Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Posts Tagged ‘Health

The Third Cause of Death

leave a comment »

Medically speaking, there are only two things that cause death: organ failure and disease, the later with the modern medicine can be 90% cured. However, universally speaking there is third cause of death: accident. Accident is wide category physical accident from traffic, homicide and suicide to chemical accident such as poison, air pollution, smoking and allergy, and psychological accident such as depression and fear.

Psychological accident such as fear can cause death indirectly by making an organ failure. People that scared to much might get a heart rhythm problem (Ventricular fibrillation) which cause sudden death ref. Chemical accident such as inhaling CO in concentration higher than 12,800 ppm will cause death within 1 minute ref, CO works as chemical suffocation (asphyxia) that makes blood can not deliver oxygen. However long exposure of CO might cause something that totally different such as cancer.

Therefore, the same problem as customs (duty) sector that makes complicated classification of tradeable product (e.g HS, ISIC) also happen in health sectors. The aim is not only accuracy but also on the mitigation. If the problem is accuracy, an allergy specific cause of death should be classified which in fact is agreed not to because its no effective.

Confusing Cancer?
Cancer is second leading cause of death estimating for 7.6 million death in 2008 WHO, number one is Cardiovascular disease (CVD) WHO. One of the biggest challenge in classification of cause of death is cancer. The reason is nobody knows what cause cancer, well some says that “cancer is a complex group of diseases with many possible causes” instead saying “we did knows”. People don’t know what cause cancer, but people assume that some chemicals, environmental toxins, radiation cause cancer. So if you don’t know what cause it how you classify it? People might understand the pattern such as heart cancer is rare (cells in the heart do not divide, heart if relatively large organ).

Global Cancer Statistics tell many things about cancer. For example breast cancer is leading cause of death in cancer for female, while lung cancer is for male. It is interesting that heart cancer is rare. The explanation is because the cells in the heart do not divide, heart cancer is a rare condition. Another thing in the classification is the original site of cancer. For example in cancer study, cause of death is always attributed to the primary site where the cancer started e.g in skin cancer, although when the cancer become bigger (metastatis cancer) that spread to other body part such as heart or lug ref.

Iklan

Written by Anjar Priandoyo

Agustus 28, 2017 at 11:08 am

Ditulis dalam Science

Tagged with

Penyebab dan Faktor Risiko Kematian

leave a comment »

Hidup ini seharusnya sehat (health), namun masalahnya cuman dua, kematian (death) dan penyakit (disease). Disease dan Death ini terkait, biasanya orang kena disease dulu baru death. Untuk mengelola kesehatan, digunakan metrik pengukuran kematian (mortality) dan kesakitan/penyakitan (morbidity). Hanya mengukur lewat morbidity kurang maksimal, sehingga perlu konsep yang lebih baik, yaitu Functional Disability (Gangguan Kesehatan). Konsep Functional Disability itu diukur (diquantifikasi) dengan DALY.

Istilah:

  • Disease Burden = Impact of a health problem (Dampak masalah kesehatan) = diukur dengan DALY (Disability Adjusted Life Years)
  • Mortality = Death = Attributable Death = Kematian
  • Morbidity = Disability = Attributable Disease Burden = Kesakitan/Penyakitan (Ringkih) / Kurang Sehat = Illness
  • Functional Disability = Any long-term limitation in activity resulting from a condition or health problem = Gangguan Kesehatan
  • Disability = An impairment that may be cognitive, developmental, intellectual, mental, physical, sensory = Cacat (Fisik), Gangguan Mental (Mental Illness), Cacat bukan gangguan kesehatan

Risk Factors: Preventive vs Curative Health Care
Cara terbaik untuk menjaga kesehatan adalah langkah pencegahan (preventive) dibandingkan dengan penyembuhan (curative). Nah, jika bicara masalah pencegahan maka harus bicara konsep Risk factors. Risk Factors dalam konsep individual health dan konsept societal health ini berbeda. Contoh kegemukan, kegemukan baik dalam konsep individual maupun societal adalah risk faktor untuk penyakit jantung. Namun air pollution, dalam konsep individual bisa menjadi cause of death e.g keracunan carbon monoxide, dalam konsep societal ambient/indoor air pollution adalah risk factor.

Sehingga dalam societal health (public health) Penentuan risk factors ini dilakukan dengan cara tertentu, misalnya:

  • They were likely to be among the leading causes of the disease burden globally or regionally;
  • They were not too specific, for example, every one of the hundreds of air pollutants or fruits and vegetables (penyebab kematian akibat alergi kacang), or too broad, such as the environment or diet (kondisi berat badan tubuh) taken as a single exposure
  • The likelihood of causality was high based on collective scientific knowledge
  • Reasonably complete data on exposure and risk levels were available or sufficient data were available to extrapolate information when necessary;
  • They were potentially modifiable

Untuk meningkatan kesehatan, maka dibutuhkan data mengenai tingkat dan distribusi penyakit (disease) dan kecelakaan (injuries), termasuk penyebabnya (causes). Masalahnya, data kematian dan data rumah sakit (hospitalization) biasanya fokus pada penyembuhan (curative/palliative). Sementara untuk mencegah, yang harus dianalisa adalah risk factors. Catatan, tapi perlu diingat bahwa “Most disease are caused by multiple factors” sehingga perlu lagi population fraction dan exposure.

Death by cause (Cause of death) and DALY by cause
Death by attributable risks factor (risk factors = proximal determinants = Causal attributions) and DALY by attributable risk factor
Risks by Cause

Baik mortability maupun morbidity punya risk factor yang berbeda

Dalam dunia statistik kesehatan, metrik yang sering dipakai adalah DALY (Disability-adjusted life year). DALY-nya WHO ini, sama seperti MTOE-nya IEA, atau GDP-nya World bank. Seringkali membingungkan namun merupakan metrik yang paling penting dalam menyusun kebijakan, meski banyak permasalahan. Salah satu permasalahannya adalah “universalitas” gangguan kesehatan, antara Depresi, Sakit Perut dan Kanker Usus merupakan gangguan kesehatan, namun dalam hal cara kerja dan cara menyembuhkan sama sekali berbeda. Ini sama seperti metrik MTOE yang juga menganut prinsip “universalitas” energi, sehingga fossil energy harus dianalisa sama dengan renewable energy, yang secara konsep fisika-nya saja sangat berbeda.

Metrik yang pertama untuk statistik kesehatan adalah Life Expectancy (harapan hidup), ini yang paling sering dimuat di media, karena mudah untuk dianalisa dan dipahami, dinyatakan dalam jumlah tahun. Penerapannya juga mudah, misalnya, harapan hidup lebih panjang, artinya sistem kesehatannya bagus. Contoh Indonesia harapan hidupnya 69 thn, UK harapan hidupnya 81 thn.

Padahal, metrik yang serupa dan lebih penting adalah Mortality Rate (angka kematian). Contoh, mortality rate infantnya Indonesia 23.5 per 1000 kelahiran atau sekitar 2.3%. Di Malang misalnya child mortality rate-nya adalah sekitar 0.9%, di Negara maju infant mortality rate bisa dibawah 0.4% (UK, FR). Life expectancy ini equivalent dengan Crude Mortality Rate.

Kenapa banyak orang kesulitan membedakan antara penyebab dan faktor risiko
Penyebab (cause) kematian hanya tiga: Tertular (given) sakit (Communicable (CD), maternal, neonatal, nutritional), sakit sendiri (Non-CD) dan kecelakaan. Saat ini didunia tahun 2015, penyebab kematian terbesar adalah yang non communicable (53%) seperti Jantung, Kanker, Paru-paru (PPOK/COPD, Bronkhitis), dan Diabetes. Meski demikian penyakit yang Group I (CD, maternal dkk tadi 36%) juga masih sangat tinggi seperti Diare, TBC, Malaria. Kecelakaan (10%) sendiri masih (dan terus akan) punya porsi yang besar dalam penyebab kematian.

Faktor risiko (risk factor) kematian hanya tiga: metabolisme (makanan), behavioral (perilaku) dan lingkungan. Faktor risiko metabolisme misalnya: lingkar pinggang, tekanan darah, triglyceride, cholesterol, gula darah ref. Faktor risiko behavioral misalnya merokok, jarang olahraga, alkohol, termasuk unsafe sex. Faktor risiko metabolisme dan behavioral ini sering kali digabung menjadi satu dalam pola makan yang tidak sehat (kebanyakan makan daging sehingga gemuk dan kolesterol, sedikit serat, sedikit sayur). Faktor risiko lainnya adalah lingkungan, khususnya polusi udara, dan dinegara berkembang termasuk masalah mendasar seperti sanitasi lingkungan (air, sewage).

Alcohol, Depresi, dan merokok
Peringkat satu paling berbahaya adalah alkohol, karena alkohol adalah penyebab kematian (Cause of Death), kedua adalah Depresi karena depresi adalah penyebab DALY (Cause of DALY), sementara rokok, rokok adalah risk factor, baik untuk death maupun daly. Polusi udara kedudukannya sama dengan rokok. Catatan, Alcohol disorder dan Drugs disorder risk factor attributionnya 100%, sementara Road Injuries risk factor attributionnya 35%. Depresi adalah penyebab DALY

Notes:

  • Digestion (mechanical level) refers to how the body processes food in the gastrointestinal (GI, pencernaan / perut usus) tract and eliminates food waste via the intestines. Metabolism (cellular level) refers to how the cells utilize the energy we have absorbed from food during digestion
  • Distal determinants of health include the national, institutional, political, legal, and cultural factors that indirectly influence health by acting on the more proximal factors, their interrelated mechanisms, levels, trends, and distributions. These distal factors are usually more stable than proximal determinants.

An Evolutionary Perspective on Food and Human Taste ref
Evolutionary approaches to depression ref

Written by Anjar Priandoyo

Agustus 17, 2017 at 11:21 am

Ditulis dalam Science

Tagged with

Toxicological

leave a comment »

To kill an average 65 kg person using water just require 6 liter of water (LD50 = 90ml/kg),

  • Paracetamol around 123g (250 butir) or (LD50=1.9g/kg), common lethal dosage 24g, some cases just 10g. Maximum is 8 tables/days. 4g/days
  • Caffeine (LD50 = 0.192g/kg) = 12.48g, espresso 0.1g, it require around 100 glass of coffee.
  • Sodium cyanide (LD=6.4mg/kg) = 0.4gram, (1 tea spoon = 4 gram) > Histotoxic hypoxia
  • Carbon monoxide, death 35 ppm NIOSH, natural 0.2 ppm ref

Toxicological Profile for Sulfur Dioxide (US HHS) 1998, Toxicological Profile for Carbon Monoxide (US HHS) 2012 ref CDC

Notes:

  • Mass-median-diameter (MMD). The log-normal distribution mass median diameter. The MMD is considered to be the average particle diameter by mass.
  • Respiratory System (sistem pernafasan), Respiratory Tract (saluran pernafasan)

After carbon monoxide is breathed in, it enters your bloodstream and mixes with haemoglobin (the part of red blood cells that carry oxygen around your body), to form carboxyhaemoglobin. When this happens, the blood is no longer able to carry oxygen, and this lack of oxygen causes the body’s cells and tissue to fail and die ref NHS

Written by Anjar Priandoyo

Agustus 17, 2017 at 5:53 am

Ditulis dalam Science

Tagged with

Mengenal depresi

leave a comment »

Beberapa hari ini banyak berita mengenai depresi, Kasus 1: Serda Wira Sinaga (11 Aug 2017) yang konon sejak tahun 2014 sudah terindikasikan depresi, dan menjadi headline karena memukul polisi. Kasus 2: Mahasiswa LN yang konon sejak S1 tahun 2008 menderita depresi dan menjadi headline karena perilaku extrovert-nya. Baik kasus-1 dan kasus-2, sama-sama berusia sekitar 27 tahun, dan sudah terindikasi depresi sejak umur 20-an.

Apa penyebab depresi sangat kompleks, sehingga bisa juga mengatakan bahwa penyebab depresi tidak diketahui secara pasti. Jadi kasus 1 yang anggota TNI di perbatasan, bukanlah penyebab depresi, toh bertahun-tahun ribuan tentara dikirim ke perbatasan sehat-sehat saja. Kasus 2 yang mahasiswa luar negeri juga bukan penyebab depresi dengan asalan yang sama.

Secara ilmiah pun mengacu pada DSM-IV, medis hanya bicara mengenai klasifikasinya simptomnya (DSM describes symptoms and does not discuss the causes of the disorders ref). Mengurangi dampak depresi pun sangat kompleks, bisa lewat medis dengan obat penenang, bisa juga dengan menghilangkan stressornya. Misalnya, TNI yang ditugaskan di perbatasan, bisa disuruh pulang. Namun apakah benar-benar sembuh (normal) tidak diketahui.

Intinya, kalau ada kampanye mental health awareness itu lebih untuk mengurangi risikonya saja. Bukan untuk mencegah, menyembuhkan atau mengurangi. Intinya depresi tidak ada obatnya. Lha wong flu dan asma saja tidak ada obatnya.

Catatan:
Hana Alfikih, ref bbc
Bipolar disorder, usual onset 25 years old

Written by Anjar Priandoyo

Agustus 13, 2017 at 8:33 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with

Mengobati diri sendiri

leave a comment »

Di Cirebon, saya sering kali bersin bersin (sneezing) setiap membersihkan debu dirumah. Kata orang tua itu mungkin alergi, walau tidak pernah dijelaskan apa itu alergi dan apa obat yang harus diberikan. Kesimpulan waktu itu, ini hanya sementara saja dan memang bisa hilang. Begitu alergi bertambah kompleks, semisal karena udara dingin, atau muncul di pagi hari, kesimpulannya tetap sama itu alergi. Hanya saja begitu

Infection is caused by a bacterium, virus or fungus,
Inflammation is the body’s response to Infection

The key treatments for asthma are steroids and other anti-inflammatory drugs. These asthma drugs both help to control asthma and prevent asthma attacks. Steroids and other anti-inflammatory drugs work by reducing inflammation, swelling, and mucus production in the airways of a person with asthma. ref asma webmd
Antiinflamatory

  • Painkiller
  • Reduce inflamation

Inflamatory

  • Non imunologis: Luka (tidak ada reaksi alergi)
  • Imunologis: (reaksi antigen-antibodi) e.g asma

The history of anti-inflammatory drugs and their mechanism of action ref
Aspirin, also known as acetylsalicylic acid (ASA), is a medication used to treat pain, fever, and inflammation

Written by Anjar Priandoyo

Agustus 5, 2017 at 5:47 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with

Drugs (Chemistry)

leave a comment »

Pharmacy pada dasarnya adalah Medicinal Chemistry, dimana bagian yang sering dipakai adalah Organic Chemistry

Update 26 Aug 2017

Narkoba (drugs) pada dasarnya adalah side effect dari industrialisasi, sama persis seperti polusi udara. Artinya memahami narkoba harus melihatnya dari sisi industrialisasi, dari sisi modern phamarmacy. Narkoba ini sudah diproduksi sejak ribuan tahun yang lalu dalam bentuk tanaman (organik) seperti Ephedra, Papaver, Cannabis dan Erythroxylum.

  • Ephedra Sinica (ephedrine, pseudoephedrine)
  • Papaver Somniferum (morphine, codeine, noscapine, papaverine, thebaine)
  • Cannabis Sativa (tetrahydrocannabinol/THC, cannabidiol, cannabinol, tetrahydrocannabivarin)
  • Erythroxylum Coca (cocaine, benzoylecgonine, ecgonine).

Lebih lanjut industrialisasi mendorong pertumbuhan beberapa narkoba seperti

  • Lysergic acid diethylamide (LSD), made Albert Hofmann in Switzerland in 1938 Sandoz (Novartis), Psychedelic drug
  • Methylenedioxymethamphetamine (MDMA) aka Ecstasy, first synthesized in 1912 by Merck chemist Anton Köllisch., Re-synthesized by Alexander Shulgin in 1970
  • Ephedrine 1885

Bicara narkoba pada dasarnya adalah bicara mengenai convention (kesepakatan, aturan). Narkoba didefinisikan lewat UN, dalam bentuk UN Convention 1961, 1971 dan 1988. Pengendalian narkoba ini tidak bisa dilakukan oleh satu negara saja, tapi harus melibatkan seluruh negara di dunia, dengan pengendalian yang terintegrasi.

Peredaran narkoba sangat dipengaruhi oleh faktor geografis hingga budaya. Di Asia misalnya, narkoba paling populer adalah jenis sabu-sabu (Methamphetamine), sabu ini popular karena identik dengan produktivitas. Myanmar merupakan produsen opium terbesar didunia setelah Afghanistan, merupakan pemimpin untuk narkoba di asia. Untuk EU dan US, narkoba yang paling populer adalah berjenis Opium dan Kokain. Hanya saja pattern ini lebih kompleks dari kelihatannya. Di Indonesia rokok menyumbang kontribusi yang besar, untuk abuse sementara di eropa lebih banyak pada alkohol.

Saat ini, pintu masuk dari narkoba sangat banyak. Rokok misalnya, merupakan pintu masuk pertama, biasanya dilanjutkan dengan minuman keras, kemudian obat tidur, dilanjutkan obat penenang.

Notes:
– Amphetamine-type stimulants (ATS): amphetamine, methamphetamine, methcathinone, and ecstasy-group substances

Methamphetamine (Sabu Sabu)
Diphenhydramine (Nytol)
Nitrazepam (Mogadon, Dumolid)
Chlorphenamine Maleate (CTM)
http://www.boots.com/boots-allergy-relief-4mg-tablets-chlorphenamine-maleate-60-tablets-6-years-10173500

Pil BK:
Barbiturate
Bromazepam (lexotan)
Diazepam (valium)
Flunitrazepam (rohypnol)
Nitrazepam (mogadon, dumloid)
Nitradiazepam (nipam)

Trihexyphenidyl (THP)
Dextromethorphan (DXM, DM, DMP)

Nimetazepam

Benzodiazepines (BZD, BZs)

Prekursor UU 35 tahun 2009
1. Acetic Anhydride.
2. N-Acetylanthranilic Acid.
3. Ephedrine.
4. Ergometrine.
5. Ergotamine.
6. Isosafrole.
7. Lysergic Acid.
8. 3,4-Methylenedioxyphenyl-2-propanone.
9. Norephedrine.
10. 1-Phenyl-2-Propanone.
11. Piperonal.
12. Potassium Permanganat.
13. Pseudoephedrine.
14. Safrole

TABEL II
1. Acetone.
2. Anthranilic Acid.
3. Ethyl Ether.
4. Hydrochloric Acid.
5. Methyl Ethyl Ketone.
6. Phenylacetic Acid.
7. Piperidine.
8. Sulphuric Acid.
9. Toluene.

  1. Obat penenang/obat tidur (sedativa-hipnotika): Pil BK, megadon, diazepam, bromazepam, obat tidur (nitrazepam, estazolam)
  2. Obat anti depresi: Nitrazepam, Dumolid dan Megadon.
  3. Antipsikotik: clozaril, dogmatil, stelazine
    http://health.liputan6.com/read/498478/bahaya-laten-dari-obat-obatan-yang-bikin-nge-fly

https://www.reddit.com/r/Drugs/

Written by Anjar Priandoyo

Agustus 4, 2017 at 9:11 am

Ditulis dalam Science

Tagged with ,

Kesehatan Jiwa (mental health)

leave a comment »

Kalau ada seorang orang yang mengeluh stress (too much pressure) atau anxiety (cemas, nervous) atau depresi (mental disorder) karena kehilangan pekerjaan, maka orang tersebut bisa dikatakan memiliki gangguan mental (jiwa). Kalau dalam pandangan orang beragama diatas jiwa adalagi konsep mengenai soul (ruh), atau batas yang agak tipis misalnya batin atau hati yang mirip-mirip penggunaannya. Contoh hati saya sakit, batin saya sakit, jiwa saya sakit.

Penyakit jiwa ini, kalau dari kecil bisa dikatakan disebabkan neurodevelopmentnya bermasalah misalnya autism dan spektrumnya. Namun, ada juga penyakit jiwa yang baru muncul ketika dewasa. Misalnya, baru umur 25 tahun bipolar biasanya muncul -sejalan dengan quarter life crisis. Penyakit jiwa ini juga berkembang dengan sangat kompleks. Misal mengakibatkan personality disorder (gangguan kepribadian)

Gangguan jiwa (mental disorder) aka Penyakit jiwa (mental illness) adalah perilaku (behavioral) or mental pattern that may cause suffering or a poor ability to function in life

Seorang anak biasanya akan percaya (trust) dengan orang tuanya. Seorang yang berpikir rasional belum tentu percaya dengan orang tuanya. Kenapa? karena percaya adalah kondisi emosi seseorang.

*Emotion is any conscious experience characterized by intense mental activity and a high degree of pleasure or displeasure. There is no consensus on emotion definition.

Menurut data WHO (2016), terdapat sekitar 35 juta orang terkena depresi, 60 juta orang terkena bipolar, 21 juta terkena skizofrenia, serta 47,5 juta terkena demensia.

Read:
WHO Global Burden Database (GBD)
WHO Global Mental Health

ref, ref

Written by Anjar Priandoyo

Juli 23, 2017 at 7:53 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with