Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Archive for the ‘Career’ Category

Tipe Orang

leave a comment »

Di kampus ada beberapa tipe orang. Tipe pertama adalah A1, ini adalah tipe pekerja keras yang hidupnya didedikasikan 100% untuk belajar, untuk pekerjaan. Tipe seperti ini adalah kesukaan organisasi. Saya, for sure bukan orang yang termasuk tipe A1. A1 ini biasanya singles, punya kemampuan fisik sangat baik, biasanya tidak terlalu punya kondisi kesehatan yang prima. Tipe A1 ini unik, suka lembur begadang mengerjakan tugas, tapi juga suka gampang sakit. Saya tidak bisa lembur begadang -bahkan pada era kuliah dimana anak-anak suka lembur, tapi saya relatif gampang sakit dibandingkan anak A1 tadi. Tipe A1 ini tipe brute force, muscle, alpha. Selain itu A1 biasanya punya kelemahan yang obvius, apakah dari ekonomi, fisik maupun sosial (umur) yang membuat orang tersebut menjadi A1.

Tipe kedua adalah A2, ini tidak suka bekerja, tapi cenderung menggunakan kemampuan teknisnya untuk survive. Secara kualitas, A2 ini dibawah dari A1, namun A2 cenderung mencari value lain, competitive advantage lain yang membedakannya dengan A1. A2 ini biasanya sudah berpasangan, meski ada juga A2 yang single. A2 adalah A1 yang menemukan comfort zone. A2 biasanya cinta damai dan merupakan tipe yang ideal untuk berteman.

Tipe ketiga adalah A3, ini juga tidak suka bekerja, tapi berbeda dengan A2 yang kecenderungannya adalah menggunakan kemampuan teknis, A3 ini cenderung menggunakan kemampuan non teknis -sosial skills. A3 ini kategorinya adalah Mad Man. A3 dikenal sebagai tokoh antagonis. Ada beberapa orang yang sebenarnya cocok di A2 namun kemudian menjadi A3.

Orang tipe A ini secara umum harus dihindari, sebagaimana stress yang tidak ada cara lain yang efektif selain di hindari, dibuat boundaries. Namun tidak semua orang menjadi tipe A, lebih banyak orang yang ada di tipe B. Tipe B ini menikmati hidup. Saya saat ini sedang berusaha untuk menjadi lebih B. Sayangnya, memang ada beberapa orang yang terpaksa harus menjadi A karena berbagai situasi dan kondisi.

Untuk orang-orang yang terpaksa memilih tipe yang tidak sesuai dengan karakter dia, karena berbagai kondisi. Misalnya, anak ekonomi yang harus banyak hafalan, padahal ia tidak suka hafalan, maka ia harus mencari, menyesuaikan tipe pekerjaan yang cocok dengan dirinya. Saya menemukan ada juga orang yang bukan A1 tapi memilih untuk jalur A1. Gpp sebenarnya, tapi ada baiknya ia mengambil jalur yang lebih sesuai, di A2 misalnya.

Written by Anjar Priandoyo

Januari 20, 2022 at 2:07 am

Ditulis dalam Career

Konsultan

leave a comment »

Menarik juga melihat orang yang memiliki latar pendidikan (background akademik) yang baik memutuskan untuk bekerja di bidang yang tidak sesuai dengan latar pendidikannya. Contoh lulusan Ilmu Komputer memutuskan menjadi peneliti ekonomi di Bank Sentral (Government Agencies). Dugaan saya kenapa orang tersebut memilih bidang yang tidak sesuai ini adalah karena faktor “pull” dimana Bank Sentral tersebut memberikan benefit yang sangat baik yang bisa menarik orang yang seharusnya punya potensi pada bidang yang lebih sesuai latar belakangnya. Tindakan tersebut sebenarnya tidak tepat karena menciptakan sandera, dimana orang tersebut akan memiliki ketergantungan yang sangat besar pada perusahaan, orang tersebut tidak punya opsi untuk mengembangkan karir diluar perusahaan tersebut. Kontrak seumur hidup. Buruk? tidak juga karena kenyataannya banyak orang yang mengambil pilihan tersebut.

Anak umur 22 tahun mengambil keputusan yang dampaknya hingga lebih dari 30 tahun kedepan mungkin terkesan aneh. Sama anehnya seperti mengambil keputusan untuk menikah di usia muda. Tapi itu menggambarkan cermin ekonomi disebuah system. Organisasi yang kuat akan mengeksploitasi yang lemah, organisasi yang kuat akan membangun sistem yang kuat.

Saya menemukan bahwa Government Agencies merupakan employer yang sangat kuat. Tidak hanya menampung tenaga kerja, tapi juga menggerakkan ekonomi. Untuk menjalankan perannya, Agencies ini membutuhkan kontraktor. Ada kontraktor milik pemerintah -dalam hal ini adalah BUMN, dan ada kontraktor swasta. Kontraktor swasta adalah pengusaha, dimana order terbesar dari kontraktor swasta adalah pemerintah. Setelah Government Agencies, layer berikutnya adalah Corporation, Retail (Productive/SME, Consumptive, Micro)

Prioritas lulusan sarjana atau tenaga terdidik di Indonesia itu diantaranya:
1.Government Agencies: BI, OJK, SKK Migas, Kemenkeu
2.Stateown Companies: Pertamina, Telkom, Bank Mandiri
3.Multinational: Unilever, Nestle, Shell, Toyota, Mitsubishi
4.Swasta-nasional: Astra, BCA, Sampoerna, Indofood

Prospek Karir Insinyur Sipil (ITS)
1.PNS
2.BUMN
3.Kontraktor
4.Konsultan

FMAE ITB
1.Government agencies
2.State-owned enterprises (BUMN)
3.Private companies
4.Academic and research fields
5.Entrepreneur

Quora: Bagaimana rasanya kerja di bidang konstruksi?: Candu

Written by Anjar Priandoyo

Desember 24, 2021 at 8:38 am

Ditulis dalam Career

Practice makes perfect

leave a comment »

“a man is what he is in relationship to other men” Aristotle
Modern leadership theories advocate participative decision making. The basic idea is that people ought to have a say in matters that affect them. Accordingly, leadership has moved away from the ideas of power and dominance to shared governance

Reinventing Leadership: Blended Dualism Andrew Sikula Sr. 2004 ref

I have been managing nine project so far. There are several project that easier to be managed. Project03/04 is the easiest so far. I have been doing this project before, client depending on us. Although there are several improvement e.g in Project03 internal team should be consolidated and in Project04 especially on early Covid days.

The hardest project so far is the one with leadership problem. It start with the ownership of the project, who think owned the project. It is very difficult, but I rely on the legal language, as project is basically a legal agreement. So for the most difficult is Project06, which takes effort to enforced the leadership.

Another things that should not be ignored is the size. The greater the project, the more difficult they are to be managed. However, in the single word, the summary how to manage project is easy. Ensure that you have a working system, no matter how small it is.

History:

  • Project01: Resources prioritization. Prioritize resources not based on client requirement but based on client situation.
  • Project02: Stakeholder management. Gain the client trust is very important, especially in the first period of the project.
  • Project05: Resources delegation. Resources delegated responsibility kept
  • Project06: Leadership enforced
  • Project07: Resources prioritization
  • Project09: Resources prioritization, leadership enforced

Written by Anjar Priandoyo

Mei 22, 2021 at 6:40 am

Ditulis dalam Career

Dysfunctional workplace

leave a comment »

Stream 1: Authoritarian (To many rules)
– Truth handling: honest
– Style: Narcissist (love self) 6)Arrogant 3)Deceiver 7)Mercernaries
– Style to subordinate: 1)Exploiter
– Strength: Culture
– Weakness:

Stream 2: Chaotic (No rules, Anarchy)
– Truth handling: liar 2)Imposter
– Style: Ignorant
– Style to subordinate: Escapism 4)Bystander, coward

1.The Rebel, driven by confidence, becomes the Imposter, plagued by self-doubt.
2.The Explorer, fueled by intuition, becomes the Exploiter, master of manipulation.
3.The Truth Teller, who embraces candor, becomes the Deceiver, who creates suspicion.
4.The Hero, embodying courage, becomes the Bystander, an outright coward.
5.The Inventor, brimming with integrity, becomes the Destroyer, who is morally corrupt.
6.The Navigator, trusts and is trusted, becomes the Fixer, endlessly arrogant.
7.The Knight, for whom loyalty is everything, becomes the Mercenary, who is perpetually self-serving.

https://www.goodreads.com/en/book/show/32831008-the-leadership-gap

How to survive chaotic enviroment
1. The objective is to survive in the system, not to change the system
2. Do not try to create a rules -chaotic means does not have any rules
3. Even in the most chaotic environment there is a weakness. A system is become something (either authoritarian or chaotic) is the most efficient way of the organization to sustain

Written by Anjar Priandoyo

April 30, 2021 at 5:58 pm

Ditulis dalam Career

Junior, Mid-level, Senior Career

leave a comment »

Hari ini pasti lebih baik dari kemarin. Minggu ini pasti lebih baik dari minggu kemarin. Bulan ini, tahun ini pasti lebih baik dari kemarin, betapapun beratnya sesuatu terjadi saat ini. Saya baru menemukan, periode 2014-2019 (middle/mid-level/recognised consultant/researcher) sudah pasti jauh lebih baik dari pada periode 2004-2009 (first stage/junior consultant), 2009-2014 (first stage manager).

European Commission’s communication “Towards a European Framework for Research Careers”.
R1: First Stage Researcher (up to the point of PhD),
R2: Recognised Researcher (PhD holders or equivalent who are not yet fully independent),
R3: Established Researcher (researchers who have developed a level of independence),
R4: Leading Researcher (researchers leading their research area or field).

Despite what most people think, coding is not about communication with a computer. Coding is about communicating with humans and instructing computers ref. Junior developers focus on the computer side of the code at the expense of the human side.

Written by Anjar Priandoyo

Maret 28, 2021 at 6:22 am

Ditulis dalam Career

Amazon AWS Certification

leave a comment »

Interesting, the trends might be changing now. Amazon AWS seems a good certification related to IT Infrastructure. Everything gradually moving through Cloud Computing.

Written by Anjar Priandoyo

Maret 11, 2021 at 12:34 pm

Ditulis dalam Career

Corporate Specialist

with one comment

Ada sebuah periode, mungkin ketika saya berumur sekitar 26 tahun, ketika saya merasa sudah cukup berpengalaman untuk mengetahui dunia seperti apa. Saya bercita-cita saya ingin menjadi seorang “corporate specialist”. Saya pikir, bagian paling keren dari seorang corporate “warrior” specialist adalah menjadi seorang “strategic”. Saya menduga, untuk menjadi bagian dari tim elite ini, saya harus paling tidak lulusan luar negeri, datang dari latar belakang keluarga elit tertentu, dan punya network yang luar biasa luas. Cerita pada usia 26 tahun ini lebih baik dari cerita yang saya alami pada usia 22 tahun, ketika saya berpikir bahwa jalur elit perusahaan hanya satu: “management trainee”

Beberapa label yang saya pikir keren sebagai seorang corporate specialist diantaranya adalah “finance”, “investment banker”, orang-orang yang bekerja dalam bidang corporate finance seperti “merger & acquisition” baik di hulu e.g JP Morgan, Morgan Stanley, Credit Suisse, ataupun yang bekerja di hilir (e.g consulting BCG, McK dan seterusnya).

Diumur 32 tahun, cerita ini sedikit banyak berubah. Krisis keuangan misalnya, membuat pandangan untuk bekerja di sektor keuangan korporat tidak lagi menjadi pilihan yang keren. Saya berpikir, menjadi seorang professional yang punya kemampuan relatif lebih marketable di industri akan lebih mudah survive dan sustain. Saya kembali pada perjalanan saya diawal kuliah, niat saya punya usaha sendiri sempat terbersit pada periode ini.

Sekarang di usia 39 tahun, cerita ini sedikit berbeda. Buat saya, apapun pilihan yang diambil pada usia 22 tahun (management trainee, goal to be MNC generic manager), pada usia 26 tahun (corporate specialist manager), pada usia 32 tahun (corporate firm professional) sebenarnya tidak lagi relevan. Apapun pilihan yang diambil akan menghilangkan kesempatan yang lain (opportunity cost).

Cerita ini tidak berubah dengan cerita lowongan kompas, sesuatu yang saya baru pahami setelah 2 tahun bekerja. Situasi yang sama seperti yang sedang saya hadapi saat ini. Setiap orang berspekulasi atas sesuatu hal. Bahwasanya tidak ada keputusan yang paling tepat. Orang pada dasarnya menjalani dengan sebaik-baiknya. Karena kebahagiaan tidak akan pernah tertukar.

332 kata

IT Strategy and Portfolio Planning

1.Melakukan koordinasi penyusunan IT Strategic Plan termasuk target dan visi-misi organisasi IT untuk menunjang strategi bisnis bank dan melakukan pengawasan atas pelaksanaan penyusunan IT Strategic Plan.
2.Memastikan kajian dan review dilakukan secara komprehensif dalam proses penyusunan IT Strategic Plan.
3.Melakukan koordinasi dalam proses analisa dampak perubahan bisnis terhadap IT Strategic Plan serta mengidentifikasi perubahan pada IT Strategic Plan yang harus dilakukan untuk menunjang strategi bisnis dalam mencapai tujuan perusahaan.
4.Mengelola pemutakhiran dokumen IT Strategic Plan secara berkesinambungan untuk menjaga keselarasan IT Stategic Plan dengan strategi bisnis perusahaan.
5.Melakukan pengawasan dalam proses integrasi IT Enterprise Architecture Best Practice ke dalam IT Strategic Plan.
6.Menjaga keselarasan antara strategic initiatives dengan IT Enterprise Architecture yang telah diformulasikan.
7.Merencanakan, mengembangkan dan mengimplementasikan tata kelola organisasi IT termasuk di dalamnya untuk mendukung Department Head IT Planning & Finance Management dalam pelaksanaan IT Committee untuk pembahasan isu strategis IT.
9.Melakukan koordinasi untuk penyusunan rencana jangka pendek dan jangka menengah dalam bentuk strategi tahunan terkait IT serta Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP).

Written by Anjar Priandoyo

Februari 21, 2021 at 4:55 pm

Ditulis dalam Career

Counter-resistance

leave a comment »

Three perspective of power

First perspective, power as a restraining force – power is understood as something that makes people do things other people want them to do, thus restricting them from doing things they otherwise would have chosen to do

Second perspective is less interested in naked power than in how ideologies and cultural traditions make people comply with an existing order without much need for the mobilization of explicit power in dealing with visible conflict

Third perspective on power in which power becomes decoupled from specific interests and is viewed as a productive, rather than restrictive, force. Of course, most perspectives understand power as a resource as well as a restriction, but this third view emphasizes the former aspect

In any attempt to understand power, it is important to consider the potential for resistance. Although typically conceptualized as the flipside of the coin in relation to power, resistance is sometimes brought to the forefront of analysis

The power-as-a-restraining-force perspective typically depicts resistance as more or less binary responses to the exercise of power. Such responses may include activities like, conditional effort (e.g. withdrawal and foot-dragging), exit, voice, sabotage, enacting alternative channels and engaging stakeholders (which
includes well-known resistance strategies such as leaks and whistle blowing;

The power-as-a-productive-force perspective understands resistance, not as the opposite of power, but rather as inherent in the exercise of power. Resistance is thus not understood as something that is qualitatively different from power but is an integral part of the exercise of power: it can assume many forms, but always exists within a network of power relations

Compliance at company: subordination, identification and conformity

Five discourse on complying

Ambitious and Performance-hungry Consultant

  • Discourse of consultancy work and the consultancy business circling around ambition, delivery and hard work.
  • Discourse of competence and development.
  • Discourse of career, promotion and instrumentalism.

Autonomous Subject Living a Good Life

  • Discourse of balance of life and work – these express concerns about the dangers of working too much and also the appreciation of leisure.
  • Discourse of discretion and autonomy issues – mobilizing the subject as an agent capable of setting limits and taking control over one’s life.

Resisting resistance: Counter-resistance, consent and compliance in a consultancy firm. Dan Kärreman and Mats Alvesson 2009

Written by Anjar Priandoyo

Desember 22, 2020 at 9:52 am

Ditulis dalam Career

Management

leave a comment »

It always fascinated me on so many approaches that can be used to solve a problem. One of the managers that I know try to solve a problem by making team members leaving the office by 9 pm at the earliest, every single day. The Manager assuming that he created a layer of protection, which is favorable as working in an unpredictable and unstable environment, this layer of protection is necessary.

Twenty years later I found that this method is not only ineffective but abusive. However at that time from the result point of view, things that The Manager did is necessarily and more frightenly acceptable. At that time I learned that genuine solution for this abusive management is to help the victim. As people tend to ignore this blatant abusive approach, therefore the more humanly approach is always to help the victim -manage the impact, as manage the root cause of problem is almost impossible.

Abusive management might be applicable in early 2000s where long working hours is glorified. I remember one of auditor spend two consequtive night in the office, by not doing something effective, but something that is required in order to establish order, or even to settled political dispute. However twenty years later in 2020s, this abusive management might take different platform such as ownership and access of information -while the principles might be the same.

Notes: Consent As Resistance, Resistance As Consent.

Written by Anjar Priandoyo

Desember 22, 2020 at 9:25 am

Ditulis dalam Career

Portfolio Management

leave a comment »

Mengelola client pada dasarnya mirip dengan mengelola tim -waktu terbatas, sumberdaya juga terbatas, maka prioritas harus selalu dilakukan. Pada pengelolaan tim, prioritas diberikan pada anggota tim yang memiliki potensi paling besar meski kinerjanya buruk. Potensi paling mudah dilihat dari kontribusi, semakin besar kontribusinya maka potensinya semakin besar -tapi ini juga tidak selalu demikian. Bisa jadi client dengan fee yang besar justru bukan merupakan client yang punya potensi besar.

Pada saat mengelola client, hal yang sama juga dilakukan. Pengelolaan ini juga dilakukan ketika terjadi keterbatasan, sebagai contoh ketika dua client berjalan paralel. Maka pada dasarnya resources terbagi menjadi dua. Jika sebelumnya pekerjaan dikerjakan dalam kapasitas 80% dengan 20% untuk administrasi. Maka, ketika client kedua datang, kapasitas turun tidak pada 40%, tapi kapasitas turun hingga 70%, dengan administrasi tetap di 20% dan penambahan koordinasi di 10%.

Pertimbangan lain dalam menganalisa proyek dilihat dari tingkat urgensinya, secara umum proyek yang berbasis kepatuhan punya tingkat urgensi tinggi -meski tidak seluruh proyek kepatuhan itu urgent. Sebagai contoh saya pernah berhubungan dengan Stock Market Authority dan itu urgent, sementara yang berhubungan dengan Payment Authority justru tidak urgent.

Sama seperti mengelola tim, ada aspek psikologis yang harus diperhatikan. Aspek psikologis individu misalnya, seperti individu ada yang memiliki ambisi besar tapi kemampuan eksekusi buruk. Aspek psikologis organisasi misalnya, seperti ada organisasi yang memiliki agenda terselubung (hidden agenda) -misalnya untuk reorganisasi, atau memindahkan orang. Atau ada organisasi yang menginginkan agenda tambahan (extra agenda)

  • Tipe 1 – private, non demanding, resource rendah, potensi tinggi
  • Tipe 2 – government, demanding, resource tinggi, potensi rendah
  • Tipe 3 – private, non demanding, urgent, dependent, potensi tinggi
  • Tipe 4 – private, non demanding, non urgent, potensi tinggi
  • Tipe 5 – government, non demanding, non urgent, potensi rendah
  • Tipe 6 – government, non demanding, non urgent, potensi tinggi
  • Tipe 7 – regulator, demanding, non urgent, potensi rendah, resources rendah, hidden agenda
  • Tipe 8 – government, demanding, urgent, potensi tinggi
  • Tipe 9 – regulator, demanding, urgent, potensi rendah

Written by Anjar Priandoyo

Desember 19, 2020 at 8:27 am

Ditulis dalam Career