Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Archive for the ‘Career’ Category

Toxic culture

leave a comment »

Well this is not west vs east or individual vs collective or modern vs traditional. But some habits are bad. For example consider this as the common toxic culture that we face in daily basis:

1.Long working hours (to promote work-shaming, disrespecting individual aspiration)
2.Relationship based promotion (to promote compliance-to-kin-shaming)
3.Unrealistic target (to promote unity)

It also has tendency to force people to comply, however in reality people fluctuates, unpredictable, depending on time and position. This characteristic I found in many occassion that can be flag where the toxic situation created:

1.Arrogant, bully, unrealistic, clumsy, harmful people, dangerous, negative inspiration, intimidative, coward, enemy, think better than other, hostile, trusted/reliable, uncontrollable

2.Insecure, ambitious, realistic, manipulative, unnecessary urge to prove something, psychological historical motive, friend

3.Ignorant, lazy, nothing to lose, egoistic, peaceful, secured, realistic, stable (risk taker paradox), harmless people, unreliable, neutral

There is fourth category: the pure angel, the too good to be true this (sarcastically) only happen for the people that resigning. Interesting.

Written by Anjar Priandoyo

Mei 16, 2022 at 9:20 am

Ditulis dalam Career

The truth about (banking) corporate title – a human capital/workforce fundamental problem

leave a comment »

Corporate title tend to be mislead. I have read some applicant CV, and 9 out of 10 candidate mention the exactly same skills. Anybody that 1) have been working in the banks 2) have an interest to moving regardless the reason, will tend to have the same CV. What happen with the rest 1? of course did not accepted.

I think this show the real problem within professionals (employee) in the job market (or in employment in general)

1.Retirement age is 45
I strongly believe with this concept, as my friend told me that after 45, you are considered unproductive, as there are many professional that 20 year younger than you that can replace you with 20x cheaper salary. It is not worthed to keep you.

2.Knowledge is worthless
Skill is easy to learn. Everybody is Digital, every body is Agile. Consulting firm is the enemy of the job market. Consulting from shifting from knowledge provider to resources provider. Resources is more valuable than knowledge. Knowledge is worthless.

3.Competition is getting more fierce, more brutal

Faith is a gift
Some soldier have faith in their gun, but they don’t have a faith in victory
Some consultant have faith in their spreadsheet, but they don’t have a faith in profit
Some teacher have faith in their book, but they don’t have a faith in progress
Some people have faith in small things, but they fail to see the big pictures
Some people have faith in GPS but they don’t have a faith in car, in surrounding, in the road

Written by Anjar Priandoyo

April 17, 2022 at 12:00 pm

Ditulis dalam Career

Organisasi

leave a comment »

Top Management: Pati
Eselon Ia: Dirjen, Presiden Direktur
Eselon Ib: Sekda, Managing Direktur

Middle Management: Pamen
Eselon IIa: Walikota, Direktur
Eselon IIb: Sekot, Deputy Direktur
Eselon IIIa: Kabag, Camat, General Manager
Eselon IIIb: Wakil, Senior Manager

Low Management: Pama
Eselon IVa: Kasubag, Lurah, Manager
Eselon IVb: Wakil, Supervisor

Written by Anjar Priandoyo

Maret 25, 2022 at 11:23 am

Ditulis dalam Career

Catatan Minggu Pagi

leave a comment »

Salah satu pencapaian terbesar dalam hidup saya adalah mengelola lari. Saya memulainya pada tahun 2013, dengan motivasi yang sangat kuat, berhenti di 2014 karena faktor cuaca, sesuatu yang hampir mustahil saya untuk menaklukkannya, benar-benar terhenti pada tahun 2015. Lari baru bisa kembali lagi pada tahun 2016, dipancing dengan IHC, dimotivasi dengan marathon, dikonsistensikan dengan pokemon go. Tahun 2017 marathon, tahun 2018 rutin, tahun 2019 berhenti kembali, juga karena faktor cuaca yang hampir mustahil ditaklukkan. Sama mengalami great pause hampir 2 tahun untuk kemudian untuk mulai lagi di 2021. Lari merupakan contoh long term project, atau bisa dibilang operational work yang durasinya bisa seumur hidup, bisa lebih dari hitungan tiga dekade.

Dengan analogi yang sama sebenarnya saya melihat ini bisa diterapkan juga pada pekerjaan. Pertama, saya seharusnya tidak melihat pekerjaan sebagai sebuah project, sama seperti marathon bukan sebuah project, marathon hanya drugs, stimulant jangka pendek. Kedua, saya harus melihat pekerjaan sebagai sesuatu yang measurable, terukur. Bukan sesuatu yang pendekatannya asal sabar. Pekerjaan sama seperti lari bisa diukur dalam orde waktu, baik bulan maupun minggu.

Bagaimana caranya sedang saya pikirkan. Awal-awal ini saya melihat week number sepertinya bisa menjadi ukuran yang reference-able. Membayangkan bahwa dalam 1 tahun ada 52 kesempatan, ada 12 tahapan, sepertinya lebih reference-able. Contoh ada break pada bulan ke 4 selama 1 bulan (M13-18). Ada potensi penambahan load di bulan ke 7 (27-30). Cara ini memang baru bisa diterapkan di tahun 2021 -sangat ideal. Ini sama seperti saya menemukan bahwa mekanisme lari yang paling ideal adalah full week, dibandingkan dengan selected week. Kalau dibandingkan dengan sebelumnya, Q4-2019 P1-P2 (2), Q1-Q4 2020 P3-P7 (5), 2021 P8-P11 (4) sepertinya mekanisme ini bisa digunakan secara lebih baik untuk bisa melakukan performance monitoring. Menarik.

281 kata

Written by Anjar Priandoyo

Februari 27, 2022 at 6:07 am

Ditulis dalam Career

Tipe Orang

leave a comment »

Di kampus ada beberapa tipe orang. Tipe pertama adalah A1, ini adalah tipe pekerja keras yang hidupnya didedikasikan 100% untuk belajar, untuk pekerjaan. Tipe seperti ini adalah kesukaan organisasi. Saya, for sure bukan orang yang termasuk tipe A1. A1 ini biasanya singles, punya kemampuan fisik sangat baik, biasanya tidak terlalu punya kondisi kesehatan yang prima. Tipe A1 ini unik, suka lembur begadang mengerjakan tugas, tapi juga suka gampang sakit. Saya tidak bisa lembur begadang -bahkan pada era kuliah dimana anak-anak suka lembur, tapi saya relatif gampang sakit dibandingkan anak A1 tadi. Tipe A1 ini tipe brute force, muscle, alpha. Selain itu A1 biasanya punya kelemahan yang obvius, apakah dari ekonomi, fisik maupun sosial (umur) yang membuat orang tersebut menjadi A1.

Tipe kedua adalah A2, ini tidak suka bekerja, tapi cenderung menggunakan kemampuan teknisnya untuk survive. Secara kualitas, A2 ini dibawah dari A1, namun A2 cenderung mencari value lain, competitive advantage lain yang membedakannya dengan A1. A2 ini biasanya sudah berpasangan, meski ada juga A2 yang single. A2 adalah A1 yang menemukan comfort zone. A2 biasanya cinta damai dan merupakan tipe yang ideal untuk berteman.

Tipe ketiga adalah A3, ini juga tidak suka bekerja, tapi berbeda dengan A2 yang kecenderungannya adalah menggunakan kemampuan teknis, A3 ini cenderung menggunakan kemampuan non teknis -sosial skills. A3 ini kategorinya adalah Mad Man. A3 dikenal sebagai tokoh antagonis. Ada beberapa orang yang sebenarnya cocok di A2 namun kemudian menjadi A3.

Orang tipe A ini secara umum harus dihindari, sebagaimana stress yang tidak ada cara lain yang efektif selain di hindari, dibuat boundaries. Namun tidak semua orang menjadi tipe A, lebih banyak orang yang ada di tipe B. Tipe B ini menikmati hidup. Saya saat ini sedang berusaha untuk menjadi lebih B. Sayangnya, memang ada beberapa orang yang terpaksa harus menjadi A karena berbagai situasi dan kondisi.

Untuk orang-orang yang terpaksa memilih tipe yang tidak sesuai dengan karakter dia, karena berbagai kondisi. Misalnya, anak ekonomi yang harus banyak hafalan, padahal ia tidak suka hafalan, maka ia harus mencari, menyesuaikan tipe pekerjaan yang cocok dengan dirinya. Saya menemukan ada juga orang yang bukan A1 tapi memilih untuk jalur A1. Gpp sebenarnya, tapi ada baiknya ia mengambil jalur yang lebih sesuai, di A2 misalnya.

366 kata

Written by Anjar Priandoyo

Januari 20, 2022 at 2:07 am

Ditulis dalam Career

Tagged with

Konsultan

leave a comment »

Menarik juga melihat orang yang memiliki latar pendidikan (background akademik) yang baik memutuskan untuk bekerja di bidang yang tidak sesuai dengan latar pendidikannya. Contoh lulusan Ilmu Komputer memutuskan menjadi peneliti ekonomi di Bank Sentral (Government Agencies). Dugaan saya kenapa orang tersebut memilih bidang yang tidak sesuai ini adalah karena faktor “pull” dimana Bank Sentral tersebut memberikan benefit yang sangat baik yang bisa menarik orang yang seharusnya punya potensi pada bidang yang lebih sesuai latar belakangnya. Tindakan tersebut sebenarnya tidak tepat karena menciptakan sandera, dimana orang tersebut akan memiliki ketergantungan yang sangat besar pada perusahaan, orang tersebut tidak punya opsi untuk mengembangkan karir diluar perusahaan tersebut. Kontrak seumur hidup. Buruk? tidak juga karena kenyataannya banyak orang yang mengambil pilihan tersebut.

Anak umur 22 tahun mengambil keputusan yang dampaknya hingga lebih dari 30 tahun kedepan mungkin terkesan aneh. Sama anehnya seperti mengambil keputusan untuk menikah di usia muda. Tapi itu menggambarkan cermin ekonomi disebuah system. Organisasi yang kuat akan mengeksploitasi yang lemah, organisasi yang kuat akan membangun sistem yang kuat.

Saya menemukan bahwa Government Agencies merupakan employer yang sangat kuat. Tidak hanya menampung tenaga kerja, tapi juga menggerakkan ekonomi. Untuk menjalankan perannya, Agencies ini membutuhkan kontraktor. Ada kontraktor milik pemerintah -dalam hal ini adalah BUMN, dan ada kontraktor swasta. Kontraktor swasta adalah pengusaha, dimana order terbesar dari kontraktor swasta adalah pemerintah. Setelah Government Agencies, layer berikutnya adalah Corporation, Retail (Productive/SME, Consumptive, Micro)

Prioritas lulusan sarjana atau tenaga terdidik di Indonesia itu diantaranya:
1.Government Agencies: BI, OJK, SKK Migas, Kemenkeu
2.Stateown Companies: Pertamina, Telkom, Bank Mandiri
3.Multinational: Unilever, Nestle, Shell, Toyota, Mitsubishi
4.Swasta-nasional: Astra, BCA, Sampoerna, Indofood

Prospek Karir Insinyur Sipil (ITS)
1.PNS
2.BUMN
3.Kontraktor
4.Konsultan

FMAE ITB
1.Government agencies
2.State-owned enterprises (BUMN)
3.Private companies
4.Academic and research fields
5.Entrepreneur

Quora: Bagaimana rasanya kerja di bidang konstruksi?: Candu

Written by Anjar Priandoyo

Desember 24, 2021 at 8:38 am

Ditulis dalam Career

Practice makes perfect

leave a comment »

“a man is what he is in relationship to other men” Aristotle
Modern leadership theories advocate participative decision making. The basic idea is that people ought to have a say in matters that affect them. Accordingly, leadership has moved away from the ideas of power and dominance to shared governance

Reinventing Leadership: Blended Dualism Andrew Sikula Sr. 2004 ref

I have been managing nine project so far. There are several project that easier to be managed. Project03/04 is the easiest so far. I have been doing this project before, client depending on us. Although there are several improvement e.g in Project03 internal team should be consolidated and in Project04 especially on early Covid days.

The hardest project so far is the one with leadership problem. It start with the ownership of the project, who think owned the project. It is very difficult, but I rely on the legal language, as project is basically a legal agreement. So for the most difficult is Project06, which takes effort to enforced the leadership.

Another things that should not be ignored is the size. The greater the project, the more difficult they are to be managed. However, in the single word, the summary how to manage project is easy. Ensure that you have a working system, no matter how small it is.

History:

  • Project01: Resources prioritization. Prioritize resources not based on client requirement but based on client situation.
  • Project02: Stakeholder management. Gain the client trust is very important, especially in the first period of the project.
  • Project05: Resources delegation. Resources delegated responsibility kept
  • Project06: Leadership enforced
  • Project07: Resources prioritization
  • Project09: Resources prioritization, leadership enforced

Written by Anjar Priandoyo

Mei 22, 2021 at 6:40 am

Ditulis dalam Career

Organization – Dysfunctional workplace

leave a comment »

Stream 1: Authoritarian (To many rules)
– Truth handling: honest
– Style: Narcissist (love self) 6)Arrogant 3)Deceiver 7)Mercernaries
– Style to subordinate: 1)Exploiter
– Strength: Culture
– Weakness:

Stream 2: Chaotic (No rules, Anarchy)
– Truth handling: liar 2)Imposter
– Style: Ignorant
– Style to subordinate: Escapism 4)Bystander, coward

1.The Rebel, driven by confidence, becomes the Imposter, plagued by self-doubt.
2.The Explorer, fueled by intuition, becomes the Exploiter, master of manipulation.
3.The Truth Teller, who embraces candor, becomes the Deceiver, who creates suspicion.
4.The Hero, embodying courage, becomes the Bystander, an outright coward.
5.The Inventor, brimming with integrity, becomes the Destroyer, who is morally corrupt.
6.The Navigator, trusts and is trusted, becomes the Fixer, endlessly arrogant.
7.The Knight, for whom loyalty is everything, becomes the Mercenary, who is perpetually self-serving.

https://www.goodreads.com/en/book/show/32831008-the-leadership-gap

How to survive chaotic enviroment
1. The objective is to survive in the system, not to change the system
2. Do not try to create a rules -chaotic means does not have any rules
3. Even in the most chaotic environment there is a weakness. A system is become something (either authoritarian or chaotic) is the most efficient way of the organization to sustain

Written by Anjar Priandoyo

April 30, 2021 at 5:58 pm

Ditulis dalam Career

Tagged with ,

Junior, Mid-level, Senior Career

leave a comment »

Hari ini pasti lebih baik dari kemarin. Minggu ini pasti lebih baik dari minggu kemarin. Bulan ini, tahun ini pasti lebih baik dari kemarin, betapapun beratnya sesuatu terjadi saat ini. Saya baru menemukan, periode 2014-2019 (middle/mid-level/recognised consultant/researcher) sudah pasti jauh lebih baik dari pada periode 2004-2009 (first stage/junior consultant), 2009-2014 (first stage manager).

European Commission’s communication “Towards a European Framework for Research Careers”.
R1: First Stage Researcher (up to the point of PhD),
R2: Recognised Researcher (PhD holders or equivalent who are not yet fully independent),
R3: Established Researcher (researchers who have developed a level of independence),
R4: Leading Researcher (researchers leading their research area or field).

Despite what most people think, coding is not about communication with a computer. Coding is about communicating with humans and instructing computers ref. Junior developers focus on the computer side of the code at the expense of the human side.

Written by Anjar Priandoyo

Maret 28, 2021 at 6:22 am

Ditulis dalam Career

Amazon AWS Certification

leave a comment »

Interesting, the trends might be changing now. Amazon AWS seems a good certification related to IT Infrastructure. Everything gradually moving through Cloud Computing.

Written by Anjar Priandoyo

Maret 11, 2021 at 12:34 pm

Ditulis dalam Career