Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Kutu loncat, tipe dan karakteristiknya

with 26 comments

Di industri, term kutu loncat biasanya ditujukan pada orang yang gemar pindah kerja, pembosan, bahkan beberapa dicap tidak loyal. Beberapa artikel di surat kabar seperti ini dan ini juga memberikan pendapat yang tidak berimbang tentang kondisi perkutuloncatan

Kutu loncat sebenarnya bisa dikategorikan dalam beberapa kategori sebagai berikut:
1.Kutu Loncat by Demand, The Tiger
KL by Demand ini adalah strata kutu loncat yang paling tinggi. Orang-orang ini menjadi kutu loncat karena didukung oleh permintaan industri yang tinggi, seperti orang Telco yang belakangan ini laris peminatnya. Ataupun memang secara pekerjaan potensial untuk dijadikan batu loncatan seperti: vendor, audit firm, consulting firm, implementor dan service company lainnya.

Pro: Biasanya, kutu loncat jenis ini adalah orang-orang yang memiliki percaya diri sangat tinggi. Hampir-hampir tidak ada sanksi secara sosial atas fenomena kutu loncat ini.
Cons: KL by Demand sering kali merusak pasaran gaji. Contoh paling nyata adalah fenomena bajak membajak manager dari perusahaan yang sudah mature oleh perusahaan yang sedang ekspansi.
Facts: Salary increment up to 4x, year of experience 7-15 tahun, higher position

2. Kutu Loncat by Reference,
Fenomena ini muncul seiring semakin sulitnya mencari kerja bagi orang-orang yang sudah berpengalaman. Fenomena ini juga diperparah karir-karir mentok disebuah perusahaan akibat tidak adanya karir path atau upper management yang sudah stabil sehingga tidak mungkin adanya vertikal movement lagi.

Driver terbesar dari KL by Reference ini adalah networking. Biasanya, yang mengajak si KL adalah teman dekat, kakak kelas, sahabat golf ataupun rekan-rekan lainnya.

Pro: Perusahaan belakangan ini lebih sering menggunakan referensi saat melakukan rekrutmen bagi karyawan barunya.
Cons: KL by Reference seringkali membuat closed market, akibatnya yang berputar orang-orang itu saja. Misal, orang dari vendor X, atau orang dari vendor Y saja. Orang-orang ini membuat jaringan dalam industrinya. Buat beberapa orang hal ini tidaklah konstruktif.
Facts: Salary increment up to 3x, year of experience 5-10 tahun, same position level

3. Kutu Loncat By Ngikut Orang
People leave the manager, not the company. Itu adalah jargon management organisasi yang sangat terkenal. Di perusahaan bagus, harus diakui ada orang-orang bagus, visioner, type pemimpin yang mana jantung perusahaan itu ada di orang tersebut. Si tipe pemimpin ini punya bargaining power, influence yang sangat besar pada perusahaan tersebut. Otomatis jika dia pindah maka akan banyak orang dibawahnya yang pindah.

KL by Ngikut orang ini ternyata sangat banyak terjadi, seorang pemimpin yang baik -yang mau bersusah-susah bersama anak buahnya- bisa secara sosial menciptakan ikatan yang sangat kuat dengan anak buahnya.

Pro: Si Jono orangnya si Tono tuh dari dulu di Cilandak, si X orangnya si Y tuh dari dulu di BEJ. Bekerja dengan orang yang sudah kita percaya jelas lebih baik daripada bekerja dengan orang yang belum kita ketahui kredibilitasnya.
Cons: Buat beberapa perusahaan yang tight competition, fenomena ngikut orang ini, apalagi dengan budaya Indonesia cukup merepotkan. Terkadang offering lebih tinggi pun akan dipandang sebelah mata, atau sebaliknya orang tersebut menjadi sangat bergantung pada patron.
Facts: Salary increment up to 3x, tear of experience 5-15 tahu, better position.

4. The green Kutu Loncat
The Green, adalah kategori terakhir, yang sebenarnya tidak tepat dikatakan kutu loncat. Orang-orang ini berpindah-pindah kerja hanya di 1-3 tahun awal pekerjaannya. Semisal si X dari perusahaan kecil di kampus pindah ke perusahaan vendor di Jakarta. Ataupun si Z dari background mesin bekerja di advertising kemudian bisa bekerja di Oil Co.

Pro: Wajar, pun hingga 3 tahun pertama biasanya pekerja pemula masih mencari bentuk pekerjaan mana yang paling cocok dengan dirinya.
Cons: Hampir tidak ada kontra, lha wong baru mulai kok. mau pindah 20 perusahaan, no problemo.
Fact: Salary increment dari minus (downgrade), nol sampai 10x. Dari industri batik pindah ke industri mesin. The Green yang berpindah-pindah dalam kurun waktu kurang dari 3 tahun seringkali dianggap zero experience oleh employeer.

5. Kutu Loncat by Nature
KL ini mirip dengan KL by demand, karena pekerjaannya memang memungkinkan untuk pindah. Tapi ini agak berbanding terbalik dengan yang pertama. Pekerjaan-pekerjaan administratif, clerical, musiman secara inherent beresiko untuk mendapatkan pemutusan hubungan kerja. Umumnya ini terjadi di blue collar employee

6. Kutu Loncat ga jelas.
Terakhir, ini yang tidak usah dibahas. KL ini memang punya problem seputar percaya diri, kebosanan, jati diri. Pindah-pindah ga jelas apa yang dicari, ingin apa terkadang dia juga tidak tahu.

Apa pendapat anda?

Written by Anjar Priandoyo

Agustus 31, 2007 pada 2:06 am

Ditulis dalam Career

26 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. nomer lima ama nomer 6 tuh kayaknya mirip.

    ada temen sma yg pernah di astra, di siemens, di transtv, di mandiri dalam 5 tahun pertama kerjaannya.

    dia akhirnya menclok di xl, untuk 3 tahun terakhir ini. kayaknya dia sudah menemukan kedamaian … :)

    papabonbon

    Agustus 31, 2007 at 3:36 am

  2. eh, sori, maksudnya moer 4 dan nomer 6.

    papabonbon

    Agustus 31, 2007 at 3:38 am

  3. mungkin aku juga termasuk kutu loncat ya…setahun ini, sekarang di tempat kerja yang keempat. secara kontraktor begitu…kali ya….wakakak…lantaran terlalu perform…jadi dipindahkan ke tempat yang lebih perform lagi….halah…sok pede kan…. weleh weleh

    nurcha

    Agustus 31, 2007 at 4:07 am

  4. Kalo freelancer gimana? Kan pindah2 kerja juga sebenarnya. Apalagi yang kerja di badan internasional/lembaga asing, biasanya kan cuma pake kontrak per6bulan atau pertahun.

    stania

    Agustus 31, 2007 at 4:46 am

  5. Nomer 6, mengingatkanku pada siapa yah? Pokoknya udah loncat trus meneyesal telah meloncat.. huahahahahaha

    Gak kambuh kan sekarang?

    kunderemp an-Narkaulipsiy

    Agustus 31, 2007 at 8:28 am

  6. Lho aku kok ga loncat-loncat ya? padahal dah 7 tahun. trus aku masuk bilangan kutu apa ya? kutu kupret kali ya….he he he

    anjarw

    Agustus 31, 2007 at 8:42 am

  7. salary increment 4x ? 400% dari annual package ? di level mana ? sepengetahuan dan sepengalamanku itu jarang terjadi deh

    andrias ekoyuono

    Agustus 31, 2007 at 10:05 am

  8. Ditempat saya Mas Andri, dari Manager ke C-level. Banyak malah :)

    priandoyo

    Agustus 31, 2007 at 10:16 am

  9. saya nomor 6 aja Njar, punya masalah dengan kebosanan dan keingintahuan…. :)

    posisi juga sama saja (same position), tapi gaji bisa dinaikkan tergantung “kesombongan”…. :)

    fertobhades

    Agustus 31, 2007 at 2:52 pm

  10. Mendingan jangan jadi kutu loncat, entar kalau udah 36 tahunan bakal nyesel……kecuali tingkat perusahaan & jabatannya emang bener-bener menjanjikan….Jadi kutu loncat itu juga makan ati—ilmunya banyak variasi tapi gak spesialisasi…bingung…..

    Caca

    September 1, 2007 at 12:44 am

  11. jadi KL? waduh jadi karyawan aja lo euy… maap ya hehe…
    btw.. kenapa ga jadi wirausahawan? hehe

    bobby n. ariffin

    September 1, 2007 at 6:12 am

  12. if you wanna jump, make sure you prepare your “step” and “destination”… :)

    OrangeMood

    September 1, 2007 at 1:19 pm

  13. @ Caca :

    tergantung apa yang dicari dalam hidup ;) lagian sudah mendekati 36 dan masih kepingin meloncat-loncat.

    fertobhades

    September 1, 2007 at 5:49 pm

  14. Saya kayanya pilih yang nomer 4 aja Mas Anjar.. Dulu sempat jadi outsource di operator telco terus pindah ke operator lain jadi permanent smp sekarang. Tapi setelah 3 tahun, eh..kok timbul kebosanan lagi pada kerjaan ya? Apalagi lokasi kerja di Kalimantan (kurang hiburan & dinamika- yg ada cuma adventure ke pedalaman..hehe).. Masih timbul keinginan dalam hati cari kerjaan yang di Jawa biar pulang kampung dekat. Kalau masih mau loncat lagi (mengingat minta mutasi jg syusyahh), apa masih wajar Mas Anjar? Umur 26, tp takut menyesal, jika nanti malah di perusahaan baru tidak mendapat salary sebaik sekarang, dan yg pasti adaptasi lagi & bersaing dgn freshgrad.. Btw kawan-kawan, pekerjaan yang paling sedikit kutu loncatnya kalau menurut saya adalah PNS. Bener nggak? Churn-nya sangat2 kecil. Hampir semua pegawainya orang2 yg bisa bertahan sampai masa pensiun. Padahal dari sisi gaji=kecil, dinamika kerja juga minim, knowledge/competence improvement juga bisa dibilang hanya utk golongan tertentu saja. Kok ya bisa bertahan segitunya? Apa karena suasana kerja yg adem ayem, santai & tdk under pressure?? Apa karena memang orang indonesia byk ingin jadi PNS karena hal ini, biar pun gaji hanya pas-pasan buat makan..?? Apa memang orientasinya hanya pengabdian kpd negara? Bagaimana menurut pendapat Mas Anjar & kawan-kawan ttg hal ini?

    Miko

    September 2, 2007 at 3:11 pm

  15. Kalo saya gimana bang???
    Dah tanda tangan surat ikatan wajib kerja 10 tahun ma NKRI.
    Mau lulus disuruh milih kerja di Depkeu, BPK atau BPKP.

    Jadinya ngak bisa lonct-loncat dunk….

    mriyandi

    September 2, 2007 at 7:57 pm

  16. @miko:
    betul mas. memang utk kategori pns/government peluang utk menemukan kutu loncat sangat kecil. kalau menurut pendapat saya kata kuncinya adalah : stabilitas dan comfort zone. kebetulan saya sempat kerja di swasta 3.5 tahun sebelum masuk ke pemerintahan (walaupun bukan status pns :) ) kultur/budaya kerjanya sangat berbeda, di swasta itu dinamika nya sangat tinggi, perubahan sangat cepat, turn over pegawai juga tinggi, nego gaji seenak perut sesuai supply and demand. namun begitu saya masuk ke pemerintahan semuanya sudah established, stabil, stuktural dan penggajian/karir sudah diatur sedemikian rupa. sehingga memang cenderung kaku, lamban dan tidak dinamis. tapi disisi lain mungkin yang dicari adalah stabilitas/ketenangan bekerja, kontinuitas karir yang jelas dan teratur, fasilitas kesehatan, kesempatan sekolah tanpa harus kehilangan pekerjaan, dll. (mungkin di sebagian pns malah ‘pemasukan’ bisa jadi jauh lebih besar dari gaji bulanan..walau ini tidak pernah saya temui di instansi saya). itu sekelumit sharing saya mas… kesimpulannya semua tergantung individunya ..target yg mau dicapai itu apa dan bagaimana cara meraih melalui pilihan karir masing-masing..

    salam.

    osinaga

    September 3, 2007 at 2:38 am

  17. ehem mungkin itu Anjar menghitung dari kenaikan basic salary ya ? Sementara kalau aku lebih banyak menghitung kenaikan dari kenaikan Annual Take Home Pay nya (diluar Bonus Peformance). Biasanya Annual Take Home Pay terakhir/tahun berjalan yang jadi patokan.

    Jadi misal dari E&Y pindah ke corporate, maka mungkin basic salary bisa naik berlipat-lipat, namun kan E&Y punya project insentive dan atau bonus. Nah perpindahan biasanya menghitung pula pendapatan2 non gaji seperti bonus tetap, bonus, kemungkinan insentive, dll. Intinya kan orang gak mau berkurang Annual Take Home Paynya. Biasanya kenaikan Annual Take Home Paynya jarang sampai 4x, kecuali dapat bonus performance, itupun tahunya setelah kerja di tempat baru selama beberapa lama.

    Contoh : Presdir XL yang baru mungkin dilihat memiliki kenaikan basic salary yang besar dari yang dia dapat sebelumnya di Indosat, tapi di Indosat rata2 dia menerima hingga 30-33 kali gaji setahun diluar bonus. Sementara kalau di XL ada 13 kali gaji diluar bonus performance. Nah kalau dihitung Anually, kenaikannya gak besar2 banget kok.

    andrias ekoyuono

    September 3, 2007 at 2:49 am

  18. Ya, kayaknya bener yg dibilang andrias. Suami saya setiap pindah company, minta naiknya 30-100% dari annual THP. makin ke sini, makin kecil minta kenaikannya karena totalnya dianggap sudah sesuai dg average gaji rata2 di industri ini. (pengalaman kira2 9 thn)

    Contoh, dulu THP-nya sekitar 120 jt/thn, sempet out of job market di Indo bbrp tahun, balik lagi minta min 240 jt/thn. ternyata setelah setahun, dihitung bonus dll, total dapat nett 350 jt. Sekarang pindah lagi dia cuma berani minta nett 450 jt/thn plus bonus komisi. Ngga logis kalo sekarang minta 1 M setahun. Langsung ditolak kali.. :D

    istri staf telco

    September 3, 2007 at 6:04 am

  19. denger-denger, di kampus gajah duduk tuh banyak kutu loncatnya. :D
    hihihi

    -IT-

    irvan132

    September 3, 2007 at 3:39 pm

  20. Kutu Loncat,

    buat saya wajib hukumnya sampai suatu saat tertentu,
    apalagi buat saya yg kerja kontrakan,
    banyak pindah, banyak belajar hal baru, dan rate per bulan jadi naik $$$, akhirnya harus tetap memilih menetap karena usia sudah mulai menuntut harus stay…
    dan juga sudah mulai masuk piramid diatas..hi..hi..hi…
    mungkin masuk kutu loncat karena ingin belajar ilmu2 baru, karena job rotation tidaklah mudah.
    KL itu harus PD, bisa cepet adaptasi, bangun networking dimana-mana, dan self-made man..yuuuk

    kardul

    September 5, 2007 at 3:28 pm

  21. Buat saya, KL tu seorang ‘Pemburu’ sejati, kecuali kalo dia gak tau ‘apa yg dikejar’ dan kemana arah ‘buruannya’. Tapi buat saya, seorang wirausahawan lebih ‘Pemburu’ dari seorang KL.
    That’s all.
    Rgds.

    paidi

    September 6, 2007 at 2:33 am

  22. pengen ber KL tapi ga berani

    roffi

    September 6, 2007 at 7:29 pm

  23. iya, emang anak anak itb terkenal kutu loncat, all about money

    depan gambir

    September 28, 2007 at 8:55 am

  24. Untuk seorang yang bekerja pada perusahaan swasta dan ingin cepat mendapatkan kanaikan salary, wajib untuk loncat-loncat. Walaupun si kutu loncat ini sering dianggap tidak loyal terhadap tempat bekerjanya, tapi anehnya tetep dipercaya untuk bekerja diperusahaan lain dan mendapat tawaran salary yang lebih dari sebelumnya. Yang bagus si loncat sampai dapet salary yang sebagian salarynya cukup untuk disisihkan mendirikan dan mengembangkan usaha. Kalo bisnis usahanya sudah kuat, pensiun deh.

    PooGee

    Juli 1, 2008 at 11:29 pm

  25. ngeri juga kalo jadi kutu loncat kalau umur sudah mendekati 30 ke atas.

    walaupun salary bisa lebih dari pada yg biasanya. tapi tetep aja kutu loncat harus pandai menabung, karena biasa nya kutuloncat ngak punya tunjangan kesehatan buat istri dan anak. Dan karena kontrak kerja nya biasanya pendek (karena base on project) walau pun salary besar tetap ngak bisa ngajuin Kredit Kepemilikan Rumah. kalau pingin ya harus cash.

    jika kutu loncat sudah punya pasif income mungkin, para kutu loncat baru merasakan keyamanan dalam hal finanasial.

    BTW nice post…

    mhd_yanuar

    Maret 2, 2010 at 8:12 am

  26. Menurutku sah-sah aja orang jadi kutu loncat selama ia tahu konsekuensi yg akan ditanggungnya. jika ada orang jadi kutu loncat ungkin saja ia belum merasa cocok dgn tempat kerjanya atau mencari tantangan untuk meningkatkan kualitas.

    sitidewi

    April 17, 2010 at 2:49 am


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: