Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Posts Tagged ‘Thesis

Indonesia Energy and Environment Update

leave a comment »

My routine.

READING:
Read scopus update “Indonesia Energy Environment”.

Environment

  • Annual emissions of air toxics emitted from crop residue open burning in Southeast Asia over the period of 2010–2015
  • Role of the Madden‐Julian Oscillation in the Transport of Smoke From Sumatra to the Malay Peninsula During Severe Non‐El Niño Haze Events

Update: Forest fire is still most important environment issues

Energy

  • The biogas development in the Indonesian power generation sector ref, calculation issues
  • A multi-objective and robust optimization approach for sizing and placement of PV and batteries in off-grid systems fully operated by diesel generators: An Indonesian case study ref, algorithm issues
  • The multi-level perspective analysis: Indonesia geothermal energy transition study ref, social issues
  • Effect of foreign direct investments, economic development and energy consumption on greenhouse gas emissions in developing countries ref, modelling issues

WRITING:

Iklan

Written by Anjar Priandoyo

September 6, 2018 at 12:12 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with

Indonesia Energy and Environment Update

leave a comment »

I realized that a new paper is coming every month. It is impossible to catch up with the latest update, but to ignore it and continue to work on what is our priority. Any framing, method is already there. The market for research is hard and difficult.

Indonesia Environment, Air Pollution

  • The Mega Conversion Program from kerosene to LPG in Indonesia: Lessons learned and recommendations for future clean cooking energy expansion
  • New Tropical Peatland Gas and Particulate Emissions Factors Indicate 2015 Indonesian Fires Released Far More Particulate Matter (but Less Methane) than Current Inventories Imply
  • Greenhouse gas emission intensity from Indonesian livestock sector

Indonesia Energy

  • Coal consumption, urbanization, and trade openness linkage in Indonesia
  • Classification of geothermal resources in Indonesia by applying exergy concept
  • Sustainability index assessment of palm oil-based bioenergy in Indonesian
  • Modeling of geothermal energy policy and its implications on geothermal energy outcomes in Indonesia

Written by Anjar Priandoyo

Agustus 24, 2018 at 10:08 am

Ditulis dalam Science

Tagged with

Wisuda – rencana sempurna untuk lulus tepat waktu

leave a comment »

Saya tidak pernah menduga bisa lulus kuliah persis selama 4 tahun. Seingat saya, kakak angkatan saya paling cepat menyelesaikannya dalam 4.5 tahun, diangkatan saya yang lulus persis 4 tahun hanya 1 orang ditambah saya menjadi 2 orang, itu pun karena orang pertama tadi memang sangat rajin belajar. Sebagai pembanding, saya bisa menyelesaikan kuliah termasuk dengan KP selama 2 bulan di Kantor Pusat BRI Jakarta, masih ditambah KKN di Sukoharjo selama sekitar 2 bulan juga ditambah kerja Partime selama 1 tahun terakhir. Banyak teman kuliah saya yang bisa lulus kuliah tanpa mengambil KP Jadi kalau dihitung net masa kuliah, saya bisa mengklaim lulus dalam waktu 3.5 tahun, jika dikurangi waktu KKN, waktu KP dan waktu partime. Meski demikian harus diakui bahwa saya lulus dengan IPK sedang saja, persis 3.00.

Kalau diingat-ingat, saya memang tidak merencanakan lulus persis 4 tahun, yang saya rencanakan adalah lulus dengan IPK >3.00 mungkin pantas-pantasnya adalah IPK 3.20. Hanya waktu itu, di detik-detik terakhir (20 Juli 2004 setelah pendadaran, baru rencana saya berubah), setelah saya hitung-hitung lagi, lebih tepatnya setelah saya mengulang mata kuliah IMK (Interaksi Manusia Komputer) kedua kalinya dan tetap mendapat nilai C, saya menyadari bahwa bila pun saya bisa mencapai 3.10 tapi dengan catatan waktu masa kuliah 4.5 tahun, rasanya lebih baik saya mendapatkan IPK 3.00 dengan masa kuliah 4 tahun. Singkatnya perhitungan saya ini benar.

Saya mencoba mengingat lagi, apakah memang tidak saya rencanakan?

di UGM semester itu hanya ada dua kali dalam setahun. Semester ganjil dimulai di Agustus dan semester Genap dimulai di Februari. Semester Pendek itu policy masing-masing kampus. Kira-kira timeline saya untuk pengerjaan skripsi sebagai berikut:

Jul – Aug 2003: KKN Semester Pendek akhir tahun ketiga

Aug 2003 – Jan 2004: Semester Tujuh
15 Sept – 15 Nov 2003: KP Kantor Pusat BRI (Jakarta already change my mind)

01 Februari 2004, day 1 skripsi
13 Mei 2014, Parttime SIC
19 Juni 2004, Presentasi di SNATI
20 Juli 2004, Pendadaran

Apa kesimpulannya?
Kalau dilihat timeline kuliah dahulu, momen paling penting adalah pada saat akhir tahun ketiga, yang merupakan rangkaian KKN dilanjutkan KP. Ini bukan artinya semua-semua harus dikerjakan, tapi justru karena KKN dan KP bisa terselesaikan maka Skripsi juga bisa diselesaikan dengan cepat dalam waktu sekitar 4 bulan. Artinya untuk bisa lulus skripsi dalam waktu 4 bulan, harus mengambil KKN 2 bulan dan KP 2 bulan. KKN dan KP adalah latihan menjelang Skripsi.

Entah ini resep yang bisa dipakai lagi atau tidak saya tidak pernah tahu.

Yang saya ingat, orientasi saya dahulu selalu IPK, bukan masa studi. Orientasi IPK ini lebih populer dibandingkan target masa studi. Baru di detik-detik terakhir saya mengambil orientasi masa studi. Implikasi dari masa studi ini adalah masa pencarian kerja saya menjadi lebih cepat karena saya menghitung dimensi waktu. Sehingga Oktober 2004 saya langsung bekerja. Persis selang 1 bulan setelah wisuda. Istilahnya, IPK itu Prepared plan, sementara masa studi itu Emerging Plan.

Bagaimana penerapan teori ini?
Kalau memang saya sudah menyadari rencana ini sejak dulu, maka pada semester 7 saya tidak akan mengambil KP, karena terlalu beresiko – misalnya saya jadi lebih senang kerja daripada menyelesaikan kuliah. Sebagai gantinya saya akan mengambil bimbingan skripsi pada semester 7 (yang rasanya pada waktu itu tidak mungkin dilakukan, yang artinya kecil kemungkinan ada anak di angkatan saya yang bisa menyelesaikan kuliah dalam 3.5 tahun).

Maka untuk bisa membuktikan teori ini, maka submission harus dilakukan pada akhir tahun ketiga.

Written by Anjar Priandoyo

September 4, 2017 at 8:43 pm

Ditulis dalam Life

Tagged with

Revisi itu 10 kali lebih sulit

leave a comment »

Revisi itu 10x lebih sulit

Beberapa penulis mengatakan bahwa revisi itu 2 kali lebih sulit daripada menulis. Jadi kalau biasa menulis dalam waktu 1 jam, maka waktu yang dibutuhkan untuk merevisi itu paling tidak 2 jam. Penulis yang lain bahkan mengatakan revisi itu 10 kali lebih sulit, artinya menulis butuh waktu 1 hari, namun setelah ada revisi bisa memakan waktu hingga 10 hari.

Written by Anjar Priandoyo

Agustus 22, 2017 at 4:26 pm

Ditulis dalam Life

Tagged with

Comments, elemen paling penting dalam sebuah thesis

leave a comment »

Dulu, dalam pikiran saya, elemen paling penting dalam sebuah thesis adalah jumlah kata. Jumlah kata ini cukup menakutkan sehingga banyak cerita mengenai orang yang menghabiskan waktu-nya berbulan-bulan untuk menulis. Sekarang buat saya rumus untuk menentukan jumlah kata cukup ikut aturan universitas yaitu maximum 80,000 (sekitar 220 halaman) dan recommended 60,000 (sekitar 170 halaman). Dari jumlah kata ini paling tidak bisa dibagi dalam 4 chapter besar yang masing-masing berjumlah sekitar 10,000 (sekitar 30 halaman).

Artinya, literature review bisa diselesaikan dalam 30 halaman, kemudian 3 chapter analisanya masing-masing diselesaikan dalam 30 halaman. Artinya total bisa diselesaikan dalam sekitar 120 halaman. Bila ditambah dengan pendahuluan dan kesimpulan, bisa menambah 2 chapter tambahan. Sehingga total target maximum 80,000 ini akan tercapai.

Namun, menghasilkan 130-an halaman ini tidaklah mudah. Dari 4 chapter yang harus diselesaikan dalam waktu 4 tahun. Chapter literature saja bisa diselesaikan dalam waktu 2 tahun. Dan dengan rate seperti ini maka thesis akan diselesaikan 1 chapter dalam 1 tahun, dan 2 chapter terakhir diselesaikan dalam waktu 1 tahun. Artinya chapter 1 dalam waktu 2 tahun, chapter 2 dalam waktu 1 tahun, chapter 3 dalam waktu 6 bulan dan chapter 4 dalam waktu 3 bulan. Ini adalah rate yang normal.

Menulis 10,000 kata (sekitar 30 halaman) dalam waktu 2 tahun itu sangatlah lambat. Dalam catatan saya, seorang penulis bisa saja menulis kreatif hingga 1,000 kata per hari. Artinya literature itu bisa saja diselesaikan dalam waktu 10 hari saja. Tapi, mengingat dalam proses menulis ada tahapan mereview, maka bila 1 chapter saja menghasilkan sekitar 100 comments, maka paling tidak diperlukan revisi sekitar 10 hari. Artinya sebuah chapter bisa direview hingga 10 kali sebelum akhirnya menjadi dokumen final. 1 kali review bisa memakan proses 1 bulan. 10 hari menulis, 10 hari merevisi.

Sebagai contoh, tulisan sependek 300 kata seperti ini saja butuh waktu sekitar 30 menit. Semakin komprehensif sebuah tulisan, durasi yang dibutuhkannya semakin panjang.

Ref

Written by Anjar Priandoyo

Agustus 22, 2017 at 4:00 pm

Ditulis dalam Life

Tagged with

Thesis 3 Dimensi

leave a comment »

Melihat tahapan pencapaian PhD, saya baru menyadari bahwa PhD ini adalah proses. Contohnya, baru sekitar February 2017, saya menyadari bahwa tulisan saya lebih banyak deskriptif daripada analisis. Ini merupakan milestone pencapaian yang monumental, karena kalau saya menyadari kebelakang, ternyata banyak tulisan saya yang memang kurang berkualitas. Seandainya saya mengetahui ini lebih dulu, misalnya sejak awal mulai rasanya akan lebih banyak hal yang saya capai.

Pencapaian monumental lain, mungkin di Agustus 2017, dimana saya melihat bahwa sebagai ilmu interdisiplinary sekalipun ada banyak approach yang bisa diambil. Mulanya saya melihat energy transition sebagai murni Modelling berbasis komputasional. Namun sekarang saya bisa melihat bahwa energy transition sebagai bagian dari Social Sciences berbasis komputasional.

Sebagai perbandingan, saya pernah melihat ada yang menulis energy transition dengan mengambil contoh di tiga negara dengan method yang berbeda e.g dengan LEAP, Markal dan Osemosys. Sementara ada yang menulis energy transition dengan juga mengambil contoh di tiga negara yang berbeda dengan method yang berbeda e.g dengan MLP, TIS dan TT. Pada contoh diatas ketiga thesis tersebut berasal dari sub bidang ilmu yang berbeda secara horizontal, namun digabungkan dalam sebuah cerita yang kronologis.

Ada juga yang membandingkan secara vertikal, contohnya saat menganalisa energy transition, melihatnya dari kacamata vertikal e.g scenario development, scenario analysis (Markal), sensitivity analysis. Sementara ada juga yang melihatnya dari kacamata vertikal yang lain e.g Emission inventory, scenario development dan impact analysis. Jalur vertical ini yang kemungkinan akan saya ambil.

Cara menulis energy transition yang lain adalah secara depth. Ini contohnya mereka yang menganalisa tentang energy transition misalnya, fokus pada satu area saja. Contoh mengenai energi transition dengan MLP kacamatanya adalah e.g TT, MLP, SNM. Kalau orang TIS kacamatanya adalah IS, TIS, Learning IS. Dimana penulis jenis ini berusaha mencari titik paling dalam dari sebuah obyek penelitian.

Eureka.

Written by Anjar Priandoyo

Agustus 16, 2017 at 9:07 am

Ditulis dalam Life

Tagged with

Apa yang tiga tahun ini pelajari?

leave a comment »

Tiga tahun terakhir ini belajar mengenai energi terbarukan, bagaimana proses sosial terbentuknya, hal-hal saja apa yang mempengaruhinya, mulai dari dimensi politik (pemerintahan), dimensi sosial-budaya (kemasyarakatan), dimensi ekonomi (bisnis) dan apa akibatnya yang ditimbulkannya.

Kesimpulannya, analisa yang lebih baik jika menggabungkan qualitative dan quantitative, hasil analisa lebih bermanfaat jika mencakup dampak secara mendetail.

Energy transition: scenario analysis and its implication.

Written by Anjar Priandoyo

Agustus 10, 2017 at 3:52 pm

Ditulis dalam Life

Tagged with