Sanggupkah MM / S2 mendongkrak gaji anda
Salam kenal Mas Anjar, Saya ini salah satu tipe manusia yang nggak penah PD dengan kemampuan diri sendiri. Mas bisa kasih info, kira-kira seorang dengan latar pendidikan S2 (gelar MM) dengan pengalaman kerja 10 tahun seharusnya sudah bergaji berapa idelanya ya??
Salah satu komentator
“…Kalo ditempat kerja saya, mau S2 ato S3 gak ngaruh ke salary, karena
disitu memang gak ada posisi untuk S2 keatas… jadi kalo mau kerja
disitu ya digaji standar S1 + experiences..
kalo sekarang banyak orang yang karena gagal bersaing di linkungan
level S1, terus melanjutkan S2 dengan harapan bisa meningkatkan daya
saing… saya rasa kurang tepat, jika tetap mencari kerja di lingkungan
S1, karena disana yang dihargai adalah profesionalitas dan pengalaman.
kalo udah S2 keatas, seharusnya masuk di lingkungan riset dan pengembangan.. tapi kalo di indonesia mungkin yang ada jadi dosen…”
Weathertop, Oil services company
“…Ditempat saya (Telco company) S2 ga ngaruh, tapi hebatnya, lulusan S1, D3, atau bahkan office boy bisa dapet grading dan kesempatan yang sama, serius saya kenal officeboy yang sekarang jadi engineer…”
XXX, Mega Kuningan
Auditor Thinks:
Biaya Pendidikan MM (untuk 2 tahun)
Premium MM:UI Salemba, UGM Gondangdia, Prasetya Mulya: 50-60 juta
Firstclass MM: Binus JWC, : 40-50 juta
Secondary Premium: MSi (Magister Sains), MKom, MSos, Mhum,: 30-40 juta.
Second Tier: Atmajaya, Pancasila: 30-40 juta
Freshgraduate competition:
Selisih 20-25%, misalkan di Oil Company Freshgrad S1 gaji 4 juta. Freshgrad S2 gaji 5 juta. Di audit firm, freshgrad S1 3 juta, freshgrad S2 4.5 juta.
Kesimpulan: Rugi, karena S1 exp 2 tahun, gajinya sama dengan S2 fresh. Padahal si S2 dah nombok 50 juta.
Experience competition:
Yang dijual harusnya malah experiencenya, jadi mungkin agak berat.
BUMN environment?
Kayaknya untuk level-level tertentu harus jadi prasyarat.
Terkait dengan pertanyaan diatas:
1. Biar bagaimanapun gaji kita tergantung tempat perusahaan kita bekerja kan. Saran saya, gunakan angka standar untuk experience 10 tahun ditempat anda. Terus coba nego dengan tambahkan 20-30% untuk minta kenaikan ke bos anda.
Anjar thinks:
1. Kalau office politiknya kenceng, S2 lumayan buat jaga-jaga
2. Kalau motivasi kerjanya dah males, lumayan juga buat cari networking. Intinya MM itu network kan, itu jualannya Om Rhenald.
3. Kalau itu petuah orang tua, ambisi pribadi, atau biar undangan nikah terlihat manis, boleh deh ga rugi.
*Any other comment?
*Detail angka di MM menyusul


Tidak ada hubungan seseorang lulus S2-S3 dengan standar gaji atau kinerja akan meningkat. Bagi perusahaan, jika menyekolahkan karyawan, artinya karyawan tadi sudah dipilih, dan diharapkan setelah lulus, kinerjanya meningkat. Jika tidak? Ya pangkatnya tetap aja, atau malah akan degradasi.
Masalahnya banyak yang kuliah biaya sendiri, dan merasa kalau udah S2 atau S3, pasti hebat…padahal belum tentu ada korelasinya. Jadi yang penting memang experience, dan dibuktikan dalam kinerja yang terukur dan akurat…apakah orang tsb meningkat kemampuannya, apa sumbangannya bagi perusahaan?
edratna
April 19, 2007 at 2:26 am
Ikutan nimbrung ya Mas Anjar …
Nah, ini diskusi menarik … jawaban dari pertanyaan di atas memang sangat bervariasi … tetapi sebelum menjawab pertanyaan tsb, mungkin yang sering menjadi pertanyaan (setidaknya buat saya pribadi), “apakah orang2 tahu alasan persisnya mengapa di sekolah S2 dampai S3 ?”.
“Apa sih yang diharapkan dari sekolah S3 dan S3 ?”. Mengharapkan kenaikan gaji ? Ops, tunggu dulu. Meminjam teorinya Om Kaplan dan Norton (balanced scorecard) yang diadopsi ke level individu, pendidikan (learn and growth perspective) tidak berkorelasi langsung dengan gaji (financial perspective). Dia akan melewati beberapa tahapan terlebih dahulu, sebelum sampai kepada dampak finansial berupa gaji.
Step 1 : Jika memang seseorang memiliki pendidikan yang lebih tinggi (S2 S3 atau apalah), maka tentu dia memiliki kompetensi dan kemampuan kerja yang lebih baik (kalau nggak, ya percuma saja, cuma memang ijazah doank).
Step 2 : Jika dia memiliki kompetensi dan kemampuan kerja yang lebih baik, maka tentu saja diamampu bekerja lebih baik atau produktivitasnya lebih tinggi (process perspective). Dia bekerja lebih baik dibanding yang lain. Kalau ternyata nggak, maka tentu orang itu hanya menang pengetahuan, tapi nggak bisa menterjemahkannya ke dalam keterampilan kerja. Padahal dalam kerja yang dipentingkan adalah kemampuan kerja (skills) disamping pengetahuan dan sikap perilaku.
Step 3 : Kalau memang kemampuan kerja dan produktivitasnya tinggi, maka tentu dia akan dihargai oleh pihak yang memanfaatkan jasa pekerjaannya (baik atasannya, maupun orang lain, siapa pun itu), dengan syarat dia mampu menunjukkan prestasi kerja yang baik itu kepada mereka.
Step 4 : Jika diakui, maka barulah dampak finansial akan menghampiri dirinya …
Jadi, menurut saya, tidak ada korelasi langsung antara gelar S2 S3 etc dengan gaji. Dampak terhadap gaji baru terasa setelah melewati 4 step di atas.
Ops, opini saya ini memiliki asumsi bahwa yang terpenting bukan ijazah atau gelar, melainkan kompetensi. Tapi kalau ijazah dan gelar langsung meningkatkan tunjangan jabatan, ya itu masalah lain (saya kenal sebuah organisasi, ada ketentuan jika punya gelar S2, dapat tunjang jabatan Rp xxxx dsb). Kalau seperti ini, lain lagi ceritanya …
Saya sendiri sekolah sampai S3 … tapi saya menyadari sepenuhnya bahwa saya akan melewati 4 step di atas untuk mencapai dampak finansial …
Terima kasih Mas Anjar … mohon maaf, komentarnya kepanjangan … he he he …
RIRI SATRIA
April 19, 2007 at 3:07 am
@Anjar
Update: MM UI setau gue ga segitu bos… bisa 90-110 juta sekarang!
serius, soalnya emang naek banget tarifnya…
trus.. sebenernya MM/S2 itu buat apa sih tujuannya? kalo buat gue.. ya nambah ilmu aja… kepuasan pribadi. bukankah ilmu untuk diri sendiri, bukan orang lain.. Naif aja kalo akan ada korelasi berbanding lurus antara tingkat pendidikan dan gaji.
@Mas Riri
Salam dari juniornya di CSUI. Banyakin bahas ilmu manajemen di milis Iluni12 ya mas ;)
Amir
April 19, 2007 at 4:10 am
Jaman sekarang minimal S1 lah. Untuk S2 or lebih tinggi S3, tergantung kondisi:
1. Kalo memang punya hobby belajar.
2. Kalo memang punya duit lebih.
Kalo degree mau diharapkan sejajar dengan gaji, ggk perlu lanjut sampai ke S2. Salah satu Dirut di Bank Plat merah bahkan hanya berijazah D3. Tapi sekarang termasuk eksekutif bergaji gede (taksiran s/d 1.5 M setahun, blm termasuk bonus). Noke Kiroyan yang lama malang melintang di Siemen bahkan baru melanjutkan kuliah S1-nya di UI setelah pensiun.
Jadi kalo mau gaji gede, cukup S1 saja. Setelah masuk dunia kerja, tingkatkankan kompetensi teknis maupun manajerial. Terus jangan lupa, ini yang tidak boleh disepelekan: kemampuan nge-lobby atau kemampuan berbaur dengan orang-orang yang posisinya di atas anda. Karena di situ anda bisa menjual diri anda.
Baginda
April 19, 2007 at 4:35 am
Njar, lupakah kau kalo bosmu itu tidak ada S2-nya sama sekali?? hanya Sertifikasinya aja yang beriringan panjang ke belakang.. toh, dapetnya per bulan tetep ruaarr biasa kan :D
Amir
April 19, 2007 at 4:53 am
yep..stuju ma mas Riri, ..diskusi yg bner2 menarik.
Jadi gak nyesel deh, nunda ke S2 aussie 3 bln lalu..demi kerja di sini. (qeqeqeqeq)
Euh… tapi diskusi ini jg berlaku bagi S2 luar negri kn, Mas Njar?
Mas Anjar, Sy ada temen -sebutlah “Rina”- yg krja di slh 1 vendor telkomunikasi sbg IT helpdesk, skrg baru ambil S2 di M.Teknik Informasi UI.
Salah satu alasan Rina ambil S2 itu karna atasannya bilang,”di sini klo mo dapet posisi kyk saya itu ambil S2,” Saya lupa posisi atasan Rina tu apa, yg jelas di atas IT supervisor.
Apa ini yg dimaksud Mas Anjar,”..Kayaknya untuk level-level tertentu harus jadi prasyarat..”??
Pdhl setau saya, Rina itu anak pinter+rajin di kampus dulu, beasiswa kuliah & beasswa training Cisco pula. (dibanding sy yg lbh katrok) Sy pikir Rina bkl mudah utk dapet posisi2 yg bagus tanpa S2 dulu.
Olie
April 19, 2007 at 6:13 am
Terimakasih Om Riri untuk komentarnya yang sangat komprehensif. Iya lah S3 gitu lho yang kasih komen, bobotnya kelihatan lah.
Kalau saya pribadi melihat S2 sebagai salah satu bargaining position aja dikantor. Kalau memang punya dana lebih untuk sekolah kenapa tidak seperti mas Baginda bilang diatas. Tapi kalau sebagai sebuah strategi untuk mendapatkan gaji lebih hendaknya disikapi dengan baik bisa atau engga.
Mas Ollie: Kalau yang diceritain kasus Rina diatas mungkin sangat spesifik kali ya, tergantung S2nya apa, misalnya dari IT, specialist comben (compensation benefit) ada aja yang struktur gajinya sama dengan manager. Atau untuk customer loyalty management, it audit atau ilmu-ilmu yang memang spesifik.
*Tapi saya pribadi, kalau untuk tingkat perusahaan, terlalu naif kali ya kalau mengesamping faktor office politics disetiap movement vertikal karyawannya.
Kalau di BPPT, kata Om yong, dikenal istilah Bangkai Phd. Artinya lulusan Phd yang ga dapet tempat apa-apa setelah balik ke Indonesia.
priandoyo
April 19, 2007 at 7:34 am
Memang di Indonesia segala sesuatu nya susah kalau dikaitkan antara pengembangan sumber daya atau kompetensi atau apalah dengan reward-baik itu gaji ataupun promosi. Kalau di negara maju, standar nya jelas-walaupun tidak 100% tepat tapi ada patokan yang jelas. Kalau dalam dunia akademis, seorang dosen pasti diukur dari gelar akademisnya. Apalagi jika sudah menyandang gelar Doktor, wah penghasilan pasti naik signifikan dan jabatan akademis sudah di depan mata, apalagi untuk bidang ilmu tertentu. Sama juga dengan dunia kerja di pemerintahan, kadang-kadang tidak melihat korelasi dan kompetensinya, asal S2 atau S3 langsung saja dapat perhatian berlebih, walaupun seringkali tidak ada nilai tambahnya bagi organisasi. Kalau di swasta mungkin masing-masing punya culture dan policy sendiri-sendiri, tapi yang jelas kompetensi dan nilai tambah bagi organisasi jadi patokan utama dan itu wajar, lha orang sekolah itu kan biar tambah wawasan dan pengetahuan. Saya pribadi melihat jenjang S2 diperlukan bagi mereka yang akan mengambil posisi manajer (middle-up) dan diharapkan dapat mengambil keputusan strategis. Berbeda dengan mereka yang diharapkan mempunyai skill teknis yang tinggi, nah kalau itu ambil pelatihan atau sertifikasi lebih cocok. Tapi pada akhirnya yah kita harus tetap berkembang kan mas?
Ingin jadi IT Auditor Juga
April 20, 2007 at 1:45 am
memang untuk jabatan yang bersifat struktural, peningkatan gelar akademis (S2/S3) juga berarti peningkatan jabatan/gajih, tapi apakah untuk jabatan yang bersifat fungsional juga berlaku demikian????
gelar akademis yang lebih tinggi tidak menjamin seseorang untuk mendapat salary / gaji menjadi lebih tinggi juga, tetapi banyak faktor lain juga yang menentukan, misalnya skill, kemampuan komunikasi, mental, tempat bekerja dan jangan lupakan dewi fortuna alias keberuntungan
namun dengan gelar akademis yang tinggi akan ikut mempengaruhi semakin banyaknya peluang untuk mendapatkan gaji yang lebih tinggi, sangat logis kah??
catur
April 20, 2007 at 2:35 am
Secara praktis yang paling menjual dari MM menurut saya adalah networking, mangkanya rugi juga tuh MM kelas Pertamina, atau MM kelas Bank Mandiri. Lha ketemunya temen-temen sendiri, gimana mau berkembang. Mau nanya sama dosen? kalau dosennya orang praktisi juga, kalau dosennya orang akademik. Ya mbulet, ketemunya Lu lagi Lu lagi. Gak bakal maju nanti.
*karena lum punya dana untuk MM, menjalin networkingnya lewat blog aja deh :D hehehe
priandoyo
April 20, 2007 at 3:43 am
Memang, yang terpenting dari pendidikan S2 adalah pengayaan pengalaman, sinkronisasi antara praktikal didunia kerja dengan teori didalam kelas; atau sebaliknya.
Hal ini akan diperkaya dengan diskusi dan persepsi yang berbeda dari teman-teman sekelas yang memiliki latar pendidikan dan profesi yang beragam.
Bagi anda yang tetap bekerja sambil kuliah akan mendapat “bonus tambahan” berupa : “how to manage your stress”. bayangin aja, deadline kantor plus ujian final serta papers yang bersamaan misalnya.
Untuk gaji menurut saya relative dan masih banyak faktor lain baik external maupun internal yang terlibat dalam menentukan besarannya, namun memang sebaiknya sebelum ambil S2 dihitung dulu Return on Investmentnya.
Nah, Return on Infestment ini akan dipandang berbeda-beda tergantung persepsi masing-masing individu, dan ternyata tidak selalu uang / salary.
Menurut saya,, pendidikan S2 adalah sebuah pengalaman hidup yang sangat menyenangkan karena akan membuka banyak cakrawala baru… jika anda ada kesempatan (Uang, waktu dan yang penting : Semangat) ambil aja nggak usah ragu… cheers.
Widi
April 20, 2007 at 8:26 am
Unfortunately, S2 memang tidak berkorelasi secara signifikan dengan gaji. That’s the fact. Jadi sebaiknya, klo mau kuliah lagi, niatnya jangan untuk menaikkan gaji. Nanti malah kecewa. Kecuali untuk program-program macam MBA dari top business school yang memang bisa menjadi career booster. Tapi toh cost untuk top MBAs itu juga tidak sedikit.
Having a master degree is like wearing good shoes for a marathon race. It doesn’t guarantee a quick result, but it’ll give you an edge in the long run
Nurkholisoh
April 20, 2007 at 11:11 am
Wah wah thread ini makin banyak pakar yang komentar rupanya, FYI Bu Enny (S2), Om Riri (S3), Om Widi (S2) dan terakhir Om Nurkholisoh (S2 scholarship di overseas-eropa yang gosipnya mau berangkat S3 lagi) dan semuanya bukan anak kemarin sore. Sampel valid nih.
Gimana, jadi makin ragu-ragu ambil MM hehehe
*kok nggak ada yang komentar AWU (American World University) tempat jualan MM/MSc murah yang banyak dipake politikus sampe aparat kita. Contoh Om Hamzah Haz atau bahkan Om Anwar Fuady yang dapet Honoris Causa disana. Kalau model AWU ini kelihatannya menguntungkan lho, balik modal juga.
priandoyo
April 20, 2007 at 11:19 am
… Mas Anjar … konon juga ada tuh penyelenggara MBA yang murah … kalau lagi diskon, ngambil MBA bonusnya PhD ! … ha ha ha ha …
RIRI SATRIA
April 20, 2007 at 12:18 pm
Ada satu opsi yg mungkin terlupa, yaitu kuliah MM dengan beasiswa. Saat ini buanyak sekali kesempatan utk kuliah MM dengan gratis, tidak seperti dulu.
Caranya? Giat meningkatkan nilai TOEFL dan TPA. Dan tentu saja, sell yourself well. I think you have enough credentials to win one.
Nurkholisoh
April 20, 2007 at 12:18 pm
wah.. menarik :)
saya jg ga tahan pngen komen jg.. ijinkan yak :) berbagi pengalaman aja nih.. hehe
saya sendiri S2 lulusan luar, dan jujur stlh 2 tahun kerja di jkt (this is my 1st job), gaji saya masih lbh kecil dr gaji temen saya yg S1 lulusan lokal dgn pengalaman segudang :)
alasannya? easy..
org indonesia itu sgt experience oriented :) jarang ada yg berani liat S2 trus lsg kasih gaji setinggi langit (ini masuk akal sih saya jg ngerti :D )
padahal di tempat saya kuliah, S2 or S1 sering digunakan sbg salah 1 syarat utk apply pekerjaan..
gaji awal yg diberikan utk fresh grad pun sangat berbeda, dgn perkembangan arah karir yg jg bisa sgt berbeda..
tapi.. saya stuju bgt sama pendapat2 di atas :) S2 itu – menurut saya pribadi – ok2 aja kalau memang mampu + ingin belajar.. tp jgn utk mengharapkan gaji..
it gives you an edge, and it may help you reshape/improve your way of thinking (di sini yg saya sempat rasakan perbedaannya).. and it often open doors that are otherwise closed or hard to enter..
tapi, ga ada hubungannya ma gaji :D hehehe
saya suka bgt nih “Having a master degree is like wearing good shoes for a marathon race. It doesn’t guarantee a quick result, but it’ll give you an edge in the long run”
It’s VERY true! :D
buntut2 nya sih, tetep ke pribadi/kinerja masing2.. saya yakin dan saya tahu ada banyak bukti lulusan S1 yg jauh lbh sukses drpd lulusan S2 :) sebab saya jg kenal lulusan2 yg S2 tp kerjanya kok ya sgt amburadul dibandingkan yg “cuma” S1.. membuat saya sendiri lebih memilih ga usah bilang saya S2 aja deh :D
so kesimpulannya, saya stuju sama semua yg udah disebut deh.. kalau ada ksempatan (contoh spt ide beasiswa di atas) then go for it. menambah pengetahuan + pengalaman itu gak pernah ada salahnya kok :) tp gelar extra nan mahal itu bukan jaminan dan bukan sesuatu yg wajib, in the end, it all comes down to you :P
oh dan btw, belajar bhs inggris itu penting.. saya stuju sama (mas atau mbak?) nurkholisoh. perlu dikembangkan tuh.. biar lbh bnyk lagi pintu2 yg terbuka :) baik beasiswa atau mungkin lowongan2 di perusahaan2 yg lbh bonafid :)
Astrid
April 21, 2007 at 6:33 pm
mas anjar sekali-sekali bikin analisis / comparison soal business school (dalam/luar negeri) boleh juga tuh … sebagai referensi buat teman2 yang mau ambil sekolah/beasiswa..
osinaga
Mei 1, 2007 at 4:04 am
# mr.humble Says:
Mei 1st, 2007 at 10:24 pm
Hello mas pri dan teman2..
saya bekerja sbg praktisi telekom selama 7 thn dgn gaji yg alhamdulillah bagus sekali…
saya dr dulu sgt tertarik untuk sekolah lagi MBA telecom,dan kebetulan ITB-smpoerna buka kelas itu tahun ini..menurut temen2 kalian gmn ya?
http://www.sampoernasbm.itb.ac.id/faculty.html
uang kuliahnya lumyan mahal 80 jt
pdhl universitas & prog studi baru…
trims sebelumnya
mr.humble
Mei 2, 2007 at 3:10 pm
Aww Mas Anjar..
Mmm..saya seorang lulusan FEUI, 27 years old. Saya bener2 jatuh cinta dengan blog ini pas kemarin, saya dipanggil untuk interview di salah satu Top 5 oil company sebagai economist. istri saya Plano ITB ngasih banyak masukan berdasarkan blog ini. Saya sudah bekerja di suatu perusahaan economic consulting/riset yang cukup top di Indonesia (top 1 lah unuk domnestik) dengan gaji (yang sebelumnya saya kira cukup besar) sebelum ada virus informai gaji perusahaan mgas. Iman saya terus terang goyah, haruskan saya mutad ke perusahaaan migas sedangkan saya sudah bekerja 4 tahun di lingkungan yang amat friendly, hangat, agamis, tidak ada sodok2an karena semua sibuk masin-masing dengan sistem kerja asosiate. Enaknya saya juga masih bisa ngajar di almamater plus kerjaan lain yang masih memungkinkan (halfly monlighting hehehe). as researcher, pekerjaan saya datang dan pergi dengan topik yg berbeda mulai banking, teleomunikasi sampe ngurusin CSR. nyars gak ada bosan….tapi saya bener2 kepincut dengan oil meskipun pas wawancara kemarin kelihaan saya salah mengartikan “economist” karena di oil saya akan mengerjakan routin stuff yang sebenrnya “bukan saya banget”…bagaimana mas anjar punya masukan..thanks a lot!!!!
suamimya anak ITB
Mei 6, 2007 at 10:48 am
Halo Mas Anjar,
hmm ikomp 2000 ya, sy dulu ikomp 98 tp cm setahun trs cabut. Skrg sdg kul di luar.
Kalo buat saya, pertimbangan utama ambil S2 di luar ya utk masuk job market internasional, terutama di negara ybs.
Sy setuju bgt dgn pernyataan diatas, krn memang bgt kenyataannya di Indonesia.
WARNING! Hati-hati dengan AWU (American World University), disana dikategorikan pabrik gelar “degree mill”, lembaga yg sama sekali tidak ada kualitas akademisnya. Sama saja beli gelar. Tidak terakreditasi di departemen pendidikan amerika. Lihat: http://en.wikipedia.org/wiki/American_World_University
Masalahnya pejabat2 di Indonesia banyak yg cari model spt itu. Tapi bagi orang2 yg tahu standar kualitas akademis gelar model tsb bukannya menaikkan gengsi, tp menunjukkan “kualitas” sebenarnya.
Bima
Mei 11, 2007 at 5:46 pm
bossnya anjar itu anak UGM juga, malah backgroundnya akuntansi, dan dia lulusan S2 UI deh .. tentu dgn dibackup ama sertifikasi yg bejibun …
papabonbon
Mei 12, 2007 at 4:00 am
[...] lain:Sanggupkah MM/S2 mendongkrak salary anda Posted in Karir [...]
Anjar priandoyo is lifeauditor S2 untuk telekomunikasi apa ya? «
Mei 21, 2007 at 4:10 am
Ikut nimbrung mas Anjar, seru juga diskusinya nih, kalau pengamatan saya, memang kompetensi yang mendukung gaji seseorang, tapi memang tidak dapat disangkal ada perusahaan yang melihat tingkat sarjana D1-D3 atau S1-S3, sebagai persyaratan awal selain kompetensinya untuk sebuah jabatan. Dilihat dari kasus per kasus, apakah gelar S2/MM otomatis akan mendongkrak gaji kita, jawabannya tidak menurut saya. level gaji itu ditinjau dari banyak hal, posisi, accountability, responsibility, negosiasi, market rate, target individual.
Ada lagi satu tendensi, kalau top management itu banyak scholar, biasanya mereka juga mencari yg scholar juga.
Kembali ke tujuan kita sekolah, apakah mengambil S2/MM untuk mendongkrak gaji, memang suka belajar, atau simbol status? semua sah-sah saja kok, tapi yang jelas work smart, terus mengembangkan diri, building your network, terus berinovasi, bersifat positif, sabar dan terus berusaha.
Ada lagi tips dari mantan atasan saya, carilah international experience beberapa tahun, lalu kembali ke republik jual diri dengan harga yang lebih tinggi. Atau kalau di telco, jadi engineer kontrakan, misalnya RF engineer, network planing, Core network , atau Project manager misalnya bisa dapat penghasilan bulanan yang menakjubkan. Sebagai gambaran saja, ada kawan saya pengalaman 3 thn RF eng, S1 elektro UGM digaji USD 100/hari!!
Semoga bermanfaat dan mohon maaf kalau ada yg kurang berkenan.
kardul99
Mei 22, 2007 at 2:32 pm
yang namanya sekolah sih tak pernah rugi
kalau cuma ngejar gaji ya kepuasan belajarnya juga tidak akan sebesar kalau memang benar2 niat belajar
bersyukurlah kalau berkesempatan untuk menempuh pendidikan se-tinggi2nya, tidak bakal mubazir
chris
Juli 4, 2007 at 5:00 am
Mas Anjar,
Thanks banget buat pencerahan dari blog ini.Terutama masukan dari Mas Riri yang ‘cool’ abis. Moga-moga buat semua yang udah ambil S2 or S3 nggak kapok ya bagi-bagi pengalaman dari segi pemikiran dengan topik apapun ke rekan-rekan di blog yang masih S1 ini.Jujur,memang terlihat sekali bedanya dari segi pemikiran dan penggunaan gaya bahasa !
Salam
bsetia
Juli 26, 2007 at 6:59 am
topiknya menarik…
kalo saya ambil MM dengan tujuan ingin dapat pandangan lebih luas khususnya di bidang management karena S1 saya dari bidang yang sangat technical.
dan memang saya tidak salah, karena studi S2 ini membuat pandangan saya terhadap suatu masalah menjadi lebih komprehensif.
dan entah memang sudah jalan dari Tuhan atau pengaruh S2, selepas dari S2 karir saya cukup melesat.
dre
Agustus 3, 2007 at 10:08 am
gelar S2/S3 itu kayaknya kurang berasa kalau di swasta murni… enaknya buat kerja berbasis proyek, dgn tempat kerja yg tetap…kakak ipar saya, S3 keuangan dari luar, dosen, jadi peneliti senior di lembaga riset, sering jadi peneliti di BI utk topik khusus, jadi pembicara seminar, juga ngajar di MM. Meski pendapatan besar, tapi tidak pasti spt di swasta. Tapi katanya ada kepuasan pribadi krn merasa bisa bermanfaat utk hal-hal yang lebih besar selain sekedar uang doang.
Suami temen kantor saya, manager keuangan perusahaan Jepang di Sudirman situ. Ambil MM UGM, lalu laris ngajar pajak/keuangan di perusahaan2. Disitu dia dapet duit yg berlipat dibanding kantor aslinya, meski kantor aslinya tetap dipertahankan. Kantornya malah tahu resmi kalau dia bikin workshop2 gitu, tapi kantornya minta fee 10%
roely
Agustus 31, 2007 at 8:14 am
tambahin..(kayanya belom ada yg nulis)
gw sendiri masih ngincer2 S2.
in my opinion :
1) buat org yg sudah bekerja misal pengalaman 4 thn.
tentunya kalo kuliah lagi dan dapetin gelar S2 akan bisa boasting gajinya.
Caranya ? coba lamar ke tempat lain ! dengan pengalaman dan ijasah plus2 (baca : S2 or Sertifikat )
dari reply2 temen2 di atas cenderung mengharapkan naik gaji dari perusahaan existing. itu kemungkinannya sangat sedikit.
2. buat yg baru lulus S1 mo lanjut S2
di Indonesia, lulusan S1 dan S2 cenderung di anggap sama oleh perusahaan lokal,
but, untuk perusahaan Asing (contoh bank2 Asing) yg mana pengennya lulusan S2 (kalo bisa dari luar malah) untuk MT mereka.
Salary dan posisi sudah beda dari awal masuk.
kalo lulus MT karir sudah di depan mata.
so kesimpulannya :
1. kalo mo nambah gaji, gara2 saat ini gajinya ga naik2 bisa aja.. dengan menambah kualifikasi diri dan jual ke tempat lain..
2. kalo pengen gaji pertama gede, dengan modal gelar master, coba deh lamar ke perusahaan asing. di jamin bisa diberikan gaji yg sesuai harapan.
so, buat yg gaji2nya kayanya ga prospektif, lamar ke tempat lain (perusahaan lain) ga di panggil2..
coba deh ambil S2.
gw yakin paling ga dengan gelar S2 (tentunya dari kampus yg asli, bukan UWA) pintu-pintu utk interview akan lebih terbuka untuk karir2 baru anda.
sori topik lama gw angkat lagi :p
etoh
Agustus 31, 2007 at 8:31 am
[...] mencari kerja untuk Phd September 21st, 2007 — priandoyo Diposting terdahulu sudah dibahas mengenai prospek mencari kerja bagi lulusan S2 -kaitannya dengan standar salary yang [...]
Panduan mencari kerja untuk Phd « Anjar Priandoyo is Lifeauditor
September 21, 2007 at 4:42 am
Ada yang bilang kalo ada perusahaan di luar negeri yang malah nolak pelamar berijazah s2 dengan alasan ‘overqualified’ karena mereka (perusahaan) maunya yang ijazah s1. Apakah hal itu bisa/pernah terjadi indonesia ?
irfan
September 22, 2007 at 1:00 am
Saya seorang engineer di salah satu perusahaan telekomunikasi. Saat ini saya sedang melanjutkan studi S2. Syukur, lanjutin S2 karena ada beasiswa dari kampus. Awalnya memang saya berpikiran bahwa dengan melanjutkan S2 saya bisa menggenjot penghasilan jika saya tetap ’stay’/ pindah dari tempat kerja saya sekarang, ternyata semua itu tidak berhubungan langsung dengan penghasilan.
Di S2 saya lebih banyak mendapatkan ‘analytical and management skill’ yang tidak saya dapatkan di S1. Di S2 lebih banyak diskusi dan ‘problem solving’ terhadap suatu masalah ‘technical’ maupun ‘management’. Saat ini saya merasakan ada peningkatan terhadap kinerja saya di perusahaan. Manajemen yang lebih baik, berpikir lebih sistematis dan komprehensif. Kadang-kadang dituntut untuk mengambil keputusan strategis walaupun yang ini mungkin bagiannya manager. Hehehe. Selain itu juga lebih banyak ilmu yang di dapat, karena sering banget ngobrol-ngobrol dan ketemu temen-temen di kelas yang berkerja di berbagai bidang.
Gak ada ruginya kuliah lagi, apalagi buat yang seneng belajar (kayak saya :p)dan syukur-syukur gak ngeluarin duit lagi buat lanjutin kuliah.
vldd
September 22, 2007 at 3:02 pm
[...] juga S2 untuk telekomunikasi apa ya (19 comments) Sanggupkah S2 atau MM mendongkrak gaji anda? (31 comments) Posted in Job Hunting, Standar [...]
Apakah S2 memudahkan kita mencari kerja? dan berapa gajinya? « Anjar Priandoyo is Lifeauditor
September 26, 2007 at 2:20 am
mas anjar, met mampir..
saya baru tau blog ini karna ga sengaja ktemu di lewat om google..
topik yg sangat menarik..
saya sendiri sekarang sedang kuliah s1 sistem informasi di pts di surabaya dan memang [sangat] berkeinginan untuk bisa melanjutkan s2 [kalo' bisa di LN] dengan dana sendiri ataupun lewat beasiswa. saya sudah sering hunting beasiswa untuk ini, dan rata” memang meminta pengalaman kerja selama minimal 2 tahun.
alasan saya ngambil s2, karena [mungkin] untuk peningkatan kulitas diri dan karna saya emang suka belajar..
melihat berbagai comment di atas membuat saya berpikir kembali untuk nerusin s2. mending mencari berbagai sertifikasi skill yang lain. bagaimana?
aLdo
September 27, 2007 at 1:43 am
Suatu diskusi yang menarik… Ini hanya opini saya pribadi. Sampai kini saya belum tertarik untuk melanjutkan ke S2, walaupun saya pernah ada tawaran S2 gratis, dan walaupun keluarga menyarankan untuk melanjutkan S2 karena S1 saya cum laude… Alasannya cuma singkat “INI INDONESIA MANNN!!!!”. Di Indonesia yang dihargai mahal adalah skill dan experience, salary berbading lurus dengan besarnya skill, experience dan training2 keahlian yang pernah kita geluti…. Karena SDM yang model seperti yang ini yang memiliki konstribusi bagi perusahaan, terutama di Telco seperti saya sekarang….
Menurut saya tidak begitu susah untuk menembus level managerial walaupun hanya berbekal ijazah S1, berdasarkan pengamatan yang saya lihat selama ini. Sejalan dengan lamanya experience pola pikir kita akan berubah, dari mulai teknis hingga beranjak ke manage. Dan perusahaan jeli dengan hal ini…
c-gate
Oktober 1, 2007 at 4:14 am
Nimbrung dong,
Gw anak MMUI lulusan 2005, waktu itu ratenya msh 45 jtan, begitu lulus langsung kerja di FMCG, skr udh pindah ke perush ke 3 di farmasi. THP double digit + COP Innova.
Mnrt gw, S2 cuman bisa dipake
- screening awal buat ngelamar kerjaan (95% dipanggil apalagi + experience lumayan, hbs itu tergantung kita gmn ngeyakinin interviewer)
- kepuasan pribadi, plg nggak ilmu lebih komplit, gk melulu experience tp juga basic theori
Gitu bos…
Prams
Oktober 26, 2007 at 8:13 am
dear mas andjar..
muji lagi nih..blognya bagus..nambah ilmu banget…
alhamdulillah, saya dapat beasiswa untuk melanjutkan S2 di dalam negeri. walaupun demikian, sebelum tanda tangan kontrak beasiswa, saya masih mencari pandangan-pandangan orang lain mengenai meneruskan pendidikan S2.
tujuan saya sekolah S2 bukanlah untuk sekedar gelar. memang benar, dengan gelar S1 saja sebenernya karir saya cukup lumayan…tapi memang semakin waktu berjalan, saya merasa ilmu yang saya dapat sangatlah kurang…saya sendiri memang senang belajar..dan sangat ingin nambah wawasan baru, bertemu orang-orang baru dan bisa sharing ilmu…makanya saya ambil kelas reguler…dan pada saat yang bersamaan, saya apply beasiswa, dan dikabulkan.
saya minta pendapat mas andjar dan teman-teman, apakah meneruskan sekolah di saat umur saya sekarang pada waktu karir sedang lumayan, adalah suatu hal yang “salah/meragukan”? saya sadar, pilihan hidup memang bersifat gambling…pilihan meneruskan S2, apalagi dengan beasiswa dalam negeri berarti banyak buat saya: tidak adanya penghasilan selama kuliah, kehilangan kesempatan (apply to other employer, etc), dll namun demikian, di satu sisi bisa juga membuka pintu-pintu lain buat saya…ada opportunity cost lah…mohon pencerahannya
aioa
Oktober 29, 2007 at 11:56 am
S2 tetap penting, ilmu tidak akan pernah mati
bahkan ada 3 hal yang dapat membantu kita dialam kubur nanti
1.anak yang shaleh
2.amal jariyah
3.ilmu yang bermanfaat
angga
Oktober 30, 2007 at 7:26 am
Sharing aja…
Di section aku, semua membernya S2.
Believe it or not !
Waktu itu ada restrukturisasi organisasi dan dept dipecah lagi jadi 2 section.
Section 1 semua membernya S2 graduate dan section 2 yang membernya lulusan S1.
Untuk yang section 1 ini tugasnya project-based dan juga lebih soft skill, kalau perlu yang technical bisa ambil resource dari section 2.
Sedangkan section 2 lebih daily job dan juga tugasnya untuk support member section 1.
Jadi menurutku ada sisi plusnya punya S2.
Dari kasus ini bisa dapat lebih banyak exposure di berbagai bidang yang pada akhirnya memudahkan kita untuk mendapatkan karir yang lebih baik.
kris
November 20, 2007 at 12:48 am
Kerja di perusahaan apa tuh mas? menarik juga…
balibersinar
Juli 11, 2009 at 12:52 pm
Permisi mas2 abang2 bapak2 ibu2 senior2. Numpang ikutan komentar ya.
Menjawab pertanyaan apakah ada korelasi antara S2 dengan salary, menurut pendapat saya kalau di indonesia banyak anomali. Mengapa demikian? Pengalaman saya, lulus S1 bekerja di perush telco dengan gaji X. Lalu saya kuliah lagi S2 di sekolah cap gajah. Dengan modal gelar S2, saya coba cari perbaikan karir dan tentunya salary, ternyata ngga ada apresiasi alias gaji tetap X.
Sekarang saya kerja di oil & gas, gelar S2 saya juga tidak dihargai alias disamakan dengan lulusan S1. Yang bikin sakit hati lagi, beberapa teman saya yang bekerja di sini, disekolahin S2 (tepatnya minta beasiswa S2 dari perusahaan), setelah lulus kemudian kembali bekerja, dan karirnya semakin kinclong. Kalau diteliti lebih jauh, mereka itu memang orang2 yang dekat dengan penguasa.
Initinya saya mau menyampaikan bahwa sepertinya di negara kita masih banyak (tidak semuanya) praktek KKN yang menyebabkan motivasi bekerja menjadi turun.
Sorry komentarnya jadi curhat nih :(
Hemu
Desember 11, 2007 at 2:16 am
[...] Recent Comments Hemu di Sanggupkah MM / S2 mendongkrak… Caca di Gaji di perusahaan minyak? ana… supergee di Survey gaji Swa 2007, Oil Te… Mata hati di [...]
KKN menyebabkan motivasi kerja turun, bagaimana mengatasinya « Anjar Priandoyo
Desember 11, 2007 at 2:25 am
Gelar S2 / Master jelas tidak berkorelasi dengan gaji. Apalagi di perusahaan-perusahaan swasta di Indonesia. Saya master dari luar negeri, kerja di telco industry, tapi gaji saya sama saja dengan rekan-rekan lain se-level yang S1 (atau malah bisa jadi mereka lebih besar gajinya dari saya)… dan itu saya anggap wajar, tidak ada sakit hati atau apapun karena memang tujuan saya dulu ambil master bukan untuk mencari gaji tinggi.
Jadi kalau ada orang mengambil S2 dengan tujuan mendapat pekerjaan dengan gaji yang lebih tinggi, saya khawatir tujuan itu sulit tercapai. Apalagi kalau “hanya” S2 / MM dari dalam negeri, supplynya sudah terlalu banyak, jadi nilai jualnya saya kira tidak terlalu tinggi kecuali memang didukung dengan skills and experience yang memadai.
CrizalAlize
Desember 13, 2007 at 10:16 am
@ crizalAlize Japri donk boss, please, ada yang gue mo tanyain. Soalnya mo pulang nih. danke
Resi Bismo
Desember 13, 2007 at 7:56 pm
Jadi minder nich.
Saya drop out Universitas.
Artinya ijazah terakhir saya masih saja SMA.
Sebelum nya saya bekerja sbg karyawan pada sebuah persh dg gaji terakhir 3.5 jt.
Sekarang, posisi manajemen sekaligus pemegang saham, perusahaan konsultan patungan kecil-kecilan antara saya pribadi dg sebuah institusi koperasi.
Yang bisa saya banggakan bukan gaji yang nyentuh persis double digit.
Tapi kepuasan bisa membuat lapangan pekerjaan, serta memiliki client BUMN besar dan memberi manfaat utk mereka dari produk kami 100% konten lokal.
Pegawai2 saya yang status tetap ada lulusan SD, SMK, D3, S1; kadangkala juga mengambil freelancer lulusan S2/S3 (yg rata2 bekerja di pemerintahan/PNS).
Pernah ada juga lulusan S3/S2 dr luar yang nitip dicariin pekerjaan tetap krn tdk ada lowongan utk mereka di t4 kami.
Ada salah satu tulisan diatas yang seolah mengejar hasil Kelly survey dan pindah ke oil & gas dari t4 kerja nya semula yang sepertinya sudah nyaman & agamis. Saya jadi ragu apakah ybs akan menemukan kenyamanan di tempatnya yg baru nanti (oil & gas) kalau niatnya hanya gaji yang lebih tinggi, padahal gaji yg sekarang juga sudah sangat cukup.
Nikmatnya suatu pekerjaan menurut saya lebih pas kalau dilihat dari dua sudut: challenge & manfaat.
Bukan hanya melulu soal gaji.
Tegoeh
Desember 14, 2007 at 1:22 am
Banyak tulisan menarik mengenai perlu atau tidaknya mengambil S2. Masukan yang diberikan rekan-rekan pada postingan diatas juga beragam.
Semuanya kembali bermuara kepada cita-cita kita masing-masing dan jenis pekerjaan apa yang akan kita ambil dikemudian hari kelak (meskipun ini bisa berubah sifatnya)
Saya sendiri mengambil S2 bertujuan selain demi kepuasan pribadi juga sebagai ancang-ancang dihari tua nanti, siapa tahu kembali ke Indonesia dan bekerja menjadi dosen :)
Seseorang yang berminat bekerja di dunia akademisi/universitas tentunya diharapkan memiliki gelar s2 (ini banyak berlaku di New Zealand, tempat dimana saya berdomisili dan menimba ilmu S2 ). Di universitas saya, seorang Program assistant yang berkutat dengan tugas administrasi bertitel Phd dan yang lainnya at least bergelar Post Graduate Diploma. Mungkin ada semacam anggapan bahwa staff atau lectures merupakan role model bagi para student. Role model disini bukan hanya berupa materi yang didapat, tapi nilai-nilai akademisi yang dimilikinya.
Anggapan bahwa gelar S2 bisa mengkatrol posisi ataupun mudah memperoleh pekerjaan memang masih debateable.
Karena ada sebagaian perusahaan yang condong melihat gelar sebagai kriteria atau pengalaman sebagai kunci utama
Indonesia , negara yang lumayan berpenduduk padat membuat persaingan dalam mencari kerja menjadi sangat ketat. Kuliah program pasca sarjana pun akhirnya menjadi pilihan sebagai senjata untuk menjual diri.Tentunya ini hanya berlaku bagi pekerjaan yang sifatnya entry level.
Mungkin..mungkin gaji yang dipeoleh para lulusan S1 dan S2 nilainya sama pada entry level, tapi yang pasti ijasah S2 ini bisa dijadikan nilai tawar dan lebih acceptable.
Mungkin ada pendapat dari rekan-rekan yang lain?
Zipper
Desember 15, 2007 at 10:24 am
wah… seru & menarik jg ini topik
saya ga tahan komen tuk sharing pengalaman…
Kebetulan saya jg sedang kul S-2 …alhamdulillah dapet beasiswa di UI. sebelum kul, saya punya sedikit pengalaman 2 thn di salah satu ATPM otomotif. ( setelah saya mulai S-2 saya berhenti kerja ).
Ada beberapa point penting yg ingin saya sharing :
1. di tempat kerja saya dulu, lulusan S-2 lgs menempati kelas 7 untuk entry level. sedangkan S-1 masuk kelas 8. gajinya beda sekitar 500rb. ( what’s the big deal ?? )
2. Pandangan saya pribadi S-2 jgn dijadikan untuk bargaining gaji. atau jgn sampai berpikir kalau gelar itu signifikan.Tp S-2 dijadikan ajang untuk mengasah kemampuan kita, conceptual framework, research skill, teori yg update dan pengetahuan yg komprehensif. Nah, modal inilah yg dijadikan competitive edge bagi org s-2 (disamping GPA ). gunanya untuk melamar ke posisi yg lebih baik dan bluechip. misal ( keinginan saya pribadi ) consultant macam Mckinsey, BCG, Markplus,dsb. atau perusahaan2 emiten yg bergaji memang besar. co: Unilever, Sampoerna, BAT, dll.
3. Saudara saya yg bekerja sebagai FInancial analyst hanya bergelar S-1.Tetapi dgn predikat lulusan terbaik FISIP UI, skr gajinya di atas 10 JT. pdhl umurnya sama dengan saya ( 25thn ).Pada umur 23 gajinya sudah menembus 9 JT. Karena apa ? karena ia sudah punya competitive edge tsb walaupun ia tdk mengambil S-2. so, seleksi alam yang berbicara.
4. kesimpulan, fokus pada pengembangan nilai kompetitif kita sbg sarana untuk stepping stone, jangan berharap pada gelar. Disamping itu Bahasa inggris sangat esensial untuk pengembangan diri.kalau bisa minimal TOEFL diatas 560.
sekian sharing dari saya, sori kepanjangan ;)
kodok
Desember 25, 2007 at 4:25 pm
Bukannya ilmu itu untuk diamalkan dan disebarkan ke muka bumi..
Jadi klo dah ambil S2 (asumsi: ilmu yang didapat makin luas) ngpain jg balik ke industri (asumsi: industri yang lebih memprioritaskan skill dan experience ketimbang gelar) … mendingan terjun ke dunia edukasi dan mengajar alias dosen.
Jangan salah di dunia kampus banyak koq dosen-dosen yang dapat proyek ntah itu proyek penelitian atau proyek external (pembicara, konsultan). S2 iya (bisa lanjut ke S3) + “Gaji” juga iya.
Dua jalan yang berbeda.
Maaf klo keliru.
Agustian
Desember 25, 2007 at 9:16 pm
Sdr. Agus,
Yah, itu balik ke pribadi masing2.
kalau menurut saya… realita ga senaif itu. kita ga muna klo apa yg kt kejar sbnarnya kembali lg ke kepentingan kt sendiri. alias kesejahteraan & kepuasan pribadi.
kodok
Desember 26, 2007 at 7:10 am
Dear Mr. Anjar.
Saya bingung nih, saya baru lulus S2 Kelautan UI yang ilmunya langka dan mungkin kata orang tidak ada duitnya he he. Kebetulan saya kerja PNS Departemen dan bidang pengawasan. Gimana ya caranya mengembangkan diri ………………….. ! Trims banyak !
Regards
Someone puzzled
Iyoenk
Desember 27, 2007 at 10:24 am
mas anjar dan rekan2 semua,
mungkin kalau S2 dan S3 sebaiknya jadi dosen atau peneliti di berbagai NGO. Gradenya lebih dihargai. Sedangkan untuk dunia industry atau project lebih ditekankan pada experience dan profesionalisme.
jadi ketika kita masuk dalam suatu project, daftar panjang experience handling berbagai projects akan sangat mensupport. Sedangkan Gelarnya berbicara kemudian.
Sedangkan untuk Dosen dan peneliti biasanya yang dikedepankan adalah Gelarnya dulu baru experience berbicara kemudian
sutomo_asngadi
Desember 28, 2007 at 6:12 am
Kalau di perusahaan swasta, saya kira lebih pada kemampuan skill dan kompetensi. Knowledge tentu sangat penting, tapi bukan berarti juga hanya sesuatu yang formal.
Kalau memang seseorang secara akademis mempunyai strata yang sangat baik, kemudian mempunyai semua ( Skill, kompetensi dan pengetahuan) dan dengan itu bisa membentuk jaringan yang kuat, kenapa ga jadi shareholder sebuah perusahaan saja? Toh hari ini ide itu mahal, tapi yang punya ide cemerlang belum tentu strata akademik tinggi. Pengalaman mungkin menjadi guru yang jauh lebih baik ketimbang semata-mata kelas.
Tapi kalau itu tentara atau PNS, yang hari ini strata akademik formal itu perlu untuk promosi. Tapi hasilnya ya… seperti yang bisa kita lihat hari ini!
Abe
Desember 28, 2007 at 7:36 am
Mmm…topik bagus nih…
sempet kepikiran juga ngambil S2 karena u/ meningkatkan gaji, …tapi kok keliatannya kecil kemungkinannya ya ..:(
jadi sempet mikir lagi deh. terus, gimana kalo ngambil kompetensi training yg bersertifikat ? (misalnya karena background saya di instrument, saya mau ambil DCS training / keahlian instrumen lain yg bersertifikat)
Palaks
Desember 28, 2007 at 7:47 am
Abe,
hmm.. ga gitu ko kenyataannya. klo orang yg emg cmn ngincer gelar tp ga dapet ilmu apa2 emg begitu nasibnya.tp klo orang yg emg tinggi ilmunya… trus dipake untuk sebagai dasar pola pikir yg punya framework kuat hasilnya akan gemilang. Gmn jg sbg praktisi kita harus punya dasar kalau mau ngambil keputusan, ga bisa cmn brdsrkn intuisi ato pengalaman, at least meminimalkan resiko. Nah analisa yg dalam itu bisa kita pelajari dari dunia akademis.Makanya ada pekerjaan yg namanya consultant, krn org2 praktisi dari company ga sanggup membuat analisa tsb…Saya ga bilang klo semua org harus S-2 dulu baru pinter. tp satu hal yg pasti… semua hal yg dilakukan dgn sebaik2nya dan maksimal pasti akan worth it….
klo soal share holder…waduh.. itu cita2 semua org mas.. ;P tp kan ga smua org punya duit buat jd share holder. makanya skr kita pada rame2 ngumpulin duit biar bisa jadi shareholder ;) that’s what this thread are for bukan ? gmn caranya ngumpulin duit….hehe
kodok
Desember 28, 2007 at 5:33 pm
Topik di atas kan “Sanggupkah S2 mendongkrak gaji”, kok jadi melebar ke masalah framework, ilmu, pola pikir dan kepuasan pribadi. Jawaban dari pertanyaan di atas pendek saja; “TIDAK”. Banyak yang S1 gajinya berlipat-lipat dari yang S2. Malah saya liat sendiri ada yang hanya D3, gajinya lebih besar dari yang S2. Ini di swasta ya, nggak tahu kalau PNS.
Kecuali memang S2-nya dari MIT, Stanford, atau mana lah yang memang jelas top university, ya bisa jadi ceritanya lain. Kalau cuma S2 lokal, lha di Jakarta saja banyak banget kok sekolah yang tawarin program S2 mulai dari yang universitas negeri lumayan bagus sampai sekolah yang cuma berkampus di ruko. Gelar S2 lokal bisa didapat cukup mudah, tinggal masalah punya duit dan waktu atau tidak.
barney
Desember 28, 2007 at 9:06 pm
S2 menurut saya masih menjadi keharusan untuk mencapai level tertentu di beberapa organisasi, contoh untuh profesional di UN Secretary masih diharuskan untuk punya gelar S2.
Wirobumi
Desember 28, 2007 at 10:08 pm
Pingin sekolah S2 karena :
1. Biar naik pangkat di kantor – cari yang yang kuliahnya bisa nitip tanda tangan
2. Biar nambah wawasan – cari yang kuliahannya berat dan banyak tugasnya – jaga hubungan dengan anak – istri (terancam)
3. Biar keren – ya kalau ini pasti repot…bingung enaknya gimana.
Aku juga sedang maksa suami biar nambah “S” nya tapi gagal karena sibuk, usaha pertama sukses DO di tahun ke 4.
Usaha kedua – belum berhasil dirayu….ada nilai tambahnya gak ya ….. yang S2 kasi wacana dong….
Caca
Desember 29, 2007 at 1:00 am
@Caca
“1. Biar naik pangkat di kantor” –> kalau jadi PNS di instansi yang isinya cuma orang-orang berkualitas rendah yang hanya mementingkan title, gelar dsb. ya bisa saja berguna bergelar S2-nya. Kalau di perusahaan swasta, kayaknya nggak terlalu berpengaruh besar gelar akademis S2 dsb.
“2. Biar nambah wawasan” –> nah kalau ini alasan yang bagus.
“3. Biar keren” –> wah ini dia ciri orang Indonesia, maunya gelar biar keren doang. Beli aja gelar dari “sekolah” yang jual gelar instant, kan banyak tuh. Sick.
barney
Desember 29, 2007 at 3:45 am
waduh. . sdr barney ini ko sepertinya “maaf, agak sensi jg ya dgn S-2. ada pengalaman burukkah” ato boleh dibilang , sekali lagi maaf ” shallow”, bukannya kita ngebahas topik ini secara keseluruhan…. ko malah jadi saling serang…
tampaknya bahasan saya ato post2 lain tidak dicerna dgn cermat yah… oh well… semua yg anda bicarain jg udah dibahas….
emg susah kalo berpikir tdk pake framework alias berbasis pengalaman.. yang ada malah jd gontok2an adu pendapat….
mo org S-2 di MIT ke ato Harvard ke.. sama aja, semuanya jg yg penting asal ada duit…. Studi itu yg penting ilmunya,bukan gelarnya….
back t0 topik. intinya.. semua yg kita lakuin itu akan ada hasilnya asal dgn maksimal dan sebaik2nya. termasuk sekolah…. trainng ato belajar masak sekalipun klo ga dapet ilmunya tp cm gelar doang ya ga ada artinya. tp bila dapat “sesuatu”, ya pasti bermanfaat. logic aja ko….. saya tdk ingin bhasan jd utk melakukan pembenaran bagi yg ngambil S-2 dan jg sebaliknya, pembenaran bagi yg ga ngambil. Pokonya klo kita mo usaha lebih keras ( ex:sekolah , kerja lebih bener, belajar tuk menguasai lingkup bisnis perusahaan kita) otomatis kemampuan jg nambah dan gaji jg akan naik( bisa dgn pindah kantor ato promosi )… as simple as that
no offense lah… IMHO
kodok
Desember 29, 2007 at 5:04 pm
@kodok
saya sudah baca kok komentar Anda dari atas, dan nggak ada niat gontok-gontokan. Saya hanya mau bantu menjawab pertanyaan di paling atas thread ini adalah “Sanggupkah S2 Mendongkrak Gaji” dengan jawaban singkat saja (YES/NO), tanpa perlu melebar ke sana-sini. Kok bisa menuduh saya berpikir tidak pakai framework dan berbasis pengalaman… ? Anda baru kerja 2 tahun dan baru ambil S2 saja kok sudah merasa punya “framework” dan pengalaman, wah … kayaknya Andalah yang “shallow” (entah maksudnya apa).
Saya tidak “sensi” dengan S2. Justru saya sebaliknya mendukung orang untuk sekolah S2 (yang bagus, jangan asal S2) kalau ada kesempatan karena memang akan bisa membuka pola pikir dan wawasan baru. Intinya pendapat Anda benar, saya setuju, sekolah jangan cuma gelarnya saja yang dicari, tapi ilmunya. Celakanya sekarang orang banyak yang sekolah untuk cari gelar saja, berharap gelarnya itu bisa dia pakai untuk gagah-gagahan, atau minta posisi/gaji tinggi. Itu sebabnya sekarang banyak sekolah jual gelar instant, untuk melayani “pasar” orang-orang yang hanya ingin gelar itu tadi. Itu yang bikin saya prihatin.
Moga-moga “framework” berpikir saya bisa Anda cerna.
Koreksi: Anda tidak bisa masuk ke top-tier university seperti Harvard atau MIT kalau hanya punya duit. Entrance criterianya sangat menuntut academic record yang prima, GMAT & TOEFL score yang tinggi, dan melalui proses seleksi yang ketat. O iya, saya paham, Anda masuk S2 nggak perlu pakai GMAT ya :)
barney
Desember 30, 2007 at 12:11 am
Yah…mas barney… kog susah ya dikasih tau… saya ga berniat menyerang anda.. saya hanya membela diri dgn sedikit kritik ke anda. kalau anda tidak terima kitik ya jgn mulai dgn menyerang pendapat org lain. krn tujuan saya disini , mungkin tmsk anda … untuk sharing. bkn utk menyalahkan pendapat org lain…
ada bbrp hal yg perlu saya perjelas lg.krn tampaknya anda belum mengerti benar yg anda bicarakan….
1. yg dimaksud framework itu bicara terstruktur, pakai bukti dan didukung fakta. bukan hanya pengalaman pribadi. org ga perlu kerja 10 tahun buat bisa punya framework
2. masuk business school smuanya jg pakai gmat dan toefl. ga perlu Harvard atau MIT, semua….got it ” SEMUA ” standarnya jg rata2 sama. yg beda cmn tuition fee dan living cost nya saja. jarang org INdo kul di harvard. knp? karena mahal mas…butuh biaya milyaran… beasiswa? setau saya ga ada beasiswa di harvard. klo di UK , Jepang, belanda, Aussy, banyak.teman saya banyak ko yg kul di top university semacam purdue, mit, Kellogs,Berkeley dll.. di US. tp mereka semua dpt support dana.di euro jg ada LSE, Erasmus,Cambrige,dll. nah yg ini dpt beasiswa..
3. Bukannya sombong, tp utk klarifikasi. saya masuk S-2 UI beasiswa karena nilai TPA ( gmat versi indonesia ) saya paling tinggi saat penerimaan.dan toefl saya diatas 600. sebelumnya latar belakang saya teknik UI via UMPTN. saya ambil tes GMAT di indo utk modal keluar, nilai saya (ga perlu disebutkan) ga jauh beda dgn TPA
4. klo mau tau jwbn singkat apakah S-2 bisa ningkatkan gaji, jawabannya BISA. tp korelasi antara s-2 dan gaji tidak langsung. melainkan lewat intermediary factor dulu. yaitu competitive advantage. Kalau competitive advantage bisa dinaikkan, maka income jg otomatis naik . kalau anda bilang baca post saya di atas. coba baca lebih ke atas lagi. ada pendapat dari om RIri dan teman2 lainnya yg jg sebenarnya sudah cukup jelas.
sekian terima kasih. saya harap tidak ada perdebatan lg krn saya sudah membeberkan fakta dan cukup jelas kiranya.saran saya pribadi, sebaiknya anda bicara didukung fakta yang kuat terlebih dahulu..krn asumsi pribadi thd org lain bisa sangat mungkin salah.Dan sangat mungkin kebiasaan org Indonesia meng-underestimate org lain tanpa tahu terlebih dahulu timbul disaat sedang emosi atau tersinggung. sekali lg… mohon maaf kalau kata2 saya ada yg kasar. no offence, tujuan saya hanya sharing, bukan gontok2an…
kodok
Desember 30, 2007 at 4:59 am
@Kodok
Oops, ok deh saya akhiri saja perbincangan ini… soalnya sepertinya justru Anda yang berkomentar dalam keadaan emosi. Relax..!
Ya sudah anda jawab dengan BISA (=yes), saya jawab dengan TIDAK (=no). Beda pendapat bisa Anda terima kan? Saya bicara juga berdasar dengan fakta, meski fakta yang beda dengan Anda.
OK nggak perlu tahu scorenya, saya yakin Anda memang orang pintar kok, bisa dapat beasiswa (saya nggak pernah, tapi GMAT score saya bagus juga lho hehe). Orang pintar pasti bisa kontrol emosi :)
Anyway,good luck with your studies.
Barney signing off.
barney
Desember 30, 2007 at 7:55 am
Ok, that’s better…. krn saya yakin anda jauh lebih dewasa dari saya. berhubung saya sudah bilang klau umur saya 25 thn.. alangkah baiknya klau yg lebih dewasa bersikap bijak. dan tdk menyebar flaming…
beda pendapat memang biasa… tp lebih baik kalau mengerti knp berbeda.. bukannya berpikir yg beda pasti salah… good luck with ur life then… ;)
kodok
Desember 30, 2007 at 9:37 am
@Barney
Selamat dan salute buat anda.
Terlihat disini anda lebih dewasa dan bijak.
Maaf, kalau saya lihat, postingan awal Barney itu berbunyi:
“Topik di atas kan “Sanggupkah S2 mendongkrak gaji”, kok jadi melebar ke masalah framework, ilmu, pola pikir dan kepuasan pribadi. Jawaban dari pertanyaan di atas pendek saja; “TIDAK”. Banyak yang S1 gajinya berlipat-lipat dari yang S2. Malah saya liat sendiri ada yang hanya D3, gajinya lebih besar dari yang S2. Ini di swasta ya, nggak tahu kalau PNS. dst…..
(nampak jelas, Barney hanya berupaya merespond dari TOPIK UTAMA DISKUSI ini)
Sekarang mari kita lihat respond dari Sdr Kodok yang berbunyi:
“waduh. . sdr barney ini ko sepertinya “maaf, agak sensi jg ya dgn S-2. ada pengalaman burukkah” ato boleh dibilang , sekali lagi maaf ” shallow”, bukannya kita ngebahas topik ini secara keseluruhan…. ko malah jadi saling serang…
tampaknya bahasan saya ato post2 lain tidak dicerna dgn cermat yah… oh well… semua yg anda bicarain jg udah dibahas….
emg susah kalo berpikir tdk pake framework alias berbasis pengalaman.. yang ada malah jd gontok2an adu pendapat….dst…..
(terlihat diawal kalimat Sdr Kodok sudah takes the things personally….reaktif dan tertuju pada Sdr Barney. Ungkapan “shallow, pengalaman buruk dan istilah sensi” dengan entengnya di obral Sdr Kodok.Ditambah dengan bahasa “gontok2an” yang sifatnya justru sangat vulgar (apakah anda sedang emosi Sdr Kodok?)
Akibat dari gaya bahasa anda saat merespond Sdr Barney, akhirnya topik masalah sedikit melenceng alias lebih ke Style Pribadi Masing2.
Ingat loh, forum ini dibaca lumayan banyak orang, menulis dan bertindak konyol akan ditertawakan :)
Tahan emosi dan kendalikan nafsu kawan.
Kita menuntut para politikus senior untuk berpolitik secara santun bukan?
Bagaimana kalau kita awali dari diri masing-masing?
Berbeda pendapat dan sharing ilmu secara dewasa dan intelek.
Wassalam
Zipper
Desember 31, 2007 at 9:55 pm
@ Kodok
Salute juga buat Anda yang di akhir postingan mengucap:
“mohon maaf kalau kata2 saya ada yg kasar. no offence, tujuan saya hanya sharing, bukan gontok2an…”
(walau diawali dengan respond yang reaktif, tapi anda berusaha mengakhirinya dengan santun)
Diksusi……silahkan dilanjut:)
Zipper
Desember 31, 2007 at 10:15 pm
Naik brp siy kalo S2..Kecil…Kalo mau bnyak duit jgn ngantor!
Anyway,hidup ini pilihan.Ada orang2 yang pgn nyari ilmu seluas2nya termasuk s2 atau s3.Ga masalah!
Anak Gaul
Januari 1, 2008 at 4:42 pm
S2 bisa mengangkat level gaji kita kalau S2 kita tepat dan bisa “dijual” dengan tepat pula, jadi bekerja di industri yang sesuai dengan S2 kita. Misalnya S2-nya perminyakan ya kerja di perusahaan minyak, S2-nya telekomunikasi ya kerja di perusahaan telekomunikasi, S2 di finance ya kerja di bagian finance dsb. Kalau ambil S2-nya yang biasa-biasa dan terlalu general bidangnya, mungkin ya agak rendah pengaruhnya terhadap gaji.
Ini kita bicarakan situasi di Indo ya, kalau di luar ya beda.
supranoto
Februari 9, 2008 at 5:40 pm
Tahun 90′an okelah dibutuhkan MM, MBA, karena memang masih sedikit lulusannya, sedikit pula lembaga yang menyelenggarakan program MM.
Menjamurnya sekolah yang memberikan gelar MBA, MM atau sejenisnya lembaga seperti PPM, Prasetya Mulya, dan universitas-universitas dalam maupun luar negeri membuat Supply lebih besar dari Demand. Akibatnya sulit mendongkrak gaji.
Sekarang ini, diperlukan spesialisasi di bidang yang masih jarang orang lain yang mampu mengerjakannya dan dibutuhkan perusahaan. ( kalau sudah begitu, anda tinggal “batuk” saja untuk menyatakan salary yang diinginkan, pastinya perusahaan akan tergopoh-gopoh segera menyetujuinya..hehe ).
rudi
Februari 9, 2008 at 8:17 pm
nice topic…
s2 khususnya MM mengajarkan tentang pola pikir sebagai pengambil kputusan. Untuk entry level, ilmu ini kadang sangat idealis ditengah kerja2 yang bersifat praktis dan teknikal.
adit
Maret 6, 2008 at 8:35 am
Suatu Topic yang sangat nice, S2, S3 dan lain-lain sarana formal edukasi adalah suatu cara untuk mengakselerasi pengetahuan dan wawasan kita.dalam konteks ini ada yang dengan background bekerja dan belum bekerja tetapai idealnya mempunyai tujuan yang sama , meningkatkan tingkat intelektual.Tetapi kalau dalam perkembangan dan pemakaian selanjutnya ketika setelah lulus dari S2,S3, sertifikasi dan lain2, tergantung dari individu masing2 dan juga kesempatan yang ada.Walaupun kita smart, tetapi tidak mempunyai kesempatan, ngak jadi juga.Jadi sebelum anda kecewa dengan pendidikan yang akan diambil, mantapkan dahulu tujuan anda. akhirnya S2,S3, sangat disayangkan kalau hanya bertujuan mendapat gelar kemudian menaikkan gaji dan posisi, karena kalau ini yang dicari, InsyaAllah kita tidak mendapat keberkahan ilmu pengetahuan.Padahal investasi yang paling mahal dan berharga adalah pendidikan.Dengan Ilmu yang tinggi kita dituntut untuk menjadi kreator2 kecil baik di ekonomi, teknik,IT, dll, yang digunakan untuk keselamatan manusia.itulah tujuan kita mencari ilmu tinggi2.jadi kalau hanya untuk naik gaji,posisi dan lain2 lebih baik ngak usah daripada terbeban tanggung jawab baik dari manusia ataupun dari Allah SWT.
Ghezel
April 5, 2008 at 8:30 am
wah topiknya sangat menarik sekali, padahal saya ada rencana untuk mengambil S2 (MM) antara UI atau Prasetya jadi dipertimbangkan lagi nih, mmm…mohon pencerahan teman teman, apakah saat ini peluang orang yang bergelar MM dan mempunyai kompetensi kemungkinannya masih bisa menempati posisi2 manajerial ?
rarzi
Mei 12, 2008 at 7:50 am
klo peluang menempati posis manajerial sich saya rasa tergantung kualitas orangnya..
tapi mungkin lebih besar aja saat pertama kali masuk kerja..
eko
Mei 12, 2008 at 2:51 pm
mas mas, mba-mba maaf neh numpang comment
gw mahasiswa mm neh tapi masih baru (2 bulan yang lalu)..kalo baca crita diatas jadi sedih neh..jadi bikin down smgat gw neh..lain kali crita yang bagus-bagus napa…
HENDRA SAPUTRA
Mei 27, 2008 at 4:35 am
Mas Hendra, kuliah untuk mengembangkan diri – gaji dan jabatan hanyalah bonus. So, terus saja kuliah seperti biasa dan penuh semangat. Kalau teman muslim bilang,”Insyaallah membawa berkah untuk diri, keluarga dan masyarakat.” ;)
markisa
Juni 24, 2008 at 12:26 pm
Kayak orang Jerman aja. Untuk masalah S2 mereka bagi dua lintasan pendidikan. S2 dibagi dua, lintas pendidikan dan lintas pekerja. Kalau lintas pendidikan bisa langsung ambil S2 (setelah lulus S1) dan bisa ke S3. S2 lintas pekerja tidak bisa ke S3. S2 dgn lintas pendidikan akan gugur (tidak bisa ke S3) jika ketahuan jadi pegawai di suatu tempat/perusahaan. Dari penjelasan salah satu pengelola pendidikan di Jerman tersebut, bisa diambil pengertian bahwa untuk masalah S2 kembali ke personal nya masing-2, untuk tujuan apa mengambil S2.
(gilee cingg…… bisa kagak gendeng lagi gw….. gedubbrakkkk..!!!!)
Ustadz Gendeng
Juni 25, 2008 at 4:18 am
Percaya saya; kalau motivasinya semata untuk mendongkrak gaji, sekolah S2 / MM tidak akan banyak gunanya.
Sudah terlalu banyak S2 / MM di pasar kerja. S2 / MM bukan sesuatu yang terlalu istimewa lagi sekarang.
kudanil
Juli 22, 2008 at 3:27 pm
Menurut saya untuk s2 tergantung kebutuhan
Tapi saat ini MBA dibutuhkan khususnya yg bagi yg masih minim pengalaman kerja (1-2 thn) ato freshgrad..mumpung masih muda bisa untuk membantu mengambil keputusan.
Perusahaan asing, seperti beberapa foreign bank jg mensyaratkan MBA untuk program MT/MA fastracknya.
thx
rvn
Juli 26, 2008 at 2:37 pm
Sprtinya kalau ngambil S2 hanya untuk dongkrak gaji (instantly) kurang sesuai, karena mungkin dampaknya nggak segera setelah dapat gelar S2 langsung dapat kenaikan gaji atau posisi disesuaikan. Tapi in the long term, S2 tetap aja mesti lebih dihargai dari S1, dengan catatan skill dan experience sama. Lha iyalah namanya juga udah sekolah mati2an, keluar duit pula.Wajar. Yang S1 juga mungkin gitu juga kan, ga mau disamain dengan lulusan SMA atau D3, itu wajar juga. Kecuali dia punya skill atau pengalaman yang kita tidak punya. itu namanya sportif dan respek. Tapi untuk dapat skill dan pengalaman kan juga perlu waktu, sehingga kalau lulusan S1 (ambil yang rata2 bulan yang cum laude) perlu 3 th untuk skill tertentu, yang S2 mungkin cukup 1 th.Karena berpikirnya mungkin lebih strategis sehingga bisa work smarter. Kalau sudah sama, skill ama experience, mestinya S2 dihargai lebih tinggi. Jadi semangat, yang pingin sekolah S2 jangan ragu2. Ga usah mikir naik gaji ga ya, juga jangan berpikir pasar S2 udah banyak banget di Indo. Atau takut karena banyak S2 nganggur/ga naik gaji. Berpikirnya dibalik, kalau sekarang aja S2 udah banyak banget, apalagi 10th lg? bisa kompetitif ga anda di pasar kerja, karena anda belum tentu akan tetap kerja di satu tempat yang ngga perlu kompetisi lagi. Juga mungkin justru dengan S2 anda nantinya bisa menciptakan lapangan pekerjaan tersendiri. Itu yang sering saya nasehatkan ke anak2 saya.
ratna
Juli 26, 2008 at 4:25 pm
Uztadz, saya nggak tau anda dapat info itu dari mana…
saya NGGAK PERNAH DENGER ada istilah lintas pendidikan dan lintas pekerjaan di Jerman. Mungkin yang anda maksud diplom dari Universität dan Fachhochschule ?
Lulusan diplom dari Fachhochschule memang tidak setara dengan diplom Universität tapi kalau mereka ambil master lagi mereka bisa melamar doktor di Jerman dengan mudah, justru dengan pengalaman kerja dia bisa lebih mudah mendapatkan doktor dan melakukan riset di industri.
Lulusan diplom Universität juga bisa melamar doktor with or without work experience !
Di Jerman banyak lulusan doktor yang sambil bekerja/riset di industri dan setelah lulus kerja di Industri.
adhiguna
Juli 26, 2008 at 4:32 pm
ngaruh gak ngaruh, klo memang ada kesempatan S2 ya ambil aja. gak salah kok nimba ilmu. jgn selalu di kaitkan dengan duit lah! duit bukan segalanya (walopun segalanya butuh duit;p)
Oil_MAN
Agustus 10, 2008 at 2:06 pm
Ya kalau ada kesempatan ambil saja S2. Tapi harapan bahwa setelah dapat S2 kemudian gaji bakal naik, sebaiknya dibuang jauh-jauh, karena pasti nanti akan kecewa… tapi sekali lagi, kalau ada kesempatan ambil S2 yang bagus, jangan asal-asalan S2 (misalnya universitas S2 di ruko), ya go for it…
dosheet
Agustus 10, 2008 at 2:16 pm
S2…dengan gaji…ada yang berhubungan ada yang gak..lah
tapi ada juga yang require S2 utk naik gaji atau jabatan yah kalau gitu emang harus….tapi gak ada ruginya juga kalau ikutan S2 …kan ilmu bertambah..kalau niatnya buat naik gaji doang aduh sayang amat..upgrade otak kita dulu..banyak2 tambahin pengalaman, skill, networking, banyak baca buku…juga komunikasi skill…cause semua effect…lagian selagi masih muda…terus kita sanggup kenapa gak ambil S2..cause sekarang S2 banyak banget………..S1 kesannya jadi gimana…ambil aja …
marina artiyasa
Agustus 11, 2008 at 6:37 am
Kalau menurut saya, dalam era kompetisi yang ketat, perbedaan keunggulan setipis apapun dapat mengubah jalan cerita. Seharusnya sebuah program S2 akan mengasah kemampuan analisis and sintesis mahasiswanya, atau dapat digunakan sebagai indikator bahwa lulusannya akan memiliki kemampuan setingkat itu. Saya sangat merekomendasikan rekan-rekan disini untuk mengikuti program S2 apabila ada kesempatan. Tentunya jangan menyiakan sumber daya anda dengan mengikuti program S2 yang sub-standar.
Mengenai gaji, karena sebagian besar dari angkatan kerja kita tidak cukup beruntung untuk bekerja di perusahaan besar yang struktur remunerasinya sudah establish (termasuk saya). Gelar S2 bisa dan bisa saja tidak berpengaruh pada gaji. Tapi kembali pada kalimat pembuka tulisan ini, gelar S2 adalah sebuah keunggulan yang kemungkinan besar dapat mengubah jalan cerita.
Pengalaman pribadi:
Penulis lulus S1 pada usia 20, lulus s2 usia 22, cum laude, dan seluruh gelar diraih sambil bekerja full-time. Mengalami kenaikan signifikan pada gaji saat lulus S2 karena direkrut langsung oleh Owner sebuah kelompok usaha nasional yang terkesima dengan kegigihan penulis berkerja dan kuliah namun tetap berprestasi di kedua aspek tersebut.
yudhist
Oktober 21, 2008 at 5:16 am
Dear Mas Anjar.
Menurut gue, S2 itu merupakan competitive advantage di zaman sekarang, way of thingkingnya jauh lebih baik dari S1 dimana dalam S2 kita akan lebih banyak bergaul dengan orang2 yang punya pengalaman kerja di industri yang berbeda, share pengalaman juga “knowledge” bro. Saat ini gue kerja di perusahaan Multinational kosmetik asing yang ngasih paket lumayan.Gue kalahin S2 gue alias postpone di trimester 4, karena gue ngerasa ini peluang yang pas kalo gue gabung dulu and kuliah nanti gue lanjutin kalo pengalaman gue udah 1 tahun di company ini. Emang beda, Kebanyakan Manajer2 di perusahaan gue S1, dan udah kebaca bahwa way of thinking mereka tidak sitematis dan terstruktur, decision makingnya pun cuma pake feeling aja. Beda banget man, kalo loe ambil S2, dimana loe kerja akan lebih efisien, sistematis dan terstruktur karena loe punya knowledge and skill yang teruji. Awalnya gue pikir mereka2 itu (manager) pada hebat2, ternyata mungkin faktor lucky and koneksi yang membuat mereka bisa menempati posisi tsb. Umumnya mereka buat keputusan tanpa didasari atas data yang akurat dan metode yang gak jelas. So, guys ilmu emang keren bgt, meski “experience is the best teacher, tapi tetep….”knowledge is the great teacher” soalnya nya ilmu dibangun dari research, experience, observation, thingking and imagination. KNOWLEDGE IS KING, EXPERIENCE IS KING’S CLOTH”
David
Oktober 23, 2008 at 4:55 am
Saya Setuju Dengan Pak David tentang “KNOWLEDGE IS KING, EXPERIENCE IS KING’S CLOTH”
A.Radityo
Oktober 25, 2008 at 3:45 pm
Ikutan nimbrung Mas… Menurut saya S2 itu manfaatnya kembali ke diri masing-masing terlepas dari pengalaman atau masa kerja. Ada yang mengatakan S2 memperluas wawasan, ada juga yang bilang S2 itu sebagai “tiket” untuk kenaikan kesejahteraan.
Saya pribadi adalah seorang lulusan S2 MM dan juga seorang “kutu loncat” yang mencari pengalaman-pengalaman kerja untuk mencapai jabatan yang lebih baik di perusahaan yang lebih baik tentunya.
Saya punya pengalaman sewaktu ikut psikotes, yang saya lamar waktu itu adalah bagian Audit Marketing di sebuah perusahaan farmasi skala nasional namun setelah lulus sampai ke tahap akhir, saya ditawari posisi yang berbeda yaitu sebagai Head of Operation. Mungkinkah ini disebabkan karena latar belakang saya S2 yang punya seabrek pengalaman kerja ditambah hasil psikotes?
Saya tetap percaya S2 itu punya nilai tambah (disuatu sisi meningkatkan wawasan dan disuatu sisi meningkatkan kesejahteraan) asalkan didukung oleh pengalaman kerja yang signifikan.
Kurniawan
Oktober 26, 2008 at 2:26 am
ciee… yang S2.. suit suit…
dimasu
Oktober 26, 2008 at 2:53 am
Ikut nimbrung juga deh, salut buat om anjar topik -topik blog anda ini luarr biasa. Untuk saya diskusi ini jadi bahan pertimbangan untuk lanjut atau tidak mengambil S2/MM di salah satu PTN di jakarta. Dari yakin kemudian ragu2 berlanjut ke putus asa kembali ke yakin untuk mengambil S2/MM:) Terus terang tadinya motivasi saya pertama kali ingin mengambil S2/MM agar gaji meningkat tetapi dengan experience minim (baru 2 tahun kerja) saya rasa itu hal yang mustahil. Tetapi saya berkesimpulan dari diskusi diatas kalau S2/MM pasti akan merubah sistemasi kerja dan pola pikir orang tersebut. Sehingga akan membuat kinerja kerja yang berbeda dari karyawan yang lain (tentunya diharapkan lebih positif).Dan kinerja yang istimewa itu yang mungkin menyebabkan adanya perubahan gaji (disamping faktor luck tentunya). Mohon Maaf kalau komentar saya terlalu panjang :p
Stevi Notosagoro
Februari 3, 2009 at 5:19 pm
uhhuy..
balibersinar
April 5, 2009 at 2:06 pm
yaps benar sekali, setuju kalau kita kuliah bukan tujuan perbandingan kenaikan gaji tapi meningkatkan kompetensi, masalah naik tidaknya pendapatan, tergantung rejeki juga . trim kasih tas pencerahannya
fapertaump
Mei 30, 2009 at 9:26 pm
Kalo mau tau gimana pengalaman dapet gelar MM kurang dari 1tahun, baca bukunya Novan Restu: 353 Hari menjadi Master
Larasati
Juni 24, 2009 at 8:24 am
saya salah seorang yang terinspirasi untuk mengambil S2 setelah baca posting ini. Awalnya saya merasa udah eneg kerja di perusahaan saya kemarin, di sisi lain saya tidak mempunyai kepercayaan diri untuk melamar lagi di perusahaan lain. kebetulan ini pengalaman kerja pertama saya setelah saya lulus S1 farmasi, apoteker. tidak banyak juga perusahaan2 besar membuka lowongan untuk apoteker. Karenanya saya memutuskan resign dari tempat saya bekerja, segera setelah saya diterima tes masuk S2 di ITB, jurusan yang saya ambil pun tidak linier, karena saya mempunyai keraguan terhadap masa depan profesi saya…
balibersinar
Juli 11, 2009 at 12:48 pm
ass…
mas anjar saya ikut nimbrung y…
mohon pencerahan nya. Setelah saya membaca thread ini saya jadi merasa ragu2 untuk mengambil s2.
awal tujuan saya mengambil s2 adalah karena gelar s1 saya dari univ swasta di bandung yg tidak terkenal yang membuat saya sulit untuk mendapat kan pekerjaan (sampai sekarang) padahal saya merasa skill yang saya miliki sudah mumpuni untuk bekerja. saya merasa almamater sangat penting untuk mencari pekerjaan.
kedua adalah karena saya sangat senang dan mendapatkan kepuasan sendiri ketika bisa memiliki ilmu baru. tapi kekurangan saya adalah kadang saya merasa cukup dengan ilmu tersebut tanpa mendalami lebih dalam.
dan kekurangan saya yang lain adalah saya kurang terampil dalam komunikasi terhadap sesama.
apakah langkah saya untuk mengambil s2 sudah tepat…
atau adakah langkah yang lebih baik untuk mendapatkan pekerjaan…
minral
Juli 22, 2009 at 1:32 pm
saya baru aja selesai S1-Teknik Informatika, pengen nerusin ke S2-Teknologi Pendidikan, tp gimana ya… ga ada biaya buat nerusin…hehehe. jd menurut gw :
1. Ilmu itu penting – krn Allah SWT akan meninggikan
derajat orng2 yang berilmu.
2. Gelar itu penting – karena akan meninggikan status
sosial kita di masyarakat.
3. Duit itu penting – karena dengan duit bisa
lanjutin ke S2
kalo disingkat jadi IGD (Instalasi Gawat Darurat)
dalam keadaan gawat karena S1 tidak bisa kepake maka S2 yg kepake
Dymaz
Juli 24, 2009 at 5:39 pm
menurut aku mas
ku lulusan S1 setelah bekerja di POLRI .pengalaman aku stelah menempuh S1 alhamdullah aku dapat posisi yang lebih baik ketimbang sebelum kuliah selain itu prinsip[ aku adalah cari ilmu smpai masuk lang lahat itu wajib , walaupun habis uang cukup banyk ada kpuasan batin mkanya aku pengen banget lanjutin ke S2
irfan maulana
Agustus 10, 2009 at 3:27 am
Halo Njar!!! Minal aidin ya?? :D
Ikut komentar: (khusus untuk kasus saya) iya S2 bisa mendongkrak gaji karena tanpa S2 saya malah belum boleh ngajar hehehe… sudah kadung punya nya passion di bidang yg saya tekuni ini e njar… iya sih kadang iri dengan cerita teman2 yang gajinya berlipat ganda dari gaji dosen, tapi kerja jadi dosen itu rasa-rasa ne dah kayak bos gitu njar haha kan bisa nyuruh nyuruh mahasiswa seenak kita :p dan yang jelas wawasan dan sifat KRITIS kita jelas lebih terasah setelah S2 atau S3. Kritis dalam arti gak gampang percaya-an. Suka punya pendapat sendiri. You know. Tentang gaji, haha malah ga pernah kepikiran -_-”
irfan
Oktober 1, 2009 at 9:35 am