Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Posts Tagged ‘Media

Industri Buku dan Media

leave a comment »

Setiap membaca buku saya selalu melihat siapa penerbitnya. Buku biasa kalau penerbitnya Random House, seperti buku Power of Habit (Charles Duhigg, 2011) sudah pasti punya potensi untuk bisa menembus jutaan kali cetak. Buku Girl on Train (Paula Hawkins, 2015) kalau penerbitnya Penguin, sudah pasti punya potensi untuk dijadikan film box office. Baik Penguin maupun Random adalah milik Bertelsmann, konglomerasi raksasa untuk buku yang punya revenue hampir $20 milyar, setengah dari pendapatan Pertamina 2017.

Bertelsmann adalah konglomerasi raksasa, yang punya divisi dari televisi, radio, musik hingga pendidikan meski secara tradisional mulai dari penerbit buku. Ini berbeda dengan konglomerasi media raksasa terintegrasi seperti Comcast, Disney atau Time Warner yang punya divisi yang tidak hanya bermain di downstream media, seperti film dan televisi tapi juga upstream media seperti infrastruktur telekomunikasi. Kalau sudah pada tingkat konglomerasi global, maka definisi menguasai industri adalah menguasai dari ujung ke ujung, seperti Altria yang menguasai rokok, bir dan keju terbesar di dunia. Meski terlihat berada dalam industri yang berbeda-beda sebenarnya berada dalam industri yang sama dan terkonsolidasi.

Kembali ke buku tadi, Bertelsmann mungkin merupakan konglomerasi penerbit buku terbesar di dunia, namun kategori tersebut kalau hanya dilihat dari penerbit buku saja. Maka penerbit buku terbesar di dunia adalah Pearson, Reed Elsevier, ThompsonReuters baru disusul Bertelsmann. Pearson merajai universitas melalui buku-buku kuliah seperti Prentice Hall, Longman. Reed Elsevier menguasai universitas dengan Sciencedirect dan Scopus. Universitas pada dasarnya adalah pedagang eceran kecil dan toko buku adalah pedagang asongan diantara para raksasa penguasa industri pendidikan, penelitian dan pengetahuan. ref

Pendapatan Pertamina 2017: US$ 42,86 miliar atau setara dengan Rp 565 triliun
Pendapatan Telkom 2017: $8.73 miliar atau setara Rp 128 trilun

Iklan

Written by Anjar Priandoyo

Juni 14, 2018 at 2:26 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with

Stories per second

leave a comment »

Jaman sebelum internet, di Inggris ada banyak koran seperti Mirror, Guardian, Times, Mail, Telegraph dengan distribusi yang hampir-hampir sama, kualitas yang mirip-mirip. Jaman internet, peta ini berubah. Yang saya lihat, yang bisa bertahan hanya dua, Guardian dan Daily Mail. Guardian berhasil karena open access, tidak menerapkan paywall, layanan premium yang mengharuskan orang bayar. Daily Mail sukses karena format tabloid dengan berita populer seperti mengenai keluarga kerajaan yang sebagian besar pengaksesnya justru bukan orang Inggris. Kesimpulannya kalau tidak punya sesuatu yang unik, yang berbeda, jangan harap bisa bertahan.

Di Amerika, kondisinya juga mirip. Jaman sebelum internet ada banyak koran seperti USA Today, Washington post, New York Times, Wallstreet Journal. Dengan adanya internet, koran-koran ini pun beradaptasi dan berkompetisi. Washington Post misalnya, bisa memproduksi konten original tulisan sekitar 500 tulisan per hari. New York Times sekitar 230 tulisan per hari dan WallStreet Journal sekitar 240 tulisan perhari. Wallstreet Journal punya sekitar 1,800 editor, New York times punya sekitar 1,300 editor dan Washington post punya sekitar 700 editor. Kalau ditotal dengan konten sindikasi, koran ini bisa mengeluarkan hingga satu berita per menit. Kesimpulannya, keunikan saja tidak cukup, perlu kuantitas untuk bisa bertahan.

Di Indonesia, saat ini penguasa internet adalah Tribunnews baru disusul Detik. Saya tidak tahu statistik kapasitas produksi Tribunnews, tapi dengan Kompas dibelakang Tribunnews, menghadirkan resep dengan kombinasi keunikan, kualitas dan tentunya kuantitas tentunya sangat mudah dilakukannya untuk menjadi penguasa pasar media internet di Indonesia. Untuk ini Tirto perlu belajar dari Times dan Kumparan perlu belajar dari Kompas, dua-duanya hanya saya buka dari status orang yang beredar di sosial media. ref

Written by Anjar Priandoyo

Juni 14, 2018 at 1:12 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with

Pattern Polarisasi Media

leave a comment »

Dengan teknologi komunikasi massal, ujaran kebencian meningkat. Kebencian orang terhadap orang lain terfasilitasi dengan penggunaan teknologi dan menjadi kekuatan baru yang relatif tidak terorganisir, viral. Kompetisi pun menjadi semakin ketat, misalnya Detik dan Kompas yang bersaing menguasai pasar trafik, akibatnya muncul media seperti Tribun, yang kualitasnya rendah. Namun disisi lain, muncul media yang bukannya lebih “berkualitas”, tapi menempatkan diri sebagai pengkritik apa yang dilakukan korporasi besar. Media seperti Remotivi ini muncul mewarnai polarisasi media, sama seperti geotimes, tirto dan kumparan. Catatan: Hate speech is rising ref, hate speech semakin marak. ref, ref

Industrialisasi media seperti ini pada akhirnya akan membentuk pasar yang oligopoli. Dalam industri media di Indonesia, penguasanya adalah konglomerasi media terintegrasi seperti Kompas, MNC dan Emtek. Penguasa ini bisa menguasai hingga 90% dari pasar media. Sehingga media seperti tirto akan sangat sulit bersaing, sekalipun dengan Republika atau Tempo. Hanya modal yang sangat besar yang bisa membuat sebuah media bertahan. Contoh adalah detik yang kemudian diakuisisi Trans group. Kumparan dan Tirto adalah contoh media baru, yang ingin meramaikan industri media. Mereka harus punya group yang kuat, atau strategi yang benar-benar unik. Contoh di UK yang unik adalah guardian, ini pun dengan revenue model yang berdasarkan donasi.

Diluar itu sangat susah. Pembaca sebenarnya tidak dirugikan. Yang dirugikan adalah media-media bermodal kecil. Forces yang lebih besar dari google atau facebook akan semakin menyulitkan media kecil ini. Solusinya bila ingin bersaing adalah membangun konten yang membutuhkan kapital lebih besar, misalnya adalah film. Atau memilih untuk meninggalkan industri media tersebut.

Written by Anjar Priandoyo

Juni 10, 2018 at 9:50 am

Ditulis dalam Science

Tagged with

Resep media yang sukses tidak bisa diprediksi

leave a comment »

Di UK, website yang tinggi trafiknya adalah Dailymail, konon trafik terbanyak adalah justru dari luar UK seperti US. Untuk website yang lebih serius yang tinggi trafiknya adalah Guardian. Guardian punya prinsip no paywall yang membuatnya sukses. Peta ini sedikit bergeser dibandingkan jokenya Jim Hacker (Yes, Prime Minister 1986) yang menyatakan Newspaper Joke berdasarkan SES dan demographic.

Trend ini sepertinya sedikit demi sedikit bergeser, rating ini nantinya masuk ke dalam sosial media (facebook) yang akan lebih powerful. Ini baru terlihat seperti Foxnews atau USAtoday yang tidak memiliki feature most popular. Ini sama dengan Dailymail atau Guardian yang juga tidak mau memasang feature most popular. Berbeda dengan Kompas/Detik. Yang jelas peta ini akan terus bergeser dan tidak bisa diprediksi.

Cataan Joke dalam versi UK

  • The Daily Mirror is read by people who think they run the country;
  • The Guardian is read by people who think they ought to run the country;
  • The Times is read by the people who actually do run the country;
  • The Daily Mail is read by the wives of the people who run the country;
  • The Financial Times is read by people who own the country;
  • The Morning Star is read by people who think the country ought to be run by another country,
  • The Daily Telegraph is read by people who think it is.”

Joke dalam versi US

  • The London Financial Times is read by people who run the world.
  • The Wall Street Journal is read by the people who run the country.
  • The Washington Post is read by people who think they run the country.
  • The New York Times is read by people who think they should run the country, and who are very good at crosswords.
  • USA Today is read by people who think they ought to run the country but don’t really understand the Washington Post. They do, however, like their statistics shown in pie charts.
  • The Los Angeles Times is read by people who wouldn’t mind running the country, if they could spare the time, and if they didn’t have to leave LA to do it.
  • The Boston Globe is read by people whose parents used to run the country and they did a far superior job of it, thank you very much.
  • The New York Daily News is read by people who aren’t too sure who’s running the country, and don’t really care as long as they can get a seat on the train.
  • The New York Post is read by people who don’t care who’s running the country, as long as they do something really scandalous, preferably while intoxicated.
  • The San Francisco Chronicle is read by people who aren’t sure there is a country or that anyone is running it; but whoever it is, they oppose all that they stand for.
  • The Miami Herald is read by people who are running another country but need the baseball scores.
  • The National Enquirer is read by people trapped in line at the grocery store.

Written by Anjar Priandoyo

April 30, 2018 at 11:33 am

Ditulis dalam Science

Tagged with

Tulisan pelipur lara tentang pendidikan

leave a comment »

Saya sebenarnya tidak suka dengan tulisan pelipur lara (comforter), apalagi pelipur lara seputar pendidikan seperti “S1 lebih baik dari S2 ref, Drop out lebih baik dari pada S1 ref 2017, Ijazah bukan segalanya ref“. Tulisan seperti ini bisa bias sekali, walaupun tujuannya baik, untuk menghibur diri, tapi dalam dosis tertentu ini tidak dibutuhkan. Sama seperti minum parasetamol untuk menjaga kebugaran tubuh, pada tingkat tertentu tidak diperlukan.

Ini sekali lagi mengingatkan bahwa bisnis media, dalam format apapun baik kelas, offline atau online pada dasarnya adalah hiburan ref. Untuk perusahaan yang berdiri tahun 2014, kemudian diakuisisi dan sekarang seperti ini tentunya ini cerita yang menarik untuk dijadikan pelajaran ref.

Written by Anjar Priandoyo

April 29, 2018 at 5:01 am

Ditulis dalam Science

Tagged with

Media yang diserang adalah media yang berhasil, Mojok vs Vice

leave a comment »

Vice Indonesia meliput Swissindo ref Feb 2018, kesan yang muncul ini media yang punya resources serius untuk melakukan investigasi. Beberapa kali searching menemukan artikel dari Vice ini bersaing dengan media majalah alternatif seperti Hipwee, Grid dan Mojok. Posisi ini juga diperjelas ketika Apr 2018, Mojok mereview Vice mengenai ongkos pertemanan ref. Vice memang media serius, rankingnya diatas Vox dan Digg. Vox sendiri sempat punya peringkat tinggi dengan artikel peta peta negara didunia. Tulisan Mojok ini juga mempertegas blunder yang lain selain Kagama (Jan 2018), termasuk artikel yang hanya ditulis penulis tertentu ref. Lalu kapan media alternatif ini terkonsolidasi, kita lihat.

Sebagai perbandingan, penurunan media alternatif sebelumnya juga tidak bisa diprediksi. Orang bisa memprediksi bahwa terjadi penurunan, tapi cut off kapan sebuah media mati sulit dideteksi. Sebagai contoh seperti yang terjadi di 2017 dengan titik balik Jonru tersangka September 2017 ref, October 2017 Seword dilaporkan ke polisi ref. Meskipun Seword masih bisa diakses, namun kredibilitasnya susah naik kembali. Momen ini tentunya dimanfaatkan media besar untuk mengisi kekosongan ini dengan fitur kolom yang mudah diakses seperti Kompas dan Detik.

Menarik melihat naik turun media seperti ini. Menarik karena tidak bisa diprediksi tapi bisa dirasakan. Sudah saatnya bagi para owner media alternatif itu untuk menaruh telurnya pada wadah keranjang yang berbeda.

Written by Anjar Priandoyo

April 25, 2018 at 3:32 am

Ditulis dalam Society

Tagged with

Media Alternatif – Wattpad

leave a comment »

Dari Wattpad ke Storial. Saya baru lihat beberapa hari ini. Menarik juga sebenarnya. Storial ini baru muncul, bagaimana nanti kalau Kompas/Kompasiana juga masuk ke segmen yang sama. Atau seperti biasa yang paling kuat bertahan tentunya Wattpad. Storial sendiri mulai berdiri Nov 2015 ref, Mar 2018 mulai fitur berbayar ref

Written by Anjar Priandoyo

Maret 5, 2018 at 1:46 pm

Ditulis dalam Society

Tagged with