Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Mengapa saya ke Jakarta

with 49 comments

Mewarisi darah perantau, saya dan keluarga mempercayai bahwa seorang lelaki seharusnya berada jauh dari kampung halamannya lebih dahulu untuk belajar menempa diri kemudian untuk akhirnya pulang. Kakek saya, bapak saya, kurang lebih meyakini hal ini sehingga keluarga saya meyakini bahwa merantau adalah sebuah tindakan yang terhormat.

Ibu saya, yang sangat saya cintai juga menyetujui pemeo ini. Ibu sejak saya merantau di Magelang tidak pernah mengkhawatirkan bagaimana saya hidup disana, tidak pernah menangisi kepergian saya. Ibu setuju saya merantau, sebagaimana kakek pernah lakukan dahulu. Ibu percaya bahwa dengan merantau seseorang bisa belajar mendiri dan menempa dirinya lebih baik.

Di rumah Cirebon, sejak kecil saya tidak punya kamar pribadi. Sebuah kamar pun terkadang diisi ibu, saya dan adik bersama-sama, makanya saya tidak mudah kangen karena hal-hal melankolis dirumah. Lepas SMP saya sudah masuk sekolah berasrama di Magelang, kuliah pun saya sudah nun jauh dari rumah di Jogjakarta. Dan di Jogja inilah saya meyakini bahwa tempat selanjutnya yang paling tepat untuk saya belajar adalah Jakarta.

Saya mempersiapkan diri untuk hidup di Jakarta dengan baik, karena saya tahu hidup dikota ini pastilah tidak mudah. Saudara sedarah bisa jadi menikam kita dari belakang tapi teman senasib seperjuangan bisa jadi saudara terdekat yang kita miliki. Saya mempersiapkan segalanya dengan baik, dari hal-hal kecil seperti ‘backing’ hingga teman hidup tempat saya berpegang dikota ini.

Jakarta mungkin tidak mudah ditaklukkan, tapi bukan berarti tidak mungkin. Buat saya, apa yang saya miliki sekarang sudah lebih dari cukup. Pekerjaan, tempat tinggal, pasangan hidup atau apapun parameter duniawi buat saya sudah cukup. Teman, sahabat atau apapun yang juga dianggap penting, jelas sudah saya miliki. Tahun-tahun terakhir ini di Jakarta, dengan segala hal perantauan ini, saya memiliki jumlah sahabat lebih banyak dari periode manapun dalam hidup saya.

Jadi apa lagi yang saya harus cari di kota ini? sehari-hari yang saya lihat orang begitu emosional menjalani hidupnya. Marah, atau merasa berhak untuk marah karena suatu hal kecil seperti keteledoran, ataupun stres pekerjaan. Berapa banyak orang yang menjalani hidupnya, banting tulang mendapati hidupnya yang sepi, kemudian marah entah kepada siapa. Hidup tidak berkualitas, hidup yang tidak bahagia, hidup yang tidak lazim. Orang-orang yang kemudian pada akhirnya terbiasa untuk hidup tidak biasa.

Hati saya berteriak. Saya tidak mau pada akhirnya saya terbiasa dengan semua ini. Saya tidak mau pada akhirnya anak-anak saya hanya terbiasa dengan AC dan junkfood. Saya tidak mau saya berubah menjadi egois dan individual. Saya tidak mau keluarga saya nanti rusak oleh hal-hal yang seharusnya bisa saya cegah

Maka, setiap hari yang terpikir dikepala saya adalah bagaimana cara saya pulang. Bagaimana cara saya bisa memperbaiki semua ini dari bagian yang paling kecil, dari saya pribadi, dari keluarga saya sebelum pada akhirnya siap bertahan dari gilasan jaman.

Jakarta, saya ingin pulang

Salam hangat untuk rekan-rekan yang tersebar dimanapun, -jauh dari apa yang disebut rumah-. Kelak suatu saat kita pasti pulang.

Iklan

Written by Anjar Priandoyo

Juli 31, 2007 pada 7:02 am

Ditulis dalam Life

49 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Hmm.. Anjar yakin 10-20 tahun lagi Cirebon tidak akan seperti Jakarta sekarang?
    Saya pikir bukan di mana tempatnya.. tapi bagaimana kultur dan pendidikannya.

    Amir Karimuddin

    Juli 31, 2007 at 7:50 am

  2. melihat orang yang marah2, stress, atau banting tulang mati2an bukan berarti hidup mereka tidak berkualitas. mungkin mereka membuang ‘kenyamanan’ hidup secara pribadi yang bisa mereka peroleh dengan mudah, tapi bagaimana dengan anak2nya kelak?? bagi mereka, bagaimana anak2 mereka kelak jauh lebih penting dari kehidupan pribadi mereka.

    bagaimana bisa meneruskan sekolah anak2 ke sekolah terbaik? makan dengan giji terbaik? pengobatan dengan perawatan terbaik? kuliah di luar negeri mungkin? liburan menyenangkan ke luar negeri mungkin? itu semua membutuhkan uang yang tidak sedikit. trz bagaimana memperoleh itu kalau bukan dengan kerja keras banting tulang??

    saya tidak bermaksud apa2, cuma mencoba melihat dari sisi lain.

    pernah nggak bertanya, apa kepulangan ke magelang bukan contoh sikap egois??

    salam,

    Fendy Siamala

    Juli 31, 2007 at 7:59 am

  3. homesick neh critanya..
    namanya hidup di kota besar pasti begtu. secara udah modern. emang sih, yang namanya junk food dan AC berbahaya buat dunia dan kehidupan manusia. meskipun qt bs ngurangin dengan gak banyak2 konsumsi, tetep gak bisa lagi dicegah ato dihentikan. makanya, pak o0m ustadz sering bilang, kiamat sudah dekat. hehehe..
    tunggu ajah beberapa lama. kampung pasti bakal menjelma jadi kota besar dan kota besar jadi lebih besar lagi. jadi, di zaman generasi anak2 lo yg berkuasa, keadaan udah beda dari sekarang.

    areta

    Juli 31, 2007 at 8:32 am

  4. Memang tidak menjamin bahwa kota dimana kita tinggal dulu alias kampung halaman akan menjelma menjadi Jakarta.. Tapi pada saat Kampung Halaman kita menjelma menjadi Jakarta, bagaimana yh kira2 rupa Jakarta?? :p

    Bagaimanapun memang tinggal di kampung halaman terasa begitu nyaman dan tentram..

    Setidaknya itu pikiran saya..
    Yang sama2 kangen untuk pulang ke kampung halaman (SBY)

    Rifqi

    Juli 31, 2007 at 8:41 am

  5. numpang lewat bung, saya mau mengutip :
    “Berapa banyak orang yang menjalani hidupnya, banting tulang mendapati hidupnya yang sepi, kemudian marah entah kepada siapa. Hidup tidak berkualitas, hidup yang tidak bahagia, hidup yang tidak lazim. Orang-orang yang kemudian pada akhirnya terbiasa untuk hidup tidak biasa.

    Hati saya berteriak. ”
    Kurang lebih saya juga pernah merasakan hal tersebut, hidup yang hampa, waktu berjalan sangat cepat, stress tidak cuma datang dari pekerjaan, dan lain-lain..
    Jakarta memang enak untuk mencari pengalaman, tetapi tidak enak untuk hidup terus disana..

    tesmo jones

    Juli 31, 2007 at 8:56 am

  6. lha wong saya pengin liat monas..
    yo wis aku budal wae lah ke jakarta hehe..

    wong ndeso

    Juli 31, 2007 at 9:05 am

  7. di Jakarta memang mudah mencari duit tapi juga mudah menghabiskannya……..

    sombreng

    Juli 31, 2007 at 9:07 am

  8. seorang teman seangkatan, kakak kelas anjar juga, asli purwokerto, jebolan UI dans ekarang jadi auditor di PwC tiba tiba muncul di surabaya beberapa waktu yg lalu. dia juga keluarga muda dan istrinya baru melahirkan.

    bersama teman sma yg sesama cah ngapak ngapak, papabonbon dan mamabunbun, kita menikmati hangatnya cahaya di Taman Bungkul.

    Setelah beberapa lama dia menganggup dengan yakin, “memang harus segera mencari kota yg relatif lebih kecil dari jakarta”. Rekan onoyirpea, kita tunggu cita citamu moving ke Semarang terwujud yah … :D

    papabonbon

    Juli 31, 2007 at 9:18 am

  9. hehehe… saya produk JKT asli lho, njar… TK, SD, SMP, SMA, di JKT. tp alhamdulillah [sepertinya] ndak individualis, ndak egois, ndak “addict” ke AC dan junkfood, dan alhamdulillah keluarga saya ndak rusak…

    jadi semua itu ndak bisa dijadikan streotype kota JKT deh sepertinya. semua balik ke apa yg disebut rumah, dan apa yg diberlakukan di dalamnya…

    ini bukan membela JKT lho… cuma mengajak berpikir dr sisi yg berbeda… karena yg perlu dibenci dr JKT hanya kemacetannya :-(

    t.w.

    Juli 31, 2007 at 9:53 am

  10. nasib nasib….saya juga anak rantau pak, anak pulau pula…semangatt

    nailah zhufairah

    Juli 31, 2007 at 10:26 am

  11. SDA, saya juga produk jakarta. Walaupun saya besar di keluarga jawa, tapi saya gak takut untuk bilang kalo saya orang jakarta. Karena saya merasa ikut memiliki jakarta :)

    Saya setuju kalo ada orang bilang “hidup itu penuh dengan pilihan”, termasuk AC dan junkfood. Terus terang..selama hidup saya, saya cuma kenal AC di kantor, mall sama taxi doang. Itu juga karena sudah setelannya begitu…bukan karena saya memilihnya.
    Jakarta itu keras, saya setuju. Tapi bagaimana pengaruh jakarta terhadap seseorang, itu tergantung orangnya. Saya sendiri Insya Allah tidak seperti orang Jakarta yang menurut Anda egois, individualis atau addict to junkfood.

    Mengutip tulisan Anda sedikit “Saya tidak mau saya berubah menjadi egois dan individual. Saya tidak mau keluarga saya nanti rusak oleh hal-hal yang seharusnya bisa saya cegah”. Semua orang gak mau menjadi apa yang Anda takutkan, jangan lari dari apa yang ada di hadapan kita…tapi bekali keluarga kita untuk menghadapi hal2 yang ada di hadapan kita nantinya agar tidak terjadi hal2 yang tidak kita inginkan.

    Maaf, bukan saya mau mengritik Anda. Saya cuma mau menyampaikan pendapat saya sebagai anak JKT. Open Ur Mind a Little bit, maybe it’s good for you ;)

    Tyas

    Juli 31, 2007 at 10:28 am

  12. Yowies to mas yang penting kita selalu mensyukuri dengan apa yang telah kita dapatkan, jangan kita sudah punya segalanya..Terus kita lupa dech sama yang diatas. yang telah menciptakan kita okey….Boss!!

    suprie

    Juli 31, 2007 at 10:43 am

  13. Bagi saya jakarta jadi salah satu guru, bagaimana kita bisa aware/waspada terhadap lingkungan (dompet, hape dan sendal saya pernah ilang di kota ini), selu hati2 di bis kota, terminal, jalan, yang mungkin tak akan saya dapatkan di kampung saya yang pager besi antar rumah pun gak ada.

    Yang saya salut dengan jakarta adalah semangat ‘hidup’ nya, bagaimana semangat orang untuk tepat survive dan mengejar impiannya di kota ini.

    Memang saya nggak punya cita-cita untuk hidup di sana, tapi kadang saya malah kangen untuk sesekali nengok jakarta.

    macanang

    Juli 31, 2007 at 11:32 am

  14. Jakarta bagi Daku seperti suatu tujuan alam sana sementara qt di sini di desa seperti alam sini. Untuk mencapai jakarta dari sini butuh kekuatan dan keberanian. Ada yg sampai dan tidak, tetapi dalam hati tetap berkeinginan ke sana. Cukupkah bekal diri untuk hidup di sana. hehe …

    the70no

    Juli 31, 2007 at 12:26 pm

  15. Sy juga berpikir pulang Kang, meski tema itu dulu selalu sy benci :D

    ilham

    Juli 31, 2007 at 1:35 pm

  16. wah jadi ingat beberapa waktu yang lalu di jakarta. kurang lebihnya sama ceritanya… tetap semangat njar…

    Abi Zakky

    Juli 31, 2007 at 2:13 pm

  17. hehehe.. bisa kok hidup di jakarta tanpa junkfood, tapi klo tanpa AC.. gak janji deh.. panas banget!!!.
    dulunya aku rada takut ke jakarta, tapi setelah 3 tahun kerja di balikpapan yang aman tentram damai dan tidak menguras uang seperti di jkt, aku benar2 yakin bahwa aku harus ke jakarta!! untuk mencari tantangan & kesempatan yang lebih luas lagi :)
    Tipsnya: jangan pernah ragu & mengkoreksi langkah yang telah diambil, terus aja jalani dengan hati mantap. Awalnya, tidak ada yang mudah.

    justin

    Juli 31, 2007 at 3:58 pm

  18. saya juga orang yang terbuang dari jakarta karena ngga kuat dengan cara hidup di kota itu. Bapak & Ibu saya masih stay disana, tapi selepas SMP, saya udah ngerasa ga betah tinggal di jakarta.
    kalau merantau sih emang udah gawan bayi setiap laki-laki, tapi kalau pilihannya jatuh ke jakarta…. wah, ibukota emang lebih kejam dari ibu tiri deh!!!!

    adamsopray

    Juli 31, 2007 at 6:20 pm

  19. Kirain ke Jakarta mo ikut pilkada nambahin suara.
    Kalo ikut milih, pilih yg sedikit pendukung partainya, biar kontribusi ke masyarakat jd lebih maksimal.
    (Maap ko jd malah kampanye hehehe…)
    :)

    Irwan

    Juli 31, 2007 at 6:33 pm

  20. Ayooo ayooo .. sapa yg mau pindah ke Yogyo. Tinggalin itu kehidupan sumpek di Jkt (kompor sdh nyala nih … :). Disana masih relatif nyaman loh. Pendidikan oke, mall2 juga ada. Mo’ cari suasana yg ndeso2, tinggal pilih : di Sleman, Mbantul, Kulonprogo, etc. Kalo pilih yg suejuk2, ya pilih sleman, deket omahe Mbah maridjan. Pagi2 sarungan, minum teh anget sambil menikmati keindahan merapi……

    Dari wong ndeso di Sleman ….

    Nawi

    Juli 31, 2007 at 9:37 pm

  21. sabar pak….
    Kalau jakarta sulit ditaklukkan hijrah aja,,,

    julfan

    Juli 31, 2007 at 11:09 pm

  22. Mas Anjar, saya juga sudah sumpek rasanya dengan suasana Jakarta. Bosan menjadi orang pinggiran di keramaian Jakarta. Jauh dari anak dan istri. Entah kenapa, garis hidup saya selalu membawa saya ke Jakarta. Hiks.

    doeytea

    Agustus 1, 2007 at 12:28 am

  23. Merdeka Bung

    Sama kok, Jakarta, Jogya, Surabaya, Makassar dll. Masih Indonesia :)

    Itulah konskuensi hidup yang pilihannya ada di tangan kita sendiri. Kecuali buat orang tertentu yang kemerdekaannya terbatas ??? Seperti narapidana yang “terpaksa” harus stay di Jakarta.

    Kalau mau hijrah… hayoo!
    Saya lahir dan besar di Jakarta, tapi sudah hampir separuh umur diluar Jakarta. 20 thn di Jakarta, 7 thn di Kalimantan dan 10 thn di Sulawesi.

    Nikmati dan syukuri apa yang ada :|

    WoKay

    Agustus 1, 2007 at 2:10 am

  24. Jakarta Suck’s !!!!!!!!!

    Eric

    Agustus 1, 2007 at 2:58 am

  25. Kalo di Jogja/Solo beli apa-apa murah, tapi cari duitnya yang mahal :-) kecuali jadi pengusaha, hehehehehe

    Kalau aku sih kayaknya belum akan pulang kampung njar, pengen mengepakkan sayap di jantungnya Indonesia . Serta kebetulan istri yang instrument engineer pengen mengabdikan ilmunya sebagai karyawan swasta. Nah susah kan nyari kerja buat instrument engineer di jogja ? Ada EPCI atau oil company gak di jogja ? hehehehe

    andrias ekoyuono

    Agustus 1, 2007 at 3:18 am

  26. pengin suasana yang lebih suejuk lagi….
    mendingan pindah ke sarangan ja….
    seger…..
    (“,)…

    cipto

    Agustus 1, 2007 at 5:25 am

  27. Karena belum pernah kerja di Jakarta, kok malah ingin suatu saat kerja di situ yah.

    ihedge

    Agustus 1, 2007 at 5:31 am

  28. begitulah kalo apa2 dipusatkan di jkrta, pulau lain jadi sapi perah, tanpa bisa nikmatin susu keju dan mentega

    indo nggugat

    Agustus 1, 2007 at 6:34 am

  29. saya juga dari rantau…
    sudah terlanjur hidup di jakarta..
    dan saya terima semuanya apa adanya

    mariska

    Agustus 1, 2007 at 7:44 am

  30. ketika ingin darahmu mengalir dengan cepat, kehidupanmu berbalapan dengan waktumu, pikiranmu jarang istirahat. maka datanglah ke jakarta dan lihat hiruk pikuk kemacetan jalan tol di waktu pagi. tapi saya selalu ambil positif aja (positive thinking is a very strong persuasive power bro). positifnya, kebutuhan untuk learning dan developing anda akan terpenuhi di jakarta. tinggal manajemen waktu aja bro (put first things first).

    princetelco

    Agustus 1, 2007 at 9:49 am

  31. wah.. mas anjar cerbon mana nih?
    sama dong kite..
    emang sih, kadang2 aku jg kangen ama cerbon
    terutama setelah dsini ga pernah nemu tahu gejrot yang enaknya sama kaya di cerbon..hehehe..

    pikiran kita ternyata sama mas.. someday nanti.. pengen menghabiskan masa2 tua di cerbon lagi…huhuhu…

    wong_cerbon

    Agustus 1, 2007 at 10:06 am

  32. kok topiknya seperti usulku ya mas, kalau gitu makasih deh ya (hehehe gr). tapi kok nggak di bahas kenapa kita bosan, jenuh dlsb,….. btw kalo saya sih karna rumah jauh aja kali ya, (bekasi gitu loooh), maklum baru bisa beli disitu. tapi nggak juga sih ya, mungkin memang suatu saat kita harus lepas sesaat lah ya dari semua rutinitas yang biasa, utk jadi pengalaman hidup or whatever lah yang pada akhirnya semua itu bisa memperkuat kita.

    ikow

    Agustus 1, 2007 at 10:14 am

  33. Lha saya kok malah pingin kerja di Jakarta… biar deket anak-istri gitu… daripada seperti sekarang ini, kerja nun jauh di pelosok pedalaman… anak-istri di Bogor….. 6 minggu sekali baru bisa ketemu…. tapi ya mau gimana lagi…. belum juga ada pekerjaan di Jakarta yang cocok untuk saya (hehehe… padahal maksudnya,sih, belum ada perusahaan yang cocok dengan saya).

    Jalan satu-satunya, ya terimalah apa adanya… di Jakarta atau di daerah mana saja, sama saja kok… tergantung bagaimana kita menyikapi-nya saja…. kalau kita bisa mengalahkan Jakarta yang rame dan penuh godaan ataupun mengalahkan lokasi pedalaman yang sepi jauh dari keluarga karena tuntutan pekerjaan…. hmmm… itu salah satu kemenangan besar dalam hidup kita.
    (note: padahal saya menulis ini sambil bercucuran air mata, kangen ama anak-istri…. ternyata saya belum bisa mendapatkan salah satu kemenangan besar itu)

    Prast

    Agustus 1, 2007 at 10:32 am

  34. OMG….
    pleaseeeeeeeeeeeee…………

    Apa sih yang menarik dari kota Jakarta?
    Dulu memang menarik, waktu masih banyak kebon pisang, masih banyak lapangan…

    Tetapi sekarang dipenuhi oleh rumah-rumah baru yang disediakan untuk para yuppie.

    kunderemp

    Agustus 1, 2007 at 10:38 am

  35. Oh ya… ada yang suka kebon pisang, ada yang suka kebon beton.. it is a matter of choice.

    Amir Karimuddin

    Agustus 1, 2007 at 5:28 pm

  36. aku setuju banget ama t.w. bahwa ini soal rumah.
    jika kita menganggap Jakarta rumah kita maka kita akan terlibat aktif di dalamnya. jika enggak ya gak akan ada enak-enaknya tinggal di sini. cari bagusnya dan jangan tambah masalahnya. naik angkutan umum biar jakarta gak tambah macet misalnya.
    btw, kenapa sisi perantauannya yang ditonjolkan ?!
    jiwa perantauan membawa makna bahwa kita emang “tidak ingin mengakar”. efeknya seperti yang mas Anjar dan beberapa temen bilang “Maka, setiap hari yang terpikir dikepala saya adalah bagaimana cara saya pulang.”
    jika ini masalah pekerjaan ada istilah tentang profesionalisme, kerja di suatu tempat harus fokus pada pekerjaan. begitu juga seharusnya dengan tempat tinggal.
    so, semuanya akan kembali pada cara bersyukur dan memberi makna pada perjalanan hidup.
    salam.

    nindityo

    Agustus 2, 2007 at 12:52 am

  37. bung anjar, saya asli betawi dan cuma 6 tahun dari umur saya yg saya habiskan diluar jakarta waktu kuliah di BDG. sebenarnya saya sangat berharap orang2 spt anda bisa mengembangkan kampung halaman masing2, menggiatkan perekonomian dan terutama menciptakan lapangan kerja. jakarta menjadi seperti sekarang ini karena kita (terutama pemerintah pusat) terlalu berharap banyak dari jakarta. bagi saya salah satu problem besar jakarta adlh urbanisasi dan hanya bisa dikurangi dgn mendistribusikan potensi2 ekonomi keluar dr jakarta.

    drmwn

    Agustus 2, 2007 at 4:02 am

  38. wah sama, aku juga orang cerbon. pernah juga kerja di jakarta..menjadi komuter jakarta bogor…selama 5 bulan.
    sekarang pindah ke bandung…lebih tenang gak gruduk-gruduk
    kayak jakarta.
    tapi kadang2 kangen juga sma gruduk2 jakarta
    sekalian numpang promosi blog oy
    http://www.nurcha.wordpress.com
    mampir-mampir ya
    btw…blognya ok banget

    nurcha

    Agustus 2, 2007 at 6:27 am

  39. maksudku blognya mas anjar ok bngt…
    aku masih harus belajar lagi ngelola blog dengan baik

    nurcha

    Agustus 2, 2007 at 6:32 am

  40. papabonbon

    Agustus 2, 2007 at 8:17 am

  41. Apa yang abang tulis sama seperti yang saya rasaain.

    setelah selesai karya tulis, saya disuruh pulang sama keluarga di kalimantan… di suruh nyari magang disana.
    kalo saya pulang, saya belum jadi apa-apa bang…
    cuman sekedar anak biasa tamatan SMA…
    Saya belum bisa banggain keluarga dengan keadaan saya
    sekarang.
    Bagi saya Jakarta adalah medan perang.
    saya harus berperang untuk belajar dan berlari disini, belajar untuk ngerubah nasib.

    kangen banget ma masakan rumah, ngerasa kehilangan
    jika ada momen-momen yang ketinggalan karena saya
    ngak ada disitu. kangen ma mama. kangen ma keluarga.
    tapi saya sudah punya ketetapan dihati…

    Saya akan pulang, tapi bukan sekarang…

    Terima kasih bang…
    tulisannya benar-benar Inspiring…

    mriyandi

    Agustus 2, 2007 at 8:23 am

  42. Bung Anjar, saya belum berani pulang ke rumah
    krn saya blm kerja mapan alias masih srabutan.
    hahahaaaaa….aaa
    terus terang, saya malu dgn keluarga dan teman2.
    tp saya akan slalu berusaha, biar saya bisa cpt pulang dan
    memberikan sedikit kebahagiaan kepada orang2 yg saya
    sayangi.
    trims….

    rony siagian

    Agustus 2, 2007 at 3:53 pm

  43. wah jakarta memang punya berjuta cerita..mungkin salah satunya nanti saya kebagian juga cerita hidup di jakarta..secara kita atas tuntutan kerja musti ikut berdesak2an di ibukota..tapi saya Bismillah saya..insya Allah semuanya bisa berjalan dengan baik kalo kita bisa ikhlas..!

    lussac2000

    Agustus 4, 2007 at 7:30 am

  44. sama banget kayak gw. Moga2 taun depan gw bsa pulang kampung. ngga di Jakarta lagi…..huh.. lelah….

    mama-jesse

    Agustus 7, 2007 at 3:41 pm

  45. Numpang comment yaa..

    Sama dengan anjar, saya jhuga asli “wong cherbon”, sama2 lulusan sekolah berbau ilmu komputer tapi yang ada di kota bandung. Trus dapet kerja di salah satu bumn jakarta (sambil ngelanjutin kuliah ke jenjang berikutnya di sini) dan nyambi ngajar di salah satu universitas swasta. Nggak terasa udah bertahun-tahun saya tinggal..Setiap sebulan sekali saya masih berkunjung ke cirebon nengok ortu, sambil melepas kangen makan jajanan cirebon seperi nasi jamblang Mang Doel, tahu gejrot, dan empal gentong Mang Darma…

    Memang dibandingkan dengan cirebon, jakarta sangat keras, tapi kalo cuma itu yang kita patok dipikirin kita tentu mindsight kita tentang jakarta yaa cuma yang nggak enaknya aja. Cobalah sedikit untuk merasa memiliki jakarta, pasti akan terasa menyenangkan. Tapi yang pasti semua itu bergantung pada niat, cara pandang dan tindakan kita. Pabila kita memiliki niat ‘Lillahi Ta’ala’ dlm mengerjakan segala sesuatu, ‘thinking positive’ dalam memandang sesuatu, dan ‘memberikan yang terbaik’ dalam bertindak, maka Insya Allah dimana pun kita berada maka akan terasa menyenangkan…

    Btw, selamat berjuang dimanapun anda berada, dan semoga sukses…

    Erita Sari

    Agustus 8, 2007 at 4:19 pm

  46. ok, simple question what have you gave to Jakarta ? What is your contribution to make the place where you can get a good job, good life to be a better place to live?

    liswari

    Agustus 8, 2007 at 6:30 pm

  47. Met kenal ya pak…

    Widi Kuworo

    Agustus 9, 2007 at 7:24 am

  48. Ok, big questionnya adalah : apakah untuk menjadi “besar” dan “dewasa” hanya bisa dilakukan di jkt ? apakah medan perang satu satunya hanya Jakarta ?

    jika di tempat lain ada kesempatan bagus, kenapa tidak ? banyak kota besar di luar negeri sana yg bisa menjanjikan gaji besar sekaligus life balance. begitu juga kota besar lain di indonesia. sebut saja surabaya, jkt, bandung, medan ….

    papabonbon

    Agustus 9, 2007 at 8:58 am

  49. sumpah !!!! saya “senafas” dengan anda ! cuma mungkin beda angka di masalah “pendapatan per bulan” hehehe…. next time, sy pengen sharing dengan masnya. sy juga sudah sempet share dengan mbaknya. kebetulan saya juga cari ilmu di jogja. lahir di semarang. skrg rantau di jakarta. great ! sy bukan penulis yang baik. tapi saya akuin pembaca yang baik dari segala tulisan masnya. thanx !!!

    rocky

    September 7, 2007 at 10:26 am


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: