Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Posts Tagged ‘Certification

ISO 27001

leave a comment »

Menarik, sebenarnya sudah dari dulu mengincar sertifikasi ini, cuman kelihatannya masih mempertimbangkan untung ruginya.

Written by Anjar Priandoyo

Maret 20, 2020 at 5:08 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with ,

TOGAF

leave a comment »

10 Process/Phase
P-V-B-I-T O-M-G-H-R (PVBIT OMGHR)

14/11 Techniques

Techniques linked to the organization and management of participants:
1.Stakeholder management: P, V, O, M
2.Business transformation readiness assessment: P, V, O, M

Information system architecture techniques:
3.Architecture patterns: V, B, I, T
4.Architecture principles: P, V
5.Using TOGAF to define and govern SOAs: BIT
6.Interoperability requirements: ALL-GH
7.
Security architecture: ALL

Techniques linked to architecture development:
8.*Business scenarios: V, B
9.Gap analysis: B, I, T

Techniques linked to the planning and deployment of the target architecture:
10.Migration planning techniques: O, M
11.Capability-based planning: O, M

TOGAF adaptation techniques:
12.Applying iteration to the ADM: P, V
13.Applying the ADM at different enterprise levels: P, V

Cross-organizational techniques:
14.Risk management: ALL

22/16 Deliverables
1.Request for Architecture Work: Pr
2.Architecture Principles: Pr
3.Tailored Architecture Framework: Pr
4.Business Principles, Business Goals, and Business Drivers: Pr, V, B
5.Architecture Vision: V
6.Statement of Architecture Work (SAW): V
7.Communication Plan: V
8.Architecture Definition Document: B, I, T
9.Architecture Requirements Specification (ARS): B, I, T, O, M
10.Architecture Roadmap: B, I, T, O, M
11.Transition Architecture O, M
12.Implementation and Migration Plan O, M
13.Architecture contract M
14.Capability Assessment: V, O
15.Compliance Assessment: G
16.Change Request (CR): H

5 Capabilities BCCG-M
1. Architecture board
2. Architecture contracts
3. Compliance management
4. Architecture governance
5. Maturity models

Written by Anjar Priandoyo

Desember 18, 2019 at 10:29 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with

ERP Energy Risk Professional Certification

leave a comment »

Energy Risk Professional (ERP) is a relatively new Risk Management certification. I think the oldest known ERP certification is around 2010 ref. However, they change into two-part examination in 2016. Myself, I think I heard this certification around 2016, which I think to align with my focus on energy development. However, if there is some employer for ERP, I think the closest one is electricity ref, I don’t think it will be performed well in the financial market industry.

I try to test the first 20 question, and only get around 35% score. Some key points of this test
– never heard term: Geometric Brownian motion, BlackÔÇôScholes model
– concept: derivative trading, contract, option, credit rating

The reasons I am not taking this ERP exam:

  1. Unflexible time (May and Nov only)
  2. Price to expensive
  3. Exam location in London (need hotel and further transport expense).

Let see, maybe one day, I will perform this exam.

Written by Anjar Priandoyo

Oktober 15, 2018 at 12:51 pm

Ditulis dalam Career

Tagged with

There is a hope – Nothing comes for free

leave a comment »

Looks good, I feel that I am in better positioning as of today. I learn a lot from the latest four years. It takes two years to have reform, it takes another two years to be focus. The first two years focus on developing habit (run), the second two years focus on logging. I start with a book, with a posting, with google keep. Finally I am here now, I am ready for any kind of challenge.

  • Business might fail, nothing comes for free, there will be a sacrifice (opportunity cost)
  • People only learn from their experiences. If somebody told them, nobody listens. Moral of the story: experience matter.

Specific Indonesia cases:

  • Industry loyalty is more valuable than a profession loyalty

Written by Anjar Priandoyo

Oktober 15, 2018 at 12:30 pm

Ditulis dalam Career

Tagged with

CFP, CFA

leave a comment »

Certification is a way to learn. Anybody that already pass certification is not required to have another certification, just like a person that have 1 Master is enough. However, certification is an effective method to help you focussing study. Unlike reading book that there is no limit, pursuit certification give you a sense of achievable target.

Written by Anjar Priandoyo

Agustus 28, 2018 at 1:09 pm

Ditulis dalam Career

Tagged with

Manajemen risiko energi

leave a comment »

Manajemen risiko energi mungkin bukan karir ref, ini hanya sekedar pekerjaan. Tapi adanya sertifikasi seperti menarik juga memudahkan untuk belajar area energi dengan baik.

Area 1: Crude Oil and Refined Product Markets | 40%

  • Physical properties of crude oil
  • Exploration, production, and project development
  • Transportation and storage economics
  • Crude oil refining

Area 2: Natural Gas and Coal Markets | 25%

  • Physical properties of natural gas and coal
  • Transportation and storage economics
  • Global natural gas markets and economic fundamentals
  • Global coal markets and economic fundamentals

Area 3: Electricity Markets and Power Generation | 35%

  • Properties of electricity
  • Electricity market economics
  • Investing in generating capacity including renewables
  • Electric energy markets and trading
  • Global electricity market and economic fundamentals
  • Emission reduction programs and regulation

Written by Anjar Priandoyo

April 23, 2018 at 12:20 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with

Reputasi Lembaga Sertifikasi dan Proyek Kementerian Tenaga Kerja

leave a comment »

Tiap-tiap kementerian punya program unggulan, seperti menghadapi MEA / ASEAN Economic Community maka dirasa perlu peningkatan kompetensi. Cara untuk meningkatkan kompetensi adalah dengan memberikan pelatihan, namun ini tidak bisa semata dilakukan oleh pemerintah, pemerintah hanya bisa mendorong, kalaupun mau terlibat lebih jauh bisa dengan membuat standar, seperti Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI). Itu saja paling maksimal karena dananya sendiri tidak ada. Kalau dananya tidak ada persoalan apapun tidak bisa diselesaikan, contohnya sertifikasi barista ref. Lembaga sertifikasi ini juga kompleks masalahnya ref

Written by Anjar Priandoyo

April 18, 2018 at 11:49 am

Ditulis dalam Society

Tagged with

Mahalnya Sertifikasi

leave a comment »

Berasa banget. CISA $225, CISSP $85, PMP $144 = $454 setiap tahun, dan harus tetap berjalan selama paling tidak 5 tahun kedepan. Semoga masih bisa konsisten menjaga dan mengamalkan ilmu. Mari kita lihat.

Written by Anjar Priandoyo

Oktober 3, 2016 at 12:06 pm

Ditulis dalam Uncategorized

Tagged with

Lima sertifikasi paling penting diawal karir

leave a comment »

Awal karir diusia 22-27 tahun, merupakan sebuah periode paling krusial adalam perkembangan karir seseorang. Setelah lulus kuliah, perusahaan melihat lulusan universitas bagai kertas putih yang siap dibentuk untuk menjadi pimpinan perusahaan dimasa depan.

Sayangnya tidak semua orang beruntung periode awal karir tersebut. Ada lulusan biologi yang kemudian diterima di bank mendalami bidang manajemen risiko. Sementara, disisi lain ada seorang lulusan akuntansi yang justru menjadi seorang call center diperusahaan telekomunikasi.

Bagi yang tidak beruntung, bukan tidak mungkin masa 5 tahun yang buruk ini berlanjut hingga 10 atau 20 tahun berikutnya. Bekerja bertahun-tahun pada bidang yang tidak sesuai dengan keahliannya atau bidang yang kurang memiliki prospek dimasa depannya.

Maka dari itu mengambil sertifikasi atau pendidikan lanjut merupakan langkah strategis yang bisa diambil seseorang dalam membangun karir dimasa awal berkarirnya. Berikut sertifikasi yang bisa diambil:

1. Sertifikasi Teknis
Sertifikasi teknis ini merupakan sertifikasi yang berhubungan dengan bidang kerja teknis seperti Microsoft, Oracle atau Cisco. Sertifikasi ini selain mudah dipelajari, biayanya relatif terjangkau dan permintaan akan sertifikasi ini relatif tinggi. Sertifikasi teknis merupakan jenis sertifikasi yang harus diprioritaskan untuk diambil

2. Sertifikasi Proses
Sertifikasi proses ini merupakan sertifikasi yang berhubungan dengan proses kerja semisal Sertifikasi Pengadaan, Sertifikasi Internal Audit atau Sertifikasi Pengelolaan Proyek. Sertifikasi ini relatif lebih abstract daripada sertifikasi teknis. Namun keunggulannya adalah sertifikasi ini relatif update dan awet masa berlakunya hingga bertahun-tahun, dibandingkan sertifikasi teknis yang bergantung pada perkembangan teknologi dari vendor.

3. Sertifikasi Pendidikan
Program S2 seperti Magister Teknologi Informasi atau Magister Manajemen merupakan opsi sertifikasi yang bisa diambil. Tantangannya selain masa durasi yang panjang, program yang cukup berat, biayanya juga mahal. Keunggulannya, sertifikasi pendidikan ini bisa sangat membantu orang yang ingin mengubah jalur karirnya.

4. Sertifikasi Perusahaan
Bila sertifikasi teknis tidak mampu diambil, sertifikasi proses juga tidak sanggup dan sertifikasi pendidikan tidak ada biayanya, maka alternatif sertifikasi lain yang bisa diambil adalah sertifikasi perusahaan. Banyak perusahaan yang memberikan training di luar negeri bagi karyawannya atau perusahaan yang memberikan program secondment diluar negeri. Pengalaman mendapatkan sertifikasi dari perusahaan ini merupakan modal yang sangat berharga yang bisa didapatkan pencari kerja.

5. Sertifikasi Personal
Ini yang seringkali anak muda yang baru merintis karirnya tidak pertimbangkan. Saat kita sudah bekerja diperusahaan, maka kita akan banyak melihat beberapa orang atau figur yang bisa membantu kita kedepan. Orang-orang ini bisa memberikan rekomendasi pekerjaan atau menghubungkan dengan orang-orang penting di industri. Maka, bila tidak punya sertifikasi teknis, tidak punya keahlian proses, kemampuan pendidikan dan perusahaan maka seseorang harus mencari sertifikasi lewat rekomendasi seseorang, berupa sertifikasi personal.

Sudahkah kita siap berkompetisi? ingat, kompetisi dilapangan kerja sudah dimulai dari hari pertama kerja dimulai.

Written by Anjar Priandoyo

September 22, 2016 at 7:09 pm

Ditulis dalam Career

Tagged with

Belum Khatam

leave a comment »

kaplan2

Saya merasa (sekali lagi merasa) bahwa ilmu manajemen saya secara praktis sudah khatam saat saya menyelesaikan sertifikasi PMP (Project Management Professional). Manajemen itu intinya IPOMC, bagaimana merencanakan dan bagaimana mengontrol.

Manajemen merupakan salah satu bidang ilmu saja, selanjutnya saya merasa, setelah saya menyelesaikan sekolah master saya, saya merasa saya sudah khatam mengenai Business. Seiring dengan saya menyelesaikan Exploring Corporate Strategy (Johnson et al). Strategy itu intinya merencanakan, dan organisasi itu artinya people.

Baik ilmu manajemen ala PMP, maupun ilmu business ala MBA pada dasarnya adalah professional degree, sementara PhD adalah research degree. Oleh karena itu, ketika si professional menjelaskan mengapa perusahaan perlu melakukan inovasi, merupakan penjelasan yang berbeda dibandingkan si peneliti menjelaskan mengapa perusahaan perlu melakukan inovasi.

Ketika si professional bicara didepan anak buahnya mengenai inovasi, pesan yang ingin disampaikan oleh si professional adalah agar anak buahnya bekerja lebih giat, si professional memberikan ilustrasi bahwa ada perusahaan yang bangkrut jika tidak berinovasi. Si professional adalah manager yang mendirect orang-orang yang mendengarkannya. Si professional adalah orang yang mendorong orang lain untuk mencapai sebuah tujuan.

Ketika si peneliti bicara didepan pendengarnnya mengenai inovasi, pesan yang ingin disampaikan adalah bagaimana agar orang mendapat gambaran dari proses inovasi itu.

Baik-baik professional maupun peneliti sama-sama berbicara mengenai inovasi (sama contentnya) tetapi tujuannya sangat berbeda.

Praktisi vs Peneliti melihat inovasi
Praktisi melihat proses inovasi sebagai sebuah narasi, sementara peneliti melihat inovasi sebagai cabang ilmu sosial. Praktisi merasa cukup memberikan gambaran mengenai inovasi dari contoh apa yang terjadi ketika perang VHS vs Betamax atau perang CD vs DVD.

Peneliti berpikir dari sisi yang berbeda Inovasinya Difussion of Innovation Roger 1962, yang dipandang lebih dari cukup menjelaskan proses inovasi dirasa kurang. Peneliti merasa bahwa apa yang praktisi sampaikan masih kurang, sehingga peneliti harus membedah lagi dalam industri yang lebih spesifik, dengan pendekatan yang berbeda, multi-level perspective misalnya

Masih kurang? Iya, MLP saja masih kurang ditambah dengan TRL (Technology Readiness Levels) misalnya, juga masih kurang.

Praktisi pada dasarnya adalah bagaimana seseorang berinteraksi dengan orang lain, sementara peneliti berinteraksi dengan ilmu pengetahuan.

PS: Image source: Kaplan Knowledge Bank

Written by Anjar Priandoyo

September 19, 2016 at 11:06 am

Ditulis dalam Uncategorized

Tagged with