Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Posts Tagged ‘Theory

Theory of Household Energy

leave a comment »

Ini penyebabnya kenapa mendalami satu teori itu susah.

Household fuel use in developing countries: Review of theory and evidence (Muller and Yan, 2018)

Theory:

  • Energy Ladder Theory: Improvement of energy use corresponding to an increase in the household income
  • Fuel stacking Theory: Multiple fuel use patterns, whereby households choose a combination of fuels from both lower and upper levels of the ladder (Masera et al, 2000)
  • Urban household models Theory: Simultaneous consumption of non-commercial and commercial fuels in urban areas Edwards and Langpap (2005) and Gupta and K√∂hlin (2006)
  • Agricultural household models
Iklan

Written by Anjar Priandoyo

Februari 27, 2018 at 1:46 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with

Akar Masalah Korupsi

leave a comment »

Akar masalah korupsi

  • Rent-Seeking: Bupati membacking pengusaha
  • Conflict of Interest (COI): Bupati anggota parpol membacking pengusaha anggota parpol
  • Principle Agent Problem: Bupati menyuruh kelapa dinas membacking pengusaha

Written by Anjar Priandoyo

Februari 6, 2018 at 1:56 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with

Consumption (economics)

leave a comment »

Ilmuwan sejati itu tidak pernah sepakat dengan pendapat orang lain. Kalau mau sepakat itu namanya praktisi. Saya baru paham, ketika melihat pola bagaimana orang berbelanja. Kalau seorang ekonom disuruh menjadi manajer toko, kemudian memprediksi apa saja yang orang belanjakan, maka ekonom tersebut akan memberikan usulan sebagai berikut.

  1. Life-cycle hypothesis (LCH), (Franco Modigliani 1950). Orang itu semasa muda dihemat-hemat, setelah tua baru dibelanjakan. Ini bisa memprediksi bahwa jumlah tabungan di sebuah negara itu tergantung pada pertumbuhan pendapatan nasionalnya.

  2. Absolute income hypothesis (AIH), (Keynes, Tobin 1960-70). Orang itu kaya cenderung lebih hemat dari pada orang miskin. Ini bisa memprediksi bahwa tingkat menabung tidak selalu sama persis dengan tingkat pendapatan.

  3. Permanent income hypothesis (PIH), (Friedman 1960). Orang itu berbelanja tidak hanya bergantung pada penghasilannya saat ini tapi juga berdasarkan ekspektasi penghasilan dimasa depannya.

  4. Random walk model of consumption (Robert Hall). Orang yang berbelanja berdasarkan ekspektasi penghasilan dimasa depan itu mustahil di prediksi.

  5. Relative income hypothesis (Duesenberry). Orang itu berbelanja dipengaruhi oleh standar/gaya hidupnya.

Written by Anjar Priandoyo

Januari 15, 2018 at 1:29 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with

Scenario

leave a comment »

Penelitian sosial jaman sekarang jauh lebih sulit dibandingkan penelitian sosial jaman dulu. Contoh, menyebut penelitian mengenai “scenario analysis” nama yang disebut tidak lagi Shell 1970s, tapi nama yang disebut adalah Nakicenovic et al (2000), ini adalah proyek mega raksasa-nya IPCC mengenai skenario analis dalam hal emisi. Buku lengkapnya adalah Special Report on Emission Scenario (SRES).

Menyebut penelitan mengenai “scenario”, nama yang disebut adalah Rothman (2008), ini juga proyek mega raksasanya UNEP. Dimana Rothman yang dirujuk bicara mengenai Chapter 9 The Future Today, buku lengkapnya adalah Global Environment Outlook (GEA).

Untuk sekedar methodology “scenario development” yang bagus saja, maka kita akan menyebut nama Alcamo (2008), lewat buku terbitan Elsevier berjudul “Environmental Futures: The Practice of Environmental Scenario Analysis”. Disini Rothman dan Alcamo menjadi nama standard untuk setiap penelitian mengenai “Strategic Planning” dan sebangsanya. Joseph Alcamo (b1951), “kebetulan” Chief Scientist-nya UNEP, merupakan definisi dari “Story as Simulation” approach.

Diluar itu, tidak ada lagi penelitian yang skalanya lebih besar dari buku-buku ini, meski riset Mc Kinsey atau Deloitte sekalipun. Dan “sialnya”, ini tidak berhenti di tahun itu saja. IPCC terus merilis buku dan metodologi barunya, begitu juga dengan GEA.

Artinya, sama seperti Higgs Boson, experiment sosial hanya bisa dilakukan dengan biaya yang sangat besar. Untuk bisa menjadi pakar sosial, tidak lagi dengan “semudah” metode tahun 1960-an ala Hofstede dan Lewis, juga tidak dengan metode “popularitas” ala Porter dan Christensen.

Ref:
– Geert Hofstede (b1928) yang mewawancari ribuan orang IBM diseluruh dunia selama belasan tahun
– Richard Donald Lewis (b1930) yang menguasai 11 bahasa asing dan menjadi tutor Empress Michiko

Written by Anjar Priandoyo

Agustus 15, 2017 at 2:10 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with

Banyak teori, posmo, feminin

leave a comment »

Setiap orang pada dasarnya menyadari dimana posisinya dalam masyarakat, secara ekonomi apakah orang kaya/miskin, secara pendidikan apakah terdidik/tidak, secara ras, agama, suku. Setiap orang pada dasarnya juga menyadari dirinya memiliki cita-cita untuk mencapai sesuatu yang lebih baik, juga menyadari apa yang sedang terjadi.

Orang yang tinggal di Indonesia misalnya menyadari bahwa terjadi perubahan sosial pada tahun 1998. Namun, kesimpulan yang dihasilkan berbeda. Orang bisa berpendapat bahwa dari era orba ke era reformasi tidak ada yang berubah, elit tetap diatas, mayoritas tetap dibawah, ini perspectives functionalism. Tapi, orang juga bisa berpendapat, bahwa sepanjang waktu, perubahan terjadi, dan merupakan bentuk konflik dari masyarakat. Masyarakat yang ditekan pada masa orba, melawan dimasa era reformasi. Masyarakat yang ditekan di era reformasi melawan di era selanjutnya, ini perspectives conflict. Sementara, ada orang yang

two important forces
– religion
– media
– education
– government
– corporations

keyword:
social structure theoretical perspectives
social change theoretical perspectives
change theoretical perspectives

Written by Anjar Priandoyo

Agustus 15, 2017 at 12:05 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with ,

Teori origin of Indonesia

leave a comment »

Disekolah, asal usul orang Indonesia yang diajarkan adalah dari Yunnan, China Selatan. Asal usul ini ternyata hanya satu pendapat saja (Out of Yunnan Theory), diluar itu ada banyak pandangan lain. Teori mengenai asal usul ini dulunya mengandalkan pendekatan antropologi yang seringkali tidak akurat e.g kesamaan bahasa, budaya. Teori yang lebih akurat adalah dengan menggunakan pendekatan molecular biology seperti menggunakan analisa Mitochondrial DNA, sehingga bisa muncul pandangan lain seperti Out of Taiwan Theory.

Lalu seberapa tertinggal kita dengan teori-teori ini? paling tidak ada dua sector yang kita tertinggal:

  • Health, e.g penanganan penyakit seperti Thalassemia
  • Environment, e.g penanganan perubahan iklim

Climate Change and Postglacial Human Dispersals in Southeast Asia (Soares et al 2008)

Written by Anjar Priandoyo

Juli 24, 2017 at 7:03 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with

Theory of Corruption in Indonesia

leave a comment »

Corruption in developing country is prevalent. There are several perspective on the root cause of corruption in Indonesia. Corruption can be caused by cultural aspect where the subordinate staff will agree with every instruction from the supervisor. The cultural aspect is align with Principle Agent Problem theory, where the staff that doing corruption will not feeling guilty even feels protected by the roles of “bapak” paternal leader in organization.

Coruption also can be explained by using conflict of interest theory, where a lot of bureucratic position is also a political position. Important position such as state own company commissioner or department ministry has a strong tie with political party. Therefore any government agenda will have a direct conflicting interest with businessperson that supporting political party.

Corruption also because of the morality of people where it can be explain using rent-seeking theory where a government agent is looking for money from the rent activity such as oil gas exploration contract or and government procurement.

(So out of several perspective on corruption which perspective is the most effective? well, from science point of view, scientist must say that they bet on one theory, for example conflicting theory or politial settlement, which translated in to ACA/KPK. However scientist can conclude that ACA is not effective by using quantitative approach, but scientist can argue that eventhough is not effective is important factors (see how strange is social science))

A.Cultural Aspect of Corruption (aka Principle Agent Theory)
Indonesia is known has an eastern culture or reactive multiactive culture (Lewis Culture model). This is where father has a greater role in family. It can be explained due to the agriculture system where it need a bigger population with rigid structure (e.g caste system) in order to survive. This culture plays important role in the growth of corruption which most of corruption is taken in the form of family group (dynasty).

B.Where and How (aka Motive)
More evidence on political party corruption indicating that political party play bigger roles. In term of political settlement theory. This trend is increasingly bigger and reflecting the economic size of coruption.

C.Conclusion
With so many corruption case in Indonesia, combating corruption is serious subject. Government put priority, but study says that there is no significant decline in corruption eradication. However, it should be noted that (this statement depend on which preference that I choose) it should be priority given to rent-seeking theory, which the economic aspect should be put as priority.

Notes:
This MSc thesis compare three corruption theory: Principle Agent, Collective Action, Political Settlement
http://www.lse.ac.uk/internationalDevelopment/pdf/Dissertations/2014-NicolaiSchulz.pdf

This PHd thesis explore deeper on corruption theory.
http://etheses.lse.ac.uk/891/1/Bratu_Actors%20practices%20and%20networks%20of%20corruption.pdf

nice quote here “research of an exploratory nature cannot, in a sense, reach any conclusion”

Written by Anjar Priandoyo

Mei 3, 2017 at 12:20 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with