Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Archive for the ‘Career’ Category

Pendidikan berkelanjutan

leave a comment »

Sekolah ataupun pendidikan berkelanjutan sebenarnya merupakan cara paling mudah bagi seseorang pekerja untuk meningkatkan kemampuan dirinya. Sekolah, Sertifikasi termasuk juga pendidikan lanjut seharusnya dipandang sebagai sebuah investasi. Orang yang mengambil S2 tentunya lebih baik dari orang yang mengambil S1. Pertama, orang ini nantinya akan punya kemampuan untuk mengajar, tentunya ini merupakan cadangan apalagi terjadi sesuatu hal dalam pekerjaannya. Kedua, orang ini terbukti mampu mengelola waktu dengan baik karena bisa membagi waktu antara bekerja dan sekolah sekaligus.

Di Indonesia, sekolah lanjutan merupakan bagian dari karir. Di TNI misalnya Sesko yang merupakan sekolah tingkat lanjutan dari Mayor ke Letkol, dilakukan pada usia sekitar 35/36 tahun dengan batas maksimal 43 tahun. Bagaimana Sesko ini kemudian menjadi benchmark di berbagai perusahaan lain melalui program sekolah seperti banyak terjadi di perbankan maupun BUMN.

Namun meski sekolah ini pada dasarnya baik, sebelum memutuskan untuk mengambil sekolah ada beberapa pertimbangan yang harus diambil.

1.Masalah waktu, apakah sekolah diambil paruh waktu atau penuh waktu. Salah satu keuntungan mengambil sekolah adalah persepsi yang positif dari masyarakat. Orang yang sudah bekerja 5 tahun, kemudian memutuskan menikah dan berhenti bekerja, bisa mengisi CV yang kosong dengan sekolah. Perusahaan akan melihat orang tersebut tetap produktif berkarya, tidak sepenuhnya menganggur. Namun, bagi orang yang mengambil secara penuh waktu, misalnya di luar negeri, maka harus berhati-hati, karena ada risiko bahwa karirnya akan tertunda.

2.Masalah biaya, ada kalanya keputusan untuk sekolah menjadi sangat problematis. Semisal dengan adanya sejumlah dana, mana yang lebih diprioritaskan, misalnya antara liburan, merenovasi rumah atau membeli rumah. Masalah bidang studi yang akan diambil hingga bagaimana membagi waktu antara bekerja dan menyelesaikan tugas sekolah. Untuk memudahkan, masalah biaya ini harus dilihat dalam dimensi yang lebih luas. Karena ada unsur kebanggaan dan pencapaian yang tidak bisa diukur. Sama seperti orang yang bercita-cita untuk menyelesaikan Big 5 Marathon di lima kota besar didunia, ini adalah pencapaian yang tidak bisa diukur dengan uang. Meski biayanya besar, tapi kebanggaan yang diraihnya akan terus dirasakan hingga akhir hayat nanti.

3.Masalah visi. Aspek ini mungkin terkesan klise, tapi pendidikan S1 dan S2 sebenarnya tidak terlalu jauh berbeda. S1 Komputer dengan S2 komputer mata kuliah yang diajarkan kurang lebih sama. Kalau orang yang sedari awal tidak mau kuliah S2, ia akan memandang S2 tidak berguna, hanya mengulang. Namun orang yang sedari awal mau S2, ia akan memandang S2 sebagai latihan untuk mengulang apa yang sudah pernah dipelajarinya. Ulangan-ulangan ini lah yang penting.

Saya kalau harus menjelaskan apa yang saya pelajari pada saat S1 saya masih ingat (OS, DB, Network, AI). Kalau ditanya di S2 saya masih ingat (CEO, COO, CFO). Begitu juga di CISA 5 domain (PC, CO, Security), CISSP 10 domain, PMP 10 domain (ISTCQHRCPS), terakhir CIA (IAB, IAP, IAKE), IAB (CCC-GARDME) IAP (FEF) IAKE (GROCMIFE). Sama seperti Filsafat, yang saya pelajari sekarang EOA (Epistemologi, Ontologi, Axiologi) kalau cara Indonesia. Kalau dilihat dari sudut pandang saya lebih mudah dari sisi komputasi (Logic, Taxonomy/Existence, Ethic)

Iklan

Written by Anjar Priandoyo

November 11, 2018 at 4:38 pm

Ditulis dalam Career

Tagged with

Politik Kantor

leave a comment »

CASE 1:
Seorang auditor dari divisi internal audit menemukan adanya pelanggaran yang dilakukan oleh manajer operasional yang menggunakan material yang dilarang oleh pemerintah. Material tersebut tidak dilarang secara tegas oleh peraturan perusahaan. Auditor tersebut dapat melakukan beberapa hal:

A) Melaporkan temuannya pada regulator pemerintah
B) Melaporkan temuannya pada direktur operasional, direktur kepatuhan
C) Tidak melaporkan

Opsi A pada dasarnya adalah opsi politik, auditor dalam hal ini melakukan sesuatu yang diluar ruang lingkup tugasnya. Si auditor bisa saja mengatakan bahwa ini adalah tanggung jawab secara moril atau mengatakan bahwa direktur operasional melupakan aspek peraturan pemerintah. Menarik, ini dibahas dalam ujian CIA tentang pentingnya untuk tetap fokus dalam pekerjaan yang dilakukan dan menjauhi politik praktis di kantor.

Intinya, yang berhak melaporkan adalah legal counsel perusahaan, bukan internal audit.

CASE 2:
Auditor memeriksa sebuah departemen, ternyata data yang diberikan departemen tidak lengkap. Maka tugas auditor adalah
A) Menunda analisa hingga data lengkap
B) Memberikan ML ketidaklengkapan data, segera pull out
C) Melakukan assesment atas dampak ketidak lengkapan data

Pada umumnya adalah menunda hingga data lengkap, atau jika sampai pada waktunya tidak lengkap maka akan pull out, namun judgment yang paling baik adalah melakukan assessmen atas ketidaklengkapan. Intinya sih, tetap kerja yang bener, apapun yang terjadi.

Written by Anjar Priandoyo

Oktober 22, 2018 at 10:26 am

Ditulis dalam Career

ERP Energy Risk Professional Certification

leave a comment »

Energy Risk Professional (ERP) is a relatively new Risk Management certification. I think the oldest known ERP certification is around 2010 ref. However, they change into two-part examination in 2016. Myself, I think I heard this certification around 2016, which I think to align with my focus on energy development. However, if there is some employer for ERP, I think the closest one is electricity ref, I don’t think it will be performed well in the financial market industry.

I try to test the first 20 question, and only get around 35% score. Some key points of this test
– never heard term: Geometric Brownian motion, BlackÔÇôScholes model
– concept: derivative trading, contract, option, credit rating

The reasons I am not taking this ERP exam:

  1. Unflexible time (May and Nov only)
  2. Price to expensive
  3. Exam location in London (need hotel and further transport expense).

Let see, maybe one day, I will perform this exam.

Written by Anjar Priandoyo

Oktober 15, 2018 at 12:51 pm

Ditulis dalam Career

Tagged with

There is a hope – Nothing comes for free

leave a comment »

Looks good, I feel that I am in better positioning as of today. I learn a lot from the latest four years. It takes two years to have reform, it takes another two years to be focus. The first two years focus on developing habit (run), the second two years focus on logging. I start with a book, with a posting, with google keep. Finally I am here now, I am ready for any kind of challenge.

  • Business might fail, nothing comes for free, there will be a sacrifice (opportunity cost)
  • People only learn from their experiences. If somebody told them, nobody listens. Moral of the story: experience matter.

Specific Indonesia cases:

  • Industry loyalty is more valuable than a profession loyalty

Written by Anjar Priandoyo

Oktober 15, 2018 at 12:30 pm

Ditulis dalam Career

Tagged with

Puncak Karir pada usia 40 tahun

leave a comment »

Riset sederhana menunjukkan bahwa puncak karir seseorang adalah pada usia 40+ tahun. Contohnya adalah Kolonel pada usia 42 tahun.

Written by Anjar Priandoyo

Oktober 9, 2018 at 7:34 pm

Ditulis dalam Career

Data: Siklus Gaji PNS

leave a comment »

Saya masih menyusun datanya. Rule of thumb saya kalau tidak salah gaji pertama 75,000 (tahun 1970-an) gaji terakhir sekitar 2,400,000 (tahun 2000-an), kalau dibuat normal sekitar start 100 ribu, end di 2 juta, CAGR selama 30 tahun berkisar 10%.

Lulusan SMA: IIA
Lulusan S1: IIIA
ref

Written by Anjar Priandoyo

September 19, 2018 at 9:49 am

Ditulis dalam Career

Lima langkah menjadi direktur BUMN sebelum usia 40 tahun

leave a comment »

Menduduki jabatan direktur BUMN adalah cita-cita banyak orang Indonesia. Bekerja di perusahaan asing meski gaji melimpah tapi peluang untuk menduduki jabatan direktur sangat kecil. Direktur perusahaan asing biasanya diambil dari kader di negara asal perusahaan tersebut, sama sulitnya seperti berkarir di perusahaan keluarga.

Untuk menjadi direktur BUMN sebelum usia 40 tahun paling tidak ada beberapa langkah yang bisa dilakukan.

1.Memanfaatkan momentum reformasi BUMN
BUMN adalah institusi yang sangat powerful di sebuah negara berkembang. BUMN punya dana hampir tidak terbatas untuk memberikan fasilitas sumbangan, menggaji komisaris berlimpah, hingga membangun program sosialisasi yang sejalan dengan program pemerintah. BUMN adalah obyek vital strategis. Meski demikian karena ukurannya BUMN juga justru punya kelemahan, birokrasi yang lambat misalnya, yang kemudian mendorong adanya reformasi BUMN.

Reformasi BUMN adalah agenda paling penting dalam transformasi ekonomi sebuah negara. Di negara berkembang, BUMN punya kontribusi ekonomi sangat besar, di Indonesia sekitar 15% GDP, di China sekitar 30% ref. Di negara maju kontribusi BUMN lebih kecil karena pasar lebih liberal dan efisiensi sudah dilakukan dengan privatisasi sejak dahulu. Pengecualian untuk Singapura yang memiliki kontribusi BUMN hingga 31% dari GDP.

2.Memanfaatkan momentum pergantian kepemimpinan nasional
Dalam reformasi BUMN, pergantian direktur (executive turnover) merupakan prioritas utama. Meski demikian, proses ini tidak semuanya berjalan mulus. Di China sebagai perbandingan dari data pergantian direktur BUMN dari tahun 1999-2012, ditemukan bahwa sebagian besar direktur BUMN hanya bertahan selama satu periode. Seleksi dari direktur BUMN diketahui juga lebih Government-oriented dibandingkan Market-oriented. Ini menunjukkan kelemahan BUMN China dalam melakukan profesionalisme kerjanya (Liu & Zhang 2018). Namun dari sisi pencari kerja, ini justru kesempatan untuk menduduki jabatan direktur BUMN dengan lebih cepat.

3.Mendukung program pemerintah
Pahala Mansury (b1971) menjadi Dirkeu Mandiri pada usia 39 tahun, Arief Budiman (b1974) menjadi Dirkeu Pertamina pada usia 40 tahun, Fuad Rizal (b1978) menjadi Dirkeu Garuda pada usia 40 tahun, dan Dimas Pramudhito (b1982) menjadi Dirkeu Antam pada usia 34 tahun. Apa kesamaan Mandiri, Pertamina, Garuda dan Antam? kenapa bukan BRI, Telkom atau PLN?

4.Fokus pada BUMN Strategis dengan Corporate Account
BUMN di Indonesia berbeda dengan BUMN di China atau Singapore, baik dari tata kelola maupun business model. Di Indonesia, BUMN bisa dibagi dalam 4 group berdasarkan revenue yaitu: BUMN Perbankan Tbk, 43T Mandiri, BRI, BTN; BUMN Lain Tbk, 41T Telkom, PGN, Semen; BUMN PSO Non Tbk, 35T Pertamina, PLN; BUMN Non PSO, Non Tbk, 19T.

BUMN paling potensial bukan dilihat dari Tbk vs non Tbk, atau PSO non PSO, atau untung tidak untung. Laba BUMN itu sendiri sebenarnya lebih banyak dari corporate account, bukan dari nasabah ritel yang lebih banyak unsur pelayanannya. Sebagai contoh di Bank pada umumnya Fee Based Income (FBI) kontribusinya hanya sekitar 10-20% dari laba perusahaan. Itu pun sebagian besar datang dari non retail transaction (cash recovery, administration fee, pendapatan forex, dan transaksi transfer dan ritel). Ini juga sama seperti Pertamina yang revenue terbesarnya datang dari explorasi minyak (hulu) bukan dari hilir.

Meski demikian, agenda reformasi BUMN tidak mudah untuk dilakukan. China berusaha susah payah melakukan efisiensi dari ratusan BUMN yang dimilikinya. Salah satunya dengan menutup lebih dari 60 ribu BUMN dan memberhentikan 30 juta karyawan ref.

Ketika Agus Martowardojo menjadi Dirut Mandiri pada usia 49 tahun, banyak orang sinis menganggapnya sebagai “orang pemerintah”, sama seperti ketika Nicke Widyawati menjadi Dirut Pertamina pada usia 51 tahun. ref

Written by Anjar Priandoyo

September 17, 2018 at 11:23 am

Ditulis dalam Career