Anjar Priandoyo

Simple Advice for Everyone

Posts Tagged ‘Energy

In IEA we trust

leave a comment »

Akhirnya, saya haqul yakin untuk menggunakan data kalkulasi murni dari IEA. Setelah melihat (lagi) beberapa hal dari bagaimana IEA mendesign databasenya:

  1. Bagaimana IEA mendata cooking coal, berapa yang diexport dan berapa yang digunakan domestik.
    Termasuk bagaimana IEA mendata Gas diesel oil/(distillate fuel oil), termasuk produk turunan crude oil lainnya. Ini mengingatkan saya tentang Denso/Bosch/Delphi yang merupakan first tier supplier, yang mungkin jarang kita dengar, tapi sangat signifikan perannya dalam GVN/GPN.

  2. Bagaimana IEA membuat satuan datanya TOE (on net calorific value basis)
    Contoh di tahun 2012, jumlah batubara untuk domestik adalah 61 juta ton, tapi ketika melihat angka TOE adalah sekitar 27 juta TOE. Ini sedikit membingungkan karena rumus konversinya adalah 1 Ton Coal = 0.7 Ton Oil Equivalent. Namun karena batubara jenis subbituminous yang digunakan lebih rendah kalori, masih dikalikan lagi dengan Net Calorific Valuenya sekitar 0.65 sehingga menjadi 27 juta TOE.

https://en.wikipedia.org/wiki/Heat_of_combustion
https://en.wikipedia.org/wiki/Fuel_oil
https://en.wikipedia.org/wiki/Petroleum_refining_processes
http://www.autonews.com/assets/PDF/CA41440317.PDF
https://en.wikipedia.org/wiki/Global_value_chain
https://en.wikipedia.org/wiki/Global_production_network

Written by Anjar Priandoyo

Februari 15, 2017 at 1:55 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with

Coal Industry

leave a comment »

coal-type

Kata teman saya, Batubara di Indonesia itu “beruntung”, tipe batubaranya bagus untuk pembangkit listrik, tambangnya pun terbuka sehingga aman. Belakangan saya baru tahu konsekuensinya. Batubara muda itu artinya tipenya sub bitumious/brown coal/steam coal/open pit sementara batubara tua itu tipenya antrasit/bituminous/black coal/cooking coal/underground pit. Artinya beruntung atau tidaknya itu relatif. Bisa jadi artinya “sial” karena kita tidak memproduksi batubara cooking, dan tidak punya industri yang butuh batubara cooking.

http://alturamining.com/wp-content/files/reports/2012%2001%2016%20Indonesian%20Coal%20Review.pdf
http://www.marston.com/portals/0/marston_review_of_indonesian_thermal_coal_industry.pdf
https://industry.gov.au/Office-of-the-Chief-Economist/Publications/Documents/aes/2015-australian-energy-statistics.pdf

https://www.iea.org/ciab/Australia_Role_Coal_Energy_Security.pdf

Written by Anjar Priandoyo

Februari 14, 2017 at 5:23 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with ,

Jatropha, Palm Oil vs The World

leave a comment »

Biodiesel yang paling tinggi Cetane Number-nya (mirip dengan Octane Number-nya Petrol/Gasoline) adalah Jatropha Curcas. Selain itu Jatropha Curcas bukanlah Edible Food seperti Soy atau Palm Oil, sehingga tidak ada issues mengenai Food vs Energy. Jatropha juga tangguh, drought-resistant plant. Lebih detail lagi ada aspek Viscocity, Flash Point, Caloric Value.

Masalahnya, musuh terbesar Jatropha itu bukanlah keunggulannya, tapi faktor ekonomi. Kisah yang sama seperti Bioethanol. Trend ini juga terjadi tidak hanya di Indonesia, tapi seluruh dunia. Ketika orang beramai-ramai mengkonsumsi biofuel, maka akan ada keseimbangan supply demand baru yang terbentuk.

Terpilihnya kelapa sawit sebagai biofuel terkuat, tidak lepas dari faktor sejarah. Khususnya penebangan hutan di tahun 1970-an yang membuat tersedianya lahan. Konon, setiap 1 hektar hutan menghasilkan $10,000 yang bisa digunakan untuk modal kebun sawit.

Di tahun 1969 jumlah lahan sawit hanya 10.000 hektar dan sekarang sekitar 13 juta hektar.

http://nationalgeographic.co.id/berita/2015/04/mengapa-kelapa-sawit-begitu-berkembang-di-indonesia

A review of biodiesel production from Jatropha curcas L. oil
http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1364032111000554

Comparison of palm oil, Jatropha curcas and Calophyllum inophyllum for biodiesel: A review
http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1364032111002085

What’s the most energy-efficient crop source for ethanol?

In Malaysia, it is economically viable to use palm oil as a feedstock for producing biodiesel as Malaysia is one of the world’s leading producers and exporters of palm oil.

Sejarah Kelapa Sawit di Indonesia
http://ditjenbun.pertanian.go.id/tinymcpuk/gambar/file/statistik/2016/SAWIT%202014-2016.pdf
https://m.tempo.co/read/news/2013/12/05/090534988/luas-kebun-sawit-mencapai-13-5-juta-hektare
http://industri.bisnis.com/read/20150212/99/402174/survei-membuktikan-31-persen-kebun-sawit-dikuasai-

Written by Anjar Priandoyo

Februari 10, 2017 at 2:23 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with

Briket Batubara (Coal Briquette) Transition 2005-2007

leave a comment »

Case 1: Domestic Battle: Coal Briquette vs LPG Transition
Membicarakan transisi energi di Indonesia tidak lepas dari kisah Briket Batubara. Secara konsep, Briket sudah diperkenalkan oleh Presiden Suharto pada tahun 1993. Selanjutnya dituangkan dalam keputusan menteri 2200.K/20/M.PE/1994 mengenai pengembangan briket batubara, termasuk mendorong PT Bukit Asam sebagai industri perintis.

Meski sudah dicanangkan sejak tahun 1993, Briket tidak banyak dilirik hingga tahun 2005. Seiring dengan harga minyak yang semakin meninggi, pengalihan subsidi BBM sehingga pemerintah harus mencari alternatif sumber energi lainnya. Hingga tahun 2005, konsumsi briket batubara sekitar 25.000-27.000 ton per tahunnya.

  • Subsidi, Program Satu Juta Tungku Batubara oleh Kemenkop & UKM tahun 2006 kemudian ditargetkan mencapai 10 juta tungku pada tahun 2009.
  • Industri, PT Bukit Asamn disiapkan membangun tiga pabrik dengan kapasitas produksi 500ribu ton. Di tahun 2009 produksinya mencapai 22.000 ton dan tahun 2014 hanya 16.000 ton.
  • Peraturan, Peraturan Menteri 47 tahun 2006 (September) mengenai Briket Batubara dikeluarkan lagi dengan lebih praktis (sudah bicara teknis kompornya seperti apa)
  • Riset, BPPT, LIPI

Program ini diproyeksikan bisa mengkonsumsi briket sebesar 1-1.9 juta ton pertahunnya -bila program ini berhasil. Sayangnya, takdir berbicara lain, program ini tidak berhasil. Sebagaimana kita tahu di 2015 konsumsi LPG sekitar 4-5 juta ton per tahunnya. Momentum Briket mulai kehilangan dengan Surat Wakil Presiden RI Nomor 20/WP/9/2006 tanggal 1 September 2006 untuk konversi atas 5,2 juta kilo liter kepada penggunaan 3,5 juta ton elpiji hingga tahun 2010.

Case 2: Biodiesel Battle: Jatropha Curcas vs Palm Oil.
Selain pertempuran di sektor domestic, pertempuran yang lain adalah dari sektor biodiesel. Minyak jarak merupakan kandidat utama biodiesel. Minyak jarak sudah perkenalkan sejak perang dunia II oleh jepang sebagai energi alternatif.

http://www.kemenperin.go.id/artikel/640/Satu-Juta-Tungku-Batubara-Disediakan-Kemenkop-&-UKM
http://www.antaranews.com/print/34044/rp58-miliar-pengadaan-tungku-briket-dialihkan-ke-kompor-gas
http://ahsonul-anam.blogspot.co.uk/2013/06/hari-gini-pakai-briket-batubara.html
http://www.energi.lipi.go.id/utama.cgi?cetakartikel&1129600070
https://m.tempo.co/read/news/2005/12/12/05670488/pt-bukit-asam-bangun-tiga-pabrik-briket
https://www.tambang.co.id/meski-rugi-ptba-tetap-produksi-briket-batu-bara-8281/
http://www.tribunnews.com/nasional/2014/10/01/jk-cerita-keberhasilan-konversi-minyak-tanah-ke-gas
http://news.liputan6.com/read/145706/pemerintah-tak-bisa-menolong-perajin-kompor-batubara

Written by Anjar Priandoyo

Februari 10, 2017 at 11:21 am

Ditulis dalam Science

Tagged with

Energy Transition Summary

leave a comment »

Written by Anjar Priandoyo

Februari 3, 2017 at 12:29 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with ,

Rumitnya Biodiesel

leave a comment »

(Ini tulisan paling aneh yang saya buat, terlalu banyak ide tidak terstruktur yang sulit untuk dijadikan satu, mohon maaf, jadi acak membacanya)

Biodiesel (Fatty Acid Methyl Ester/FAME) atau Bahan Bakar Nabati (BBN) Kepala Sawit adalah sebuah ide alternatif yang menarik. Biodiesel mulai disinggung sejak KEN 2006, yang selanjutnya pada tahun 2008 (PP 32 ESDM 2008) mengeluarkan peraturan mandatori biodiesel, termasuk dengan program semacam Desa Mandiri Energi dengan fokus Biodiesel dari Jarak (Jatropa Curcas).

Hasilnya, sudah bisa diduga, gagal. Wajar, sebagai orang yang pesimis dengan program-program pemerintah. Penyebabnya mungkin karena sasarannya pengusaha baru (rakyat kecil) dan penyerapannya (PLN/Pertamina) kurang tegas.

Program ini baru bisa dibilang beranjak berhasil pada tahun 2014, ketika serapan B10 mulai berjalan. Saat itu konsumsinya adalah sekitar 1.69 juta KL (43% dari target) ini bagus karena produksinya juga meningkat, dari 190rb KL (2009) menjadi 3.3jt KL (2014).

Akhirnya, program ini mulai terlihat hasilnya pada tahun 2015, setelah ada Badan Pengelola Dana Kelapa Sawit (BPDKS) yang mewajibkan pungutan dana sawit, dan mewajibkan Pertamina untuk menyerap Biodiesel. Dus, program ini hingga Feb 2017, berjalan dengan target terus diperbesar hingga B30 dan akhirnya hingga B100.

Keberhasilan Biodiesel paska 2015 ini menarik dan juga dipertanyakan. Contohnya mengenai Dana Pungutan Sawit. Banyak pihak keberatan dengan pungutan ini. Ceritanya mungkin berbeda dengan Dana Ketahanan Energi yang karena stakeholdernya publik, maka dana ketahanan energi bisa dibatalkan karena tuntutan publik.

Biodiesel ini stakeholdernya banyak, mulai dari produsen Sawit, produsen Biodiesel dan pengguna (Pertamina/PLN). Jadi wajar banyak konflik. Namun, ini konflik yang lebih baik dibandingkan yang terjadi di 2008.

Seperti biasa begitu dimunculkan banyak yang pesimis, alasannya karena produksi sawit sensitif dengan musim (el nino), berdampak pada harga sawit dunia, berdampak pada impor diesel. Alasan lain, semisal WALHI mengatakan program biodiesel hanya menguntungkan korporasi besar.

Pertanyaan besarnya (nanti sejarah yang akan menjawab) sustainable kah program ini?

Catatan:
Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) memungut dana USD 50 tiap ton sawit yang diekspor. Berlaku mulai 18 September 2015.

Biodiesel ini rumit karena ada beberapa hal:
– Subsidi, Subsidi Biodiesel semula 1500 menjadi 4000 dan Bioethanol semula 2000 menjadi 3000.
– Mean of Platts Singapore/MOPS, Pertamina hanya mau membeli Biodiesel bila lebih murah dari MOPS

Mandatori B10 (2014) sebesar 3.4 juta KL (1.7 PSO, 1.7 Non PSO)
Mandatori B15 (2015) 1 April 2015
Mandatori B20 (2016) sekitar 11 T dengan 11 perusahaan, diperkirakan sekitar 5.14 juta KL.

Kapasitas Pabrik Biodiesel 12 juta KL (Oct 2016)

Pertamina bisa kelebihan supply solar, karena ada kilang baru (residual fluid catalytic cracker (RFCC) di Cilacap) juga karena perlambatan ekonomi (orang mengurangi konsumsi solar).

PLN juga termasuk yang rumit dalam hal subsidi biodieselnya.

Biodiesel terlihat menarik karena Devisa negara (dari volume penjualan sawit), harga CPO jadi naik, tenaga kerja banyak.

Solusi untuk naik turunnya harga sawit adalah dana celengan CPO Supporting Fund. Yang per Oct 2016 mencapai 7T.

Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) merupakan adalah lembaga yang merupakan unit organisasi noneselon di bidang pengelolaan Dana Perkebunan Kelapa Sawit yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri Keuangan melalui Sekretaris Jenderal.

  • Undang Undang No 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara
  • Undang Undang No 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan
  • Peraturan Pemerintah No 24 Tahun 2015 tentang Penghimpunan Dana Perkebunan
  • Peraturan Presiden No 61 Tahun 2015 tentang Penghimpunan dan Penggunaan Dana Perkebunan Kelapa Sawit
  • Peraturan Menteri Keuangan No 133 Tahun 2015 tentang Pungutan Ekspor
  • Peraturan Menteri Keuangan No 113 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS)

Badan Pengelola Dana Kelapa Sawit resmi menjadi Badan Layanan Umum dan penetapan organisasi dan tata kerja Badan tersebut melalui Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia nomor 113/PMK.01/2015 tanggal 11 juni 2015 dengan salah satu maksud melaksanakan amanat pasal 93 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan yakni menghimpun dana dari pelaku usaha perkebunan atau lebih dikenal dengan CPO Suppoting Fund (CSF)

As of Feb 2017, statementnya adalah:
“‎Sejak BPDP Sawit berdiri dengan kebijakan biodiesel, sumbangan ke pajak mencapai Rp 1 triliun, penghematan US$ 1,1 miliar, nilai tambah industri mencapai Rp 4,4 triliun dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 300 ribu orang

http://www.thestar.com.my/business/business-news/2016/03/10/indonesia-warned-over-its-biodiesel-plan/
http://www.platts.com/latest-news/agriculture/singapore/indonesias-biodiesel-consumption-to-jump-54-under-27538415
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/10/26/131400826/Walhi.Mandatory.B15.Hanya.Untungkan.Korporasi.Besar
http://indonesianindustry.com/menanti-formula-baru-harga-biodiesel
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/11/20/134708526/Pertamina.Pusing.Tahun.Depan.Kelebihan.Solar.sampai.400.000.Barrel.Per.Bulan.
http://katadata.co.id/berita/2015/09/08/pemerintah-genjot-pemakaian-biodiesel-melalui-b20
https://finance.detik.com/industri/d-3312268/sampai-agustus-2016-dana-celengan-sawit-capai-rp-7-t
http://bisnis.liputan6.com/read/2844259/menko-darmin-kelapa-sawit-ri-jangan-tinggal-sejarah
http://www.riaubook.com/berita/3645/pertamina-teken-kontrak-rp11-triliun-dengan-11-perusahaan-biodiesel
http://koran.bisnis.com/read/20161005/452/589563/kapasitas-pabrik-biodiesel-naik-signifikan
http://www.bappenas.go.id/files/4514/7219/9707/Laporan_Akhir_Kajian_Pengembangan_BBN_2015_min.pdf
https://priandoyo.wordpress.com/2017/01/17/sejarah-energi-terbarukan-di-indonesia/
http://www.kemenkeu.go.id/sites/default/files/Dana%20Ketahanan%20Energi%20Untuk%20Efisiensi.pdf
http://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20160104184253-85-102101/jokowi-batalkan-rencana-pungutan-dana-ketahanan-energi/
http://nasional.kompas.com/read/2015/12/24/15233431/Soal.Pungutan.Dana.Ketahanan.Energi.Pemerintah.Dianggap.Ngawur.
http://www.kemenperin.go.id/artikel/15479/GIMNI-Minta-Besaran-Dana-Pungutan-Sawit-Dikaji
APPKSI: Dana Pungutan Sawit Untuk Subsidi Biodiesel Langgar UU!
http://kaltim.prokal.co/read/news/280923-pengusaha-merasa-terbebani
http://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20160120175405-92-105663/gapki-desak-pemerintah-evaluasi-kebijakan-mandatory-biodiesel/
http://gapki.id/kebijakan-mandatori-biodiesel-dan-pilihan-instrumen-implementasi-yang-sustainable/
http://www.republika.co.id/berita/koran/news-update/14/03/25/n2zjbt-mandeknya-pengembangan-biodiesel
http://www.kompasiana.com/bob911/program-biodiesel-dari-cpo-terancam-gagal-sebuah-analisa-sederhana_552c9e526ea83461138b4580
http://www.kompasiana.com/bob911/deindustrialisasi-ancam-indonesia-jadi-negara-gagal_5832d60cf0967340058b4571

Written by Anjar Priandoyo

Februari 2, 2017 at 2:28 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with

Sejarah Panas Bumi

leave a comment »

geothermal

geothermal-simple

Panas Bumi: Energi itu bukan perkara dua periode presiden

Ini tulisan dari W. Resmiasih Mansoer, Alanda Idral amat sangat bagus sekali. Kalau disuruh cerita mengenai panas bumi di Indonesia saya akan cerita dari beberapa sudut pandang:

Sudut Pandang Kontrak
1974 Kamojang serious investigation
1982 Contract Pertamina dengan Unocal (Chevron) untuk Salak (baru bisa produksi 12 tahun kemudian)
1994 Contract PLN dengan Wayang Windu, Karaha, Dieng, Patuha
1995 Contract/MOU Lahendong

Sudut Pandang Produksi
1983 Kamojang commercial use (after 5 years from mono block inauguration)
1994 Gunung Salak commercial use (after 12 years)
2000 Wayang Windu commercial use
2001 Lahendong commercial use

1983-2000 hanya membangun 6 power plant.

“…By the end of 2013 the existing install capaicity is 1,345.3 MWe, in which after 30 years of harnessing geothermal energy after Kamojang was inaugurated in 1983, the use of geothermal energy is relatively small compared to its resources…”

Key Date:
1983 First Geothermal Power Plant
1994 Geothermal Fixed Contract
2003 Geothermal Law

Written by Anjar Priandoyo

Februari 1, 2017 at 12:13 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with