Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Posts Tagged ‘Coal

Net Calorific Value: Coal

leave a comment »

Value from coal is vary between one place to another places. One of the value measurement that can be used is Net Calorific Value (NCV) that used by IEA. Other measurement is Gross Caloric Value (GCV). For trading purpose, other measurement is ARB (As Received Basis) vs Air-Dried Basis (ADB), or Gross as Received (GAR) vs Net as Received (NAR).

Refering to MEMR regulation 515.K/32/DJB/2011, the HPB component are:
– Calorific Value
– Moisture Content
– Suplhur Content
– Ash Content

The economic evaluation of research-based Indonesian Coal Utilization (Soelistijo & Suganal, 2013)

Written by Anjar Priandoyo

Juni 23, 2017 at 1:16 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with

Coal Industry

leave a comment »

coal-type

Kata teman saya, Batubara di Indonesia itu “beruntung”, tipe batubaranya bagus untuk pembangkit listrik, tambangnya pun terbuka sehingga aman. Belakangan saya baru tahu konsekuensinya. Batubara muda itu artinya tipenya sub bitumious/brown coal/steam coal/open pit sementara batubara tua itu tipenya antrasit/bituminous/black coal/cooking coal/underground pit. Artinya beruntung atau tidaknya itu relatif. Bisa jadi artinya “sial” karena kita tidak memproduksi batubara cooking, dan tidak punya industri yang butuh batubara cooking.

http://alturamining.com/wp-content/files/reports/2012%2001%2016%20Indonesian%20Coal%20Review.pdf
http://www.marston.com/portals/0/marston_review_of_indonesian_thermal_coal_industry.pdf
https://industry.gov.au/Office-of-the-Chief-Economist/Publications/Documents/aes/2015-australian-energy-statistics.pdf

https://www.iea.org/ciab/Australia_Role_Coal_Energy_Security.pdf

Written by Anjar Priandoyo

Februari 14, 2017 at 5:23 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with ,

Coking Coal (Batubara Kokas)

leave a comment »

Supervisor saya meminta saya untuk membuat satu section mengenai energy di Indonesia. Satu section saja sebenarnya, tapi ternyata menuliskannya tidaklah semudah anak master menyelesaikan tugas kuliahnya. Buat anak master, tulisan mengenai energi di Indonesia diquantifikasi dengan jumlah kata, misalnya tulisan 500 kata mengenai energi di Indonesia. Namun, tulisan mengenai energi bagi peneliti, merupakan tulisan mendasar yang bisa menjadi dasar/pihakan untuk menganalisa aspek tertentu dari energi di Indonesia. Ibaratnya buat anak master, tulisan adalah hasil akhir, namun buat peneliti, tulisan adalah alat bantu berpikir, tulisan adalah dokumentasi.

Hari ini misalnya, saya melihat bahwa energi di Indonesia bisa dilihat dari sudut pandang comparative analisis dengan negara lain. Jepang misalnya, yang ternyata industri coalnya declining di tahun 1980 (dari produksi 55 Mton di 1960, jadi 16 Mton di 1985). Turunnya produksi ini salah satunya karena tipe coal jepang adalah hard coal, yang lebih cocok untuk cooking.

Namun, kalau kita lihat lebih lanjut. Indonesia di tahun 2013 memproduksi 485 Mt Steam Coal dan 2.7 MT Coking Coal, dimana 329 MT-nya di export. Namun dari komposisi Coal yang digunakan di Indonesia 84.3%nya dalah untuk power generation dan industri hanya 15.7%. Jauh berbeda dengan Jepang yang hanya menggunakan coal untuk power generation sebesar 58% saja, sisanya adalah 21% coke oven, 19% industry.

Artinya, kita punya banyak sumber energi, tapi tidak bisa dipakai. FYI Jepang tidak punya produksi coal as of 2015, semuanya import.

https://en.wikipedia.org/wiki/Mining_in_Japan
http://industri-batubara.blogspot.co.uk/2011/04/pemanfaatan-batubara.html

Written by Anjar Priandoyo

Februari 14, 2017 at 1:19 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with ,