Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Archive for the ‘Career’ Category

Pemerintah

leave a comment »

Sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya itu selalu ada kemungkinan gagal. Contoh paling nyata dalam dunia bisnis, market leader yang meluncurkan produk baru bisa saja gagal (Aqua rasa buah, Google+). Apalagi itu pemain baru. Tidak ada cara untuk mengetahui sebuah produk bisa berhasil atau tidak selain mencoba. Sama seperti mengatakan bahwa PhD itu gampang atau susah hanya bisa diketahui dengan dijalani. Untuk bisa memastikan bahwa sebuah produk baru bisa berhasil, maka satu-satunya cara adalah memiliki modal yang kuat.

Kira-kira kalau melihat apa yang terjadi di Universitas Surya dan Universitas SGU ya ujungnya cuman satu: modal. Universitas SGU (2000), Universitas President (2002), Universitas Multimedia Nusantara (2005), Universitas Bakrie (2009), Universitas Pembangunan Jaya (2011), Universitas Surya (2013), Universitas Kalbe (2012), Universitas Tanri Abeng (2011), Universitas Trilogi (2011) dan seterusnya, berdiri seiring education reform di Indonesia.

Kalau Pakto 1988 mendorong perkembangan Bank dari 100-an menjadi 2000-an, yang berujung krisis 1998. Maka Krisis 2008 dan reform yang mendorong berdirinya Bank Campuran di sektor retail (Bank UOB, Rabobank, HSBC) maka ini sebenarnya pattern yang sama. Korban reform bank adalah Bank Barclays. Yang kalau dilihat dari skala yang lain maka korban booming retail convenience store adalah Seven Eleven.

UU PT 12/2012

Governance
One of the most striking characteristics of Indonesian tertiary education is its very centralised governance system under the auspices of the Directorate General of Higher Education. In fact, public universities are essentially part of the government bureaucracy, whereas for private institutions, in most respects their foundations fulfil the role that the ministry has for the public ones.

Written by Anjar Priandoyo

Juli 25, 2017 at 1:03 pm

Ditulis dalam Career

Tagged with

Universitas Surya

leave a comment »

22 Jul, Tempo menurunkan berita mengenai kredit macet universitas Surya
25 Jul, berita mengenai universitas surya sudah masuk group WA
25 Jul, diliput secara intensif oleh tempo, kontan

Sama seperti cerita universitas sgu, yang pemberitaannya begitu masif di akhir 2016.

Dan ini juga update pada 4 Juli 2017 tentang bisnis universitas

Written by Anjar Priandoyo

Juli 25, 2017 at 12:01 pm

Ditulis dalam Career

Tagged with

Nasihat karir hari selasa

leave a comment »

Hari ini ada yang bertanya mengenai nasihat karir kepada saya. Saya belum tahu pertanyaannya apa, tapi saya sudah berandai-andai, kira-kira jawaban apa yang akan saya berikan padanya “pokoknya, kita harus menjadi yang paling unggul dilingkungan kerja kita”. Sebenarnya mau pertanyaan apapun jawabannya sesederhana itu. Sayangnya, beberapa orang seringkali tidak melihat duduk perkara persoalannya dengan jelas. Mungkin karena sibuk dengan pekerjaannya atau ada faktor emosional yang menghalangi orang untuk berpikir dengan jernih.

Mantra pokoknya menjadi yang paling unggul ini memang seringkali susah untuk diterapkan. Paling tidak ada beberapa alasan mengapa mantra ini susah diterapkan.

1.Setiap orang selalu berusaha menjadi yang terbaik.
Contoh, A berusaha dengan berangkat kerja paling awal. B berusaha dengan pulang kerja paling akhir. C berusaha dengan menjalin hubungan baik dengan atasan. Kalau kita pegawai di kantor ini bagaimana kita bisa menang dalam persaingan? Disini kita harus melihat, keunggulan mana yang bisa kita kejar dan mana yang tidak bisa kita kejar. Contoh, si A punya anak kecil, bisa jadi berangkat kerja paling awal karena harus mengantar anaknya, si B yang bujangan relatif lebih santai sehingga bisa pulang paling akhir. Kita bisa jadi tidak bisa bersaing dengan A dan B, maka kita harus mencari keunggulan lain. Contoh, menjadi karyawan yang tidak pernah ngaret pada saat makan siang.

2.Ada orang yang memiliki beberapa keunggulan sekaligus.
Si X contohnya, dia pintar teknis, si Y pintar jualan, si Z pintar teknis dan jualan. Kalau kita harus bersaing dengan X, Y dan Z apa yang harus kita lakukan? Kalau persaingan sudah sedemikian ketat, maka Z hampir dipastikan akan menjadi bos. Perusahaan tentunya lebih senang memilih Z menjadi pimpinan, karena memiliki banyak keunggulan sekaligus. Nah kalau ini yang terjadi maka solusinya sederhana: pindah. Pindah ini bisa dengan promosi ke bagian lain atau perusahaan lain.

3.Ada kalanya lingkunga kerja memang tidak sehat.
Ini juga faktor yang signifikan menghalangi orang berpikir jernih. Kalau tempat kerja memang sudah tidak kondusif, misalnya baru merger, maka tentunya berkompetisi juga tidak sehat. Misalnya memang tidak ada posisi baru selama 3 tahun kedepan. Dalam kondisi ini menjadi yang paling unggul bisa jadi bukan pilihan yang baik.

Intinya, tempat kerja adalah persaingan yang sangat ketat dalam kompetisi yang seringkali tidak adil. Bagaimana kita mungkin bersaing dengan pegawai muda yang selain memiliki kemampuan kerja lebih baik juga memiliki biaya gaji yang lebih murah. Lalu solusinya bagaimana? buat saya, solusinya cuman satu: belajar. Belajar lebih banyak lagi, baik formal maupun informal.

Written by Anjar Priandoyo

Juli 11, 2017 at 5:56 pm

Ditulis dalam Career

Produktivitas Peneliti

leave a comment »

Tulisan klarifikasi dari LIPI seperti ini sebenarnya menarik. Ada isu mengenai (kecemburuan) anggaran. Ada isu mengenai (kesenjangan) kualitas. Sebuah permasalahan yang dihadapi negara modern, yang ingin meningkatkan kualitas pendidikannya, tapi disisi lain dihadapkan dengan kenyataan yang ada. Kenyataan industri pendidikan dan penelitian itu sendiri yang masih relatif muda usianya. Muda karena disampaikan bahwa ITS (berdiri tahun 1957) tercatat sejak 1961, dan ITB (berdiri tahun 1959) sejak 1965, LIPI baru berdiri pada tahun 1967. Sebagai perbandingan UoYork yang berdiri tahun 1963 memiliki peringkat publikasi tinggi.

Jadi tidak aneh, kalau kita meneliti maka informasi yang kita dapatkan justru dari instansi semacam:
– Institusi International: World Bank, IEA, FAO
– Institusi Nasional: US (USDA, USDE/EIA), Japan (JICA, Ministry of Environment), Jerman GTZ dan seterusnya.

Written by Anjar Priandoyo

Juli 6, 2017 at 3:29 pm

Ditulis dalam Career

Tagged with ,

Perbedaan Teori vs Praktek, Kuliah vs Kerja

leave a comment »

Ada yang pernah membaca lowongan kerja IT? lowongan yang hanya cocok untuk manusia super. Yang diminta pengalaman 2 tahun kerja, tapi yang diminta:

  • Web (HTML5, JavaScript, CSS3, jQuery, Ajax, etc)
  • Java (J2EE, Spring MVC, Hibernate, Struts Framework)
  • Web Server (Apache/Tomcat/Ngix)
  • DB Server (MySQL/Oracle)

Ini contoh lowongan riil yang saya lihat disalah satu situs lowongan kerja. Kira-kira kalau ada freshgrad yang melamar ada yang diterima? jangankan freshgrad, dosennya saja belum tentu diterima.

Lalu apakah dosennya salah? atau apakah kurikulum kuliahnya salah?

Menurut saya, kurikulum kuliahnya tidak salah. Web/Java programming sudah diajarkan dalam mata kuliah algoritma dan pemrograman. Bahkan yang diajarkan di kuliah jauh lebih luas, membandingkan antara procedural language, semantic, inductive logic hingga Object Oriented (OOP) semacam Java. Jadi lulusan kampus IT, harusnya sudah mengenal teknologi tersebut, tapi untuk bisa mengerjakan? nanti dulu.

Kalau kurikulumnya tidak salah, lalu siapa yang salah? saya pribadi menilai, bisa saja dosennya yang salah. Salah dalam artian bukan tidak mengajarkan pengetahuan teknis mengenai coding kepada anak didiknya -sesuatu yang bukan tujuan pembelajaran S1. Tapi, kesalahan dosennya tidak mendidik mahasiswanya untuk berpikir kritis.

Berpikir kritis, maksudnya untuk menilai dari berbagai pilihan teori yang diberikan selama kuliah, teori mana yang paling efisien dan efektif untuk diterapkan.

Contoh, bila melihat lowongan programmer seperti diatas, dan seketika sakit perut. Maka saya menyarankan agar mahasiswa memperdalam bidang lain yang bisa dia kuasai. Misalnya Project Management atau Audit. Di Audit misalnya, mahasiswa tersebut bisa mempelajari Substantive Audit via ACL atau Test of Control Audit via knowledge SAP atau programming lainnya.

Disinilah kemampuan mahasiswa yang utama dibutuhkan: kemampuan berpikir kritis.

Seorang dosen, harus bisa memotivasi mahasiswanya untuk berpikir kritis, sebelum memutuskan untuk nguplek-nguplek belajar coding atau oracle yang ujungnya tidak ada kebutuhannya di dunia kerja.

Pelajarannya:

  • Kuliah itu mengajarkan PILIHAN teori (bukan mengajarkan teori) selama 4 tahun. Kerja itu menerapkan satu teori selama 33 tahun
  • Kelebihan kuliah adalah memiliki PILIHAN yang lebih banyak untuk menyelesaikan suatu persoalan.
  • Kemampuan MEMILIH harus sejalan dengan kemampuan MENGGUNAKAN. Mahasiswa yang mengetahui bahwa disiplin adalah budaya kerja perusahaan Jepang harus bisa fleksible saat bekerja di perusahaan amerika misalnya.

Pilihan Teori:

  • Teori Programming: Procedural vs Object Oriented ref
  • Teori Software Development: Waterfall vs Prototyping (Berurutan vs Prototype)
  • Teori Project Management: Traditional (PMI/Prince) vs Lean/Agile
  • Teori Business Process: EPC vs BPMN
  • Teori Audit: Substantive vs Test of control
  • Teori Management: Classic vs Human Relation vs System Theory (Conservative/birokrat vs progressive)
  • Teori Motivasi: Maslow vs Herzberg vs Mccleland (Gaji lebih penting vs Posisi lebih penting)
  • Teori Modernization: Modernization/Transformation vs Dependency (Progress via pendidikan vs koordinasi/trade)
  • Teori Globalisasi: Modernization vs World-System Theory (Global dilakukan dengan inovasi vs perlu gabung asosiasi)

Written by Anjar Priandoyo

Juni 5, 2017 at 1:06 pm

Ditulis dalam Career

Bisnis Pendidikan vs Bisnis Penelitian: Sepakbola

leave a comment »

Di Indonesia, dosen menurut UU 12 2012 (PT) atau menurut UU 14 2005 (Guru Dosen) adalah Pendidik dan Ilmuwan. Artinya ada dua bidang bisnis dimana seorang dosen berada. Bisnis penelitian dan bisnis pendidikan. Sementara guru hanyalah pendidik yang tidak berkewajiban penelitian.

Bisnis Pendidikan dan Penelitian adalah “Highly regulated industry” sama seperti perbankan. Bisnis perbankan dengan UU 10 1998 membagi dengan sangat ketat definisi bank (menghimpun dana masyarakat) padahal jenis bisnisnya sama, bisa dibagi hingga menjadi belasan definisi (e.g bank, bpr, ksp, bmt dkk)

Bisnis Pendidikan bisa diduplikasi, namun bisnis penelitian tidak mudah diduplikasi. Contoh sederhana, UGM untuk peringkat subject engineering citation tertinggi UGM hanya sekitar 100 sementara York mencapai 1000, untuk subyek yang lain seperti lingkungan pun hampir sama. Tingkat citation UGM hanya sekitar 10%-nya saja. Padahal, UGM salah satu universitas tertua dan terbesar di Indonesia.

Fenomena ketertinggalan bisnis tidak hanya terjadi di dunia penelitian, tapi juga di dunia sepakbola, yang diulas dengan sangat bagus oleh penulisnya. Kira-kira kutipannya sbb:

“…Indonesia seharusnya mengikuti transformasi ekonomi secara bertahap, (bila tidak jurang antara si kaya dan si miskin menjadi semakin lebar dan dalam) untuk itu yang menjadi fokus seharusnya Pertanian. Saat ini Indonesia masuk ke de-industrialisasi padahal sarjana hanya 4% populasi…”

Written by Anjar Priandoyo

Juni 4, 2017 at 7:06 pm

Ditulis dalam Career

Mitos seputar karir

leave a comment »

Masalah dunia bisnis di Indonesia sebenarnya sama dengan masalah sosial di Indonesia secara umum. Kalau di Indonesia, yang sering kita lihat adalah masyarakat tradisional (percaya mitos, kekeluargaan), kesenjangan yang tinggi. Akibatnya, banyak muncul mitos-mitos seputar dunia kerja yang sebenarnya tidak akurat.

#1 Networking adalah segalanya
Fakta: Networking bukanlah segalanya, kalau mau kerja di BI, Polri, Deplu misalnya, jalurnya bukan dari networking tapi dari situs mereka, dikirim langsung ke perusahaannya, melewati proses rekrutmen yang tahapannya jelas.

#2 Sekolah MBA membantu karir
Fakta: Alasan orang mengambil sekolah MBA adalah faktor networking yang didapat dari teman sekelas dan pengajar. Benar? lihat mitos #1.

#3 Almamater S1 yang bagus membantu karir
Fakta: Banyak Dirut BUMN yang bukan berasal dari lulusan PTN/Luar Negeri.

Mitos yang hampir benar
#1 Pemilik modal banyak didominasi asing
Faktor kepemilikan modal ini sangat mempengaruhi bagaimana keputusan bisnis dibuat.

#2 Sukses karir tergantung anaknya siapa
Fakta: Masyarakat dengan kelas sosial yang rigid akan menciptakan sekat-sekat sebanyak mungkin yang bisa dibuat dari faktor keluarga, suku, ras, agama.

#3 Berada di core business sangat penting
Kalau mau sukses di bank, harus berada di bagian kredit. Kalau mau sukses di astra harus dibagian penjualan. Kalau mau sukses di Semen harus dibagian produksi.

Seharusnya: Untuk bisa sejahtera orang bisa bekerja di mana saja. Di negara yang ekonominya sudah baik, bekerja sebagai dosen, supir taksi ataupun manajer di perusahaan tidak memiliki perbedaan gaji yang besar.

Written by Anjar Priandoyo

Juni 4, 2017 at 9:18 am

Ditulis dalam Career