Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Posts Tagged ‘Certification

There is a hope – Nothing comes for free

leave a comment »

Looks good, I feel that I am in better positioning as of today. I learn a lot from the latest four years. It takes two years to have reform, it takes another two years to be focus. The first two years focus on developing habit (run), the second two years focus on logging. I start with a book, with a posting, with google keep. Finally I am here now, I am ready for any kind of challenge.

  • Business might fail, nothing comes for free, there will be a sacrifice (opportunity cost)
  • People only learn from their experiences. If somebody told them, nobody listens. Moral of the story: experience matter.

Specific Indonesia cases:

  • Industry loyalty is more valuable than a profession loyalty

Written by Anjar Priandoyo

Oktober 15, 2018 at 12:30 pm

Ditulis dalam Work

Tagged with

CFP, CFA

leave a comment »

Certification is a way to learn. Anybody that already pass certification is not required to have another certification, just like a person that have 1 Master is enough. However, certification is an effective method to help you focussing study. Unlike reading book that there is no limit, pursuit certification give you a sense of achievable target.

Written by Anjar Priandoyo

Agustus 28, 2018 at 1:09 pm

Ditulis dalam Work

Tagged with

Manajemen risiko energi

leave a comment »

Manajemen risiko energi mungkin bukan karir ref, ini hanya sekedar pekerjaan. Tapi adanya sertifikasi seperti menarik juga memudahkan untuk belajar area energi dengan baik.

Area 1: Crude Oil and Refined Product Markets | 40%

  • Physical properties of crude oil
  • Exploration, production, and project development
  • Transportation and storage economics
  • Crude oil refining

Area 2: Natural Gas and Coal Markets | 25%

  • Physical properties of natural gas and coal
  • Transportation and storage economics
  • Global natural gas markets and economic fundamentals
  • Global coal markets and economic fundamentals

Area 3: Electricity Markets and Power Generation | 35%

  • Properties of electricity
  • Electricity market economics
  • Investing in generating capacity including renewables
  • Electric energy markets and trading
  • Global electricity market and economic fundamentals
  • Emission reduction programs and regulation

Written by Anjar Priandoyo

April 23, 2018 at 12:20 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with

Reputasi Lembaga Sertifikasi dan Proyek Kementerian Tenaga Kerja

leave a comment »

Tiap-tiap kementerian punya program unggulan, seperti menghadapi MEA / ASEAN Economic Community maka dirasa perlu peningkatan kompetensi. Cara untuk meningkatkan kompetensi adalah dengan memberikan pelatihan, namun ini tidak bisa semata dilakukan oleh pemerintah, pemerintah hanya bisa mendorong, kalaupun mau terlibat lebih jauh bisa dengan membuat standar, seperti Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI). Itu saja paling maksimal karena dananya sendiri tidak ada. Kalau dananya tidak ada persoalan apapun tidak bisa diselesaikan, contohnya sertifikasi barista ref. Lembaga sertifikasi ini juga kompleks masalahnya ref

Written by Anjar Priandoyo

April 18, 2018 at 11:49 am

Ditulis dalam Society

Tagged with

Mahalnya Sertifikasi

leave a comment »

Berasa banget. CISA $225, CISSP $85, PMP $144 = $454 setiap tahun, dan harus tetap berjalan selama paling tidak 5 tahun kedepan. Semoga masih bisa konsisten menjaga dan mengamalkan ilmu. Mari kita lihat.

Written by Anjar Priandoyo

Oktober 3, 2016 at 12:06 pm

Ditulis dalam Uncategorized

Tagged with

Lima sertifikasi paling penting diawal karir

leave a comment »

Awal karir diusia 22-27 tahun, merupakan sebuah periode paling krusial adalam perkembangan karir seseorang. Setelah lulus kuliah, perusahaan melihat lulusan universitas bagai kertas putih yang siap dibentuk untuk menjadi pimpinan perusahaan dimasa depan.

Sayangnya tidak semua orang beruntung periode awal karir tersebut. Ada lulusan biologi yang kemudian diterima di bank mendalami bidang manajemen risiko. Sementara, disisi lain ada seorang lulusan akuntansi yang justru menjadi seorang call center diperusahaan telekomunikasi.

Bagi yang tidak beruntung, bukan tidak mungkin masa 5 tahun yang buruk ini berlanjut hingga 10 atau 20 tahun berikutnya. Bekerja bertahun-tahun pada bidang yang tidak sesuai dengan keahliannya atau bidang yang kurang memiliki prospek dimasa depannya.

Maka dari itu mengambil sertifikasi atau pendidikan lanjut merupakan langkah strategis yang bisa diambil seseorang dalam membangun karir dimasa awal berkarirnya. Berikut sertifikasi yang bisa diambil:

1. Sertifikasi Teknis
Sertifikasi teknis ini merupakan sertifikasi yang berhubungan dengan bidang kerja teknis seperti Microsoft, Oracle atau Cisco. Sertifikasi ini selain mudah dipelajari, biayanya relatif terjangkau dan permintaan akan sertifikasi ini relatif tinggi. Sertifikasi teknis merupakan jenis sertifikasi yang harus diprioritaskan untuk diambil

2. Sertifikasi Proses
Sertifikasi proses ini merupakan sertifikasi yang berhubungan dengan proses kerja semisal Sertifikasi Pengadaan, Sertifikasi Internal Audit atau Sertifikasi Pengelolaan Proyek. Sertifikasi ini relatif lebih abstract daripada sertifikasi teknis. Namun keunggulannya adalah sertifikasi ini relatif update dan awet masa berlakunya hingga bertahun-tahun, dibandingkan sertifikasi teknis yang bergantung pada perkembangan teknologi dari vendor.

3. Sertifikasi Pendidikan
Program S2 seperti Magister Teknologi Informasi atau Magister Manajemen merupakan opsi sertifikasi yang bisa diambil. Tantangannya selain masa durasi yang panjang, program yang cukup berat, biayanya juga mahal. Keunggulannya, sertifikasi pendidikan ini bisa sangat membantu orang yang ingin mengubah jalur karirnya.

4. Sertifikasi Perusahaan
Bila sertifikasi teknis tidak mampu diambil, sertifikasi proses juga tidak sanggup dan sertifikasi pendidikan tidak ada biayanya, maka alternatif sertifikasi lain yang bisa diambil adalah sertifikasi perusahaan. Banyak perusahaan yang memberikan training di luar negeri bagi karyawannya atau perusahaan yang memberikan program secondment diluar negeri. Pengalaman mendapatkan sertifikasi dari perusahaan ini merupakan modal yang sangat berharga yang bisa didapatkan pencari kerja.

5. Sertifikasi Personal
Ini yang seringkali anak muda yang baru merintis karirnya tidak pertimbangkan. Saat kita sudah bekerja diperusahaan, maka kita akan banyak melihat beberapa orang atau figur yang bisa membantu kita kedepan. Orang-orang ini bisa memberikan rekomendasi pekerjaan atau menghubungkan dengan orang-orang penting di industri. Maka, bila tidak punya sertifikasi teknis, tidak punya keahlian proses, kemampuan pendidikan dan perusahaan maka seseorang harus mencari sertifikasi lewat rekomendasi seseorang, berupa sertifikasi personal.

Sudahkah kita siap berkompetisi? ingat, kompetisi dilapangan kerja sudah dimulai dari hari pertama kerja dimulai.

Written by Anjar Priandoyo

September 22, 2016 at 7:09 pm

Ditulis dalam Work

Tagged with

Belum Khatam

leave a comment »

kaplan2

Saya merasa (sekali lagi merasa) bahwa ilmu manajemen saya secara praktis sudah khatam saat saya menyelesaikan sertifikasi PMP (Project Management Professional). Manajemen itu intinya IPOMC, bagaimana merencanakan dan bagaimana mengontrol.

Manajemen merupakan salah satu bidang ilmu saja, selanjutnya saya merasa, setelah saya menyelesaikan sekolah master saya, saya merasa saya sudah khatam mengenai Business. Seiring dengan saya menyelesaikan Exploring Corporate Strategy (Johnson et al). Strategy itu intinya merencanakan, dan organisasi itu artinya people.

Baik ilmu manajemen ala PMP, maupun ilmu business ala MBA pada dasarnya adalah professional degree, sementara PhD adalah research degree. Oleh karena itu, ketika si professional menjelaskan mengapa perusahaan perlu melakukan inovasi, merupakan penjelasan yang berbeda dibandingkan si peneliti menjelaskan mengapa perusahaan perlu melakukan inovasi.

Ketika si professional bicara didepan anak buahnya mengenai inovasi, pesan yang ingin disampaikan oleh si professional adalah agar anak buahnya bekerja lebih giat, si professional memberikan ilustrasi bahwa ada perusahaan yang bangkrut jika tidak berinovasi. Si professional adalah manager yang mendirect orang-orang yang mendengarkannya. Si professional adalah orang yang mendorong orang lain untuk mencapai sebuah tujuan.

Ketika si peneliti bicara didepan pendengarnnya mengenai inovasi, pesan yang ingin disampaikan adalah bagaimana agar orang mendapat gambaran dari proses inovasi itu.

Baik-baik professional maupun peneliti sama-sama berbicara mengenai inovasi (sama contentnya) tetapi tujuannya sangat berbeda.

Praktisi vs Peneliti melihat inovasi
Praktisi melihat proses inovasi sebagai sebuah narasi, sementara peneliti melihat inovasi sebagai cabang ilmu sosial. Praktisi merasa cukup memberikan gambaran mengenai inovasi dari contoh apa yang terjadi ketika perang VHS vs Betamax atau perang CD vs DVD.

Peneliti berpikir dari sisi yang berbeda Inovasinya Difussion of Innovation Roger 1962, yang dipandang lebih dari cukup menjelaskan proses inovasi dirasa kurang. Peneliti merasa bahwa apa yang praktisi sampaikan masih kurang, sehingga peneliti harus membedah lagi dalam industri yang lebih spesifik, dengan pendekatan yang berbeda, multi-level perspective misalnya

Masih kurang? Iya, MLP saja masih kurang ditambah dengan TRL (Technology Readiness Levels) misalnya, juga masih kurang.

Praktisi pada dasarnya adalah bagaimana seseorang berinteraksi dengan orang lain, sementara peneliti berinteraksi dengan ilmu pengetahuan.

PS: Image source: Kaplan Knowledge Bank

Written by Anjar Priandoyo

September 19, 2016 at 11:06 am

Ditulis dalam Uncategorized

Tagged with

Kutukan Keanggotaan Profesi

leave a comment »

Kutukan itu bernama keanggotaan. Mengejar, mengikat, dan membebani tanpa henti

Sertifikasi profesi sebenarnya tidak mahal, untuk ujian cukup membayar $500 saja. Sayangnya sertifikasi ini harus diperbaharui secara berkala setiap 4-5 tahun, masih ditambah dengan biaya keanggotaan. Kalau hanya satu sertifikasi saja cukup sekitar $220 untuk CISA misalnya, namun kalau ada sertifikasi lainnya seperti CISSP dan PMP total biaya yang dikeluarkan bisa mencapai $450/tahun. Taruhlah biar mudah $500/tahun.

Website, sebenarnya kalau mengambil yang sangat murah untuk biaya domain sekitar $10 dan biaya hosting sekitar $30, total sekitar $40 per tahun. Namun kalau mengambil hosting yang lebih baik bisa mencapai $300 per tahun (kalau mau dagang, BEPnya paling tidak harus ada 10 website yang dikelola). Kalau skala perusahaan kecil bisa mencapai $100/tahun di hosting lokal berafiliasi. Taruhlah menjadi $500/tahun.

Apakah $500 / tahun atau sekitar 5 juta pertahun itu mahal?

Rasanya kalau dibandingkan dengan membership dari gym seperti Fitness First yang juga mencapai 500rb/bulan atau Golf yang bisa mencapai 1 juta / bulan (main hanya seminggu atau dua minggu sekali). Maka sebenarnya biaya sertifikasi itu bukanlah hal yang mahal. Baik gym maupun golf pun kalau dirata-rata mencapai $500/tahun.

Tapi bagaimana kita seharusnya menghitung sesuatu itu mahal dan murah. Misalkan ada seorang pemuda dengan gaji 40 juta rupiah, jika dirata-ratakan gaji pertahunnya 500 juta rupiah. Maka mengambil 5 juta rupiah per tahun untuk biaya sertifikasi itu hanya 1% dari nilai pendapatannya. Jika masih ditambah biaya Gym dan Golf pun, biaya hiburan itu tidak lebih dari 3% penghasilannya. Bukan biaya yang besar.

Orang bisa saja beralasan bahwa gym dan sertifikasi adalah investasi. Dengan sertifikasi nanti bisa mengajar, dengan gym nanti bisa mendapatkan relasi yang lebih banyak. Orang pun mencari pembenaran dengan membeli alat-alat untuk mendukung hobinya, hobi membaca dengan membeli buku, hobi golf dengan perlengkapan golfnya.

Pertanyaannya, sampai kapan ini berakhir? sampai sertifikasi tidak lagi menarik? atau sampai golf membosankan? sampai kapan? Saya tidak punya jawabannya, saya rasa ada yang salah dengan semua ini.

Written by Anjar Priandoyo

Maret 26, 2016 at 12:54 pm

Ditulis dalam Uncategorized

Tagged with

Oktober, bulan sertifikasi nasional

leave a comment »

CISA deadline 31 Dec
PMP & CISSP deadline 30 Nov

Untuk amannya di ambil mundur 1 bulan sebelum deadline sertikasi, maka tanggal paling tepat adalah awal october. Awal oktober adalah waktu untuk bayar-bayar dan mengumpulkan CPE untuk 1 tahun terakhir. October juga bulan yang baik untuk mengawali sekolah anak, pekerjaan dan hal-hal penting lainnya. Dalam durasi 1 tahun kedepan.

Written by Anjar Priandoyo

Oktober 13, 2015 at 7:09 am

Ditulis dalam Business

Tagged with

How important is energy/electricity in our life?

leave a comment »

What is energy?
Energy is ability to do work. So if we would like to do something, then we need an energy. If we want to work, we need to have breakfast first, we need to eat. Food is type of energy. If we want to go to somewhere we need an energy, if we travel by car, the car need an energy. Without energy, we are not able to do anything.

Historically, Food is type of energy, just like horse also type of energy. However in current practice, the word of energy would refer to production of energy (34% Oil, 25% Gas, 30% Coal, 5% Nuclear and 8% RE). And can be also refer to consumption of energy by usage (40% power plant electricity, 20% transport, 40% non electricity/transport e.g plant machinery) or by sector (such as: 12% Commercial, 51% Industry, 18% Residential and 20% for Transportation)

Ok, I got this, so Energy (Oil, Gas, Coal) is important, but how come electricity is important?
Like I mention before, 40% energy that we produce is to create electricity. If we say, that we cannot live without energy, that’s mean we cannot live without electricity. The second most important is for transportation which accounted for 20%. The rest is other then electricity generation/transport e.g you need electric to perform iron wielding or you need energy to run conveyor belt in factory.

So, if my parents, live in village, without any electricity and did not use fuel for transport, how much energy does he consume?
Well, maybe he still need an energy, let say to cook a food using biomass (wood/coal bricket). Or maybe he need to burn wood for heating during winter.

Ok, if I dont need electricty what could happened?
Well, assuming you still have that 20% for transportation. And then, you need to cover all your 80% need energy manually. For example, you can use your hand to clean the house, without need an vacuum cleaner. You can eat raw e.g fruit/vegetables. And lighting, if you able to manage lighting by using kerosene, that’s OK.

Well, I was born in 1980s, and do you know that at that time. We did not need that much energy compare for today. We only need a kerosene. To go to someplace, we can use public transport. But in 1990s everything changes, suddenly we need refrigerator and gas stove. Then in 2000s, we need Air Conditioning (AC) system. And suddenly everybody has a 2-3 motor cycle in their house. Well it’s because human to greedy.
Yeah you right, only within 20 years, everything changes so fast. It’s unplanned, market and people naturally change the energy consumption habit. And now, if we heard people campaign on energy saving do you think it will be work?

Ok, How about population
Yes, another problem. I remember in 1980 my teacher once said its around 150 mil, Indonesia population. And in 1980 become 180 mil, in 1990 become 200 mil. So simple, in 2030 will be 300 mil. Using this growth, then the oil will be run out faster than its prediction by 46 years.

So?
Lets finish this conversation. I just start working in 2004, so its been 10 years now. 100 years ago is where the World War I begin, and there are a lot of think that you can not imagine or think will happened in tommorow. My deadline is next 2034, so I still have a 20 years, to understand this. All the economist are wrong.

Interesting, give me your opinion on futures
Well, I try. Need is mother of all invention. So, future will be positive. Will be something optimist. Something will be invented. Knowledge Kapitalism will play significant roles. If we children nowadays, no need to worry about the future. The one that to be worried is our self. Is not that in the 2020 something worse will be happened, humanity and society will crumbled? no, I think the one that need to be worry is us. Us, become older people. That’s for sure, I am in the process watching that thing happened.

Energy Production
World (512 Quad BTU/year): 34% Petroleum, 25% Gas, 30% Coal, 5% Nuclear, 8% Renewable
Indonesia: Coal 24%, Gas 20%, Oil 48%, RE 7%
Indonesia (PP5/2006): Coal 33%, Gas 30%, Oil 20%, RE 17% (Target 2025)
PP 5/2006 National Energy Mix

Energy Consumption
Current Electricty Sources
Indonesia: Coal 44%, Gas 21%, Oil 23%, Hydro 7%, GT 5%
World: 41% Coal, Gas 21%, Oil 4.8%, Hydro 15.8%, Nuclear 11,7%

Energy Risk Professional (ERP)
Petroleum 35%, Gas & Coal 25%, Electricty 25%, Renewable/Carbon Emissions 15%

Written by Anjar Priandoyo

November 12, 2014 at 2:23 pm

Ditulis dalam Business

Tagged with