Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Posts Tagged ‘S2

Kurikulum MBA

leave a comment »

Periode 2004-2009 adalah periode yang luar biasa. Pertama kali bekerja, pertama kali berpindah kerja, pertama kali menikah, pertama kali punya rumah, pertama kali punya mobil, pertama kali punya anak, pertama kali punya bisnis. Apakah ada kesalahan yang dibuat? banyak sekali. Rumah misalnya, memilih kitchen set yang salah. Pekerjaan misalnya, memilih fokus yang salah -SAP tidak pernah menjadi fokus yang seharusnya saya kejar. Apakah ada banyak musibah? -sesuatu yang tidak kita kehendaki tapi diluar kendali kita- berbeda dengan kesalahan -sesuatu yang dalam kendali kita? ada banyak sekali musibah tentunya. Mobil baru yang tertabrak misalnya.

Periode 2014-2019 adalah periode yang lebih luar biasa lagi. Saya menghabiskan ratusan buku -untuk pertama kalinya, sesuatu yang sedari dulu saya cita-citakan. Saya punya cukup banyak waktu untuk membaca, menulis, menyusun kerangka berpikir yang lebih baik lagi.

Association to Advance Collegiate Schools of Business (AACSB)

Edward Deming’s 14 points

1. Create constancy of purpose for improving products and services.
2. Adopt the new philosophy.
3. Cease dependence on inspection to achieve quality.
4. End the practice of awarding business on price alone; instead, minimize total cost by working with a single supplier.
5. Improve constantly and forever every process for planning, production and service.
6. Institute training on the job.
7. Adopt and institute leadership.
8. Drive out fear.
9. Break down barriers between staff areas.
10. Eliminate slogans, exhortations and targets for the workforce.
11. Eliminate numerical quotas for the workforce and numerical goals for management.
12. Remove barriers that rob people of pride of workmanship, and eliminate the annual rating or merit system.
13. Institute a vigorous program of education and self-improvement for everyone.
14. Put everybody in the company to work accomplishing the transformation.

Written by Anjar Priandoyo

Februari 19, 2021 at 6:01 am

Ditulis dalam Life

Tagged with

Merancang MM dengan kuliah online

leave a comment »

Merancang program MM bisa mengacu pada UI yang menggunakan kombinasi Core Curriculum (CC) dan Elective Curriculum (EC). Ini mengikuti HBS yang menggunakan Required Curriculum (RC) dan Elective Curriculum (EC). Ininya membagi management perusahaan dalam hal fungsional (Finance, HRD, Marketing, Operations), ditambah dimensi analisa (Accounting, Organizational Behaviour, Statistics dan Operations Research) dan sudut pandang ethics (etika, CSR dan governance).

Selain itu ada aspek pilihan seperti Law, IT, International bisnis, enterpreneurship. Aspek kepemimpinan dalam bentuk Strategy dan leadership. Terakhir spesialisasi / konsentrasi seperti Project Management, Risk Management, MIS. Menarik sebenarnya, semua materi ini tersedia di MOOC, sekarang tinggal bagaimana merangkumnya.

Written by Anjar Priandoyo

April 29, 2018 at 8:27 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with ,

Perlukah kita mengambil S2 (MM/MTI)?

leave a comment »

Pertanyaan ini pernah saya tanyakan pada diri saya sendiri beberapa tahun yang lalu, dan sekarang saya tanyakan lagi kepada diri saya. Perlukah kita mengambil S2? jawabannya adalah: Perlu.

S2 adalah program peningkatan kapasitas diri. Sama seperti pertanyaan perlukah kita berolahraga padahal kita pasti akan mati. Dengan mengambil S2 maka kita akan mengalokasikan sebagian waktu kita atau istilahnya menginvestasikan pada satu hal yang bermanfaat dalam jangka panjang, dalam bentuk selembar kertas.

Pertanyaan yang lebih tepat sebenarnya ini:

1.Mana yang lebih baik program sertifikasi atau S2?
Jelas sertifikasi (PMP, CISA, CIA, CFA) karena lebih murah, effortnya lebih pendek bisa dalam 3-6 bulan. Potensi peningkatan karir lebih besar. Tapi pertanyaan ini juga sebenarnya kurang tepat, ditanyakan karena biasanya orang akan mengambil dua-duanya, dan orang tersebut akan menjadi semakin kompetitif.

2.Bagaimana menyelesaikan S2 (atau sertifikasi) secepatnya?
S2 harus diselesaikan secepatnya, dan didapatkan secepatnya. Di Inggris, yang mengambil S2 atau S3 biasanya langsung lulus dari S1. Jadi tidak menunggu waktu lama. Artinya umur 27 tahun sudah selesai S3. Nah untuk menyelesaikan S2 ini dengan cepat maka kita harus mengetahui bagaimana struktur programnya e.g kisi-kisi ujiannya dan bagaimana bisa menyelesaikan tugas dengan cepat.

3.Bagaimana memanfaatkan (mengkapitalisasi) S2?
Ini pertanyaan yang susah, karena manfaat S2 sangat abstrak. Mengerti mengenai konsep Strategi tidak berarti lebih pintar memilih. Pandai konsep Project Management tidak berarti bisa mengerjakan proyek dengan lebih baik. Mau tahu yang lebih abstrak lagi? “networking”. Klaim bahwa mengambil S2 berarti akan mendapatkan network yang lebih banyak.

Written by Anjar Priandoyo

Mei 18, 2017 at 4:58 pm

Ditulis dalam Business

Tagged with ,

Esensi Program S2 Magister Manajemen itu Karir

leave a comment »

Esensi dari program S2 magister baik dalam bidang manajemen, teknologi atau ekonomi adalah pengembangan karir. Alasannya adalah rata-rata usia menempuh S2 di Indonesia adalah 28 tahun, artinya penempuh S2 sudah bekerja sekitar 5 tahun, dimana dasarnya adalah menempuh program magister secara umum adalah menambah beban. Tentunya sekolah lagi memberatkan, apalagi dengan kesibukan kerja, waktu dengan keluarga. Apalagi ada banyak orang dan instansi yang menganggap program magister tidak bermanfaat.

Tapi alasan menempuh magister bisa berbeda pada beberapa kasus sebagai berikut: Permintaan S2 merupakan permintaan khusus dari instansi, PNS misalnya untuk kenaikan pangkat. Atau kasus dimana mahasiswa S1 melanjutkan ke S2 dalam waktu kurang dari 5 tahun kelulusan S1, alasannya bisa karena permintaan orang tua atau alasan lain seperti tersedianya dana.

Untuk yang berargumentasi pilihan S2 untuk karir, maka paling tidak ada dua perspektif yang bisa dijadikan dasar. Yang pertama adalah perspektif waktu dan yang kedua adalah perspektif ilmu.

Perspektif waktu sebagai contoh, kita bekerja selama kurang lebih 33 tahun dengan tahapan 20+, umur 30+ dan umur 40+. Umur 20+ kita sedang belajar mengembangkan diri, bisa secara formal melalui program magister, semiformal seperti sertifikasi ataupun secara informal lewat pengalaman di lapangan. Umur 30+ kita sudah memiliki jabatan, baik jabatan secara struktural maupun jabatan secara fungsional. Pelajaran yang sudah kita terima di umur 20+ sudah bisa dipakai disini.

Kemudian umur 40+ kita sudah memiliki jabatan yang lebih tinggi, dengan kemampuan teknis yang menurun dan pengalaman yang semakin banyak kita ada difase konsolidasi sebelum kita pensiun. Kurang lebih mirip dengan apa yang ditulis di Forbes, mengenai tiga tahapan karir adalah persiapan, differensiasi dan suksesi. Pada dasarnya adalah S-Curve (dengan trajectory). Kalau dilihat dari masa perjalanan 30 tahun, waktu 2 tahun program magister sangatlah pendek, belum lagi kalau dilihat untuk persiapan masa suksesi akhir setelah pensiun.

Perspektif kedua adalah perspektif ilmu. Untuk ini saya memberikan argumen bahwa baik MM UI, UGM, ITB ataupun MAKSI UI dan MTI UI tidaklah berbeda. Secara umum dengan durasi hanya 2 tahun kurang, program ini membekali siswanya untuk tiga aspek saja: Menjadi pemimpin (CEO), mengelola organisasi (COO) dan mengelola uang (CFO). Mau dibolak balik judul programnya, mau akreditasi dari AACSB atau ABEST21, mau menggunakan EMC-BOK, PMBOK ataupun CFA dan PPAK hasilnya tetap saja untuk pengembangan karir.

Dari perspektif ilmu, perbandingan kurikulum dari program S2 Magister yang ada adalah sebagai berikut, detail bisa dilihat di website masing-masing program.

MM UI:
– CEO: Strategic Management, International Marketing, Decision Making
– COO: MIS, Organizational Design, Supply Chain, Human Resources, Functional Management
– CFO: Corporate Finance, Financial Information, Managerial Economics
– Others: Risk, Communication, Law, Applied Research, Business Environment

MM UGM:
– CEO: Strategic, Marketing
– COO: Operation, Organizational Behavior, IT
– CFO: Finance, Accounting
– Others: Law, Ethics, Environment, Research, Communication, Control

MBA ITB
– CEO: Strategy, Decision Making, Marketing,
– COO: People, Operation, Innovation
– CFO: Accounting, Finance,
– Others: Ethics, Law, Business Economics,

MTI UI
– CEO: IS Strategic, IS (Product) Development, EBusiness
– COO: Database, Network, Infrastructure
– CFO: IS Investment, Management IS
– Others: Risk Management

EM ITB (Teknik Industri)
– CEO: Planning & Adjusting Business Strategies, Marketing & Sales
– COO: Developing Products, Services, & Processes, Engineering Operations & Change, Leading Project
– CFO: Financial Resources & Procurement
– Others: Market Research, Technology Updates, & Environmental Scanning

MAKSI UI:
– CEO: Strategi dan Keuangan;
– CFO: Akuntansi Manajemen dan Pengendalian;
– COO: Sistem Informasi;
– Other: Atestasi dan Pelaporan Keuangan, Perpajakan, Audit dan konsultasi Internal

Written by Anjar Priandoyo

Januari 18, 2016 at 6:11 am

Ditulis dalam Life

Tagged with

Singkat Kata

leave a comment »

Orang bisa memiliki argumen yang berbeda-beda. Contoh, seorang pedagang A bisa mengatakan rahasia suksesnya adalah karena teknik jualannya lebih baik, dia jualan dengan cara mendatangi rumah ke rumah. Seorang pedagang lain B, bisa mengatakan karena manajemen jualannya lebih baik, dia jualan dengan cara menemui si pembeli disaat pembeli sedang santai. Padahal, kenyataannya kedua pedagang ini melakukan hal yang sama persis. Singkat kata si pedagang A menjadi pengajar teknik industri di engineering school dan pedagang B menjadi pengajar manajemen operasi di business school. Ilmu ini diturunkan ke murid-muridnya, muridnya menjalankan semua nasihat gurunya, namun sedikit yang berhasil, hanya 5% murid saja.

Karena sedih, pedagang A dan pedagang B pun menuntut ilmu lagi. Pedagang A kembali ke pasar, dan melihat pedagang-pedagang sejenis, melihat kualitas productnya, cara pengemasannya. Pedagang A melihat bahwa ternyata ada hal yang kurang dalam hal product experience. Sementara pedagang B kembali menemui pelanggan-pelanggannya, melihat feedback pelanggannya, menjalin komunikasi, memahami ekspektasinya. Pedagang B melihat bahwa hal yang kurang dalam penyampaian ilmu nya adalah mengenai customer experience. Singkat kata, kedua pedagang ini kembali ke sekolah dan mengajarkan hal baru yang sama persis. Murid-muridnya kembali menjalankan nasihat gurunya, dan hasilnya pun bisa ditebak, sedikit yang berhasil, hanya 5% murid saja.

Karena sama-sama pekerja keras, pedagang A dan pedagang B tidak pernah mau menyerah. Setelah melihat dari dimensi linguistik, dimensi proses, dimensi sosial, dimensi industri dan berbagai sudut pandang yang mungkin untuk memformulasikan ilmu berdagang yang baik, kedua pedagang ini datang dengan buku tebal, bagaimana cara berdagang yang sukses. Akhirnya ketika murid-muridnya menjalankan nasihatnya, hasilnya lebih baik, ada sekitar 10% murid yang berhasil usaha dagangnya.

Pedagang A dan B kemudian menjadi sedih, rasanya usahanya mengajarkan ilmu berdagang tidak berhasil. Di usianya yang lanjut, pedagang A dan B masih terus bertanya-tanya, apa yang salah dari ilmu yang diajarkannya. Mengapa persentasenya tidak meningkat seperti yang ia harapkan. Pedagang A dan B merasa gagal menjadi guru untuk murid-muridnya. Sama seperti Pedagang C yang merasa gagal bahwa usahanya tidak sebesar yang dia inginkan, dan sama seperti Ahli Ekonomi D yang sedari awal memperhatikan tingkah laku pedagang A, B dan C tapi tidak bisa mencegah terjadinya krisis.

Moral of Story: Ilmu dimana-mana sama saja. Apalah manusia dengan waktu yang sangat pendek, taruhlah Drucker, guru dengan masa kerja 75 tahun (1909-2005) bertemu Keynes dan Schumpeter ref and ref, tujuannya adalah untuk mempersiapkan hidup yang lebih baik.

Ref:

Other:
PMI recommendation for S1 Project Management, ref: PMBOK

Bonus refer curriculum recommendation from to DIKTI KKNI PP 73 2013, ACM IEEE CS

  • Ilmu Komputer, UI Kurikulum. Minat: Arsitektur & (Infra), Perangkat Lunak (Soft.Eng), Multimedia, Kecerdasan Komputasional (AI).
  • Ilmu Komputer, UGM Kurikulum. Minat: Komputer & Komunikasi (Infra), Komputasi (Soft.Eng), Sistem Cerdas (AI), SI & Multimedia,
  • Informatika, ITB Kurikulum. Minat: Soft.Eng, Comp Science.

Written by Anjar Priandoyo

Januari 11, 2016 at 6:54 am

Ditulis dalam Business

Tagged with ,

Why Master Degree: Master in Computer Science, in Management or MBA

leave a comment »

What is Master Degree (MS)
Master degree is an continuing education process that focus on practicallity. I assume, is not designed to ‘enrich’ your knowledge, compare to Bachelor Degree (BS), because the duration is only 1-2 year. And usually, it taken as parttime, both evening class or weekend. The cost of master degree is quite expensive, and supply and demand it’s interesting, because sometimes people analyze it on multidimension before decide to take the MS degree.

What is MS in Computer Science
Computer Science is study of Computing Science, it can be divided as Information System, Database, Operating System, Networking. However, MS in CS, trying to summarize what you have taken in 4 years of BS, into practical 1 year program. With the expectation that the MS can manage IS. As BS expectation you can be IS staff, or operate an IT Task e.g programmer, database admin, network engineer. The MS expectation is something sounds like IT Manager, IT Development Manager. Or something with title like Security Analyst or IT Risk Analyst.

What is MBA/MM
MBA is study of Business. Business consist of 4 element: Operating Management, Human Resources Management, Financial Management and Marketing Management. And same as MS in CS, the expectation of MBA is to be able to manage business. With expectation as HR Manager, Operation Manager, Finance Manager. And if it missed, the expectation is at least as Finance Analyst or something with Analyst title on it. Mid level, above the staff. Note, you can see the curriculum of MBA by comparing Harvard and Wharton.

So both of MS in CS and MBA expectation is to put you on one step ahead in term of career. That’s why the course is require you to have an working experience before. So you can compare between the reality of the work and the theory behind it. The reason you go to school is to know the theory, and the reason you go to work is to understand why the theory mentioning in the class is not working.

So, would I suggest people to go to MS. Of course if the reason is to move your career one step ahead, if you are an employee. And of course if the reason is to have more knowledge, if you are a fresh graduate. So understanding who you are and understanding the institution (university MS) expectation is important. And success can be defined by matching your and the university expectation

Written by Anjar Priandoyo

November 9, 2014 at 8:07 am

Ditulis dalam Science, Work

Tagged with ,