Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Archive for the ‘Career’ Category

Perbandingan biaya hidup (Living Cost)

with one comment

Gaji 2 jt, kost 500rb
Gaji 4 jt, kost 1jt

Kost tahun 2007, suami istri masih bisa 1jt, kost single masih bisa 500rb
Kost tahun 2017, single sekitar 1jt
Makan tahun 2017, 20,000×3=60rbx30=1.8jt

Update 9 Sept 2017

Biaya hidup sebenarnya adalah “investment decision” atau dalam istilah stackexchange: too broad, primarily opinion based, yang seharusnya tidak perlu ditanggapi. Tapi, ya sudahlah.

Biaya hidup di Inggris itu sangat precise, contoh menurut aturan VISA, biaya hidup minimal untuk mahasiswa adalah sekitar £1,000. Maka kalau lihat estimasi masing-masing Universitas, juga sangat precise mengikuti standar aturan VISA. Contohnya di Univ Birmingham atau York setahun sekitar £12,000 (£7,000 essential living cost, £4,000 variable cost). Disini sekitar 60%-nya saja untuk akomodasi (rumah, listrik, air).

Namun biaya hidup untuk pekerja (bukan mahasiswa) sedikit berbeda, contoh dari Numbeo di York biaya hidup sekitar £1,200 (£600 rent + £600 variable).

Menurut peraturan VISA UK, biaya hidup minimal di Inggris itu £1,015 untuk outside London, dan £1,265 untuk London. Artinya London lebih mahal sekitar 25%. Minimal Salary di UK adalah £7.5 per jam, jadi kalau bekerja 40 jam per minggu, perbulannya kira-kira mendapatkan gaji £1,200 (7.5 x 40 jam x 4 minggu). Namun membandingkan antara London dan York misalnya, tidak terlalu akurat, dari Expatistan misalnya London itu dikatakan 52% lebih mahal, yang tentunya berbeda dengan asumsi VISA UK tadi yang hanya 25%. Perbandingan yang lain antara Leeds dan York, seharusnya Leeds lebih murah dari York, namun dikatakan bahwa Leeds 7% lebih mahal dari York. Sebagai pembuat kebijakan ini mungkin dilema juga, karena untuk merujuk ke biaya hidup setiap kota harus mengacu pada survey resmi, yang kebanyakan memasukkan komponen lain seperti Personal Care atau Entertaintment yang mungkin tidak terlalu relevan bila obyeknya adalah mahasiswa atau keluarga baru yang prioritasnya berbeda.

Perbandingan biaya hidup tentunya sangat personal, ada yang mengatakan Jogjakarta lebih murah, karena orang ini bisa menabung lebih banyak di Jogja, sementara yang mengatakan Jakarta lebih murah, bisa jadi karena bisa menabung lebih murah. Data perbandingan seperti ini memang bermanfaat tapi sekedar ilustrasi yang kalau masuk ke keputusan yang dibuat maka itu sangat pribadi.

Jakarta Rp 7.500.726
Yogyakarta Rp 4.803.345
Cirebon Rp 3.606.736

Iklan

Written by Anjar Priandoyo

September 7, 2017 at 5:52 pm

Ditulis dalam Career

Lowongan PNS itu

leave a comment »

Suatu ketika saya pernah bertanya kepada bapak saya, mana yang lebih baik tinggal di Purwokerto atau di Cirebon. Bapak saya yang menghabiskan 1/3 awal hidupnya di purwokerto dan 2/3 sisanya di Cirebon menjawab “dimana saja sama, yang penting dapat pekerjaannya dimana”. Ibu saya yang seumur hidupnya di Cirebon menjawab kurang lebih sama “Ya dimana saja sama, kalau merantau juga tidak apa-apa”. Jawaban yang netral.

Belakangan disalahsatu forum di Internet dibahas. Mana yang lebih mahal tinggal di Jerman atau di Indonesia. Saya tergelitik untuk menjawabnya, karena saya bisa menjawab apapun, tergantung framingnya. Kalau dilihat dari purchasing power mungkin terlihat Jerman lebih murah, tapi kalau dilihat dari side-by-side value (e.g pendidikan, kesehatan, quality of life) Jerman terlihat murah, kalau dilihat dari Housing, Jerman terlihat sangat mahal. Kalau dilihat dari opportunity to grow, Jerman terlihat murah, kalau dilihat dari sekedar mengkuliahkan anak, Jerman terlihat mahal. Intinya tidak ada jawaban untuk pertanyaan tersebut. Ujung-ujungnya malah bertengkat.

Hari ini, saya melihat berita mengenai pendaftaran CPNS, yang konon jumlah pendaftarnya sudah lebih dari 1 juta, untuk sekitar 20,000 posisi. Dan seketika juga saya teringat tulisan Romi Satria tahun 2006 yang lalu mengenai perlu tidaknya melamar PNS. Ini juga pertanyaan yang sama seperti mengenai pilihan tempat hidup, pilihan pasangan hidup, pilihan karir. Pertanyaan-pertanyaan yang hanya cocok dibahas di Quora, bukan di Stackexchange.

Namun meski sudah pasti tidak ada jawabannya, kenapa manusia terus mempertanyakan hal tersebut?

Written by Anjar Priandoyo

September 6, 2017 at 5:01 pm

Ditulis dalam Career

Systematic vs Scientific

leave a comment »

Thinking systematically is better than thinking scientifically. I was in the situation where the staff is morally bad. So I went to book shop, read some book and found out that the staff need some motivation, which can be from two books: Drucker Management (2008) which saying that everything needs to be defined carefully both plan and target (Part IV Productive Work and Achieving Worker); and Seven Habits Covey (1989) on Synergize (Part VI).

Drucker has PhD in International Law – Frankfurt (1932) and Covey has PhD in Religious Education – Brigham Young, so it is safe to argue that both of Drucker and Covey premise on how we manage thing is scientific. So I try to implement what their thesis for several weeks and found that both of their ideas are not useful, even I start to forget about it. Sound familiar? applying what Drucker/Covey idea looks a scientific approach but why it fails.

So I change my approach, I move to a different company, plan everything and works based on that plain. It fails, but I keep moving to a different company, use the same pattern and after several trials, it works. Sound familiar?

Thinking scientifically is like having a very good violin teacher, but thinking systematically is like having a very discipline and consistent training. Most of the problem is we know too much, but we don’t know how to use it.

Written by Anjar Priandoyo

Agustus 29, 2017 at 1:52 pm

Ditulis dalam Career

Kebiasaan Lembur

with one comment

Di kantor ada beberapa tipe manajer, ada manajer yang selalu pulang larut (lembur), minimal jam 22:00 meninggalkan kantor. Sementara ada manajer yang selalu pulang tepat waktu (tengo), misalnya jam 09:00-18:00. Manajer lembur ini kelebihannya punya anak buah yang tangguh, semisal ada proposal yang deadlinenya besok pagi, maka anak buahnya ini bisa menginap dikantor untuk menyelesaikan pekerjaan.

Suatu ketika disiang hari, manajer tengo dihadapkan pada deadline proposal yang harus diselesaikan besok pagi, namun seluruh anak buahnya seperti biasa akan pulang sore ini. Manajer tengo kebingungan bagaimana menghadapi hal ini, bahkan sampai menyesali mengapa dia tidak mengelola timnya seperti di manajer lembur yang lebih siap menghadapi berbagai situasi.

Akhirnya si manajer tengo bertanya kepada timnya, dalam situasi seperti ini haruskah kita lembur? timnya menjawab “tidak pak, ini opportunity lost”. Akhirnya si manajer memutuskan untuk memulangkan anak buahnya dan kemudian terbukti bahwa si manajer lembur memenangkan tender dibandingkan manajer tengo. Si manajer tengo sedih dan berjanji akan mengubah cara kerjanya, salah satunya adalah menyiapkan draft proposal dipagi hari, sehingga bila ada RFI yang masuk pagi hari masih bisa diselesaikan pada sore harinya, bila ada RFI yang masuk di siang hari maka ini opportunity lost.

In the long run, secara teori, manajer tengo akan lebih baik dari manajer lembur, karena cara kerjanya sistematis. Namun, secara teori juga, manajer tengo bisa jadi memburuk kinerjanya, apabila secara psikologis manajer tengo tidak cukup berani (tidak cukup percaya diri) mengkalkulasi berapa banyak opportunity lost dari cara kerjanya tersebut.

Membuktikan mana yang lebih baik antara lembur dan tengo ini sulit untuk dilakukan. Sama seperti mendidik anak, antara disiplin dan kebebasan sulit untuk diketahui mana yang lebih efektif. Paling tidak ada dua pendapat, kalau dilihat dari faktor budaya sosial, disiplin adalah pilihan yang terbaik. Namun kalau dilihat dari psikologis individu, semua ini tergantung bagaimana si manajer (baik tengo maupun lembur) untuk menegakkan sebuah peraturan. Peraturan yang paling baik adalah yang bisa konsisten ditegakkan, mau lembur atau tengo.

Written by Anjar Priandoyo

Agustus 29, 2017 at 12:00 pm

Ditulis dalam Career

Jalur Karir (Career Trajectory)

leave a comment »

Andi dan Budi teman baik satu SMA di Purwokerto. Andi dan Budi memiliki banyak kesamaan. Kesamaan waktu memulai, sama-sama bekerja di BUMN, menikah, punya anak pada saat yang bersamaan. Kesamaan prinsip, sama-sama berhemat, sama-sama menempatkan keluarga sebagai prioritas utama. Perbedaannya hanyalah suatu ketika Andi memutuskan untuk membeli rumah di komplek perumahan, sementara Budi membeli rumah di perkampungan. Singkatnya pada akhir hidupnya, Andi memiliki kekayaan yang lebih besar dari Budi.

Adakah cerita seperti ini? rasanya tidak ada, yang ada adalah cerita seperti ini.

Andi dan Budi teman baik satu SMA di Purwokerto. Andi dan Budi memiliki banyak kesamaan namun juga banyak perbedaan yang signifikan yaitu Andi lebih berani berspekulasi daripada Budi. Sehingga suatu ketika Andi membeli rumah di komplek perumahan yang sedikit lebih mahal dengan pertimbangan investasi dibandingkan Budi yang membeli rumah di perkampungan.

Perbedaan keputusan yang dibuat Andi dan Budi ini hanya sekali saja yang dilakukan pada umur 30, namun memberikan gap kekayaan yang sangat besar antara Andi dan Budi. Adakah cerita seperti ini? rasanya tidak ada, yang ada adalah cerita seperti ini.

Andi dan Budi sedari awal memang berbeda. Meski terlihat beberapa prioritas sama, namun dari sisi strategi Andi dan Budi jauh berbeda. Karir Budi jauh lebih baik dari pada Andi, Budi lebih baik dari Andi dalam berhubungan dengan orang. Tapi, kalau berbicara mengelola uang, strategy Andi lebih baik dari Budi. Andi misalnya membangun rumah secara bertahap, meski di komplek rumahnya relatif besar. Sementara Budi, membangun rumahnya dengan membeli rumah secara langsung. ref

Kesimpulan:

  1. Prinsip bisa sama (e.g berhemat), prioritas bisa sama (e.g keluarga), namun pelaksanaan bisa jauh berbeda, masing-masing punya cara sendiri
  2. Ambisi bisa sama (e.g menjadi bos), cara hampir sama (e.g performance, network, headhunter), namun prakteknya bisa jauh berbeda. Ada yang tekun terus menerus, ada yang tidak tekun

Written by Anjar Priandoyo

Agustus 29, 2017 at 9:07 am

Ditulis dalam Career

Satu tahun itu perbedaan yang signifikan

leave a comment »

Age gap itu signifikan
Waktu awal kuliah, beda satu tahun angkatan itu seperti berbeda bumi dan langit. Anak tahun pertama berbeda dengan anak tahun kedua yang sudah 2 kali melihat IPK-nya. Anak tahun kedua berbeda dengan anak tahun ketiga yang sudah lebih banyak mata kuliah prakteknya dan menyadari bahwa gap itu tidak hanya IPK tapi juga kemampuan coding. Sementara anak tahun ke empat juga sudah terlihat kekhawatirannya karena harus segera lulus kuliah.

Age gap tidak signifikan
Begitu lulus dan diterima diperusahaan yang sama. Anak 1994 misalnya dibandingkan anak 1992, yang berbeda angkatan bisa saja terlihat sama persis kinerjanya. Sebagai contoh, kalau dilakukan training karyawan yang berusia 22 tahun dan berusia 24 tahun tidak terlihat perbedaan yang jauh. Ini umumnya di perusahaan yang punya program trainee yang mengharuskan karyawannya belajar dari nol, misalnya trainee di perbankan. Di jenjang karir yang lebih tinggi misalnya, seringkali perbedaan umur ini tidak terlihat. Contoh manager A berusia 30 tahun sementara manager B berusia 40 tahun. Manager A dan Manager B bisa bekerja sama bersama-sama secara setara. Age gap juga tidak signifikan.

Kapan signifikansi itu muncul
Signifikansi itu baru muncul ketika ada unsur kompetisi. Contoh, seorang staf junior berusia 25 tahun, bisa saja berinisiatif memimpin staf junior yang berusia 23 tahun. Staf 25 tahun ini memposisikan diri lebih tinggi. Disini age gap menjadi signifikan. Seorang manager berusia 32 tahun yang mempunyai 2 anak berusia 5 tahun, bisa memposisikan dirinya setara dengan manager berusia 42 tahun yang yang mempunyai 2 anak berusia 8 tahun.

Kapan signifikansi itu bisa bermanfaat
Signifikansi itu bermanfaat untuk memahami dinamika yang akan terjadi. Pengalaman saya, jika ada satu staf yang age gapnya cukup jauh e.g lulus 6 tahun (sementara rata-rata 4 tahun) memiliki periode menganggur 3 tahun (sementara rata-rata kurang dari 1 tahun), maka ini adalah flag. Sebaiknya kandidat ini tidak dipilih, karena potensi bermasalahnya besar.

Dalam dunia karir age gap ini merupakan indikator yang bisa membantu, namun dalam dunia investasi, age gap ini sangat signifikan. Contoh, kapan pertama rumah dibeli, kapan usia menikah akan signifikan berdampak dengan jumlah akumulasi kapital yang dimilikinya.

ref Deloitte Careers, ref Deloitte Business Analyst

Written by Anjar Priandoyo

Agustus 21, 2017 at 2:50 pm

Ditulis dalam Career

1000 kata per hari

leave a comment »

Sudah tiga tahun ini saya menjadi penulis professional. Penulis professional, adalah penulis yang menghabiskan seluruh waktu hidupnya untuk menulis. Salah satu alat ukur kinerja seorang penulis adalah dengan jumlah kata (word count) yang dihasilkannya.

Word count ini berlaku universal, karena setiap pembahasan dengan teman, pertanyaan yang sering muncul adalah berapa jumlah halaman yang harus dihasilkan. Biasanya jawaban yang diberikan adalah estimasi seperti maksimum 40 halaman, sewaktu saya tanyakan kepada teman yang mengambil master. Berapa 40 halaman itu? paling tidak dengan 350 kata berkisar sekitar 14,000 kata, diselesaikan dalam waktu 3 bulan. Untuk yang by research sekitar 40,000 kata dalam 2 tahun.

Setiap industri punya standarisasi mengenai kinerja. Tulisan opini kompas misalnya, batasan maksimum sekitar 1,000 kata. Thesis PhD maksimum sekitar 100,000 kata, dengan penafsiran ilmu sosial maksimum 80,000 dan ilmu eksak sekitar 60,000 kata. Menariknya, jumlah kata pada Thesis PhD sama dengan jumlah kata dari novel, makanya banyak yang bilang mengerjakan PhD pada dasarnya menyusun sebuah buku.

Namun, ada beberapa perbedaan dalam menyusun Thesis PhD dan menyusun buku, perbedaannya itu terletak pada jumlah kata per halamannya. Jumlah kata pada novel adalah 250 (hingga 300), sementara jumlah kata pada phd adalah 330 (hingga 400). Kalau diambil rata-rata jumlah novel adalah 250 dan jumlah phd adalah 350, dengan hasil akhir yang sama. Perbedaannya lainnya adalah dalam durasi, sebuah novel bisa dikerjakan dalam waktu 9 bulan (1-2 bulan draft, 6 bulan revising). Sementara sebuah thesis bisa dikerjakan dalam waktu 3-4 tahun.

Meski berbeda, baik penulis novel professional atau penulis phd profesional, menurut saya memiliki standar kinerja yang sama. Standar itu adalah menghasilkan tulisan sekitar 1000 kata per hari. 1000 kata per hari adalah jumlah yang sustainable dan make sense. Make sense karena kata yang ditulis ini harus secara kronologi nyambung dalam bentuk satu kesatuan.

Pengalaman saya sendiri, menulis buku, mempertahankan agar tetap bisa produktif di 1000 kata setiap hari sangatlah susah. 1000 kata per hari ini memang terlihat sedikit bila dibandingkan dengan kecepatan mengetik normal sekitar 40 wpm (2400 kata per jam), namun kenyataannya penulis professional pun menulis novelnya pada kecepatan ini. Artinya menghasilkan 1 novel setiap tahun adalah kinerja standar untuk penulis novel professional.

Lalu implikasinya buat saya? saya harus terus berlatih. Angka yang make sense dikepala saya adalah sekitar 300 kata setiap tulisannya (setiap hari). Dan, sesuai perkiraan saya, catatan pendek di blog ini berkisar 300 kata bisa diselesaikan dalam waktu 30 menit. Makanya, untuk bisa menulis rutin, saya harus menyediakan blocking waktu sekitar 30 menit untuk menghasilkan karya yang baik.

ref, ref

Written by Anjar Priandoyo

Agustus 15, 2017 at 8:02 pm

Ditulis dalam Career