Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Posts Tagged ‘Thesis

Revisi itu 10 kali lebih sulit

leave a comment »

Revisi itu 10x lebih sulit

Beberapa penulis mengatakan bahwa revisi itu 2 kali lebih sulit daripada menulis. Jadi kalau biasa menulis dalam waktu 1 jam, maka waktu yang dibutuhkan untuk merevisi itu paling tidak 2 jam. Penulis yang lain bahkan mengatakan revisi itu 10 kali lebih sulit, artinya menulis butuh waktu 1 hari, namun setelah ada revisi bisa memakan waktu hingga 10 hari.

Iklan

Written by Anjar Priandoyo

Agustus 22, 2017 at 4:26 pm

Ditulis dalam Life

Tagged with

Comments, elemen paling penting dalam sebuah thesis

leave a comment »

Dulu, dalam pikiran saya, elemen paling penting dalam sebuah thesis adalah jumlah kata. Jumlah kata ini cukup menakutkan sehingga banyak cerita mengenai orang yang menghabiskan waktu-nya berbulan-bulan untuk menulis. Sekarang buat saya rumus untuk menentukan jumlah kata cukup ikut aturan universitas yaitu maximum 80,000 (sekitar 220 halaman) dan recommended 60,000 (sekitar 170 halaman). Dari jumlah kata ini paling tidak bisa dibagi dalam 4 chapter besar yang masing-masing berjumlah sekitar 10,000 (sekitar 30 halaman).

Artinya, literature review bisa diselesaikan dalam 30 halaman, kemudian 3 chapter analisanya masing-masing diselesaikan dalam 30 halaman. Artinya total bisa diselesaikan dalam sekitar 120 halaman. Bila ditambah dengan pendahuluan dan kesimpulan, bisa menambah 2 chapter tambahan. Sehingga total target maximum 80,000 ini akan tercapai.

Namun, menghasilkan 130-an halaman ini tidaklah mudah. Dari 4 chapter yang harus diselesaikan dalam waktu 4 tahun. Chapter literature saja bisa diselesaikan dalam waktu 2 tahun. Dan dengan rate seperti ini maka thesis akan diselesaikan 1 chapter dalam 1 tahun, dan 2 chapter terakhir diselesaikan dalam waktu 1 tahun. Artinya chapter 1 dalam waktu 2 tahun, chapter 2 dalam waktu 1 tahun, chapter 3 dalam waktu 6 bulan dan chapter 4 dalam waktu 3 bulan. Ini adalah rate yang normal.

Menulis 10,000 kata (sekitar 30 halaman) dalam waktu 2 tahun itu sangatlah lambat. Dalam catatan saya, seorang penulis bisa saja menulis kreatif hingga 1,000 kata per hari. Artinya literature itu bisa saja diselesaikan dalam waktu 10 hari saja. Tapi, mengingat dalam proses menulis ada tahapan mereview, maka bila 1 chapter saja menghasilkan sekitar 100 comments, maka paling tidak diperlukan revisi sekitar 10 hari. Artinya sebuah chapter bisa direview hingga 10 kali sebelum akhirnya menjadi dokumen final. 1 kali review bisa memakan proses 1 bulan. 10 hari menulis, 10 hari merevisi.

Sebagai contoh, tulisan sependek 300 kata seperti ini saja butuh waktu sekitar 30 menit. Semakin komprehensif sebuah tulisan, durasi yang dibutuhkannya semakin panjang.

Ref

Written by Anjar Priandoyo

Agustus 22, 2017 at 4:00 pm

Ditulis dalam Life

Tagged with

Thesis 3 Dimensi

leave a comment »

Melihat tahapan pencapaian PhD, saya baru menyadari bahwa PhD ini adalah proses. Contohnya, baru sekitar February 2017, saya menyadari bahwa tulisan saya lebih banyak deskriptif daripada analisis. Ini merupakan milestone pencapaian yang monumental, karena kalau saya menyadari kebelakang, ternyata banyak tulisan saya yang memang kurang berkualitas. Seandainya saya mengetahui ini lebih dulu, misalnya sejak awal mulai rasanya akan lebih banyak hal yang saya capai.

Pencapaian monumental lain, mungkin di Agustus 2017, dimana saya melihat bahwa sebagai ilmu interdisiplinary sekalipun ada banyak approach yang bisa diambil. Mulanya saya melihat energy transition sebagai murni Modelling berbasis komputasional. Namun sekarang saya bisa melihat bahwa energy transition sebagai bagian dari Social Sciences berbasis komputasional.

Sebagai perbandingan, saya pernah melihat ada yang menulis energy transition dengan mengambil contoh di tiga negara dengan method yang berbeda e.g dengan LEAP, Markal dan Osemosys. Sementara ada yang menulis energy transition dengan juga mengambil contoh di tiga negara yang berbeda dengan method yang berbeda e.g dengan MLP, TIS dan TT. Pada contoh diatas ketiga thesis tersebut berasal dari sub bidang ilmu yang berbeda secara horizontal, namun digabungkan dalam sebuah cerita yang kronologis.

Ada juga yang membandingkan secara vertikal, contohnya saat menganalisa energy transition, melihatnya dari kacamata vertikal e.g scenario development, scenario analysis (Markal), sensitivity analysis. Sementara ada juga yang melihatnya dari kacamata vertikal yang lain e.g Emission inventory, scenario development dan impact analysis. Jalur vertical ini yang kemungkinan akan saya ambil.

Cara menulis energy transition yang lain adalah secara depth. Ini contohnya mereka yang menganalisa tentang energy transition misalnya, fokus pada satu area saja. Contoh mengenai energi transition dengan MLP kacamatanya adalah e.g TT, MLP, SNM. Kalau orang TIS kacamatanya adalah IS, TIS, Learning IS. Dimana penulis jenis ini berusaha mencari titik paling dalam dari sebuah obyek penelitian.

Eureka.

Written by Anjar Priandoyo

Agustus 16, 2017 at 9:07 am

Ditulis dalam Life

Tagged with

Apa yang tiga tahun ini pelajari?

leave a comment »

Tiga tahun terakhir ini belajar mengenai energi terbarukan, bagaimana proses sosial terbentuknya, hal-hal saja apa yang mempengaruhinya, mulai dari dimensi politik (pemerintahan), dimensi sosial-budaya (kemasyarakatan), dimensi ekonomi (bisnis) dan apa akibatnya yang ditimbulkannya.

Kesimpulannya, analisa yang lebih baik jika menggabungkan qualitative dan quantitative, hasil analisa lebih bermanfaat jika mencakup dampak secara mendetail.

Energy transition: scenario analysis and its implication.

Written by Anjar Priandoyo

Agustus 10, 2017 at 3:52 pm

Ditulis dalam Life

Tagged with

Apa itu PhD

leave a comment »

PhD itu seperti orang latihan ice skating, harus berlatih keras setiap hari, tanpa ada batasan kapan itu puas. Kalau mengquote orang “Art is never finished, only abandoned” (mungkin Leonardo Davinci)
Update 26 Aug 2017

PhD itu latihan untuk tidak tertipu
Update 28 Jul 2017

Saya akan membuat catatan mengenai definisi PhD, karena menurut seingatan saya, definisi ini terus menerus berubah dari yang negatif hingga yang positif.

  • Negatif, PhD ini tidak berguna, karena by the time PhD ini selesai, ilmu yang dipelajari sudah tertinggal
  • Netral, PhD ini training degree
  • Netral, PhD ini merupakan program sertifikasi yang harus diikuti rangkaian kegiatan

Hari ini saya melihat definisi lain dari PhD yaitu menguasai secara menyeluruh salah satu topik keilmuan. Contoh yang saya lihat adalah PhD mengenai energy modelling. Maka orang tersebut harus bisa:

  • Mengerti mengenai definisi energy modelling
  • Mengerti mengenai bagaimana energy modelling dinegara berkembang
  • Membandingkan 3 metode energy modelling

Contoh kedua adalah yang membandingkan

Jadi apa itu PhD? mendefinisikan, menganalisa sehingga menemukan sesuatu.

Written by Anjar Priandoyo

Juli 28, 2017 at 1:27 pm

Ditulis dalam Life

Tagged with

Produktivitas Peneliti

leave a comment »

Tulisan klarifikasi dari LIPI seperti ini sebenarnya menarik. Ada isu mengenai (kecemburuan) anggaran. Ada isu mengenai (kesenjangan) kualitas. Sebuah permasalahan yang dihadapi negara modern, yang ingin meningkatkan kualitas pendidikannya, tapi disisi lain dihadapkan dengan kenyataan yang ada. Kenyataan industri pendidikan dan penelitian itu sendiri yang masih relatif muda usianya. Muda karena disampaikan bahwa ITS (berdiri tahun 1957) tercatat sejak 1961, dan ITB (berdiri tahun 1959) sejak 1965, LIPI baru berdiri pada tahun 1967. Sebagai perbandingan UoYork yang berdiri tahun 1963 memiliki peringkat publikasi tinggi.

Jadi tidak aneh, kalau kita meneliti maka informasi yang kita dapatkan justru dari instansi semacam:
– Institusi International: World Bank, IEA, FAO
– Institusi Nasional: US (USDA, USDE/EIA), Japan (JICA, Ministry of Environment), Jerman GTZ dan seterusnya.

Written by Anjar Priandoyo

Juli 6, 2017 at 3:29 pm

Ditulis dalam Career

Tagged with ,

What is it all about

leave a comment »

Is it about environment science, in this case is emission analysis. Emission analysis can be in area of energy system where it using EI. The emphasis should be on characteristics of energy system (which high use of biomass). Emission analysis can be emphasis in the possible option that can be used.

Ch 1 General (Key Concept)

  • Emission Analysis, A method to capture, measure and manage emission. Problem: Analysis not fully understood
  • Environment Impact, Emission, Health, Crop. Problem: Environmental impact of energy development is not understood. Problem in energy development Impact of energy scenario such as clean energy (gas) and renewable energy (biofuel) is not captured.

Ch 2 (emission) Analysis of energy system in Indonesia using EI

  • Background? Energy system in Indonesia is indicated by the use of tradional biomass. This traditional biomass usage is often not captured in the EI. The portrait of energy system in terms of emission status is not understood.
  • Gap? latest study is not including rice paddy, wastewater handling and traditional brick kilns production
  • Methodology? EI, calculating total emission

Ch 3 (emission) Analysis of energy scenario in Indonesia using LEAP

  • Background? Energy scenario, option apa yang indonesia punya e.g gas vs renewable
  • Gap? latest study is not including the impact on human in terms of death and human health and the crop loss
  • Methodology? LEAP, comparing each scenario

Ch 4 (social) Analysis of energy transition in Indonesia using MLP

  • Background? transition into clean and renewable energy is priority for many developing countries.
  • Gap? latest study is not capturing the renewable energy transition in Indonesia
  • Methodology? MLP, collecting
  • Question:- How do regime actors view Indonesia’s future energy mix? What is the enablers and obstacle of energy transition in Indonesia? How energy and environment related? What is likeliness of scenario from actor’s point of view
  • Result? layering MLP in Indonesia + preference to clean energy

Ch 5 Analysis of energy in Indonesia using integrated (repetitive) approach (A compilation of 2,3,4)

  • Background
  • Gap? cara mengintegrate yang paling efektif
  • Methodology? repetitive
  • Question: How is long term energy planning towards optimal energy mix and reduced emissions. How is an energy system and certain environmental emissions targets in Indonesia characterized and related? How is energy scenario for the future energy system to be investigated and measured for certain implication? What is the best framework to evaluate energy scenario in regards with their environmental impacts?
  • Results? What is the most likely implemented (repeat interview + LEAP)

Notes:
Main Question: How is long term energy planning towards optimal energy mix and reduced emissions
Energy Transition: How do regime actors view Indonesia’s future energy mix? What is the enablers and obstacle of energy transition in Indonesia? How energy and environment related?
Impact Analysis: What is the impact of energy development and air pollution for human health and environment?
Scenario Analysis: What is the optimal energy scenario for Indonesia?

Written by Anjar Priandoyo

Juni 2, 2017 at 9:23 am

Ditulis dalam Science

Tagged with