Berubah
Dulu, sewaktu masih Sekolah Dasar (SD), saya sering menertawakan kakek dan nenek saya yang berfikir dengan cara yang masih tradisional -dan masih sedikit kagum dengan cara berpikir bapak dan ibu saya. Kemudian menginjak bangku SMA dan Kuliah, saya merasa bahwa cara berpikir saya tentang dunia mulai lebih baik dibandingkan cara berpikir bapak dan ibu saya. Jaman berubah, dan yang bertahan adalah yang paling bisa beradaptasi, paling bisa berubah sesuai dengan tuntutan jaman.
Sekarang, di umur kepala 3 ini. Saya mulai merasa mulai tertinggal dengan orang-orang yang hanya berbeda 10 tahun dengan saya. Perbedaan 1 dekade ini saja sudah cukup untuk membuat jurang perbedaan cara berpikir yang sangat dalam. Saya dan keponakan-keponakan, saya dan konsultan-konsultan muda, saya dan orang-orang baru.
Pekerjaan ambil contoh, dulu ketika awal bekerja, saya dengan bangganya datang dengan membawa approach bekerja baru yang lebih efisien, lebih proven, lebih profitable. Tapi, selang dalam waktu 5 tahun saja, ternyata approach tersebut sudah mulai ketinggalan. Prediksi-prediksi tentang bagaimana pasar didefinisikan, bagaimana kita memenangkan persaingan juga dengan sangat cepat harus ditafsirkan ulang.
Capacity Planning, Time Management, Stress Management
Mau dilihat dari kacamata manapun jawabannya sebenarnya sama. Orang, organisasi, pekerjaan apapun akan menjumpai stress, jika beban yang diterimanya terlalu banyak. Hal ini tidak perlu dikaji dari sudut pandang psikologi, engineering, marketing atau apapun. Hal sederhana ini adalah biologi, keterbatasan manusia. Kalau ada sebuah teori yang menyatakan bisa menghilangkan atau mengelola stress, kok rasanya saya kurang percaya ya. Saya lebih percaya bahwa satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah mengurangi penyebab stress ini sendiri.
Dalam sebuah workshop, salah satu cara yang dapat dilakukan adalah menyusun prioritas, yang dalam istilah canggihnya Prioritization Framework. Dengan hitungan yang terlihat rumit maka keputusan dalam penyusunan prioritas menjadi lebih mudah. Kok buat saya ini sepertinya kontradiktif ya. Orang ingin menghilangkan suatu masalah malah menambahkan masalah baru.
Contoh, rumah saya berantakan pada hari sabtu, anak-anak berebut mainan, bertengkar, belum lagi ada pekerjaan-pekerjaan rumah yang harus dilakukan, belum lagi keinginan untuk mengembangkan diri, keinginan untuk hobi. Rumit kan, sudah punya 8 list todo masih ditambah 1 list lagi untuk menyusun prioritas.
Saya sebenarnya tidak anti dengan istilah-istilah tersebut diatas, Capacity Management lah, Time Management lah, Stress Management lah. Menurut saya, daripada menambah daftar 1 list lagi yang harus dikerjakan, kenapa kita tidak mengerjakan sebaliknya, mengurangi jumlah list tadi. Mengurangi ya, bukan mengerjakan dari yang paling mudah.
Sebagai penutup, mengutip hasil penelitian dari Gartner
“…Roughly 40% of every knowledge worker’s day is spent on something he or she needs to do without distraction; assigning people to too many tasks destroys their ability to do anything well…”
Gartner, A Practical Five-Step Approach to Project Resource Management, 2 September 2009
Adakah worklife balance itu
Adakah worklife balance itu? kalau itu ditanyakan keseorang teman yang menjadi kasat reskrim, lulusan terbaik Akademi Kepolisian, rasanya jawabannya tidak ada.
“Setiap hari pulang diatas jam 12 malam, tidak ada hari libur, polisi siap bekerja 24/7″
Kalau pertanyaan itu ditanyakan kepada teman yang lain, banker terbaik lulusan ODP bank BUMN, jawabannya pun akan serupa.
“Hampir setiap hari diatas jam 10 malam, belum kalau ada event tertentu sering pulang pagi. Dirumah pun HP standby”.
Semua memang ada harganya, dengan fasilitas mewah, kekuasaan yang luas, karir cemerlang. Menjadi Kapolda atau Direktur Bank Mandiri merupakan title yang menjanjikan kan.
Suatu hari saya berdiskusi dengan seorang yang 25 tahun lebih tinggal di Amerika, seorang investment banker. WNI, kira-kira umurnya 30-an sekarang, yang kemudian memilih untuk pulang ke Indonesia. Jabatan sebelumnya luar biasa, di top invesment bank di US. Dan memutuskan untuk pulang, dan banting setir bekerja di perusahaan ‘jasa’ – perusaahaan saya bergerak di bidang jasa.
Beliau ini dengan segala kompetensinya memilih untuk bekerja -dibidang baru. Dengan alasan: worklife balance.
“Saya tahu pekerjaan di investment banking seperti apa, baik di US maupun di Indonesia, saya ada banyak kawan” diucapkan dalam dialek bahasa Indonesia yang ‘unik’. Tapi saya memilih ini.
Worklife balance menurut saya bergantung bagaimana cara memaknainya, kalau dilihat dari 2 contoh rekan saya diatas ‘yang terbaik’ itu maka worklife balance adalah pilihan untuk jangka panjang, sementara ada juga yang memaknainya untuk jangka pendek. Mana yang benar seringkali tidak penting. Yang jelas kita harus sadar betul apa dan konsekuensi ‘worklife’ balance yang kita ambil
Dewasa dan Matang
Ternyata dewasa dan matang itu 2 hal yang berbeda. Paling tidak itu kesimpulan yang didapat paska berdialog panjang lebar dengan beberapa teman baik selepas kantor. Dewasa itu kurang lebih bertanggungjawab atas keputusan yang kita buat sementara Matang itu ikhlas. Dan kalau dewasa itu pilihan, maka matang itu bergantung sangat kepada waktu. Waktu tidak bisa dibohongi dalam bicara mengenai kematangan.
Kalau Kepala 2 itu mungkin era kebebasan, maka Kepala 3 mungkin era – era kemenangan ketika apapun bisa didapat, dan artinya Kepala 4 adalah waktu kematangan penuh. Dimana orang lebih ikhlas, lebih bisa bersikap -bagaimana menghadapi orang lain. Mungkin lebih banyak yang tidak siap. Tapi apapun itu kita harus lebih banyak belajar.
Hening, Tenang, Menang
Dalam 10 tahun terakhir bekerja, mungkin nasihat yang paling bermanfaat dalam melewati setiap tahapan kerasnya perjalanan dunia karir adalah nasihat untuk diam. Nasihat untuk hening, nasihat untuk tenang dalam situasi apapun. Karena hanya dalam keheningan, dalam ketenangan kita bisa membuat keputusan yang tepat, keputusan yang bijak. Bukan sekedar menang dengan tanpa merendahkan, bukan sekedar berperang tanpa pasukan.
Kalau dibandingkan awal-awal bekerja, permasalahan yang dihadapi saat ini jauh lebih rumit. Bukan sekedar orang tidak pernah bicara terus terang, tapi kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dan apa yang akan dilakukan oleh orang lain dalam menghadapi situasi ini.
Tapi hidup bukannya tanpa tanda-tanda, seperti mendaki gunung ataupun menjelajah hutan, tanda-tanda itu pasti ada. Ada tanda-tanda yang tampak begitu jelas, sejelas arah matahari tenggelam, ada tanda-tanda yang samar terlihat seperti arah tiup angin yang entah bergerak kemana.
Buat saya, indikator kekacauan ini hanya satu, yaitu orang itu sendiri. Meski dalam diam tubuhnya berbicara, meski dalam bicara ramai mengenai langit, hatinya berbicara kedalaman samudra. Jadi terimakasih teman, terimakasih sahabat, terimakasih keluarga. Peta dan kompas kehidupan yang begitu jelas, tertulis dan terbacakan.
Kembung, Diare dan Stress
“…Tiga puluh tahun makan teratur, dihajar maag (stress) sehari…”
Sebagai anak taat nasihat orang tua untuk selalu makan pagi secara teratur (bahkan dalam porsi cukup banyak), selalu rutin makan, dan tidak pernah terlambat makan hingga 30 tahun terakhir. Akhirnya, saya menjadi konsumen Promag juga. Ternyata dan ternyata, stress dan segala bentuk pengerogotan dari pikiran mengancam kesehatan jauh dari apa yang bisa kita bayangkan.
Dan betul, ternyata gangguan lambung yang bentuknya berupa kembung dan maag itu menghantui saya dengan suksesnya. Obat-obatan macam Diatab, Diapet dan Promag menjadi sahabat sejati belakangan ini, meningggalkan Tolak Angin dan jauh meninggalkan Decolgen terdahulu.
Dengan semakin banyaknya stakeholder di rumah dan kantor sejatinya perlu cara mengelola hidup yang lebih baik. Mari berbenah, mari.
Gerai Samsat Bintaro, Tangerang Selatan
“…Super cepat dan layanan memuaskan…”
Hari ini, karena STNK tahunan sudah akan habis saya memutuskan untuk membayar pajak di Gerai Samsat Bintaro. Lokasinya sangat terjangkau karena terletak persis di depan Plaza Bintaro -salah satu Mall di Bintaro Sektor 3A. Persisnya di ruko Bank Jabar Banten – lantai 3.
Saya datang pukul 08:00 dan petugas Samsat pun sudah ada dilokasi. Tidak ada kesan PNS malas-malasan di Gerai Samsat ini. Prosesnya sangat cepat, kurang dari 5 menit pajak STNK motor / mobil saya sudah beres. Sebagai warga Bintaro, saya sangat berterimakasih dan terbantu dengan adanya inisiatif dari pemerintah untuk mempermudah proses pembayaran STNK, yang sebelumnya dari Samsat Ciputat menjadi Gerai Samsat Bintaro.
Gerai Samsat Bintaro ini ternyata baru beroperasi sekitar 1 bulan, mungkin masih banyak masyarat Bintaro yang tidak mengetahuinya. Silahkan mencoba ya.
Gerai Samsat Bintaro
Jam Buka:
Senin-Jumat: 08.00-14:00
Sabtu: 08:00-11:00