Anjar Priandoyo

Simple Advice for Everyone

Posts Tagged ‘Industry

Coking Coal (Batubara Kokas)

leave a comment »

Supervisor saya meminta saya untuk membuat satu section mengenai energy di Indonesia. Satu section saja sebenarnya, tapi ternyata menuliskannya tidaklah semudah anak master menyelesaikan tugas kuliahnya. Buat anak master, tulisan mengenai energi di Indonesia diquantifikasi dengan jumlah kata, misalnya tulisan 500 kata mengenai energi di Indonesia. Namun, tulisan mengenai energi bagi peneliti, merupakan tulisan mendasar yang bisa menjadi dasar/pihakan untuk menganalisa aspek tertentu dari energi di Indonesia. Ibaratnya buat anak master, tulisan adalah hasil akhir, namun buat peneliti, tulisan adalah alat bantu berpikir, tulisan adalah dokumentasi.

Hari ini misalnya, saya melihat bahwa energi di Indonesia bisa dilihat dari sudut pandang comparative analisis dengan negara lain. Jepang misalnya, yang ternyata industri coalnya declining di tahun 1980 (dari produksi 55 Mton di 1960, jadi 16 Mton di 1985). Turunnya produksi ini salah satunya karena tipe coal jepang adalah hard coal, yang lebih cocok untuk cooking.

Namun, kalau kita lihat lebih lanjut. Indonesia di tahun 2013 memproduksi 485 Mt Steam Coal dan 2.7 MT Coking Coal, dimana 329 MT-nya di export. Namun dari komposisi Coal yang digunakan di Indonesia 84.3%nya dalah untuk power generation dan industri hanya 15.7%. Jauh berbeda dengan Jepang yang hanya menggunakan coal untuk power generation sebesar 58% saja, sisanya adalah 21% coke oven, 19% industry.

Artinya, kita punya banyak sumber energi, tapi tidak bisa dipakai. FYI Jepang tidak punya produksi coal as of 2015, semuanya import.

https://en.wikipedia.org/wiki/Mining_in_Japan
http://industri-batubara.blogspot.co.uk/2011/04/pemanfaatan-batubara.html

Written by Anjar Priandoyo

Februari 14, 2017 at 1:19 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with

Industri Baja (Lagi)

leave a comment »

Tidak salah jika Baja disebut sebagai mother of all industry. Negara yang maju adalah negara yang produksi baja-nya tinggi. Baja yang dihasilkan selanjutnya akan membangun infrastruktur (jalan, jembatan, rel), membangun pabrik (mesin, storage), membangun industri. Industri yang mungkin negara berkembang baru bermimpi, dimana dalam realitanya negara berkembang masih menggunakan tenaga manual orang untuk membangun ekonominya. Bagaimana bisa surplus, dengan proses yang sangat lambat, manual dan dalam skala kecil.

Industri baja adalah industri yang sangat kompleks. Paling tidak ada dua pekerjaan besar: Iron making (smelting, extract iron dari bijih besi) dan yang kedua adalah Steel making. Untuk Iron making prosesnya ada dua besar yaitu Direct Reduced Iron (DRI) dengan menggunakan gas, dan Blast Furnace dengan menggunakan Coking Coal (Kokas Batubara).

Krakatau Steel sepanjang hidupnya menggunakan teknologi DRI untuk membuat iron-nya baru setelah tahun 2013 dengan bekerja sama dengan POSCO menggunakan teknologi Blast Furnace. Teknologi DRI salah satunya adalah HYL yang diperkenalkan mid-1950s by the Mexican steelmaker Hojalata y Lamina (later Hylsa).

Coke Coal ini wajib digunakan oleh negara maju untuk mengembangkan industri. Negara maju pasti memproduksi Coke Coal ini sendiri. See, ini artinya, kebijakan di Indonesia yang memecah-mecah kementerian itu tidak efektif, contoh Jepang kementeriannya adalah METI (Economy, Trade, Industry) ini harus satu paket. Karena kebijakan ekonomi (corporat) itu untuk kebijakan industri in general (basic industry, energy industry dkk).

https://en.wikipedia.org/wiki/Direct_reduced_iron
http://www.factfish.com/statistic/coke%20oven%20coke,%20production
https://plethukpunyadhani.wordpress.com/tag/coke-oven-plant/
http://industri-batubara.blogspot.co.uk/2011/04/pemanfaatan-batubara.html

Written by Anjar Priandoyo

Februari 14, 2017 at 1:09 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with ,

Industri Semen dan Energi

leave a comment »

Industri Semen sama seperti Industri Baja, dua-duanya merupakan industri hulu (Industri Logam dan Bahan Galian). Kalau menggunakan kategori yang lebih luas adalah Petrochemical-Cement-Steel. Ini adalah 3 Industri yang konsumsi energinya sangat besar. Tiga industri ini lebih dari 30% cost-nya adalah untuk bahan bakar (20-40%).

Semen Indonesia (Semen Gresik) misalnya, kapasitas produksinya adalah 29 juta ton/tahun (2012). PT Sement Gresik Group (berdiri 1957) and PT Indocement respectively owns 43% and 34% of national cement market.

Written by Anjar Priandoyo

Februari 8, 2017 at 1:02 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with

Krakatau Steel

leave a comment »

krakatau-steel

steel-ratio

Krakatau Steel (KS) berkontribusi lebih dari 50% produksi baja nasional.

  • The steel industry in Indonesia has not maximised its productive capacity because of supply-side constraints and demand-side factors.
  • From the supply side, the main reason is lack of raw materials, including natural gas, because of the bottlenecks in the industries that produce such raw materials.
  • From the demand side, the main problem stems from foreign competition for similar products, from changes in demand that make related products less attractive and harder to sell, from substitution by other steel products, and from product synthesis with non-steel raw materials.
  • To increase the competitiveness of local steel industry, the government should intensify its efforts to further reform its policies and to provide a more attractive economic environment for this industry.

The Development of Indonesian Steel Industry, Latif Adam and Siwage Dharma Negara

Ini seperti mengatakan bahwa seorang atlit lari tidak optimal karena pasokan makanannya kurang (kurang energi dan gizi, sehingga males dan lemes) dan karena latihannya kurang (karena banyak pilihan kegiatan yang lebih menarik). Untuk itu solusinya adalah membuat latihan lari lebih menarik (setiap selesai lari boleh nonton film) dan memberi subsidi untuk lari (setiap lari boleh minum madu -yang mana madu itu murah). Solusi untuk membuat lari itu menarik dituangkan dalam bentuk tertulis.

See? kenapa program-program ini gagal?

Untuk menjadi pelari yang berhasil, maka solusinya cuman satu. Seluruh hidup difokuskan untuk berlari, terus, hingga pada titik menang juara olimpiade, sehingga mendapat return yang sustain mendukung sisa hidupnya. Kalau masih setengah-setengah dan menyalahkan orang lain, tidak ada yang bisa menjadi atlit.

See (dan juga sebagai reminder), sebagai saintis lari, maka harus fokus pada masalah (tidak selalu harus kecil) yang bisa diselesaikan, misalnya jumlah latihan yang optimum (highlevel) atau nutrisi pada saat lari jarak jauh yang paling optimal apa.

http://www.oecd.org/sti/ind/Item%205%203%20OECD%20Naoki%20-%20Copy.pdf

Written by Anjar Priandoyo

Februari 8, 2017 at 12:36 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with ,

Industri Baja di Indonesia

leave a comment »

pohon-industri-baja

“A healthy economy needs a healthy steel industry” merupakan quote yang saya baca di worldsteel.org, asosiasi yang membawahi 85% produksi baja didunia. Industri baja ini sangat penting karena secara ekonomi, baja dibutuhkan hampir diseluruh industri (mother industry), mulai dari konstruksi, transportasi hingga manufaktur. Industri ini penting karena Industri Baja merupakan industri yang membutuhkan energy paling besar di sektor manufaktur. Di US sekitar 6% energi di manufaktur adalah untuk industri baja. Untuk industri baja, penggunaan energi memakan biaya hingga 20-40% dari seluruh biaya produksi.

1.Industri baja tidak besar
Di Indonesia, Industri baja tidak terlalu besar. Indonesia merupakan peringkat sekitar 30 dalam produksi baja dunia. Indonesia memproduksi sekitar 2-3 Mt setiap tahunnya. Bandingkan dengan produksi baja dunia yang mencapai 1621 Mt pada tahun 2015, yang bahkan diprediksi terus meningkat 1.5x hingga 2050. Sebagai perbandingan, China memproduksi sekitar 800 Mt, Jepang 105 Mt, Korea 69 Mt. Industri baja memang industri yang strategis. ArcelorMittal memproduksi sekitar 116 Mt, POSCO memproduksi sekitar 31 Mt baja.

2.Kebutuhan tinggi, bergantung impor
Di tahun 2012, kebutuhan Baja nasional sekitar 9 Mt sementara produksi sekitar 4-5 Mt, jadi impor sekitar 40% dari kebutuhan nasional. Namun mengatur kebutuhan baja nasional ini tidaklah sederhana, karena ada industri baja hulu yang membutuhkan kualitas tinggi dan ada industri baja hilir.

Jadi kalau Kemenperin mengatakan bahwa Industri baja terkendala pasokan energi dan bahan baku, ini sudah persoalan yang sangat mendasar.

https://www.eia.gov/consumption/manufacturing/briefs/steel/
https://www.iea.org/media/workshops/2014/industryreviewworkshopoct/8_Session2_B_WorldSteel_231014.pdf
http://koran.bisnis.com/read/20160824/251/577795/menghindari-kepunahan-industri-baja-ri
http://www.kemenperin.go.id/artikel/5054/Impor-Baja-Bisa-Ditekan-50

Written by Anjar Priandoyo

Februari 8, 2017 at 10:43 am

Ditulis dalam Science

Tagged with ,

TIL that Plastic (Polymer, Material) Industry is very Big Business

leave a comment »

  1. Plastic industry is basically petrochemical driven industry.
    It is a synthetic or semi-synthetic organic compounds (contain carbon, where methan is the simplest organic compound)

  2. Plastic is cheap, it replace wood, stone, leather. Automobile 20% use plastics, India 42% consumption is plastic.

  3. Everything is plastic. Polyester, Polyethylene Terephthalate (PET), Polyvinnyl chloride (PVC), Polystyrene (PS), Polytetrafluoroethylene (teflon/DuPont), Kevlar (DuPont)

  4. History of plastic is history of modern world, see plastic development.
    Polystyrene created in 1839, PVC in 1872, Polyethylene in 1898

  5. Biopolymers is challenging Plastic
    Biopolymers such as Sugar Beet (Polyglyconic acid), Starch, Biomass

  6. Plastics or in politically corrected words is Synthetic Polymers is everything
    From Nylon (Polyamide), Elastene (Lycra/Spandex), Polyester.

  7. Basically every material is unsustainable: synthetic fiber, plastic, polymer

Written by Anjar Priandoyo

Juni 21, 2016 at 10:18 am

Ditulis dalam Science

Tagged with

Indonesia Tin

leave a comment »

It was reported in various website that there are 19.5 million ton of tin is smuggled in 2015. This number does not make sense to me. Since the official production is 70 thousand ton. This 70-80 thousand tonne of tin is accounted for 20% world production. So we are talking number that 1,000 times bigger. But in 2014, it also reported that illegal tin export is 301 million ton for duration 9 years, or it almost 30 million ton per year. The number is tied up, but there is something wrong.

Another news reported that it was 30 thousand ton per year, which for me its makes sense. Around 30-40% of tin production is smuggled.

Written by Anjar Priandoyo

Mei 18, 2016 at 6:42 pm

Ditulis dalam Business

Tagged with