi pendapatan BUMN pada GDP ditahun 2016 hanyalah 15.7%, angka ini lebih rendah dari kontribusi Temasek terhadap Singapura diangka 31.49%. Data ini sekilas dapat digunakan untuk menjustifikasi bahwa BUMN kinerjanya lebih rendah, dan bahkan bisa digunakan untuk menjustifikasi bahwa Holding BUMN diperlukan.

Sebenarnya, yang perlu dilihat lebih lanjut adalah berapa banyak kontribusi Private Sector pada GDP. Perkiraan saya angka kontribusi Private Sector ini dibawah 15% dan sisanya adalah UKM. Untuk kasus Singapura, Perkiraan saya private sector kontribusinya bisa lebih dari 30% dan kontribusi UKM sangat rendah.

Lalu apa solusinya? yang paling mudah adalah privatisasi. Yang mau sedikit rumit adalah holding.

GDP Indonesia 932.3 billion = 12,406 T
Pendapatan BUMN Semester I 2017: 936T, Aset BUMN 2016 6,325 T
Pendapatan BUMN Semester I 2015: 807T,

Pertamina
Laba 2016 41.8 T (3.15 M USD, kurs 13,344), Pendapatan 36.4 M USD (485 T IDR)
Laba 2015 18.4 T, Pendapatan 41.76 M USD
Laba 2014 18.5 T, Pendapatan 878 T IDR
Laba 2013 33.8 T, Pendapatan 743 T IDR

Written by Anjar Priandoyo

Oktober 5, 2017 at 6:11 pm

Ditulis dalam Management

Tagged with ,

Peta Ponsel

leave a comment »

Ditingkat dunia, pasar ponsel adalah milik China. Tapi di Indonesia, pasar ponsel adalah masih milik Samsung, yang perlahan mulai tergerus dengan ponsel China. Di tahun 2013 menurut kominfo hampir 15 juta ponsel terjual dengan nilai penjualan hampir 40 trilyun (setara 3,3 milyar USD) (rata-rata harga ponsel 2.5 juta)

Di tahun 2014 menurut kemenperin, impor ponsel sebanyak 54,74 juta unit setara US$ 3,15 milyar USD, dimana Samsung menguasai 24% pangsa pasar. Samsung berencana berinvestasi 20 juta USD, untuk selanjutnya ditargetkan bisa berkontribusi pada 30% produk ponsel Samsung.

Pendapatan 2016 XL 21 T (67% data), Indosat 29 T, Telkomsel 86 T.

Setengah dari pasar ponsel adalah milik China (Counterpoint Research September 2017), lewat Huawei, Oppo, Vivo, Mi dan Itel. Data yang serupa juga diberikan oleh IDC pada Q1 2017 May, sekitar 40% merupakan milik China lewat Huawei, Oppo, Vivo. Data tersebut diinterpretasikan tanpa memperhitungkan data produsen ponsel lainnya yang termasuk merk lokal (e.g Advan di Indonesia) atau merk China lainnya (e.g Lenovo) atau merk penguasa di daerah tertentu (e.g LG, Sony, HTC, Motorola, Alcatel)

Di Indonesia, menurut IDC Q3 2016, peringkat ponsel di Indonesia adalah Samsung 32%, Oppo 16%, Asus 8% (Taiwan), Advan 6%, Smartfren dan Lenovo.

Local Company
-Evercross (Cross Mobile) 2008
-Mitomobile 2006
-Himax Oct 2012
-Advan 2007 (PT Intech Surya Abadi)
-Polytron
-Zyrex
-Digicoop

Written by Anjar Priandoyo

Oktober 5, 2017 at 11:32 am

Ditulis dalam Management

Tagged with

Startup

leave a comment »

Perubahan yang terjadi di Indonesia pada dasarnya “tidak baru”, “tidak cepat”, “tidak besar” dan “tidak sustain”.

Gojek, Traveloka dan Tokopedia di 2015
13 Agustus 2014 adalah hari yang bersejarah, ini adalah hari pertama Uber beroperasi di Indonesia. Tidak butuh waktu lama cerita mengenai teman yang berinvestasi menyewakan mobil keduanya dengan sistem bagi hasil terdengar dimana-mana. Kemudian tidak butuh waktu yang lama pula, tahun 2015 di bulan Januari, saingannya Gojek launching dengan penuh kontroversi hingga pelarangannya oleh Kementerian Perhubungan di Desember 2015. Agustus 2016, Gojek mendapat investasi sebesar 0.55 milyar USD sehingga menjadi Unicorn dengan nilai valuasi lebih dari 1 milyar dollar. Nilai valuasi Gojek pada Agustus 2016 adalah 1.3 milyar USD. Mei 2017, Gojek mendapat investasi sebesar 1.2 milyar USD dari Tencent menjadikan nilai valuasinya sekitar 3 milyar USD.

Kalau cerita ini disampaikan oleh seorang teman, maka kesan yang muncul adalah perubahan yang sangat cepat dan sangat besar.
“Mau pesen tiket kereta ke Cirebon? lewat Traveloka aja mas?” kata adik saya kemarin
Akhirnya saya memesan tiket lewat Traveloka, dan tidak butuh waktu lama saya menyadari bahwa saya salah memesan tiket karena interface yang menyarankan memesan pada esok hari. Dan segera saya menyadari bahwa Traveloka dan sebagaimana online travel lainnya hanya bisa memesan tiket sekitar 2-8 jam sebelum keberangkatan. Dahulu, saya selalu memesan tiket dari tiket.com dan tidak menjumpai masalah seperti ini.

Traveloka ini setali tiga uang dengan Gojek dan tentunya Tokopedia.

Traveloka mendapatkan pendanaan dari Expedia sebesar 0.35 milyar USD pada Jul 2017 menjadikannya Unicorn kedua. Menjadikannya begitu banyak iklan di televisi dan baliho di stasiun. Tokopedia sedikit tertinggal tapi kemudian mendapatkan 1.1 milyar USD dari Alibaba pada Aug 2017 menjadikannya Unicorn ke tiga.

Detik dan Kaskus di 2011
Kaskus mendapatkan pendanaan dari Djarum pada Mar 2011 dari GDP Venture sebesar 114 juta dolar, Detik diakuisisi pada Aug 2011 sebesar 60 juta dollar. Cerita akhirnya kita bisa lihat sendiri bagaimana trafik Kaskus semakin menurun hingga ditandai berhentinya Ken Dean Lawadinata pada Oct 2016. Padahal Kaskus sendiri pernah punya nilai valuasi sebesar 80 juta dollar pada tahun 2014, bersama dengan Tokobagus dan Detik merupakan simbol internet company di Indonesia.

Daftar Kematian
Cipika (Indosat) 18 Agustus 2014 – 1 Juni 2017
Elevania (XL, SK Korea) 1 Maret 2014 (Funding 50 mil USD, Feb 2016) – Agustus 2017
Blanja (Telkom) 8 Desember 2014

Indonesia’s ecommerce market is worth US$4 billion today, while China’s is valued at US$600 billion (Indonesia is 2% China)
https://www.techinasia.com/indonesia-ecommerce-next-china

Rank
https://iprice.co.id/insights/mapofecommerce/en/

Lazada/Zalora (Rocket Internet > Salim)
Blibli (Djarum, Global Digital Prima Venture GDPV)
MatahariMall (Lippo)
Dian Swastatika Sentosa Tbk > Sinar Mas
Sale Stock (Ardent Ventures > Sinar Mas Digital Ventures (SMDV))
Bukalapak (Emtek)

http://market.bisnis.com/read/20160215/192/519023/7-konglomerat-indonesia-rogoh-triliunan-rupiah-untuk-bisnis-e-commerce
https://id.techinasia.com/10-konglomerat-indonesia-yang-berinvestasi-di-bisnis-startup-teknologi

crunchbase (gojek, traveloka, tokopedia), pitchbook(kaskus)

RocketInternet: Carmudi

Matahari Mall (Mar 2015)
https://id.techinasia.com/strategi-mataharimall-mengalahkan-rocket-internet

Tak hanya Tokopedia, beberapa nama e-commerce besar lain pun ikut mendapat pendanaan di tahun 2016. Mulai dari Blanja yang mendapatkan US$25 juta (sekitar Rp333 miliar) dari Telkom dan eBay, MatahariMall yang meraih US$100 juta (sekitar Rp1,3 triliun) dari Mitsui, tambahan investasi sebesar US$50 juta (sekitar Rp666 miliar) yang didapat elevenia dari para investornya, serta Jualo yang sukses mendapat pendanaan Seri A senilai puluhan miliar rupiah.
https://id.techinasia.com/kilas-balik-perkembangan-e-commerce-di-tahun-2016

Bintaro Jaya Exchange 700M
http://industri.kontan.co.id/news/jaya-real-membidik-segmen-atas-di-bintaro-xchange

Kerugian 2016: 19 T Niko Resources
http://www3.esdm.go.id/berita/migas/40-migas/6319-12-kkks-asing-rugi-rp19-triliun-cari-cadangan-migas-di-laut-dalam-indonesia.html

Written by Anjar Priandoyo

Oktober 5, 2017 at 10:28 am

Ditulis dalam Management

Tagged with ,

Bubble

leave a comment »

Fenomena bubble di Indonesia berbeda dengan fenomena bubble di US.
Dotcom bubble ada di Indonesia, tapi berbeda
Property bubble ada di Indonesia, tapi berbeda

Ada beberapa bubble yang berbeda, ditingkat korporat misalnya

  • Retail banking bubble
  • Renewable energy bubble
  • Politics bubble (in general)

Ditingkat korporat ini, bubble bisa digolongkan pada “speculation”

Masalah terbesar dalam menganalisa bubble adalah mengetahui dimensi waktunya (kapan mulai, kapan puncak dan kapan berakhir), dimensi sizenya (sekedar impact technology, finance) dan dimensi partisipasi (semua penduduk, sebagian perusahaan). Contoh adalah Dotcom bubble, di US paling tidak periode dotcom bubble adalah antara 1997-2001 dengan puncaknya adalah pada 2000, ini dinilai dari nilai saham di NASDAQ.

Namun dotcom bubble di Indonesia sedikit berbeda, karena dotcom bubble di Indonesia tidak melibatkan stockexchange, dan waktu start agak berbeda. Dotcom bubble di Indonesia bisa dikatakan dimulai dari dibelinya Astaga.com oleh MWEB senilai 7 juta USD pada tahun 2001 dan berakhir pada tahun 2004. MWEB merupakan simbol dotcom bubble di Indonesia dengan medan pertempuran adalah bisnis warnet dan bisnis portal.

Trend di Indonesia seringkali berbeda dan tidak sejalan dengan trend dunia. Contoh, adalah booming online trading (OLT) di 2010. Trend ini satu paket dengan trend kenaikan bursa saham BEJ, banyaknya perangkat mobile untuk mengakses saham. Dan berakhir seiring dengan jatuhnya bursa saham. Booming startup juga sama ditandai dengan munculnya Gojek sebagai unicorn pertama kali di Indonesia.

Bubble ini adalah sebuah fenomena sosial, akan ada pihak yang diuntungkan dan akan ada pihak yang dirugikan.

Written by Anjar Priandoyo

Oktober 5, 2017 at 10:26 am

Ditulis dalam Management

Tagged with ,