Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Posts Tagged ‘Economy

Economy is pseudoscience do not ever forget

leave a comment »

When people argue that “competitive market are great”, I do not think that they have lived in developing countries ref or have born from poor parents. And when Amartya Sen saying that Famines weren’t caused by lack of food but by lack of money is also super confusing (wiki Bengal Famine 1943).

Economics basically is a government justification to stay in position. The only thing that something might change is if there is some intervention by some stronger things that the people worship (follow). In developing party for example, both of party (status quo and opposition, accused that the other side is neoliberal or keynesian ref), how it even possible ref.

Economics theory or to be exact hypothesis or pseudosciences is a set of strategy that politician use to gain support from resources curse, keynesian to monetarism ref. Sometimes even the easiet argument can be used as economic hypothesis like “there is no free lunch”

To disguise from pseudoscience, quantitative method is used such as Granger causality, VAR, correlation things using math like elasticity, equilibrium. But the core concept is still the same, its a part of political campaign, which seems scientific, looks fancy like evidence based science. For example in a case of Freeport a campaign might refer to Keynes ref

Economy is simple, is a competition, however people seems to make it complicated. Just like creation of National Climate Impact Indices: Residential energy-demand temperature index (REDTI), Moisture stress index (MSI) ref

Iklan

Written by Anjar Priandoyo

Juli 21, 2018 at 8:18 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with

Prediksi Pilkada

leave a comment »

Kebanyakan prediksi pilkada dilakukan dengan cara survey secara langsung (e.g voting twitter/koran/survey) yang terbukti tidak akurat, contohnya pada Pilkada DKI. Kekalahan Ahok di Pilkada DKI adalah karena rakyat kecil Jakarta tidak suka gaya bicara Ahok dan penggusuran sewenang-wenang ref catatan, Masyarakat Jakarta sendiri relatif konservatif (40% vs 35% plural). Voting ini hanya bisa akurat kalau sample yang diambil cukup.

Jabar: Ridwan Kamil (Instagram 8 mil)
Jateng: Ganjar Pranowo (Survey 70%)
Jatim: Khofifah Indar Parawansa
Sumut: Edy Rahmayadi

Content preference becomes a better predictor of political knowledge.

Provinsi dengan tingkat kerawanan medsos tinggi: Sumut (1), Jawabarat (9), Jawatimur (11), Jawatengah (3+12) ref
Penetrasi Internet: Sumatra (47%), Jawa (57%) ref

Asumsi:
– Partai Politik bukan faktor penentu kemenangan pilkada
– Agama bukan faktor penentu

Post-Broadcast Democracy: How Media Choice Increases Inequality in Political Involvement and Polarizes Elections (Markus Prior 2007)

Catatan prediksi saya selama ini:
– Brexit June 2016: Failed prediction
– US President Nov 2016: Failed prediction

Catatan: Tulisan ini dibuat pada 20 Juni 2018 untuk memprediksi apa yang terjadi pada Pilkada 27 Juni 2018

Written by Anjar Priandoyo

Juni 20, 2018 at 11:26 am

Ditulis dalam Society

Tagged with ,

Definition – Kapitalisme

leave a comment »

Baru cek definisi kapitalisme diwikipedia, menarik. Kapitalisme artinya system dimana orang secara individu bisa mengontrol “means of production” untuk kepentingannya. Mirip seperti definisi historian dimana penguasaan modal dalam mesin dan teknologi

Marx main concern of every problem is “means of production” ref ref. Money is not a factor of production ref. Marx’s definitions of ownership. Karl Marx’s concept of ownership implies that some form or another of ownership must exist in all productive societies, i.e. a productive society without any form of ownership whatsoever is an impossibility ref. Property that generates profit is private property ref. Prior to the 18th century, private property usually referred to land ownership.

Wiki: Private Property, Differential and absolute ground rent, Marxian economics, Mode of production, Capitalist mode of production (Marxist theory), Capital Good, Capitalism

Written by Anjar Priandoyo

Juni 4, 2018 at 2:53 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with

Debat: Peringkat Hutang

leave a comment »

Big 3 credit rating agencies yaitu Standard & Poor’s (S&P), Moody’s, and Fitch Group secara rutin mengeluarkan peringkat hutang (credit, bond, sovereign rating) sebuah negara. Kredit rating sebenarnya hanya perusahaan yang memberikan peringkat, saat ini 3 perusahaan ini menguasai 95% pasar rating kredit ref. Kredit rating ini tentunya dikeluarkan secara hati-hati dengan negara-negara yang memang stabil seperti Singapore atau Malaysia ada di peringkat A. Namun seringkali media membuat pernyataan yang hiperbolis, misalnya naiknya Fitch rating dari BBB- ke BBB ref yang mencerminkan situasi politik disebuah negara, misalnya mengenai hutang. Selain rating yang juga bisa disalahgunakan adalah outlook, contohnya Australia meski ratingnya AAA tapi outloooknya adalah negative.

Masalah hutang adalah masalah yang sangat kompleks dan durasinya bisa hingga hitungan dekade. Misalnya, ada aturan undang-undangnya yaitu UU 24 tahun 2002 tentang Surat Utang Negara. Jadi meski Komodo Bond baru melantai di Bursa Efek London, yaitu Jasa Marga 4 trilyun (13 Des 2017), Wijaya Karya 5.4 trilyun (29 Jan 2018) dengan mata uang rupiah. Untuk perusahaan swasta seperti Medco atau PLN juga bisa menjual corporate bond.

Written by Anjar Priandoyo

April 30, 2018 at 11:07 am

Ditulis dalam Management

Tagged with ,

Data balik modal investasi

leave a comment »

Membangun itu biayanya tidak murah, proses membuatnya satu dekade, kembalinya bisa dua tiga dekade. Membangun itu sangat susah. Makanya orang perlu benar-benar jeli.

Ilustrasinya:

  • MRT akan kembali dalam waktu 7 tahun ref
  • MRT Phase 2 biaya 22.5 T ref
  • MRT Phase 1 biaya 15 T ref
  • Lorena Trans Jakarta 2008, 7 tahun ref
  • Net TV balik modal dalam 4 tahun ref, berdiri May 2013.
  • Kereta api cepat Jakarta Bandung 60 tahun payback period ref
  • Hotel mewah Raffless 1.2 Trilyun dalam 12 tahun ref
  • Mall 12 tahun ref
  • IRR Blok Masela 12% ref
  • Jaringan Gas 17-20 tahun ref
  • Pelabuhan Patimban 13.7 T (JICA) dan 1.1 T ref, balik modal 30 tahun ref
  • Warung kopi 1 M balik modal dalam 3 tahun ref
  • Jembatan Selat Sunda 50 tahun ref
  • Jembatan Suramadu 4.5 T dibuka 2009
  • Tol Benoa Balik Modal dalam 10-12 tahun ref
  • Stadion Jakabaring 300 M dalam 3 tahun ref
  • Hotel Batu Malang 160 M dalam 5 tahun ref
  • Semen Rembang 4.9 T ref
  • Bintaro Jaya Exchange 0.7 T ref
  • Kerugian 2016: 19 T Niko Resources ref

Written by Anjar Priandoyo

Desember 24, 2017 at 7:01 am

Ditulis dalam Science

Tagged with

GDP Indonesia: export and import

with one comment

Ukuran kekuatan sebuah negara adalah di lihat dari GDP-nya. Artinya, seberapa besar sebuah negara bisa menghasilkan sesuatu (output) atau bisa menambah sesuatu (nilai tambah) dalam suatu periode waktu. Indonesia tahun 2010 GDP-nya adalah $709B artinya dalam satu tahun nilai Indonesia ini bisa menghasilkan atau menambah sebesar $709B.

Untuk mengetahui nilai tambah ini bisa dengan beberapa cara, misalnya menghitung berapa banyak hasil karya sebuah negara dalam satu tahun (production approach) atau berapa banyak belanjanya dalam satu tahun (expenditure approach). Misalnya, di Indonesia, semua orang (250 jt) bekerja sebagai petani menghasilkan 1 kg beras (Rp 10,000) maka GDP-nya adalah 2,500,000 (250jt x 10,000). Kalau dihitung dengan production approach, maka semua orang Indonesia budget rumah tangganya semuanya dibelikan beras (250jt x 10,000).

Kalau negara (country) ini diibaratkan sebagai sebuah perusahaan, maka GDP equivalent dengan “rate of production”, karena dalam konsep ekonomi country income = country expenditure (country ya, bukan government). Ini yang membedakan antara mengelola negara dengan mengelola perusahaan. Kalau mengelola perusahaan maka akan ada customer (pembeli) dan perusahaan (penjual/produsen), dimana keuntungan adalah selisih yang diberikan oleh pembeli. Sementara dalam konsep negara, produktivitas = income = expenditure

Formula

  • Country, Income = Expenditure = Productivitas
  • Company, Profit (Income) = Revenue – Expenditure

Contoh, dalam sebuah negara ada dua desa yang saling berdagang. Desa Padi menghasilkan 1 kg padi, Desa Jagung menghasilkan 1 kg jagung. Dengan konsep perusahaan maka ada konsep keuntungan, dengan anggapan padi lebih berharga daripada jagung. Namun dalam konsep negara

GDP

  • Production Approach > output each sector by market prices or gross sales and inventory (Industrial Origin Approach)
  • Income Approach, wage from Industry
  • Expenditure Approach > Household + Goverment + Capital + Net Export

Apakah GDP segalanya
Ya, tapi ada banyak indikator lain, misalnya, pertumbuhan GDP-nya. Bagaimana Neraca Pembayarannya (Balance of Payment), bagaimana Neraca Perdagangannya (Balance of Trade), bagaimana cadangan devisanya yang dipegang Bank Sentral (Forex Reserves) $119B as of Feb 2017.

Kalau melihat Balance of Payment, mirip melihat kinerja keuangan perusahaan, yang terdiri dari current account (nation net income) dan capital account (net changes in ownership national asset).

Kenapa memahami GDP ini penting. Kalau bekerja dalam tatanan negara, maka institusi semacam BPS adalah maha penting, BPS sama tingkatannya dengan UN atau IMF untuk mengukur kinerja sebuah negara. Data statistik dari UNIDO (Industrial Development Organization) ini implikasinya ke banyak hal. Ini bidang yang tidak mudah dengan banyaknya standarisasi (e.g Harmonized System vs ISIC)

Kenapa data ekonomi seperti ini bisa misleading. Tentunya, data ekonomi seperti ini selalu bisa diinterpretasikan untuk kepentingan politik. Contoh nilai ekspor Honda Prospect Motor mencapai 2.2T (2016), nilai ekspor motor 2013 mencapai US$ 126,44M (1.4T) sebanyak 156,000 unit. Dengan asumsi yang beragam, bisa ditekankan bahwa pasar domestik mencapai 4,3 jt unit, yang artinya ekspor tidak sampai 5% dari produksi. Namun rendahnya ekspor bisa berarti banyak hal, bisa jadi harganya tidak ekonomis dikarenakan banyak faktor mulai pelabuhan buruk, potensi pasar ekspor kecil, internal perusahaan (cost benefit analysis, strategi paling baik untuk Indonesia dst)

Catatan, ditahun 2010, nilai ekspor Indonesia sebesar $159B, sementara impornya adalah $117B, sehingga net exportnya sekitar $42B. GDP Indonesia adalah $709B (Worldbank).

Menurut BPS, PDB Indonesia 2010 sebesar 6,422T ($700B)

  • Konsumsi Rumah Tangga Rp3,642 triliun (Indonesia 55%, High Income 59%)
  • Konsumsi pemerintah Rp 581 triliun (Indonesia 9%, High Income Country 18%)
  • Pembentukan modal tetap bruto atau investasi fisik sebesar Rp2,065 triliun (Gross Fixed Capital Formation)
  • Ekspor Rp 1,580 triliun (net Rp 105T)
  • Impor Rp 1,475 triliun

Menurut BPS, PDB Indonesia 2014 sebesar 10,542.00T ($890B Worldbank)

ref, ref, ref, ref, ref, ref, ref, ref

Written by Anjar Priandoyo

Maret 14, 2017 at 1:49 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with ,

Desentralisasi

with one comment

Tahun 2000-an, waktu saya mengajarkan handphone nokia 3310 kepada bapak saya, bapak saya mengatakan “namanya produsen HP pasti akan membuat produk terus, orang kaya akan terus dibuatkan produk, supaya laku”. Bapak saya berkomentar sinis ketika saya menyampaikan bahwa ada konsep “digitalization” ketika semua hal yang dulunya analog akan berjalan dengan sistem digital yang lebih murah. Saya menanggapinya dengan penuh maklum, mungkin begini rasanya menjadi ketinggalan jaman, begitu pikir saya. Sayangnya berpuluh tahun kemudian, apa yang bapak saya sampaikan ini ternyata benar adanya.

Dan ketika ditahun yang sama bapak saya kembali berkomentar bahwa “Ini semua gara-gara reformasi, semuanya kacau berantakan”. Waktu pernyataan ini pertama kali disampaikan, komentar saya juga sama seperti HP nokia tadi. Ini mungkin komentar orang tua. Namun sama seperti HP tadi, saya baru tersadar bahwa dua hal yang disampaikan bapak saya tadi adalah benar adanya. Benar sebagaimana pengamatan orang tua mengenai lingkungannya yang disampaikan kepada anaknya tanpa muatan politik) apapun.

Ini contoh tulisan Anwar Nasution 2016 di ADB:
“…Without much preparation, Indonesia, in 2000, at a stroke replaced the previous system of centralized government and development planning with a wide range of decentralization programs. However, after over 15 years of reform, institutions have yet to be built to allow both the provincial and subprovincial governments to implement the newly acquired responsibilities. Unlike in many emerging and transitioning countries, the decentralization program in Indonesia was implemented quickly without any major political or economic problems. The combination of the absence of unified public service standards and the lack of knowledge in the new administration of public funds has led to corruption and delays in the disbursement of government budget expenditure…”

Anwar Nasution, dari beberapa komentarnya menarik:
– BUMN tidak efisien
– Tax Amnesty tidak efektif

Written by Anjar Priandoyo

Februari 14, 2017 at 1:58 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with