Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Posts Tagged ‘Politics

Prediksi Pilpres 2019 versi April 2019

leave a comment »

I asked one of my friend in Thai, one the result of Thai election, it seems the rules is “party pooling” is accurate, “president/PM pooling” is less accurate. Well in my final analysis, I think Jokowi will win. The reasons are:

  1. Prabowo gain support outside Jawa (Jabar, Sumbar, NTB)
  2. Prabowo gain support from Islam conservative
  3. Prabowo image is emotional, Jokowi image is better

My last prediction:

  • Jul 2018: Prabowo
  • Oct 2018: Jokowi
  • Nov 2018: Prabowo
  • Apr 2019: Jokowi

I think the problem with pooling is matter of coverage. The most accurate polling is 100% sample.

Written by Anjar Priandoyo

April 2, 2019 at 12:17 pm

Ditulis dalam Society

Tagged with

Politik Indonesia dari perspektif Dualisme

leave a comment »

Indonesia mengenal sistem dualisme (JH Boeke) yang berbeda dengan sistem normative pada umumnya. Pada sistem normative, pertumbuhan ekonomi berjalan seiring dan sejalan, semisal masing-masing kota mengadopsi penggunaan kendaraan bermotor e.g tahun 1980-an motor, tahun 1990-an mobil dan seterusnya. Sementara pada sistem dualisme, adopsi ini berjalan berdampingan e.g tahun 2010-an menggunakan motor namun ditahun yang sama menggunakan juga becak.

Sistem dualisme ini tidak hanya pada sistem ekonomi, tapi juga termasuk pada sistem politik. Sebagai contoh, demokrasi berbasis one man one vote, berjalan berdampingan dengan sistem kekeluargaan (collective collegial).

Dalam sistem pendidikan misalnya, pemilihan menteri pendidikan, berjalan berdampingan dengan pemilihan rektor PTN. Jika menganut sistem normative, maka seharusnya Menristekdikti diambil dari Rektor PTN Big 5 misalnya, namun yang terjadi Menristekdikti diambil dari luar PTN Big 5. PTN Big 5 kecenderungannya merupakan sistem yang berjalan sendiri.

Dalam sistem energi misalnya, pemilihan menteri ESDM, seharusnya juga diambil dari perusahaan ESDM besar, tapi dengan dualisme diambil dari luar sistem, yaitu mengacu pada KSP ref (Menteri Koordinator Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan dan Kepala Deputi I Kantor Kepresidenan, Dharmawan Prasodjo)

Fasichul Lisan Rektor Unair 2006-2015, S1 Farmasi, S3 ITB
Djaali Rektor UNJ 2014-2017, S1 IKIP Masakar, S3 IKIP Jakarta
Mohamad Nasir Rektor Undip 2014-2018/Menristek, S1 Undip, S2 UGM, S3 USM Malaysia
Sutarto Hadi Rektor ULM 2014-2018-2022?

Dikti memiliki 35% suara

Mohamad Nasir merupakan saudara ipar dari Muhaimin Iskandar, merupakan mentri dari PKB ref, ref, ref.

Empat menteri PKB 2016: Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Marwan Jafar, Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri, dan Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa.

Empat menteri PKN 2018: ref
Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo, dan Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir

Written by Anjar Priandoyo

Desember 21, 2018 at 12:28 pm

Ditulis dalam Society

Tagged with

Politik dan kekuasaan

leave a comment »

Politik (politics), kekuasaan (power), kepemimpinan (leadership) dan kontestasi (power struggle) seringkali terbalik-balik. Politik juga punya banyak makna, dari yang maknanya baik seperti pemerintahan, pembuatan keputusan hingga yang maknanya buruk. Politik sendiri merupakan sebuah konsep yang abstrak, sehingga permasalahan bahasa seringkali menjadi kendala dalam menganalisanya. Sebagai contoh Ben Anderson / Clifford Geertz mengatakan bahwa orang jawa tidak mengenal konsep politik.

Salah satu cara memahami konsep abstrak, termasuk didalamnya politik dan kekuasaan adalah “Contested Concept” (Walter Bryce Gallie (1912–1998)), kurang lebih maknanya “hasil kompetisi” ref. Artinya kekuasaan adalah sesuatu yang hanya bisa diperebutkan (Power is taken not given).

Wiki: Essentially contested concept

Written by Anjar Priandoyo

Desember 16, 2018 at 8:07 pm

Ditulis dalam Society

Tagged with

Prediksi Pilpres 2019 versi November 2018

leave a comment »

Ini analisa terbaru, mencoba mencatat beberapa hal yang baru.
Asumsi: Masyarakat memilih berdasarkan pertimbangan emosional (tidak logis).
Fakta: Jokowi merupakan kandidat yang paling kuat: (1) petahana, memiliki kemampuan berkampanye lebih besar (e.g beasiswa santri). (2) memiliki kemampuan branding yang lebih bagus. (3) dukungan elit yang lebih banyak.

Dari fakta diatas maka secara epistemologi, jokowi akan menang. Namun kalau harus kembali kepada asumsi pertama, maka yang terjadi justru sebaliknya. Masyarakat akan memenangkan Prabowo.

Fakta tambahan, Prabowo terus melakukan blunder e.g Marah-marah, tampang Boyolali, termasuk survey yang terus menurun.

Kesimpulan per hari Prabowo menang, skor total 2:1

Written by Anjar Priandoyo

November 12, 2018 at 5:55 pm

Ditulis dalam Society

Tagged with

Prediksi Pilpres 2019 versi Oktober 2018

leave a comment »

Setelah Indonesia merdeka tahun 1945 dari barat, tidak serta merta kondisi politik internal menjadi stabil. Kondisi politik internal sebenarnya terus bergejolak. Sebagai contoh konflik senjata (politik kekerasan) Madiun Affair 1948, Darul Islam 1949, TNI Oktober 1952, Permesta 1957 maupun konflik tanpa senjata (politik pemilu) Pemilu 1955 tidak bisa memberikan hasil. Kestabilan internal relatif bisa tercapai setelah berpihak pada timur, dimana kemudian martial law diterapkan pada tahun 1957, sehingga konflik relatif bisa dihilangkan. Namun masalahnya kestabilan internal ini ada harganya, yaitu mengancam kestabilan eksternal. Contoh konflik eksternal adalah yang terjadi dengan Malaysia (Inggris) tahun 1962. Akibatnya yang terjadi adalah kekuatan barat berbalik menyerang dan menang, paling tidak dari tahun 1965 hingga 1998 (atau bisa dikatakan hingga saat ini 2018). Penyebab konflik 1965 adalah power struggle aka internal conflict aka perebutan kekuasaan.

Tahun 1998, juga terjadi konflik politik lagi. Sebenarnya tidak berbeda dengan apa yang terjadi pada tahun 1965, perbedaannya adalah tidak ada campur tangan asing (Inggris atau US), tidak terjadi konflik kekerasan (mass purge tidak ada, yang terjadi riot). Namun pada perebutan kekuasaan 1998 tidak ada pihak yang cukup dominan untuk mengambil alih kekuasaan. Ada jendral yang sangat loyal, ada jendral yang berambisi, ada politisi dari jalur islam moderat, ada dari jalur islam intelektual, tapi tidak ada yang cukup dominan. Kondisi ini bisa terlihat dari Habibie 1998, Gus Dur 1999, Megawati 2001. Kondisi baru relatif stabil pada SBY 2004.

Tahun 2014, konflik politik memasuki tahap baru. Namun ini berbeda dengan apa yang terjadi di 1965 dan 1998 tidak ada peristiwa eksternal besar yang bisa mempengaruhi kondisi internal. Dalam hal ini Indonesia akan membuat keputusannya sendiri, dalam sebuah sistem yang dirancang sendiri. Ini menarik.

Prediksi saya hari ini, partisipasi politik akan semakin rendah (seiring transparansi yang semakin baik), namun disisi lain konflik akan semakin banyak (seiring dengan kesenjangan), maka meski analisa menunjukkan Indonesia akan damai, tapi feeling memprediksi sebaliknya. Kontradiktif.

Prediksi saya hari ini relatif berubah, secara kultural Jokowi akan menang

Written by Anjar Priandoyo

Oktober 23, 2018 at 1:28 pm

Ditulis dalam Society

Tagged with

Prediksi Pilpres 2019 versi Juli 2018

leave a comment »

This is my amateur analysis on Indonesia 2019 president election, in my analysis, Jokowi will lose:
The problem: No strong election results (53%), relatively new
The handling:
Ineffective Hate speech handling ref e.g Jonru (ILC Aug 2017, Vonis Mar 2018)
Ineffective Religion handling e.g Islam Nusantara

This should be the same on how Ahok lost in the election
The problem: Culture and manner (is not religion or ethnic) ref
The handling: Ineffective public emotion handling

DKI2007 (Foke 58%), DKI2012 (Jokowi 54%), DKI2017 (Anies 58%),
ID2004/2009 (SBY 61%), ID2014 (Jokowi 53%)
US2012 (Obama 62%), US2016 (Trump 57%),

Electability
4 Jul 2018, Ref SMRC, 52% from 55% 2014 election
10 Jul 2018, Post Pilkada Serentak 49% from 46% Mei 2018 ref LSI

Written by Anjar Priandoyo

Juli 31, 2018 at 2:08 pm

Ditulis dalam Life

Tagged with

Prediksi Pilkada

leave a comment »

Kebanyakan prediksi pilkada dilakukan dengan cara survey secara langsung (e.g voting twitter/koran/survey) yang terbukti tidak akurat, contohnya pada Pilkada DKI. Kekalahan Ahok di Pilkada DKI adalah karena rakyat kecil Jakarta tidak suka gaya bicara Ahok dan penggusuran sewenang-wenang ref catatan, Masyarakat Jakarta sendiri relatif konservatif (40% vs 35% plural). Voting ini hanya bisa akurat kalau sample yang diambil cukup.

Jabar: Ridwan Kamil (Instagram 8 mil)
Jateng: Ganjar Pranowo (Survey 70%)
Jatim: Khofifah Indar Parawansa
Sumut: Edy Rahmayadi

Content preference becomes a better predictor of political knowledge.

Provinsi dengan tingkat kerawanan medsos tinggi: Sumut (1), Jawabarat (9), Jawatimur (11), Jawatengah (3+12) ref
Penetrasi Internet: Sumatra (47%), Jawa (57%) ref

Asumsi:
– Partai Politik bukan faktor penentu kemenangan pilkada
– Agama bukan faktor penentu

Post-Broadcast Democracy: How Media Choice Increases Inequality in Political Involvement and Polarizes Elections (Markus Prior 2007)

Catatan prediksi saya selama ini:
– Brexit June 2016: Failed prediction
– US President Nov 2016: Failed prediction

Catatan: Tulisan ini dibuat pada 20 Juni 2018 untuk memprediksi apa yang terjadi pada Pilkada 27 Juni 2018

Written by Anjar Priandoyo

Juni 20, 2018 at 11:26 am

Ditulis dalam Society

Tagged with

Memahami dimensi politik dari energi

leave a comment »

Hampir 16 bulan membaca mengenai dimensi politik energi di Indonesia, rasanya saya tidak pernah paham. Hingga suatu hari saya menyadari bahwa dari sebuah posting facebook, bahwa semua aktivitas difacebook pada dasarnya adalah aktivitas politik. Politik dalam arti “siapa saya” dan “siapa kamu”, politik dalam artian “siapa melakukan apa”.

Jadi kalau bicara organisasi, seorang manajer akan menugaskan satu orang sebagai supir dan dua orang sebagai kernet. Namun dalam dimensi politik maka, supir harus bersuku tertentu, jenis kelamin tertentu, dan harus diganti agar tidak timbul konflik. Batasannya juga tipis, ketika supir diganti, dengan pertimbangan manajerial, agar supir tidak lelah, atau tidak diganti dengan pertimbangan manajerial biar fokus. Namun ketika seseorang mengganti atas faktor yang sulit diukur e.g kepuasan, moral maka dimensi tersebut lebih banyak dimensi politiknya.

Artinya dimensi politik lebih banyak bicara mengenai aktor-nya, mengenai pelakunya.

Semisal diperusahaan, HRD bisa mendesign organisasi yang ideal. Namun dimensi politik lah yang paling dominan untuk menentukan siapa menduduki posisi apa.

Case ini saya baca dari tulisan “The Demise of Indonesia’s Upstream Oil & Gas Regulatory Agency” Jamie S. Davidson. Paper ini bicara mengenai dimensi politik dari pembubaran BP Migas di tahun 2012. Sebagai paper politik, paper ini harus membahas mengenai orang, mengenai aktor. Mulai dari Hatta Rajasa, Muhammadiyah, hingga Mahfud MD dan situasi menjelang Pilpres 2014. Paper ini menjelaskan, bahwa dimensi politik khususnya mengenai liberalisasi ekonomi tidak hanya dilihat dari sisi timing saja, tapi juga dari sisi oposisi politiknya.

Case kedua yang saya baca adalah mengenai “Escaping the Resource Curse” Andrew Rosser. Saat bicara mengenai pertumbuhan ekonomi, political analysis lebih menekankan pada aspek aktor seperti: kemenangan order baru, strategi perang dingin dan geopolitik dengan jepang. Aspek politik lebih menekankan pada orang, pada siapa pelakunya dan tindakan apa yang diambil oleh si pelaku.

Case ketiga adalah “political eonomy of oil and gas” Sovacool. Analisa politik harus memiliki sebuah konsep tertentu. Misalnya resource curse, untuk menjelaskan sebuah fenomena. Sebuah fenomena ini kemudian dikritisi dari sisi aktor-aktor yang membedakannya misalnya Indonesia pada waktu itu dipimpin oleh Sukarno. Terkadang analisa ini batasnya juga tipis, bisa juga disinggung bahwa tipikal industri energi itu berbeda e.g banyak teknologi, dan investasi langsung dari negara ke negara.

Analisa Politik dari Orang Non-Politik
Case yang lain adalah mengenai “Understanding political economy of energy” Rehman et al. Tulisan ini meski judulnya analisa politik, tidak banyak bicara mengenai narasi politik. Narasi politik lebih banyak digunakan sebagai pengantar, kemudian selanjutnya lebih banyak membicarakan mengenai “How”nya daripada aspek “Why” yang sering digunakan analis politik.

Tapi ini menarik, hingga pada akhirnya saya bisa menuliskan tag politics di catatan ini.

Setelah 16 bulan lamanya.

Written by Anjar Priandoyo

Januari 9, 2017 at 11:12 am

Ditulis dalam Science

Tagged with ,

Mengapa banyak orang tidak mau bicara politik

leave a comment »

Ada pandangan yang mengatakan bahwa kematian bisa membawa manusia pada dua sisi ekstrem, ekstrem liberal atau eksterm konservatif. Padahal apa yang dilihat sama, namun semakin melihat maka manusia justru semakin ekstrem bbc.

Ini mengingatkan saya pada beberapa interview terakhir dimana orang bisa menjadi sangat ekstrem bicara politik, sementara orang yang lain sangat ekstrem anti bicara politik. Buat yang anti statement politik, orang ini bahkan tidak mau mengatakan akar penyebab masalahnya e.g konflik kepentingan. Sementara orang yang tidak anti, akan terbuka menyampaikan akar permasalahan suatu konflik e.g krisis energi.

Dari dimensi statement saja ada dua ekstrem, sementara dari dimensi aksi juga ada dua ekstrem, orang yang mau terlibat dan orang yang tidak mau terlibat. Yang terlibat ada yang aktif dan ada yang tidak aktif.

Written by Anjar Priandoyo

Oktober 18, 2016 at 5:43 am

Ditulis dalam Uncategorized

Tagged with

Memahami dimensi politik dan ekonomi

with 2 comments

Dimensi ekonomi membingungkan.
SBY selama 10 tahun memerintah berhasil menjaga pertumbuhan ekonomi tapi disisi lain kesenjangan semakin besar (cek data Indef yang kontradiktif Nov 2014). Dimensi ekonomi ini juga membingungkan, misalnya apakah penurunan harga BBM merupakan sesuatu yang dianggap oleh masyarakat sesuatu yang positif.

Dimensi politik lebih jelas.
SBY misalnya, dimensi politik lebih signifikan peranannya misalnya terhadap perkara korupsi yang dilakukan oleh sejumlah kader Demokrat. Ini yang berdampak pada penurunan suara Demokrat dalam tiga pemilu terakhir (7%, 20%, 10%). Bandingkan dengan partai islam (PKB, PPP, PAN, PKS) yang di tiga terakhir sekitar 7%.

Intinya, driver adalah kepentingan politik (partai)
Sebuah pemerintahan dinilai tidak berkinerja baik adalah penilaian dari oposisi (yang mana tidak independen). Ketidakberpihakan ini yang kemudian mempengaruhi opini publik. Sesederhana itu sebenarnya, betapa faktor politik mempengaruhi kemajuan sebuah bangsa.

Namun bagaimana solusinya?
Butuh waktu, hingga masyarakat menyadari bahwa faktor politik yang berlebihan bisa kontraproduktif dengan ekonomi. Terlalu banyak kontrol (politik) maka pertumbuhan (ekonomi) tidak berjalan dengan baik.

Jokowi dinilai berhasil dalam pembangunan infrastruktur dan kesehatan (Jul 2016)

SBY mengkritik Jokowi:
– Visi maritim jokowi (dimensi ekonomi) Aug 2016.
– Pertumbuhan Ekonomi (dimensi ekonomi) Mar 2016 ref

Visi Pilpres 2009 ref
– SBY: Penegakan Hukum
– Mega Prabowo: Satu Laptop Satu Guru, Buruh
– JK Wiranto: – HAM

Written by Anjar Priandoyo

Oktober 15, 2016 at 10:41 am

Ditulis dalam Uncategorized

Tagged with