Anjar Priandoyo

Simple Advice for Everyone

Posts Tagged ‘Economy

GDP Indonesia: Export and Import

leave a comment »

Ukuran kekuatan sebuah negara adalah di lihat dari GDP-nya. Artinya, seberapa besar sebuah negara bisa menghasilkan sesuatu (output) atau bisa menambah sesuatu (nilai tambah) dalam suatu periode waktu. Indonesia tahun 2010 GDP-nya adalah $709B artinya dalam satu tahun nilai Indonesia ini bisa menghasilkan atau menambah sebesar $709B.

Untuk mengetahui nilai tambah ini bisa dengan beberapa cara, misalnya menghitung berapa banyak hasil karya sebuah negara dalam satu tahun (production approach) atau berapa banyak belanjanya dalam satu tahun (expenditure approach). Misalnya, di Indonesia, semua orang (250 jt) bekerja sebagai petani menghasilkan 1 kg beras (Rp 10,000) maka GDP-nya adalah 2,500,000 (250jt x 10,000). Kalau dihitung dengan production approach, maka semua orang Indonesia budget rumah tangganya semuanya dibelikan beras (250jt x 10,000).

Kalau negara (country) ini diibaratkan sebagai sebuah perusahaan, maka GDP equivalent dengan “rate of production”, karena dalam konsep ekonomi country income = country expenditure (country ya, bukan government). Ini yang membedakan antara mengelola negara dengan mengelola perusahaan. Kalau mengelola perusahaan maka akan ada customer (pembeli) dan perusahaan (penjual/produsen), dimana keuntungan adalah selisih yang diberikan oleh pembeli. Sementara dalam konsep negara, produktivitas = income = expenditure

Formula

  • Country, Income = Expenditure = Productivitas
  • Company, Profit (Income) = Revenue – Expenditure

Contoh, dalam sebuah negara ada dua desa yang saling berdagang. Desa Padi menghasilkan 1 kg padi, Desa Jagung menghasilkan 1 kg jagung. Dengan konsep perusahaan maka ada konsep keuntungan, dengan anggapan padi lebih berharga daripada jagung. Namun dalam konsep negara

GDP

  • Production Approach > output each sector by market prices or gross sales and inventory (Industrial Origin Approach)
  • Income Approach, wage from Industry
  • Expenditure Approach > Household + Goverment + Capital + Net Export

Apakah GDP segalanya
Ya, tapi ada banyak indikator lain, misalnya, pertumbuhan GDP-nya. Bagaimana Neraca Pembayarannya (Balance of Payment), bagaimana Neraca Perdagangannya (Balance of Trade), bagaimana cadangan devisanya yang dipegang Bank Sentral (Forex Reserves) $119B as of Feb 2017.

Kalau melihat Balance of Payment, mirip melihat kinerja keuangan perusahaan, yang terdiri dari current account (nation net income) dan capital account (net changes in ownership national asset).

Kenapa memahami GDP ini penting
Kalau bekerja dalam tatanan negara, maka institusi semacam BPS adalah maha penting, BPS sama tingkatannya dengan UN atau IMF untuk mengukur kinerja sebuah negara. Data statistik dari UNIDO (Industrial Development Organization) ini implikasinya ke banyak hal. Ini bidang yang tidak mudah dengan banyaknya standarisasi (e.g Harmonized System vs ISIC)

Kenapa data ekonomi seperti ini bisa misleading
Tentunya, data ekonomi seperti ini selalu bisa diinterpretasikan untuk kepentingan politik. Contoh nilai ekspor Honda Prospect Motor mencapai 2.2T (2016), nilai ekspor motor 2013 mencapai US$ 126,44M (1.4T) sebanyak 156,000 unit. Dengan asumsi yang beragam, bisa ditekankan bahwa pasar domestik mencapai 4,3 jt unit, yang artinya ekspor tidak sampai 5% dari produksi. Namun rendahnya ekspor bisa berarti banyak hal, bisa jadi harganya tidak ekonomis dikarenakan banyak faktor mulai pelabuhan buruk, potensi pasar ekspor kecil, internal perusahaan (cost benefit analysis, strategi paling baik untuk Indonesia dst)

Catatan
Ditahun 2010, nilai ekspor Indonesia sebesar $159B, sementara impornya adalah $117B, sehingga net exportnya sekitar $42B. GDP Indonesia adalah $709B (Worldbank).

Menurut BPS, PDB Indonesia 2010 sebesar 6,422T ($700B)
– Konsumsi Rumah Tangga Rp3,642 triliun (Indonesia 55%, High Income 59%)
– Konsumsi pemerintah Rp 581 triliun (Indonesia 9%, High Income Country 18%)
– Pembentukan modal tetap bruto atau investasi fisik sebesar Rp2,065 triliun (Gross Fixed Capital Formation)
– Ekspor Rp 1,580 triliun (net Rp 105T)
– Impor Rp 1,475 triliun

Menurut BPS, PDB Indonesia 2014 sebesar 10,542.00T ($890B Worldbank)

https://www.quandl.com/data/ODA/IDN_GGX-Indonesia-General-Government-Total-Expenditure-LCU-Billions
http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/203343-bps-pdb-2010-tembus-us-700-miliar
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/02/05/223711226/PDB.Indonesia.Tahun.2014.Sentuh.Rp.10.542.7.Triliun
https://www.quora.com/Does-GDP-measure-income-or-revenue
https://www.quora.com/Is-GDP-the-revenue-of-a-country
https://en.tempo.co/read/news/2017/03/08/056853664/Indonesia-Foreign-Exchange-Reserves-Up-by-USD3bn
https://otomotif.tempo.co/read/news/2017/02/27/295850760/2016-nilai-ekspor-honda-prospect-motor-rp-2-2-triliun
http://www.kemenperin.go.id/artikel/9885/Ekspor-Sepeda-Motor-Melonjak-122
http://otomotif.kompas.com/read/2016/11/02/140200115/ekspor.motor.indonesia.tak.sampai.secuil.pasar.domestik
http://www.thejakartapost.com/news/2017/02/23/collusion-verdict-to-have-little-impact-on-motorcycle-makers.html

Written by Anjar Priandoyo

Maret 14, 2017 at 1:49 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with ,

Desentralisasi

leave a comment »

Tahun 2000-an, waktu saya mengajarkan handphone nokia 3310 kepada bapak saya, bapak saya mengatakan “namanya produsen HP pasti akan membuat produk terus, orang kaya akan terus dibuatkan produk, supaya laku”. Bapak saya berkomentar sinis ketika saya menyampaikan bahwa ada konsep “digitalization” ketika semua hal yang dulunya analog akan berjalan dengan sistem digital yang lebih murah. Saya menanggapinya dengan penuh maklum, mungkin begini rasanya menjadi ketinggalan jaman, begitu pikir saya. Sayangnya berpuluh tahun kemudian, apa yang bapak saya sampaikan ini ternyata benar adanya.

Dan ketika ditahun yang sama bapak saya kembali berkomentar bahwa “Ini semua gara-gara reformasi, semuanya kacau berantakan”. Waktu pernyataan ini pertama kali disampaikan, komentar saya juga sama seperti HP nokia tadi. Ini mungkin komentar orang tua. Namun sama seperti HP tadi, saya baru tersadar bahwa dua hal yang disampaikan bapak saya tadi adalah benar adanya. Benar sebagaimana pengamatan orang tua mengenai lingkungannya yang disampaikan kepada anaknya tanpa muatan politik) apapun.

Ini contoh tulisan Anwar Nasution 2016 di ADB:
“…Without much preparation, Indonesia, in 2000, at a stroke replaced the previous system of centralized government and development planning with a wide range of decentralization programs. However, after over 15 years of reform, institutions have yet to be built to allow both the provincial and subprovincial governments to implement the newly acquired responsibilities. Unlike in many emerging and transitioning countries, the decentralization program in Indonesia was implemented quickly without any major political or economic problems. The combination of the absence of unified public service standards and the lack of knowledge in the new administration of public funds has led to corruption and delays in the disbursement of government budget expenditure…”

Anwar Nasution, dari beberapa komentarnya menarik:
– BUMN tidak efisien
– Tax Amnesty tidak efektif

https://m.tempo.co/read/news/2015/12/17/087728579/anwar-nasution-kenapa-salim-kaya-dan-bumn-minta-duit-terus
http://bisnis.liputan6.com/read/2536087/anwar-nasution-ragu-pengampunan-pajak-sukses-tarik-uang-wni

Written by Anjar Priandoyo

Februari 14, 2017 at 1:58 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with

Politik dan Ekonomi, Politik paling utama, politik paling tidak sehat

leave a comment »

Melihat dokumen RIPIN Kemenperin dan RUEN Kesdm, saya menyimpulkan kenapa Kemenperin dan Kesdm tidak di merge menjadi satu saja? dua-duanya membahas isu yang sama, pengembangan industri, dengan fokus pada industri yang membutuhkan energi. Setelah saya lihat lagi, ternyata memang dari sejarahnya Kesdm ini didirikan belakangan pada tahun 1966 lewat Kementerian Pertambangan, dan Migas yang membawahi Departemen Minyak, dan Gas Bumi.

Sebenarnya, kalau mau efisien, maka seharusnya Industri, Energi, Perdagangan, Kelautan bisa dijadikan satu saja, karena berhubungan dengan Economic Execution, sementara yang Economic Policynya di Kementerian Keuangan. Dan banyak departmen juga bisa dimerge. Contoh di Korea Selatan, Ministrynya adalah Trade-Industry-Energy. South Korea 17 Minister.

Tapi kenapa yang terjadi adalah kabinet selalu membesar? tentunya adalah kompromi politik.

“…Labour’s last cabinet had 25 ministers around the table, which has increased to 29 in Cameron’s first cabinet (mainly to accommodate coalition partners). Contrast that with the much more modest size of the cabinet in countries such as Germany (16), Poland (19), Sweden (21) and France (21)…”

Kenapa kabinet yang tidak efisien bisa terjadi, ada beberap hal.

  1. Politik yang tidak stabil. Tidak banyak yang mau punya kabinet ramping. Lebih banyak orang yang mau kabinet yang mewakili kepentingan kelompoknya. Ketidakstabilan politik, bagi beberapa pihak bisa memungkinkan mendapatkan posisi politik yang lebih baik.

  2. Kenapa kemampuan (sumberdaya) politik itu penting? bila memiliki kemampuan politik yang baik, maka departemen tersebut bisa dimerge menjadi satu, tanpa menimbulkan pertentangan. Namun bisa punya sumberdaya politik itu perkara yang tidak mudah.

  3. Namun memberikan kritik bahwa “kompromi politik merupakan hal yang bisa menghambat pembangunan” bisa jadi merupakan kritik yang kontra produktif. Karena memang saat ini situasi politik di Indonesia tidak stabil.

Negara seharusnya adalah organisasi ekonomi bukan organisasi politik. Negara seharusnya berfokus untuk memiliki pendapatan yang besar bukan berfokus untuk pembagian harta waris. Negara yang fokusnya adalah bertikai, adalah negara yang tidak efisien dan akan terus tertinggal. Masalahnya, negara yang ekonominya tidak baik maka cenderung bertikai.

Catatan:
Kabinet Indonesia Bersatu (2004-2009) jumlahnya adalah 34 menteri.
Kabinet Kerja (2014-2019) jumlahnya adalah 34 menteri.

http://blogs.lse.ac.uk/politicsandpolicy/britain%E2%80%99s-supersized-cabinets-are-too-expensive/

Written by Anjar Priandoyo

Februari 8, 2017 at 1:46 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with

Negara proposal, merencanakan itu mudah

leave a comment »

PP 14 tahun 2015 mengenai Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (2015-2035) disahkan Maret 2015. Dasarnya juga jelas dari UU 3 tahun 2014 tentang perindustrian. Kemudian turunannya adalah Kebijakan Industri Nasional (KIN 2015-2019). Selanjutnya daerah harus menyusun RIPIN versi daerah (RIPID) dan dokumen kompetisi inti industri daerah (KIID).

Dejavu?

Sama seperti PP 79 tahun 2014 mengenai Kebijakan Energi Nasional (KEN) / RUEN kemudian turunannya adalah RUED. Kalau butuh analisa yang high level ada RPJPN dan RPJMN yang sifatnya nasional. Kalau butuh analisa yang sifatnya cross sector maka ada

  • Perencanaan Kebutuhan Bahan Baku dan Energi Sektor Industri dalam rangka Pembangunan Industri Nasional
  • Perencanaan Kebutuhan Tenaga Kerja Sektor Industri dalam rangka Pembangunan Ekonomi
  • Analisis Supply Chain dan Biaya Logistik Sektor Industri

Artinya, segala model analisa, model perencanaan, model proposal itu sudah ada. Namun pertanyaannya kenapa pertumbuhan ekonomi masih lambat?

Sebelum menjawab ini, pertanyaan diatas adalah pertanyaan dengan asumsi yang tidak tepat. Dokumen perencanaan itu murah dan mudah. Murah, sama seperti sekelompok himpunan mahasiswa membuat proposal mencari dana kepada sponsor untuk mengadakan seminar komputer. Pertanyaannya, kenapa ada universitas (PTN misalnya) yang mudah mendapatkan sponsor, sementara ada universitas (PTS misalnya) yang jangankan mendapatkan sponsor, mendapatkan peserta saja sedikit. Artinya punya dokumen perencanaan yang baik itu bukanlah competitive advantage. Advantage itu adalah punya brand universitas yang lebih baik.

Kembali ke pertanyaan diatas. Pertumbuhan ekonomi yang lambat tidak disebabkan oleh perencanaan, proses tender lambat, disbursement loan lambat, tidak tepat sasaran (seperti disampaikan ref), itu masalah business process, masalah efisiensi yang masih bisa ditingkatkan.

Sama seperti PTS yang tidak mampu membuat seminar tadi. Masalah yang paling mendasar adalah business model. Apakah business model-nya menguntungkan atau tidak. Dokumen perencanaan hanyalah bagian kecil dari sebuah business model. Business model tadi tidak selalu harus tertulis. Praktek yang terjadi, PTS tadi tidak mampu bersaing dalam event seminar maka PTS tersebut akan bersaing dalam event lain -pagelaran musik, misalnya. Dimana PTS tersebut bisa mengeksploitasi secara maksimal, lebih baik dari seminar si PTN.

Lalu kenapa banyak orang berpendapat solusinya adalah organization model. Alih-alih mengadakan seminar, mengapa tidak mengadakan malam keakraban digunung bersama-sama, yang benefitnya lebih banyak dirasakan oleh mahasiswa. Bisa jadi ini merupakan pilihan juga, karena seminar dirasa tidak menguntungkan, dirasa tidak menarik.

Bagaimana dengan Indonesia? saat ini banyak orang lebih meributkan organization model (baca: political goals) dibandingkan dengan economic goals yang tidak menarik. Memikirkan makrab lebih mudah daripada memikirkan seminar. Ini solusi sementara yang efektif. Daripada pusing memikirkan potensi untung (dan potensi rugi) lebih baik memikirkan potensi senang (daripada susah). Daripada aspek materi lebih baik aspek psikologis.

Saya? lebih memilih aspek materi.

http://www.arah.com/article/19601/ini-pentingnya-ekonomi-islam-dalam-pembangunan-bangsa.html
http://kibar-uk.org/2016/12/30/talk-insight-membangun-bangsa-dengan-ekonomi-islam/
http://indoprogress.com/2014/05/globalisasi-neoliberal-kemiskinan-dan-lalu-apa-solusinya/

Written by Anjar Priandoyo

Februari 8, 2017 at 12:00 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with

Industri Baja di Indonesia

leave a comment »

pohon-industri-baja

“A healthy economy needs a healthy steel industry” merupakan quote yang saya baca di worldsteel.org, asosiasi yang membawahi 85% produksi baja didunia. Industri baja ini sangat penting karena secara ekonomi, baja dibutuhkan hampir diseluruh industri (mother industry), mulai dari konstruksi, transportasi hingga manufaktur. Industri ini penting karena Industri Baja merupakan industri yang membutuhkan energy paling besar di sektor manufaktur. Di US sekitar 6% energi di manufaktur adalah untuk industri baja. Untuk industri baja, penggunaan energi memakan biaya hingga 20-40% dari seluruh biaya produksi.

1.Industri baja tidak besar
Di Indonesia, Industri baja tidak terlalu besar. Indonesia merupakan peringkat sekitar 30 dalam produksi baja dunia. Indonesia memproduksi sekitar 2-3 Mt setiap tahunnya. Bandingkan dengan produksi baja dunia yang mencapai 1621 Mt pada tahun 2015, yang bahkan diprediksi terus meningkat 1.5x hingga 2050. Sebagai perbandingan, China memproduksi sekitar 800 Mt, Jepang 105 Mt, Korea 69 Mt. Industri baja memang industri yang strategis. ArcelorMittal memproduksi sekitar 116 Mt, POSCO memproduksi sekitar 31 Mt baja.

2.Kebutuhan tinggi, bergantung impor
Di tahun 2012, kebutuhan Baja nasional sekitar 9 Mt sementara produksi sekitar 4-5 Mt, jadi impor sekitar 40% dari kebutuhan nasional. Namun mengatur kebutuhan baja nasional ini tidaklah sederhana, karena ada industri baja hulu yang membutuhkan kualitas tinggi dan ada industri baja hilir.

Jadi kalau Kemenperin mengatakan bahwa Industri baja terkendala pasokan energi dan bahan baku, ini sudah persoalan yang sangat mendasar.

https://www.eia.gov/consumption/manufacturing/briefs/steel/
https://www.iea.org/media/workshops/2014/industryreviewworkshopoct/8_Session2_B_WorldSteel_231014.pdf
http://koran.bisnis.com/read/20160824/251/577795/menghindari-kepunahan-industri-baja-ri
http://www.kemenperin.go.id/artikel/5054/Impor-Baja-Bisa-Ditekan-50

Written by Anjar Priandoyo

Februari 8, 2017 at 10:43 am

Ditulis dalam Science

Tagged with ,

Liberalization

leave a comment »

Written by Anjar Priandoyo

Februari 5, 2017 at 10:41 am

Ditulis dalam Science

Tagged with

Ekonomi oh faktor ekonomi

leave a comment »

Economy. Catatan ini masuk dalam tahapan baru: Economy. Dulu saya pikir, namanya Economy hanya sebuah kegiatan saja. Kegiatan bikin pabrik, bikin sawah, bikin masakan. Sekarang saya baru bisa melihat beberapa hal yang sebenarnya sudah berulang dari puluhan atau ribuan tahun yang lalu.

Economics. Dari Economy, saya mulai belajar Economics (Ilmu Ekonomi), dari macro policy (moneter, fiskal) kemudian trade policy (tarif), hingga regulatory policy (deregulation)

Economy (lagi). Namun, setelah berjalannya waktu, saya pikir semua ini kembali pada Ekonomi sebagai sebuah kegiatan lagi. Kenapa? karena sebuah event economy, terjadi lewat banyak driver, banyak faktor yang mempengaruhinya contohnya.

Harga Minyak
Pakto 1988 yang merupakan deregulasi perbankan di Indonesia, yang selanjutnya mendorong terjadinya krismon 1997. Pakto 88 didorong dari paket deregulasi 1983 yang salah satu drivernya adalah harga minyak.

Deregulation / Privatization
Privatisasi sebagai sebuah trend diawali di Inggris tahun 1979 (Thatcher). Juga didorong oleh harga minyak, dan stagnasi ekonomi. IPP pertama di Indonesia 1994 Paiton. Selanjutnya deregulasi televisi, penerbangan juga tidak terhindarkan. Baik karena terinspirasi asing atau karena kondisi dalam negeri sendiri

Teknologi
Juga terulang dengan PBI 9/15/2007 mengenai masuknya teknologi informasi. Kemudian di tahun 2015 dengan internet mewarnai.

http://www.beritasatu.com/ekonomi/258535-jokowi-beberkan-3-momentum-indonesia-kehilangan-sumber-daya-alam.html

Written by Anjar Priandoyo

Februari 5, 2017 at 8:06 am

Ditulis dalam Science

Tagged with