Mendefinisikan kembali makna silaturahmi
September 24, 2007 — priandoyoKapan waktu yang tepat untuk bersilaturahmi?
Kepada siapa kita bersilaturahmi?
Apa yang harus kita bicarakan saat bersilaturahmi?
Apa yang kita rasakan kita saat bersilaturahmi?
Apa yang orang rasakan saat kita me-silaturahmi dirinya?
Berapa kali dalam hidup kita harus bersilaturahmi?
Ada banyak hal yang bisa membuat hidup kita lebih bahagia. Salah satunya adalah melaksanakan silaturahmi. Silaturahmi bahasa mudahnya adalah bertamu, bagi sebagian orang bahasa lainnya adalah menyiapkan topik pembicaraan yang panjang, sementara ada juga yang mengartikannya sebagai sarana untuk mempererat tali persaudaraan satu sama lain.
Silaturahmi mungkin salah satu aktivitas sosial yang paling mudah. Tinggal berkunjung ketempat tinggal seseorang dan bicara. Pun agak repot silaturahmi bisa juga dilaksanakan di mall ataupun cafe tertentu. Intinya sama, melaksanakan fitrah kita sebagai mahluk sosial. Manusia yang membutuhkan interaksi antara manusia satu dengan manusia yang lain.
Dalam beberapa hal terkadang silaturahmi terasa berat dilakukan. Salah satunya adalah ‘alasan berkunjung’. Pengalaman pribadi saya, meskipun ada teman kantor yang rumahnya hanya berjarak 10 menit dari rumah, kalau tidak ada alasan, atau kalau tidak ada teman yang mengajak berkunjung, rasanya segan sekali. Ada saja alasan -yang dibuat-buat tentunya- seperti takut mengganggu waktu istirahat sang teman, takut mengganggu waktu pribadi untuk berdua dengan dinda. Hingga banyak pembenaran lain bahwa ‘ah ntar aja deh mampir kerumahnya dia’. Yang ujung-ujungnya kita tidak jadi bertandang.
Sibuknya kota, padatnya arus kehidupan kadang membuat kita samar membedakan mana yang seharusnya menjadi prioritas dan mana yang harus disingkirkan diujung paling belakang. Ah, mumpung Ramadhan masih menghampiri kita, jangan lupa ya ajak sanak kerabat, teman baik kita untuk bersilaturahmi. Mungkin tidak perlu menunggu Lebaran tiba, sekarang waktu yang tepat untuk bersilaturahmi.
Bukankah silaturahmi mendekatkan kita pada rezeki
Selamat menunaikan ibadah puasa, semoga hubungan kita dengan Tuhan, hubungan kita dengan sesama semakin meningkat berkualitas dibulan penuh rahmat ini.
Salam hangat,
Anjar Priandoyo dan keluarga.













September 24, 2007 pukul 6:31 am
iya bener, tuh. kemarin 10 hari di jkt. ujungnya cuman ketemuan ama khaidar cs. anak anak UPH IT TN6 ama mudik.
ada dua rencana ketemuan yg ternyata terpaksa kelewat. sori buat rudjay dan herni/bayuni.
September 24, 2007 pukul 7:35 am
hehehe, kemarin malem minggu kan kita habis silaurahmi njar ? :-D
September 25, 2007 pukul 7:26 am
“Pengalaman pribadi saya, meskipun ada teman kantor yang rumahnya hanya berjarak 10 menit dari rumah, kalau tidak ada alasan, atau kalau tidak ada teman yang mengajak berkunjung, rasanya segan sekali. ”
Pengalaman saya di Jakarta, saya justru dianggap aneh ketika berkunjung ke rumah saudara “tanpa alasan”.