Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Posts Tagged ‘Health

Economic Measure of Life

leave a comment »

Life harus bisa diukur secara nominal, karena secara ilmiah ini akan memudahkan untuk menganalisa policy mana yang lebih efektif, misalnya merokok, antara

Increase in tobacco taxes was the most cost-effective strategy, while a workplace smoking ban was the least cost-effective option, with a cost-effectiveness ratio of US$5 and US$267, respectively ref

1.DALY (disability-adjusted life year) measure of overall disease burden, 1990s
Paling sederhana, bisa diketahui berapa lossnya (disability atau early death). Untuk economic measurement e.g makro ekonomi bisa dikalikan dengan GDP perkapita (walaupun tidak begitu tepat). Bisa juga digunakan untuk treatment case, misalnya $670/DALY saved.

Belanja rokok 208T, DALY 8.5juta, Asuransi RS Kelas B 13,6T, Total 374T. Versi Health and Economics Costs of Tobacco in Indonesia (Ascobat Gani FKM UI) 276T dengan asumsi GDP per kapita hanya dihitung pengeluaran rumah tangga sekitar 74% saja, sehingga total sekitar 276T. ref 2015, ref 2018

US DALY Value in 2008: $120,000 US VSL Value in 2008: $2,64 million ref

Best estimates of the gross cost per DALY averted for five water interventions ranged from US$142 for flocculation to US$53 for chlorination. DALY might 3-5 times larger than GDP per kapita ref

QALY rule of thumb £20,000-25,000 ref

2.Value of Statistical Life, economic value used to quantify the benefit of avoiding a fatality
VSL 120 times per capita income ref

3.Health Expenditure per kapita
Biaya kesehatan per kapita rendah sekitar $40 ref.

Iklan

Written by Anjar Priandoyo

Juli 19, 2018 at 11:44 am

Ditulis dalam Life

Tagged with

Ten percent factor

leave a comment »

A risk factor is any attribute, characteristic or exposure of an individual that increases the likelihood of developing a disease or injury. Some examples of the more important risk factors are underweight, unsafe sex, high blood pressure, tobacco and alcohol consumption, and unsafe water, sanitation and hygiene ref. In Indonesia, as of 2010 cause of death 1,508,000 death, while risk factors that can be attributed is is 890,000 death or 59%.

Why risk factors is not 100%? because collecting data for risk factors is difficult, should meet certain criteria (so it would not wasted), a risk factor should have five criteria ref which are 1) a potential for a global impact; 2) a high likelihood that the risk causes each associated disease; 3) a potential for modification; 4) being neither too broad (e.g. diet) nor too specific (e.g. lack of broccoli); 5) reasonably complete data were available for that risk. In Indonesia air pollution is the fifth risk factors or around 10% death contributing for 155,000 death. For ambient air pollution is around 70,000 death or around 4%.

In the environment economic, this 4% is very huge number, its bigger than transportation injuries 3.5%, its even bigger than sanitation 3.4%. As comparison in crop impact, crop loss is bigger than 10% and similar with human its also caused by disease and lack of nutrition.

Written by Anjar Priandoyo

Juli 18, 2018 at 10:10 am

Ditulis dalam Science

Tagged with

Kematian dan kegagalan panen

leave a comment »

1.Berapa banyak
Di Indonesia, dengan penduduk sekitar 250 juta, ada sekitar 1.5 juta (2010, GBD) yang meninggal atau 1.8 juta orang yang meninggal (total death) setiap tahunnya. Dari 1.5 juta orang yang meninggal tersebut, penyebab kematian (cause of death) tertinggi Non-Communicable Disease (NCD) 68% seperti jantung (cardiovascular disease), kanker (neoplasm) dan diabetes. NCD ini wajarlah, tidak bisa dicegah. Namun penyebab kematian Group I (CD, Maternal, Neonatal dan Nutritional Diseases) seharusnya bisa dicegah secara medis, porsinya sekitar 25%, termasuk Injuries yang porsinya sekitar 7%.

Di Group NCD sendiri, penyebab terbesar adalah Jantung sekitar 7% atau sekitar 511 ribu orang. Kecelakaan lalu lintas sendiri sekitar 43 ribu atau sekitar 2%.

Tapi, penyebab kematian (cause of death) ini sebenarnya masih bisa dicegah lebih dini dengan memperhatikan perilaku gaya hidup (behavioral risk), pola makan (metabolic risk), dan lingkungan (environmental risk). Gaya hidup contohnya makan, rokok, alkohol, kurang gerak. Metabolic contohnya tekanan darah, berat badan, kolesterol. Untuk lingkungan sendiri mulai dari polusi udara, keselamatan kerja dan transportasi. Ambient air pollution sendiri berkontribusi sekitar 100 ribu orang kematian.

Data GBD sendiri merupakan benchmark, sebagai contoh data korlantas polri sekitar 28-38 ribu orang ref, atau data kecelakaan kerja sekitar 2500 orang pada tahun 2015 ref masih setara dengan data GBD. Atau data dari UN pada 2017 yang mengatakan jumlah total death sekitar 1.8 juta orang ref.

2.Berapa besar dampaknya
Setelah punya data total death, termasuk data death cause/risk, selanjutnya harus menemukan ukurannya, semisal setiap kenaikan 10ug/m3 PM2.5 increase mortality risk sebesar 6% pertahun ref

Kerusakan panen akibat polusi udara
1.Berapa banyak
Produk pertanian terpengaruh dengan kegagalan sekitar 3-16% ref UNECE. Padi di India, akibat perubahan iklim dan polusi udara bisa kehilangan panen hingga 50% ref Guardian pada lokasi yang padatref PNAS, rata-rata sekitar 20%.

Padi sendiri crop yang kompleks, dengan loss sekitar 37% sekitar 10-15% loss karena penyakit dan 20% karena faktor diluar penyakit ref gatech edu presentation very good. Ozone sebagai polusi paling berbahaya untuk pertanian punya siklus yang harus diperhatikan oleh petani. Ozone sendiri merusak tanaman dengan berbagai cara: 1) merusak stomata daun; 2) merusak chloroplast outer sehingga fotosintesis berkurang; 3) merusak akar karena karbon uptake berkurang. SO2 misalnya merusak water stress level, membrane permeability, synthesis of protein. Solar irradiation sendiri bisa merusak tanaman.

Ozone sendiri kompleks, terdiri dari Ground level ozone dan Surface level ozone (atmospheric).

Written by Anjar Priandoyo

Juli 13, 2018 at 1:39 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with ,

Latest updated on health impact of energy development

leave a comment »

Coal is bad for environment, health (7500 premature death in 2011). Government subsidies for health is 140T IDR, including private is 377T IDR. Fuel subsidies is 433 T, Coal subsidies 12T.

For greater benefit: stop coal, invest health, convert to renewable. ref IISD 2018, ref HEI Airpollution Dev Country 2010

Written by Anjar Priandoyo

Juli 12, 2018 at 9:53 am

Ditulis dalam Science

Tagged with

Melawan Hay Fever: Bulan Mei – Juni

leave a comment »

Kondisi tubuh kita secara umum dibagi dua: sehat dan sakit. Sehat artinya berkinerja baik, bisa bekerja dengan baik, bisa mencari makan, bisa mencari minum, bisa mencari tempat berteduh, bisa mempertahankan diri dari bahaya, bisa bertahan hidup. Sakit adalah kondisi sebaliknya, tidak bisa bekerja dengan baik, tidak bisa bertahan hidup.

Sebuah rumah yang sehat, punya sistem keamanan yang baik, punya alarm, punya satpam. Ada orang yang punya sistem keamanan baik, ada maling alarm berbunyi, tidak ada maling alarm tidak berbunyi. Ada orang yang tidak punya sistem keamanan sama sekali, tidak punya alarm tidak punya satpam. Sementara ada orang yang punya sistem keamanan tapi tidak baik, alarm sering kali berbunyi tanpa ada maling yang masuk.

Saya mungkin termasuk yang kedua, punya sistem keamanan, tapi tidak baik. Sering kali alergi karena hal-hal kecil seperti debu. Kalau sudah begitu, tujuan saya meminum obat bukan untuk kesembuhan, tapi untuk mematikan alarm keamanan. Makanya saya baru paham, kalau ga sakit ga usah minum obat. Ini baru saya rasakan pada bulan Juni ini, kalau pada siang hari tidak merasakan sakit, maka obat hayfever tidak perlu diminum pada siang hari, tapi diminum pada malam hari. Nanti malam sebelum tidur akan saya periksa lagi, seberapa efektif strategi ini. Kalau siang ini sementara rasanya cukup efektif. Alergi hanya muncul kalau berada diluar rumah, berjalan-jalan dimana banyak pollen berterbangan.

Written by Anjar Priandoyo

Juni 15, 2018 at 3:41 pm

Ditulis dalam Life

Tagged with

The Third Cause of Death

leave a comment »

Medically speaking, there are only two things that cause death: organ failure and disease, the later with the modern medicine can be 90% cured. However, universally speaking there is third cause of death: accident. Accident is wide category physical accident from traffic, homicide and suicide to chemical accident such as poison, air pollution, smoking and allergy, and psychological accident such as depression and fear.

Psychological accident such as fear can cause death indirectly by making an organ failure. People that scared to much might get a heart rhythm problem (Ventricular fibrillation) which cause sudden death ref. Chemical accident such as inhaling CO in concentration higher than 12,800 ppm will cause death within 1 minute ref, CO works as chemical suffocation (asphyxia) that makes blood can not deliver oxygen. However long exposure of CO might cause something that totally different such as cancer.

Therefore, the same problem as customs (duty) sector that makes complicated classification of tradeable product (e.g HS, ISIC) also happen in health sectors. The aim is not only accuracy but also on the mitigation. If the problem is accuracy, an allergy specific cause of death should be classified which in fact is agreed not to because its no effective.

Confusing Cancer?
Cancer is second leading cause of death estimating for 7.6 million death in 2008 WHO, number one is Cardiovascular disease (CVD) WHO. One of the biggest challenge in classification of cause of death is cancer. The reason is nobody knows what cause cancer, well some says that “cancer is a complex group of diseases with many possible causes” instead saying “we did knows”. People don’t know what cause cancer, but people assume that some chemicals, environmental toxins, radiation cause cancer. So if you don’t know what cause it how you classify it? People might understand the pattern such as heart cancer is rare (cells in the heart do not divide, heart if relatively large organ).

Global Cancer Statistics tell many things about cancer. For example breast cancer is leading cause of death in cancer for female, while lung cancer is for male. It is interesting that heart cancer is rare. The explanation is because the cells in the heart do not divide, heart cancer is a rare condition. Another thing in the classification is the original site of cancer. For example in cancer study, cause of death is always attributed to the primary site where the cancer started e.g in skin cancer, although when the cancer become bigger (metastatis cancer) that spread to other body part such as heart or lug ref.

Written by Anjar Priandoyo

Agustus 28, 2017 at 11:08 am

Ditulis dalam Science

Tagged with

Penyebab dan Faktor Risiko Kematian

leave a comment »

Hidup ini seharusnya sehat (health), namun masalahnya cuman dua, kematian (death) dan penyakit (disease). Disease dan Death ini terkait, biasanya orang kena disease dulu baru death. Untuk mengelola kesehatan, digunakan metrik pengukuran kematian (mortality) dan kesakitan/penyakitan (morbidity). Hanya mengukur lewat morbidity kurang maksimal, sehingga perlu konsep yang lebih baik, yaitu Functional Disability (Gangguan Kesehatan). Konsep Functional Disability itu diukur (diquantifikasi) dengan DALY.

Istilah:

  • Disease Burden = Impact of a health problem (Dampak masalah kesehatan) = diukur dengan DALY (Disability Adjusted Life Years)
  • Mortality = Death = Attributable Death = Kematian
  • Morbidity = Disability = Attributable Disease Burden = Kesakitan/Penyakitan (Ringkih) / Kurang Sehat = Illness
  • Functional Disability = Any long-term limitation in activity resulting from a condition or health problem = Gangguan Kesehatan
  • Disability = An impairment that may be cognitive, developmental, intellectual, mental, physical, sensory = Cacat (Fisik), Gangguan Mental (Mental Illness), Cacat bukan gangguan kesehatan

Risk Factors: Preventive vs Curative Health Care
Cara terbaik untuk menjaga kesehatan adalah langkah pencegahan (preventive) dibandingkan dengan penyembuhan (curative). Nah, jika bicara masalah pencegahan maka harus bicara konsep Risk factors. Risk Factors dalam konsep individual health dan konsept societal health ini berbeda. Contoh kegemukan, kegemukan baik dalam konsep individual maupun societal adalah risk faktor untuk penyakit jantung. Namun air pollution, dalam konsep individual bisa menjadi cause of death e.g keracunan carbon monoxide, dalam konsep societal ambient/indoor air pollution adalah risk factor.

Sehingga dalam societal health (public health) Penentuan risk factors ini dilakukan dengan cara tertentu, misalnya:

  • They were likely to be among the leading causes of the disease burden globally or regionally;
  • They were not too specific, for example, every one of the hundreds of air pollutants or fruits and vegetables (penyebab kematian akibat alergi kacang), or too broad, such as the environment or diet (kondisi berat badan tubuh) taken as a single exposure
  • The likelihood of causality was high based on collective scientific knowledge
  • Reasonably complete data on exposure and risk levels were available or sufficient data were available to extrapolate information when necessary;
  • They were potentially modifiable

Untuk meningkatan kesehatan, maka dibutuhkan data mengenai tingkat dan distribusi penyakit (disease) dan kecelakaan (injuries), termasuk penyebabnya (causes). Masalahnya, data kematian dan data rumah sakit (hospitalization) biasanya fokus pada penyembuhan (curative/palliative). Sementara untuk mencegah, yang harus dianalisa adalah risk factors. Catatan, tapi perlu diingat bahwa “Most disease are caused by multiple factors” sehingga perlu lagi population fraction dan exposure.

Death by cause (Cause of death) and DALY by cause
Death by attributable risks factor (risk factors = proximal determinants = Causal attributions) and DALY by attributable risk factor
Risks by Cause

Baik mortability maupun morbidity punya risk factor yang berbeda

Dalam dunia statistik kesehatan, metrik yang sering dipakai adalah DALY (Disability-adjusted life year). DALY-nya WHO ini, sama seperti MTOE-nya IEA, atau GDP-nya World bank. Seringkali membingungkan namun merupakan metrik yang paling penting dalam menyusun kebijakan, meski banyak permasalahan. Salah satu permasalahannya adalah “universalitas” gangguan kesehatan, antara Depresi, Sakit Perut dan Kanker Usus merupakan gangguan kesehatan, namun dalam hal cara kerja dan cara menyembuhkan sama sekali berbeda. Ini sama seperti metrik MTOE yang juga menganut prinsip “universalitas” energi, sehingga fossil energy harus dianalisa sama dengan renewable energy, yang secara konsep fisika-nya saja sangat berbeda.

Metrik yang pertama untuk statistik kesehatan adalah Life Expectancy (harapan hidup), ini yang paling sering dimuat di media, karena mudah untuk dianalisa dan dipahami, dinyatakan dalam jumlah tahun. Penerapannya juga mudah, misalnya, harapan hidup lebih panjang, artinya sistem kesehatannya bagus. Contoh Indonesia harapan hidupnya 69 thn, UK harapan hidupnya 81 thn.

Padahal, metrik yang serupa dan lebih penting adalah Mortality Rate (angka kematian). Contoh, mortality rate infantnya Indonesia 23.5 per 1000 kelahiran atau sekitar 2.3%. Di Malang misalnya child mortality rate-nya adalah sekitar 0.9%, di Negara maju infant mortality rate bisa dibawah 0.4% (UK, FR). Life expectancy ini equivalent dengan Crude Mortality Rate.

Kenapa banyak orang kesulitan membedakan antara penyebab dan faktor risiko
Penyebab (cause) kematian hanya tiga: Tertular (given) sakit (Communicable (CD), maternal, neonatal, nutritional), sakit sendiri (Non-CD) dan kecelakaan. Saat ini didunia tahun 2015, penyebab kematian terbesar adalah yang non communicable (53%) seperti Jantung, Kanker, Paru-paru (PPOK/COPD, Bronkhitis), dan Diabetes. Meski demikian penyakit yang Group I (CD, maternal dkk tadi 36%) juga masih sangat tinggi seperti Diare, TBC, Malaria. Kecelakaan (10%) sendiri masih (dan terus akan) punya porsi yang besar dalam penyebab kematian.

Faktor risiko (risk factor) kematian hanya tiga: metabolisme (makanan), behavioral (perilaku) dan lingkungan. Faktor risiko metabolisme misalnya: lingkar pinggang, tekanan darah, triglyceride, cholesterol, gula darah ref. Faktor risiko behavioral misalnya merokok, jarang olahraga, alkohol, termasuk unsafe sex. Faktor risiko metabolisme dan behavioral ini sering kali digabung menjadi satu dalam pola makan yang tidak sehat (kebanyakan makan daging sehingga gemuk dan kolesterol, sedikit serat, sedikit sayur). Faktor risiko lainnya adalah lingkungan, khususnya polusi udara, dan dinegara berkembang termasuk masalah mendasar seperti sanitasi lingkungan (air, sewage).

Alcohol, Depresi, dan merokok
Peringkat satu paling berbahaya adalah alkohol, karena alkohol adalah penyebab kematian (Cause of Death), kedua adalah Depresi karena depresi adalah penyebab DALY (Cause of DALY), sementara rokok, rokok adalah risk factor, baik untuk death maupun daly. Polusi udara kedudukannya sama dengan rokok. Catatan, Alcohol disorder dan Drugs disorder risk factor attributionnya 100%, sementara Road Injuries risk factor attributionnya 35%. Depresi adalah penyebab DALY

Notes:

  • Digestion (mechanical level) refers to how the body processes food in the gastrointestinal (GI, pencernaan / perut usus) tract and eliminates food waste via the intestines. Metabolism (cellular level) refers to how the cells utilize the energy we have absorbed from food during digestion
  • Distal determinants of health include the national, institutional, political, legal, and cultural factors that indirectly influence health by acting on the more proximal factors, their interrelated mechanisms, levels, trends, and distributions. These distal factors are usually more stable than proximal determinants.

An Evolutionary Perspective on Food and Human Taste ref
Evolutionary approaches to depression ref

Written by Anjar Priandoyo

Agustus 17, 2017 at 11:21 am

Ditulis dalam Science

Tagged with