Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Posts Tagged ‘Startup

Mengapa startup tidak ada habis-habisnya: Percaya

leave a comment »

Baru membaca mengenai Harukaedu, masalahnya signifikan: orang tidak percaya, universitas tidak percaya, akses internet tidak ada ref. Ini permasalahan yang klasik, tidak hanya untuk Haruka, tapi startup edukasi yang lain, yang percaya hanya satu: pendirinya.

Iklan

Written by Anjar Priandoyo

April 21, 2018 at 3:30 am

Ditulis dalam Science

Tagged with , ,

Mengapa Startup Bubble sulit di deteksi

with one comment

Saya mulai menulis startup sekitar October 2017, karena pemberitaan Gojek yang sangat heboh. Sebenarnya ini bubble yang terakselerasi salah satunya karena didorong kontroversi dengan pembangunan mrt (kemacetan jakarta), termasuk satu paket bubble toko online dengan kehebohan pemberitaan penurunan daya beli.

Mengapa (Startup) Bubble sulit terdeteksi

Transportasi Online
Gojek itu bubble, tapi kenapa mendeteksinya susah sekali ?

  1. Pemberitaan sangat masif (Launch Jan 2015)
  2. Pemilik kepentingan bermain (masyarakat ingin transportasi murah)
  3. Burst: 2019?, Victim: Driver, Gojek Management. Current status declining

Timeline:

  • Gojek mendapat pemberitaan sangat masif, mulai dari demo ojek pangkalan (Dec 2015), solusi kemacetan Jakarta, hingga pemberitaan Unicorn (May 2017). Gojek mengatakan gajinya 2 kali buruh (26 Oct 2017)
  • Pembangunan MRT (Oct 2013), Kemacetan Jakarta
  • Kontroversi karena terkait pembangunan infrastruktur dan kebijakan pemerintah.

Toko Online
Toko online itu bubble, tapi kenapa mendeteksinya susah sekali ?

  1. Pemberitaan sangat masif
  2. Pemilik kepentingan bermain (pemerintah terkait ekonomi)
  3. Burst: 2018?, Victim: Small retailer, Toko Online Management.

Timeline:

  • Toko online mendapat pemberitaan sangat masif, pemberitaan unicorn Traveloka (Jul 2017), Tokopedia (Aug 2017)
  • Penutupan toko ritel Sevel (30 Jun 2017), Ramayana (Aug 2017), Matahari (Pasaraya Blok M dan Pasaraya Manggarai, Sept 2017), Mitra Adiperkasa Tbk (Lotus, Debenhams, Oct 2017).
  • Kontroversi terkait pertumbuhan ekonomi (toko online, politik (Oct 2017))

Mata Uang Online
Bitcoin itu bubble, tapi kenapa mendeteksinya susah sekali ?

  1. Pemberitaan sangat masif, situs berita ikut menggoreng. (Early 2017)
  2. Pemilik kepentingan bermain (nilai tukar bitcoin)
  3. Burst: 2017? early 2018. Victim: Small Investor (akan kehilangan uangnya)

Timeline:

  • Jepang mengadopsi Bitcoin (2017), pemberitaan VIVAnews Feb 2017
  • Tirto mengatakan Bitcoin alat pembayaran masa depan (16 Aug 2017), BTC $4,400
  • BI menyatakan Bitcoin bukan pembayaran yang sah (28 Aug 2017)
  • BI menyatakan melarang Bit Coin (30 Nov 2017) BTC $9,000 harga fluktuatif

5 Oct 2017, BI menghentikan layanan Paytren

Ken Dean Lawadinata/Kaskus resign (12 Oct 2016)

Written by Anjar Priandoyo

Desember 3, 2017 at 2:14 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with

Relevansi Opini

leave a comment »

Sarulla bukan pembangkit panas bumi terbesar di dunia, tapi Menteri ESDM bisa mengatakan demikian pada Aug 2017. Dasarnya karena potensinya paling besar (1000 MW) dan sudah dikerjakan 100 MW dan akan menjadi 300 MW di tahun 2018. Gojek bisa mengatakan bahwa gaji ojek online bisa dua kali lipat upah buruh. Satu paket dengan Politeknik Ketenagakerjaan dan gelar Professor Kapolri -dipendidikan isu itu cuman “raising quality, widening participation, and improving efficiency”.

Written by Anjar Priandoyo

Oktober 26, 2017 at 10:28 am

Ditulis dalam Management

Tagged with

Memahami Bisnis Transportasi Online

with one comment

Tahun 1980-an waktu bapak saya menjual rumah, cara menjual rumahnya adalah lewat iklan mulut ke mulut, kebetulan tetangga beberapa RT mengetahui rumah itu dijual dan akhirnya rumah itu dibeli. Tahun 1990-an waktu bapak saya membeli mobil, mobil dibeli di showroom dan kemudian saat menjual mobil, bapak saya menjualnya lewat iklan baris di koran. Tahun 2000-an, saya menjual mobil dengan berkonsultasi pada showroom mobil (ditawar harga 100 juta), dipasang tulisan dijual (belum mendapat respon), diiklankan di whatsapp akhirnya setelah beberapa kali calon pembeli datang mobil dijual dengan harga sekitar 105 juta. Buat beberapa orang, menjual lewat showroom lebih menarik, uangnya lebih cepat, prosesnya mudah. Sementara buat orang yang lain selisih 5 juta untuk 4-5 kali mengangkat telepon dan menemui calon pelanggannya mungkin lebih menarik.

Iklan baris adalah bisnis virtual marketplace yang pertama, namun iklan baris tidak akan pernah membunuh physical marketplace semacam showroom. Saat mencari mobil pun di tahun 2010-an, saya mencarinya lewat showroom, lewat mobil88. Ada segment tertentu yang tidak mungkin dibunuh oleh virtual marketplace. Apalagi showroom umumnya berafiliasi dengan dealer mobil dan bengkel. Contoh Mobil88 yang menyebabkan bisnis showroom ini tetap eksis. Pelaku bisnis jual beli motor tidak mati karena persaingan dengan virtual marketplace, toh pelaku jual beli motor bisa juga memasang iklannya di website. Jual beli motor umumnya mengeluhkan produksi motor baru yang relatif lebih murah, termasuk daya beli masyarakat.

Showroom tidak pernah protes dengan iklan baris, meski jelas iklan baris memakan pasar showroom. Bisa jadi karena showroom hanya sekedar “sampingan” dari bisnis bengkel atau bisnis transportasi dan iklan baris hanya “sampingan” dari bisnis media. Bisnis showroom dan iklan baris merupakan bagian dari bisnis besar yang lebih kompleks, sehingga relasi keduanya tidak saling mempengaruhi. Ini seperti warteg tidak akan protes dengan tukang nasi goreng keliling.

Dalam suatu waktu, ada kalanya showroom bangkrut karena tidak ada lagi yang bertransaksi lewat showroom. Ini sama dengan bangkrutnya pedagang sayur dipasar karena masyarakat tidak lagi membeli bahan sayur mentah, tapi membeli lewat pedagang sayur matang atau membeli lewat pedagang sayur mentah keliling -dengan variasinya (di Cirebon ada sayur mentah keliling, sayur matang keliling, sayur mentah tetap, sayur matang tetap). Ini murni kompetisi.

Lalu bagaimana dengan transportasi online?
Transportasi online adalah model bisnis yang memungkinkan mereka yang memiliki modal untuk mengeksploitasi mereka yang tidak memiliki modal. Supir ojek online yang mempunyai sepeda motor tentunya bisa mengalahkan tukang becak yang tanpa modal (becak disewa 5-9ribu perhari). Supir ojek online tentunya juga bisa mengalahkan supir angkot yang merupakan model bisnis transportasi publik pemerintah. Di negara maju saja bisnis transportasi online dikritik, apalagi dengan di negara dengan tingkat kesenjangan tinggi (masih banyak becak dan angkot), negara dengan transportasi publik yang belum baik.

Transportasi online ini pada dasarnya adalah berbahaya (berpotensi negatif besar), karena berupaya “pribadisasi” layanan publik yang regulated. Untuk itu perlu pembatasan yang ketat. Dan ini sudah dicontohkan secara logis dan rasional oleh banyak pimpinan daerah yang memutuskan untuk melarang transportasi online.

Written by Anjar Priandoyo

Oktober 17, 2017 at 10:32 am

Ditulis dalam Management

Tagged with

Memahami Bisnis Internet

leave a comment »

Bisnis internet (e-commerce) adalah bisnis paling spekulatif yang pernah ada. Bisnis internet ini memiliki tingkat kegagalan (failure rate) paling tinggi sementara tingkat pengembalian keuntungan tidak jelas. Bisnis dengan tingkat kegagalan paling rendah? adalah bisnis yang terjadi sehari-hari seperti bisnis makanan atau bisnis jasa. Semakin besar skala bisnisnya maka kemungkinan untuk ruginya akan semakin besar. Semakin rumitnya sebuah bisnis, maka kemungkinan gagalnya akan semakin besar. Semakin abstrak bisnisnya, maka kemungkinan gagal juga akan semakin tinggi.

Ambil contoh disektor bisnis marketplace rumah. Rumah123 dibeli oleh iproperty pada Mei 2011 dengan harga $1.6 juta (iproperty juga membeli thinkofliving thailand seharga $ 6 juta). Rumah123 merupakan market leader untuk marketplace rumah di Indonesia. Namun dari sisi trafik, Rumah123 kalah dengan RumahdiJual (milik dan satu group dengan Emtek/PropertyGuru/Rumah.com), kekalahan yang menyakitkan karena pure trafic battle. Nilai transaksi Rumah123 mencapai 220 trilyun di tahun 2014. Namun laporan keuangan iProperty menunjukkan kecenderungan merugi. Di tahun 2013, Rumah123 berinvest $2 juta, dengan total sudah mencapai $10 juta. Namun pendapatan ini tidak signifikan, kontribusi Rumah123 sendiri hanya sekitar 10% ke group.

Ini mengingatkan kepada groupon

Kesalahan situs pembanding produk keuangan (price comparison website)
Kalau induknya (situs pembanding rumah) saja sudah salah konsep, maka situs pembanding produk keuangan (dalam hal ini KPR) juga salah konsep. Contoh Cekaja.com, Cermati.com, Sikatabis.com atau model seperti Duwitmu yang lebih ke review. Situs-situs ini melupakan faktor paling penting dalam memilih produk KPR, bahwa “attractiveness produk KPR bukan dari besarnya bunga yang diberikan, karena dari 200 bank besar bunga relatif sama, attraktiveness itu lebih pada gimmick”. Ini sama seperti bagaimana bank-bank kecil di Indonesia bisa menang bersaing dengan bank besar karena memberikan special service seperti “cash collection” (yang mana high risk), atau prosedur KYC yang tutup mata, atau penggunaan personal guarantee atas nama owner. Orang Indonesia tidak akan membeli layanan KPR dari website pembanding produk keuangan.

Produk pembanding keuangan memang terlihat menguntungkan, contoh di UK adalah Comparethemarket dengan meerkatnya atau Moneysupermarket dengan tweerkingnya. Tapi, price comparison website ini di UK sukses karena memang produk yang dijual relatif “murah” seperti asuransi mobil atau asuransi travel. Itu pun dengan iklan yang sangat masif di televisi. Resep ini tidak akan berlaku di Indonesia. Sama seperti gagalnya price comparison yang lain semodel shopping.com yang diakuisisi ebay, atau model diskon seperti groupon/disdus yang dibeli amazon. Price comparison ini ternyata gagal.

Kenapa orang tidak belajar ya?

Written by Anjar Priandoyo

Oktober 16, 2017 at 8:37 pm

Ditulis dalam Management

Tagged with

Memahami bisnis (market research and retail market)

leave a comment »

Pelaku bisnis adalah orang yang harus (mau tidak mau) berpikir optimis terhadap sebuah situasi. Contoh, penjual es krim yang masih saja berjualan es krim meski suhu di awal musim gugur sudah menunjukan dibawah 10° C. Optimisme-nya merupakan sebuah prasyarat untuk menjalankan bisnis, optimismenya adalah rational dalam menjalankan bisnis.

Pelaku bisnis juga seringkali perlu memberikan sebuah pernyataan optimisme. Pada saat memberikan pernyataan, pelaku bisnis tidak bisa serta merta mengandalkan data dari internal perusahaannya. Seperti berapa pertumbuhan transaksi atau pelanggannya. Memberikan data mengenai internal perusahaan selain berisiko juga tidaklah valid karena tidak menggambarkan kondisi industri secara keseluruhan. Berisiko misalnya, pernyataan nilai transaksi disebuah toko berpengaruh pada kewajiban pajak yang harus dikeluarkan.

Dari kondisi seperti diatas, maka bisnis didefinisikan sebagai “satu-satunya opsi yang tersedia” tersedia dalam hal ini paling baik, paling efisien.

Contoh, seorang CEO Tokopedia sekalipun harus mengutip statemen dari lembaga penelitian semacam PWC untuk mengatakan bahwa bisnis online di Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Ambil contoh statemen CEO Tokopedia sebagai berikut “Dari PWC, jumlah transaksi online di Indonesia hanya 1% dari total transaksi retail, akses ke perbankan di Indonesia hanya 36%” ref,

Apa yang disampaikan CEO Tokopedia tersebut berasal dari PWC (meski tidak 100% kutipan yang tepat). PWC mengeluarkan Entertainment and Media Outlook (2014-2018) report yang menjelaskan bahwa transaksi online sangat kecil, PWC juga mengeluarkan Total Retail 2017 yang menggambarkan trend kecenderungan transaksi online yang meningkat (meningkat drastis, bukan berarti porsinya besar). Selain itu, KPMG juga mengeluarkan report yang mirip di Retail Payment Indonesia. KPMG juga mengeluarkan report yang mengatakan bahwa penetrasi non food online transaction mencapai 21%.

Dalam versi yang lain, seorang CFO bukalapak pun masih harus memverifikasi statemen dari Kominfo mengenai pertumbuhan belanja e-commerce di Indonesia. Statemen dari Kominfo ini merupakan satu dari berbagai jenis statemen yang bisa diambil dari lembaga pemerintah. Misalnya, untuk menjelaskan bahwa share transaksi online sumbernya banyak bisa dari BPS-nya Inggris yang mengatakan kenaikan nilai transaksi (bukan jumlah/volume transaksi) sebesar 8.9%. Dalam kutipan transaksi tadi, Bukalapak juga setuju, bahwa nilai transaksi online hanya sekitar 1% dari keseluruhan transaksi ritel.

Artinya Tokopedia dan Bukalapak membutuhkan “jasa” dari pihak ketiga yang bisa berupa lembaga research seperti PWC/KPMG atau lembaga negara ONS/BPS untuk mendukung statemennya. Selain itu, hal ini juga menunjukkan bahwa dari sisi lembaga research, lembaga tersebut sudah berhasil membangun “brand” yang sangat kuat mengenai penetrasi bisnisnya. E.g kalau mau mengetahui data pasar terbaru bisa lihat data PWC, padahal KPMG punya data serupa, Nielsen punya data yang mungkin lebih baik, dan BI/BPS mungkin punya yang lebih terpadu.

Mengapa bisnis adalah bisnis
Aprindo Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), mengatakan bahwa nilai transaksi ritel hanya 200 trilyun, jumlah gerai pun hanya sekitar 10,365 (tahun 2007). Aprindo sendiri di tahun 2017 mengatakan bahwa sudah 75% toko retail memiliki layanan online. Transaksi di Mall mencapai 400 trilyun/tahun. Dari sini sebenarnya bagaimana pertumbuhan bisnis itu muaranya hanya satu: mengenai regulasi atau aturan main. Dimana semua bisnis yang semakin rumit atau semakin powerful maka harus ada regulasi yang semakin ketat. Ini makanya CEO Tokopedia lebih lanjut penekanan adalah terhadap beban pajak ref. Buat toko online yang bisa membunuhnya adalah pajak.

Catatan:
Michael Jordan adalah seorang olahragawan, namun sumber kekayaan terbesarnya bukanlah dari karir professional bola basket. Kekayaan terbesarnya datang dari sepatu nike yang jauh lebih besar dari seluruh pendapatan dari karir professionalnya. Ilustrasi ini menggambarkan betapa informasi yang terlihat di permukaan seringkali tidak menggambarkan kondisi sebenarnya.

Written by Anjar Priandoyo

Oktober 16, 2017 at 2:23 pm

Ditulis dalam Management

Tagged with

Startup

leave a comment »

Perubahan yang terjadi di Indonesia pada dasarnya “tidak baru”, “tidak cepat”, “tidak besar” dan “tidak sustain”. Gojek, Traveloka dan Tokopedia di 2015. 13 Agustus 2014 adalah hari yang bersejarah, ini adalah hari pertama Uber beroperasi di Indonesia. Tidak butuh waktu lama cerita mengenai teman yang berinvestasi menyewakan mobil keduanya dengan sistem bagi hasil terdengar dimana-mana. Kemudian tidak butuh waktu yang lama pula, tahun 2015 di bulan Januari, saingannya Gojek launching dengan penuh kontroversi hingga pelarangannya oleh Kementerian Perhubungan di Desember 2015. Agustus 2016, Gojek mendapat investasi sebesar 0.55 milyar USD sehingga menjadi Unicorn dengan nilai valuasi lebih dari 1 milyar dollar. Nilai valuasi Gojek pada Agustus 2016 adalah 1.3 milyar USD. Mei 2017, Gojek mendapat investasi sebesar 1.2 milyar USD dari Tencent menjadikan nilai valuasinya sekitar 3 milyar USD.

Kalau cerita ini disampaikan oleh seorang teman, maka kesan yang muncul adalah perubahan yang sangat cepat dan sangat besar. “Mau pesen tiket kereta ke Cirebon? lewat Traveloka aja mas?” kata adik saya kemarin. Akhirnya saya memesan tiket lewat Traveloka, dan tidak butuh waktu lama saya menyadari bahwa saya salah memesan tiket karena interface yang menyarankan memesan pada esok hari. Dan segera saya menyadari bahwa Traveloka dan sebagaimana online travel lainnya hanya bisa memesan tiket sekitar 2-8 jam sebelum keberangkatan. Dahulu, saya selalu memesan tiket dari tiket.com dan tidak menjumpai masalah seperti ini.

Traveloka ini setali tiga uang dengan Gojek dan tentunya Tokopedia. Traveloka mendapatkan pendanaan dari Expedia sebesar 0.35 milyar USD pada Jul 2017 menjadikannya Unicorn kedua. Menjadikannya begitu banyak iklan di televisi dan baliho di stasiun. Tokopedia sedikit tertinggal tapi kemudian mendapatkan 1.1 milyar USD dari Alibaba pada Aug 2017 menjadikannya Unicorn ke tiga.

Detik dan Kaskus di 2011. Kaskus mendapatkan pendanaan dari Djarum pada Mar 2011 dari GDP Venture sebesar 114 juta dolar, Detik diakuisisi pada Aug 2011 sebesar 60 juta dollar. Cerita akhirnya kita bisa lihat sendiri bagaimana trafik Kaskus semakin menurun hingga ditandai berhentinya Ken Dean Lawadinata pada Oct 2016. Padahal Kaskus sendiri pernah punya nilai valuasi sebesar 80 juta dollar pada tahun 2014, bersama dengan Tokobagus dan Detik merupakan simbol internet company di Indonesia.

Daftar Kematian

  • Cipika (Indosat) 18 Agustus 2014 – 1 Juni 2017
  • Elevania (XL, SK Korea) 1 Maret 2014 (Funding 50 mil USD, Feb 2016) – Agustus 2017
  • Blanja (Telkom) 8 Desember 2014

Indonesia’s ecommerce market is worth US$4 billion today, while China’s is valued at US$600 billion (Indonesia is 2% China) ref

Conglomeration Rank

  • Lazada/Zalora (Rocket Internet > Salim)
  • Blibli (Djarum, Global Digital Prima Venture GDPV)
  • MatahariMall (Lippo)
  • Dian Swastatika Sentosa Tbk > Sinar Mas
  • Sale Stock (Ardent Ventures > Sinar Mas Digital Ventures (SMDV))
  • Bukalapak (Emtek)

crunchbase (gojek, traveloka, tokopedia), pitchbook(kaskus)
RocketInternet: Carmudi
Matahari Mall (Mar 2015) ref

Tak hanya Tokopedia, beberapa nama e-commerce besar lain pun ikut mendapat pendanaan di tahun 2016. Mulai dari Blanja yang mendapatkan US$25 juta (sekitar Rp333 miliar) dari Telkom dan eBay, MatahariMall yang meraih US$100 juta (sekitar Rp1,3 triliun) dari Mitsui, tambahan investasi sebesar US$50 juta (sekitar Rp666 miliar) yang didapat elevenia dari para investornya, serta Jualo yang sukses mendapat pendanaan Seri A senilai puluhan miliar rupiah. ref, ref, ref

Written by Anjar Priandoyo

Oktober 5, 2017 at 10:28 am

Ditulis dalam Management

Tagged with