Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Posts Tagged ‘Education

Kalau sudah ada buku kenapa kursus? kenapa sertifikasi?

leave a comment »

Kalau ingin belajar manajemen proyek ada banyak jalur yang bisa diambil dari buku, kursus, sertifikasi hingga kuliah. Sama topik apapun yang ingin dipelajari ada banyak cara untuk menguasainya. Sama seperti programming, bisa didapatkan dari buku, kursus atau langsung praktek di perusahaan. Sebenarnya secara prinsip tidak ada perbedaannya baik buku maupun kuliah adalah sekedar media, orang akan menentukan pilihan yang mana yang paling cocok dengan kondisi dirinya.

Iklan

Written by Anjar Priandoyo

Mei 23, 2018 at 8:50 am

Ditulis dalam Career

Tagged with , , ,

Perguruan tinggi negeri

leave a comment »

Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) pendaftar 586,155 diterima 110,946 di 85 PTN. Pengumuman 17 April 2018. Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2018 Pendaftar 844.474 (326.137 saintek, 341.693 sosial, 149.427 campuran) ujian akan diselenggarakan 8 Mei 2018, pendaftaran terakhir 18 April 2018. Komposisi kapasitas kurang lebih SN 50%, SB 30%, Ujian Mandiri 20%.

Written by Anjar Priandoyo

Mei 2, 2018 at 3:02 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with

Mengapa startup tidak ada habis-habisnya: Percaya

leave a comment »

Baru membaca mengenai Harukaedu, masalahnya signifikan: orang tidak percaya, universitas tidak percaya, akses internet tidak ada ref. Ini permasalahan yang klasik, tidak hanya untuk Haruka, tapi startup edukasi yang lain, yang percaya hanya satu: pendirinya.

Written by Anjar Priandoyo

April 21, 2018 at 3:30 am

Ditulis dalam Science

Tagged with , ,

Masalah Kurikulum Pendidikan

leave a comment »

Masalah klasik negara yang belum maju (dengan less economy developed), produktivitasnya rendah. Untuk meningkatkan produktivitas justru menimbulkan masalah baru.

Masalah:

  1. Kualitas rendah (output rendah, proses rendah)
  2. Adanya kesenjangan (equality) antar sekolah (sekolah favorit/unggulan dengan sekolah non favorit) > menghilangkannya dengan zonasi ref Juni 2017
  3. Manajemen (Efisiensi & efektivitas)

Dampaknya:

  1. Sekolah berkualitas dibutuhkan > biaya sekolah tinggi > kesenjangan antar sekolah

https://awan965.wordpress.com/2013/06/26/mengapa-kurikulum-pendidikan-di-indonesia-selalu-berubah/
http://dwiwahyunanti.blogspot.co.uk/2015/06/passing-grade-smp-kota-cirebon.html
https://arsip.siap-ppdb.com/2014/kotacirebon/#!/02/arsip
https://kotacirebon.siap-ppdb.com/
http://mochrenaldyramadhan.blogspot.co.uk/2015/04/review-penerimaan-siswa-baru-2016-puji.html
http://poskotanews.com/2014/02/21/un-sd-dihapus-membingungkan/
http://www.solopos.com/2015/05/05/un-smp-2015-nilai-tetap-jadi-syarat-masuk-smp-negeri-601090
https://www.kompasiana.com/kalimana/quo-vadis-pendidikan-kita-kesalahan-sistem-dan-kurikulum_590752eb4723bd545279d720

Written by Anjar Priandoyo

Desember 28, 2017 at 9:30 am

Ditulis dalam Management

Tagged with

Memahami Linearitas Rumpun Ilmu

with one comment

Misalkan ada dosen dengan linearitas bidang ilmu beragam sedang mengajukan jabatan fungsional sebagai guru besar, dilema linearitas bidang ilmu ini bisa dilihat dari berbagai case study sebagai berikut:

Case Study A1: S1 Ilmu Komputer, S2 Magister Manajemen
A1 setelah lulus bekerja di Jurusan Sistem Informasi, kemudian S3 di Jurusan Manajemen dengan penelitian mengenai Sistem Informasi. Maka linearitas bidang ilmunya adalah:
450 Teknik Elektro dan Informatika
S1 459 Ilmu Komputer
S2 –
S3 461 Sistem Informasi

Case Study A2: S1 Ilmu Komputer, S2 Magister Manajemen
A2 setelah lulus bekerja di Jurusan Akuntansi, kemudian S3 di Jurusan Manajemen dengan penelitian mengenai Sistem Informasi. Maka linearitas bidang ilmunya adalah:
570 Ilmu Manajemen
S1 –
S2 571 Manajemen
S3 577 Manajemen Informatika

Case Study B1: S1 Psikologi, S2 Transportation Engineering
B1 setelah lulus bekerja di jurusan Psikologi, kemudian S3 di Jurusan Psikologi dengan penelitian Psikologi Transportasi. Linearitasnya adalah:
390 Ilmu Psikologi
S1 391 Psikologi Umum
S2 –
S3 394 Psikologi Kerja (Industri)

Case Study B2: S1 Psikologi, S2 Transportation Engineering
B1 setelah lulus bekerja di jurusan teknik transportasi, kemudian S3 di Jurusan Teknik Mesin dengan penelitian Transportasi Safety. Linearitasnya adalah:
420 Teknik Sipil dan Perencanaan Tata Ruang
S1 –
S2 428 Transportasi
S3 428 Transportasi

Case Study C1: S1 Sastra Inggris, S2 Manajemen
C1 setelah lulus bekerja di jurusan manajemen, kemudian S3 di jurusan lingkungan dengan penelitian, Manajemen bencana alam. Setelah lulus S3 Manajemen Bencana Alam, C1 fokus bekerja di BASARNAS (atau lembaga penelitian lain), dengan karya-karya publikasi spesifik mengenai bencana alam. Maka C1 tetap bisa mengajukan gelar profesor riset, atau tetap mengajukan gelar profesor akademik, bila C1 pada suatu titik pindah ke universitas.

Dari case study diatas, sebenarnya yang paling penting adalah S3-nya, karena S3 sangat spesifik yang bisa jadi tidak ada keselarasan dengan bidang S1-nya. Namun, bisa juga, kasus C1 satu diatas, C1 lebih banyak melakukan penelitian dalam bidang Sastra Inggris sehingga kemudian mengajukan Guru Besar dalam bidang Sastra Inggris.

Namun secara umum, pemberian gelar guru besar tidaklah mudah, karena menyangkut institusi yang memberikan gelar. Contoh, guru besar pertama dari UGM tentunya berbeda dibandingkan guru besar kelima dari UI. Dalam hal ini, UGM masih ‘bisa’ menghasilkan empat guru besar lainnya.

Kesimpulannya, guru besar / profesor adalah gelar kehormatan. Karena gelar kehormatan ini tidak seharusnya diperebutkan, atau dilebih-lebihkan.

Catatan:
Pada tanggal 11 Agustus 2014, Dirjen DIKTI mengeluarkan edaran resmi mengenai linearitas bidang ilmu dosen. Berdasarkan edaran tersebut, terdapat klarifikasi pemahaman “linearitas” yang bersangkutan dengan kenaikan jenjang jabatan :

“Linearitas bidang ilmu dosen memberikan makna bahwa disiplin ilmu yang dimiliki dosen yang berkarya pada sebuah program studi yang pohon keilmuannya berbeda namun dalam satu rumpun yang sama, tetap dapat naik jejang jabatan, sepanjang dapat menunjukkan keterkaitan dalam pengembangan program studi tersebut, yang ditunjukkan oleh publikasi karya ilmiah dalam jurnal terakreditasi atau terindeks.”

“Dalam hal kenaikan jabatan ke Guru Besar dimungkinkan apabila bidang pendidikan S1 dan S2 berbeda dengan pendidikan S3 yang ditekuninya, sepanjang dapat menunjukkan publikasi internasional yang serumpun dengan pendidikan akhir yang ditempuhnya dengan merujuk pada ketentuan yang berlaku” ref

Profesor Riset ref

Written by Anjar Priandoyo

Agustus 7, 2017 at 7:48 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with

Rumpun Dikti

leave a comment »

Waktu kuliah dahulu, menjelang kelulusan, saya sangat galau menentukan dimana nanti saya harus bekerja. Setelah melakukan riset secara mendalam, ketemu banyak orang dan berbagai analisa SWOT, saya memutuskan paling tidak ada 3 jalur pekerjaan, berdasarkan skala prioritas yang bisa saya ambil.

  • Banting-Setir, menjadi Management Trainee, termasuk ODP, MDP, GDP, PCPM dan program sejenisnya. Ini juga menarik, baik BUMN atau Multinasional, sudah banyak cerita sukses dari program ini
  • Banci, Menjadi ABAPer, Functional atau SAP Basis lainnya. Ini pilihan yang menarik, sudah ada senior yang cukup sukses, sudah banyak cerita mengenai bagaimana mantan tim implementasi SAP mendapatkan posisi yang lebih tinggi paska implementasi.
  • Back-to-Basic, menjadi engineer, programmer dan segala yang berhubungan teknis dengan latar belakang pendidikan.

Saya rasa peringkat ini berlaku bagi orang IT secara umum, rata-rata ingin banting setir dari bidang aslinya, tapi tetap dalam koridor gaji yang besar. Kenyataannya? tidak seindah apa yang kita rencanakan. Buat saya sendiri misalnya, saya gagal mendapatkan kesempatan dalam jalur banting-setir dan jalur banci. Kenyataannya yang paling mudah didapatkan adalah jalur yang back-to-basic mengandalkan latar belakang pendidikan saya.

Buat beberapa teman yang lebih beruntung dari saya, meski mendapatkan kesempatan banting setir, semisal lewat program management trainee. Cukup banyak yang memutuskan untuk kembali ke jalur back-to-basic, mulai dari pertimbangan gaji yang relatif lebih kecil, risiko ditempatkan diluar kota, hingga risiko mendapatkan pekerjaan yang tidak sesuai. Misal, cita-citanya menjadi program MT dalam bidang sales, kenyataannya ditempatkan program MT dalam bidang IT, atau malah tidak terkait sama sekali misalnya bidang inventory.

Singkat kata, hampir 15 tahun kemudian, saya kembali bimbang. Paling tidak ada beberapa pilihan yang bisa saya ambil setelah selesai nanti. Dan pilihan yang tersedia sebenarnya sama persis dengan apa yang bisa saya pilih: Banting-setir, banci atau back-to-basic.

Ilmu Manajemen (570)
S3 Manajemen Industri (576)
S2 Manajemen Industri (576)
S1 –

Bidang Ilmu Keteknikan Industri (430),
S3 Teknik Energi (433)
S2 Bidang Keteknikan Industri Lain Yang Belum Tercantum (446)
S1 –

Bidang Teknik Sipil dan Perencanaan Tata Ruang (420)
S3 Teknik Lingkungan (422)
S2 Bidang Teknik Sipil Lain Yang Belum Tercantum (429)
S1 –

Bidang Teknik Elektro dan Informatika (450)
S3 Teknik Tenaga Elektrik (452)
S2 Bidang Teknik Elektro dan Informatika Lain Yang Belum Tercantum (469)
S1 Ilmu Komputer (459)

Written by Anjar Priandoyo

Agustus 7, 2017 at 7:08 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with

Guru Besar Ilmu Komputer

leave a comment »

Salah satu keunggulan bekerja sebagai akademisi adalah adanya “Jabatan Fungsional”. Jabatan Fungsional ini merupakan bentuk penghargaan terhadap sebuah keahlian/keterampilan dari seorang karyawan. Guru Besar adalah jabatan fungsional yang didapatkan secara bertingkat dari Asisten Ahli – Lektor – Lektor Kepala dan Guru Besar.

Artinya seorang karyawan universitas, bisa dengan fokus mengembangkan penelitiannya dan mendapatkan benefit yang layak. Ini mirip dengan karir di perusahaan yang mengakomodir fungsi spesialist. Misalnya spesialist Database Oracle yang gajinya sama dengan gaji seorang GM IT.

Jabatan fungsional ini sebenarnya adalah salah satu alternatif yang bisa ditempuh. Alternatif lainnya adalah jabatan struktural seperti Kepala Jurusan, atau jabatan struktur non akademik seperti Kepala Puskom.

Banyak pengukuran tingkat kemajuan sebuah negara dilihat dari jumlah guru besar yang dimiliknya. Namun, pada kenyataannya membentuk sistem per-guru-besar-an jauh lebih rumit dari sekedar memberikan penghargaan pada seseorang yang sudah puluhan tahun mengabdikan dirinya pada ilmu pengetahuan.

Guru Besar Ilmu Komputer:

  • Arif Djunaidy (b1958), Ir ITS 1984, MSc Manchester UK 1988, PhD Manchester UK 1992, Prof ITS Feb 2005 (46thn) (Data Engineering and Management)
  • Chan Basaruddin (b1961), SSi UGM 1984, MSc Manchester UK 1986, PhD Manchester UK 1990, Prof UI 2007? (Numerical Computation
  • Suhono Harso Supangkat (b1962), Ir ITB 1986, Dr Tokyo Japan 1998, Prof ITB Feb 2009
  • Zainal Arifin Hasibuan (b1959), Ir IPB, MLS Indiana, PhD Indiana US 1995, Prof UI April 2012 (Computer Science)
  • Munir (b1970?), Manajemen UPI, MIT UKM Malaysia 1997, Dr UKM Malaysia 2001, Prof UPI (Information Communication Technology) Apr 2014
  • Sri Hartati (b1964?), SSi UGM 1986, MSc Brunswick Canada 1990, PhD Brunswick Canada 1996, Prof UGM Juni 2014 (Artificial Intelligence)
  • Moedjiono (b1949), AAL 1971, MSc Naval Postgraduate US, PhD George Washington 1999, Prof Budi Luhur Oct 2014 (Computer Science)
  • Ridwan Sanjaya (b1977), SE Undip 2001, MS.IEC AU Thailand, 2006, Phd AU Thailand 2011, Prof Soegijapranata Jul 2017 (Information System)

Written by Anjar Priandoyo

Agustus 7, 2017 at 10:25 am

Ditulis dalam Science

Tagged with